Bernostalgia di Galela

Sebuah patung bertopi bundar seolah menyambut kedatangan kami di sebuah bukit, di tepian utara Talaga Duma, Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. Tangan kanan patung itu memegang cangkul, tangan kiri menggenggam sebuah alkitab. Ia berpijak pada bola bumi berelief pulau Halmahera.

Bukit yang kami datangi itu, oleh warga setempat disebut Tanjung Van Dicken. Patung tersebut ialah Hendrik Van Dijken, misionaris asal Belanda yang mengabarkan injil di Halmahera pada pertengahan abad 19. Patung itu dibangun sebagai menoumen untuk mengenang sang misionaris.

Saya dan Jamal – seorang karib dari Tobelo, berkunjung ke sana pada awal Februari lalu. Kami berkendara dari Kota Tobelo, melintasi jalanan aspal dengan pemandangan kebun kelapa hampir  sepanjang perjalanan.

Sekira sejam berkendara, memasuki Desa Soa Sio, ibu kota kecamatan Galela yang berada di pesisir, kami memacu kendaraan menuju Talaga Duma atau Danau Galela, merupakan salah satu danau terbesar di Maluku Utara.

Monumen Van Dijken, dibagun untuk mengenang misionaris Belanda yang menyebarkan injil di wilayah Duma, pertengahan abad 19. Foto: Adlun Fiqri/jalamalut

Kampung-kampung berjejer melingkari danau. Seperti suasana di perkampungan khas Halmahera umumnya. Di sana, kami melihat orang-orang memikul saloi berjalan di tepi jalan. Entah menuju kebun, atau baru pulang dari kebun. Di depan rumah penduduk, ada meja-meja kecil menjual durian dan rambutan. Galela saat ini sedang musim buah.

Ke Galela kali ini merupakan kunjungan kedua bagi saya. Pada awal 2014 silam, kami pernah berkendara dari Ternate – ‘melarikan diri’ dari kebosanan ruang kelas perkuliahan, dan tinggal selama sepekan di Desa Toara, tak jauh dari Talaga Duma. Perjalanan ini menjadi nostalgia tersendiri bagi saya, meski tujuan utama adalah bersilaturahmi dengan beberapa kawan di Desa Ngidiho.

Matahari perlahan condong ke cakrawala barat saat urusan silaturahmi kami selesai. Jamuan buah matoa, durian, dan pisang goreng telah tandas – agar pembaca tidak “ngiler” detail urusan makan-memakan ini saya skip saja, hehe. Saya dan Jamal memutuskan mengunjungi Desa Duma sebelum kembali ke Tobelo. Kami kembali memacu kendaraan.

Mo pigi [mau pergi] tanjung? lurus saja,” ujar seorang warga yang tengah menjemur biji pala, memberi petunjuk.

Dari gereja Duma, tak kurang dari 500 meter, tepat di ujung kampung, kami memasuki area seluas sekira 4 hektar tersebut. Patung Van Dijken berdiri menghadap pintu masuk. Pohon-pohon besar tumbuh rindang. Sekelompok anak-anak riang berlarian. Ada yang bermain sepeda. Sesekali gelak tawa keluar dari mulut mereka. Beberapa pemuda terlihat asik bercerita, mereka duduk bersila di rumput hijau yang tumbuh indah di area itu. Kami memarkir motor. Para anak-anak melempar senyum, kami membalas dengan lambaian.

Sejumlah anak yang baru pulang mengikuti les sedang bermain di pintu masuk Tanjung Van Dijken. Foto: Adlun Fiqri/jalamalut

Saya dan Jamal berjalan turun ke tepian. Kami menatap luas seantero Talaga Duma yang tenang. Desiran daun ditiup angin, gