Surat untuk Samudera

S-A-M-U-D-EEEE-R-A. Aku terbata-bata mengeja huruf pilokan di dekat Pelabuhan Rum, tepatnya di beton yang dekat dengan PLTU Tidore, kala itu. Usiaku masih terbilang anak-anak, tujuh tahun. Maklum, cara membacaku tak secepat sekarang, kala usiaku telah matang.

Aku hirup udara yang lepas dengan lautan. Bercampur dengan ombak. Kecipaknya terkadang beriak, menghempas dan membuat rambut ikalku basah. Tampak beberapa orang memancing di Pelabuhan, ada juga yang berenang di sisi utara Pelabuhan. Aku melihat teman-temanku tertawa lepas.

“Woi, ayo nyebur, Ikut torang batobo!” teriak Hamdan, temanku yang paling membenci matematika. Ia bersama beberapa kawan kelasku dari Kelurahan Ome bermain air di bulan November kala itu.

“Cepat sini oi! Sam! jangan melamun terus, tak usah risau ayah kau pasti pulang nanti malam!” teriak Nita, usianya lebih dewasa dari kami semua, 12 tahun. Namun, ia tak pernah mengenyam bangku sekolahan. Kala itu aku tidak tahu apa sebabnya.

Aku terus menatap arah pulau seberang. Kata Mamakku, Ayah sedang melaut menuju pulau seberang yang cukup ramai. Kala itu aku percaya-percaya saja, ayah sedang melaut, mencari ikan untuk makan malam kami. Santapan yang sampai saat ini akan terus aku rindukan.

“Tapi pasti sebentar lagi Ayahku pulang kan Kaaa?” aku berteriak lantang, mengalahkan debur ombak yang pecah di tepian Pelabuhan Rum.

Begitu naifnya dunia kanak-kanakku masa itu. Aku bebas menjadi diri sendiri, bebas menilai dunia, bebas tidak memikirkan semua masalah orang-orang dewasa pada umumnya. Tentang pendidikan, tentang kebutuhan pangan, tentang pekerjaan, dan tentu tentang jodoh. Itulah masalah orang-orang dewasa yang memiliki kebebasan untuk menindas hidupnya sendiri. Masa kanak-kanakku dikelilingi dengan ketulusan. Hal yang tidak bisa aku beli saat aku dewasa sekarang.

Sore itu, tepat sekitar pukul 18.15 WIT matahari hampir tenggelam. Aku melihat indahnya dunia di tanah kelahiranku. Kusaksikan wajah teman-temanku berbahagia menikmati lautan lepas. Siluet beberapa perahu yang sedang menyeberang menjadi gambaran yang tak pernah bisa dibeli dengan uang. Dan aku masih berharap ayahku yang pergi seminggu lalu itu, segera pulang.

**

Biasanya, Mamakku akan memasak nasi dan ikan saat Ayah pulang melaut setiap malam. Kemudian ia akan bersuka cita membersihkan ikan, mengomeli aku untuk lekas mengerjakan PR sekolah dan salat wajib lima waktu.

“Sam! Kamu ini anak mamak satu-satunya, lelaki hebat! Jangan sampai kamu bolos sekolah. Jangan sampai kamu mendapat nilai merah di ujian dan rapormu. Jangan macam Mamak dan Ayahmu ini.” Terang Mamak sembari menengokku yang sedang duduk di kamar. Aku hidupkan lampu baca yang sederhana di bilik rumah kayu ini. Meski aku suka membaca buku cerita, terkadang aku juga memiliki hobi lain, mengkhayal. Aku pernah mengkhayal berkeliling samudra dengan kapal pesiar bersama Mamak dan Ayahku.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa membantu Mamak kala ia sedang sibuk mengurui dagangan kebun di pasar. Usai pulang sekolah sebelum ikut bermain dengan teman-teman, aku bereskan teras rumahku yang tidak begitu luas dari guguran daun bunga bugenvil. Hingga sore menjelang, Mamak tiba di rumah, aku mengekorinya.

“Sam kamu sudah besar! Jangan mengekor Mamak terus!” itulah dampratan yang sering aku dapati.

“Mak, kenapa nama Sam, Samudera Mak?” suatu kali aku memberanikan diri bertanya tentang namaku. Apa artinya Samudera bagi Mamakku?

“Setiap kali di sekolah aku pasti diolok-olok sama teman-teman, nama kok Samudera,” terangku. Bagi anak-anak seusiaku kala itu, meski bebas dari pemikiran rumit dan masalah runyam orang dewasa, mendapatkan perundungan cukup membuat nyaliku ciut. Hal tersebut terjadi saat aku ngompol di celana ketika mengerjakan soal matematika di depan kelas.

“Samudera, kamu melamun terus! Ayo kerjakan,” saking gugupnya aku dipergoki guru favoritku itu, aku akhirnya maju, sebenarnya sejak masuk kelas tadi aku sudah menahan kencing. Namun takut izin. Usai membubuhkan titik di depan papan tulis, aku sudah tidak tahan lagi, mengucurlah air hangat dari kedua selakanganku.

“Hahahaha! Samudera mengompol! Lihat-lihat!” teriak Hamdi.

“Ih sudah besar kok ngompol, apa alasan orang tuamu menamaimu Samudera?” tambah Hilma.

Malu sekali aku. Tidak punya muka. Untuk Guru Khodijah menyelamatkan ku.

“Berhenti! Jangan kamu tertawai temanmu! Jawabanmu benar Samu, kamu silakan pulang dulu, ganti celana,” aku lari meninggalkan kelas, menyisakan malu.

Ketika hari itu selesai, aku menunggu dengan tidak sabar Mamakku sampai di rumah. Aku ingin bertanya, kenapa aku bernama Samudera. Tak pernah terbayangkan aku mendapatkan jawaban yang tak pernah aku lupakan hingga akhir hayat.

“Saat kamu lahir, cuaca sedang buruk. Ayahmu sedang melaut. Mamak sendirian di rumah. Kala itu, dokter, bidan, dan perawat di Tidore sedang ada kegiatan di Pulau seberang. Dukun beranak pun tak pernah ada di pikiran mamak menjadi penolong kelahiran anak pertama. Jadi Nenekmu memutuskan untuk menyeberang sore itu. Ombak sedang kencang. Perut Mamak semakin tegang, di tengah ketegangan itulah kamu memaksa melihat dunia ini samudra. Di samudra kamu menghirupkan nafas pertama. Samudra ini kaya Samu….” Terawang Mamak. Ada hal tersembunyi yang ingin Mamak utarakan. Mamak bisa jadi sangsi, aku belum bisa memahami sepenuhnya apa yang Mamak jelaskan.

“Sudah, tugasmu belajar. Jangan kamu berpikir yang macam-macam,” imbuh Mamak.

**

Di desaku, anak-anak kecil sudah bisa batobo, bisa saja Tuhan menciptakan tanah kelahiranku untuk hidup bahagia selamanya, nyatanya setelah aku dewasa pikiran itu lama-lama terkikis dengan sendirinya. Hamparan lautan bak surga bagi kami. Saat matahari bersinar, lautan tampak berkilauan. Saat rembulan dan gemintang menghiasi langit malam, kemilau lautan tampak menggoda semua manusia untuk menampakkan kesombongannya.

Sore itu, Ayah menegurku yang hendak batobo.

“Ayo ikut Ayah ke Tomalou. Kita meminjam perahu Nenek di sana,” jelasnya.

Sore itu merupakan sore yang tak akan pernah aku lupakan. Aku melihat hamparan samudra yang indah. Bersih elok, tanpa ada sedikitpun sampah-sampah. Terlihat Pulau Mare kokoh dari Tomalou. Dari rumahku, di Kelurahan Ome, Tidore Utara waktu yang diperlukan untuk ke Tomalou sekitar 20 menit dengan sepeda motor. Ayah membawaku dalam goncengan motor bututnya. Aku mengekor.

Sesampainya di garis pantai Tomalou, hatiku berdecak, inikah dunia? Seperti di buku paket Bahasa Indonesia, nenek moyang Indonesia adalah seorang pelaut. Tak bisa dibantah.

“Konon di sini hampir semua penduduknya dulu adalah pelaut. Subuh berangkat sore merapat. Banyak ikan yang didapat,” terang Ayahku. Tangan kokohnya mendayung santai. Sore yang indah.

“Apakah Kakek dulu juga melaut Yah?”

Rasa penasaranku akhirnya menguar ke permukaan.

“Tentu, dia adalah lelaki hebat Sam. Tapi ayahmu ini mungkin belum bisa membahagiakan sepenuhnya Mamakmu, Sam kamu jangan meniru Ayah ya, jadilah lelaki yang bertanggungjawab, kamu adalah harapan Ayah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik daripada ini,” jelas Ayah.

Sebagai anak tujuh tahun, aku hanya mengerjap-ngerjapkan mata.

“Mungkin tidak sekarang kamu mengetahui makna apa yang Ayah katakana, tapi Sam, hidup ini adalah lembar demi lembar kertas berjalan terus, kamu juga akan dewasa, ingatlah semua ini dengan baik Sam, Ayah ingin kamu menjadi orang berhasil, dan tentu setia….” Terawang Ayah seolah menembus jauh Pulau Mare di hadapan mata.

Sore itu kami habiskan untuk melihat beberapa ikan yang berenang dan mampir ke rumah Nenek.

**

Lamunan akan masa kecilku buyar. Potongan demi potongan hidupku seolah aku lihat dari atas pesawat ini. 3,5 jam aku mengudara dari Jakarta ke Ternate. Akhirnya aku melihat kokohnya Kie Matubu dari atas, melihat gagahnya Gamalama dari sisiku. Ini kulihat untuk kedua kalinya. Pertama saat aku pergi dari kampung halaman, dan sekarang ketika aku kembali.

Apa kabar kampung halamanku?

Aku melepas earphone yang kukenakan. Mematikan lcd yang ada di depanku. Aku takjub melihat kampung halamanku dari atas.

Pesawat prepare to landing….

Itulah kalimat yang membuatku buyar akan memori masa kecilku.

Apakah rasa semilir angin di Tidore masih seperti kala aku masih kanak-kanak?

Apakah aroma laut masih bersahabat ketika kami batobo setiap hari kala sore mendekat?

Saat mendarat hatiku tak karuan senangnya.

Apakah kampung halamanku masih sama?

Aku menuju pintu keluar bandara. Aku menggunakan jasa ojek menuju pelabuhan Bastiong. Tidak seorang pun aku kabari akan kepulanganku. Sudah saatnya aku membuat kejutan kecil untuk Mamak.

**

“Samudera, kamu harus sekolah. Ambil beasiswa itu. Jarang-jarang ada beasiswa dari pemerintah Jepang untuk anak kampung seperti kita ini, apalagi kamu akan mendapat kursus Bahasa Jepang selama setahun di sana dulu sebelum kuliah,” jelas Guru Khodijah, guru yang sudah seperti saudara sendiri ini, menasihatiku. Ia rela datang ke rumah, rumah kami hanya berjarak tiga rumah.

Mamak ternyata bukan penyimpan rahasia yang baik. Ia menceritakan semua kisahku di bangku SMA. Aku juara matematika, aku menjadi murid pilihan olimpiade hingga perjuanganku ikut seleksi beasiswa ke Jepang. Kebetulan SMA-ku menjadi SMA pertama di Kota Tidore Kepulauan yang mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan pemerintah Jepang.

“Bu, tapi aku pengen di sini,” jelasku.

Setelah banyak pertimbangan aku akhirnya mengambil kesempatan itu. Sudah lima tahun aku tak melihat tanah kelahiran. Aku ingin mengabdi dan membuat tanahku dikenal oleh dunia karena keindahannya.

Mamak, aku pulang. Berita Ayahku yang tak pernah aku temui sejak usia tujuh tahun ternyata membuatku mengerti. Ayahku adalah seorang yang ingin aku tidak menjadi dia.

Terakhir aku berikirim kabar ketika Mamak memberi tahuku rahasia kecil.

“Ayahmu telah menikah lagi dengan orang di Pulau seberang. Jangan membenci Ayahmu,” jelas Mamak. Sejak itu, aku tidak berani bertanya lagi. Kenangan pertama kali mendayung perahu bersama Ayah berkelebat.

Jangan jadi seperti Ayah. Jadilah orang yang bertanggungjawab….

Tahu apa aku dengan cinta? Mamakku adalah mamak yang hebat. Ia merelakan cintanya pergi demi kebaikan orang lain.

Tahu apa aku tentang sakit hati? Mamakku adalah orang yang paling memahami bagaimana menyembuhkan luka batin.

Terlihat pelabuhan Bastiong telah dipadati orang-orang yang hendak menyeberang balik dari Tidore ke Ternate atau pun sebaliknya. Aku memberikan satu lembar sepuluh ribu kepada tukang ojek. Bastiong adalah pintu masuk utama ke Tidore, kami akan dibawa menuju Pelabuhan Rum. Ada tiga jenis transportasi, kapal feri, kapal kayu, dan speedboat.

“Mau nyeberang e?” logat Tidore melekat di lelaki yang ada di sampingku. Perawakannya menandakan jika ia adalah asli orang Indonesia Timur. Berwajah keras, jenggot tebal, dan tentu kulit yang khas.

“Saya,” jelasku.

Aku masih ingat, di laut inilah aku terlahir. Samudra adalah tempatku kembali. Selama aku di Jepang, aku dan Mamak sering berkirim surat. Terkadang beberapa tetanggaku meminjami Mamak smartphone untuk bisa melihat wajahku.

Mamak masih seperti yang dulu, lesung pipinya menghiasi wajahnya. Ketulusan terpancar dari mata hitam legamnya, rambutnya selalu tertutup jilbab.

“Samu……” jelasnya ketika aku memasuki halaman depan rumah.

Aku bersimpuh di depannya. Mencium tangannya. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Semua berjalan dengan cepat, hingga di malam pertama kedatangan ku di kampung halaman. Mamak memberiku surat masih tertutup amplop putih rapat, warna kertasnya sebenarnya telah berubah menjadi krem.

**

Untuk Samudera

Ayah bangga kamu menuntut ilmu hingga negeri sakura. Ayah membayangkan sakura saja tidak pernah, Samu. Samu, ayah ingin kamu tahu, jika hidup bukan perkara cinta. Terkadang menjadi lelaki bagi ayah adalah sebuah kutukan. Apa bisa lelaki mencintai satu perempuan saja? Samu maafkan Ayah. Ayah belum bisa menjadi ayah yang baik. Ayah ingin kelak Samu hanya mencintai satu perempuan untuk menjadi pendamping hidup.

Ayah ingin Samu terus belajar, terus menjadi Samu andalan Ayah. Kejarlah cita-citamu Samu. Jika ingin menjadi guru, jadilah guru yang memberikan pengertian hidup baik kepada anak didiknya. Ayah bisa berkata begini bukan karena Ayah sekolah tinggi, namun dalam diam, kehidupan telah mengajari Ayah menjadi orang yang peka terhadap sekeliling.

Jika Samu membaca surat ini, berarti Samu telah paham, jika hidup adalah sebuah pilihan. Pilihlah kebaikan untuk jalan hidupmu, Samu.

Samu, ayah bangga kepadamu. Surat ini akan kamu baca ketika Ayah telah dipanggil Tuhan. Semoga hal-hal baik selalu menyertaimu.

Ayahandamu, Dikamalamo.

**

Hidup telah membawaku memiliki rasa kehilangan yang rasanya sumir. Aku tidak tahu kapan Ayah meninggal, namun dari pusara akhirnya yang terletak di Desa Tomalou membuatku tahu, jika Ayah meninggal karena sakit. Istri kedua ayah masih di Pulau seberang, itu cerita Mamak.

Aku berziarah sore itu. Sembari menikmati Tomalou dengan suasana berbeda. Aku telah menjadi sarjana. Aku telah menamatkan hal yang sebelumnya adalah menjadi hal yang tidak mungkin terjadi.

Aku meminjam perahu kayu warisan Nenek. Mendayung di tengah samudra dari tepian pantai. Aku tidak berani cukup menengah. Kegiatan ini mengingatkanku akan Ayah. Dari tempatku berdiri sekarang, samudra tampaknya murung sebelah. Terlihat beberapa sampah ada di beberapa titik. Samudraku tidak seperti masa kecilku dulu. Sampah secuipun tidak terlihat.

Sekarang, beberapa gundukan kayu dan plastik terlihat. Aku terus mendayung menikmati matahari tenggelam. Sembari memikirkan sesuatu, apa yang bisa aku lakukan untuk tanah kelahiranku setelah kepulanganku dari menimba ilmu hingga Jepang?

Surat dari Ayahku terbenam bak matahari tenggelam dalam benak, jadilah anak yang bertanggungjawab Samu…

Kalimat itu berdesir, seperti pusara angin di samudera.

Ayah semoga aku bisa memiliki hati yang lapang seperti samudra dan memiliki satu cinta untuk membahagiakan Mamakku nantinya….

S-A-M-U-D-E-R-A aku mengeja namaku sendiri dalam hati.

“Kamu harus bisa memiliki hati yang lapang, menginspirasi orang-orang di sekitarmu, dan jangan mencintai dua perempuan di waktu yang bersamaan,” bisikan itu samar seolah terbawa angin tertangkap oleh telingaku tepat saat aku hendak mendayung berbalik, aku melihat satu sosok perempuan yang sejak tadi memperhatikanku dari jauh.

Mamak, anakmu pasti akan membahagiaanmu, batinku.

Tinggalkan Balasan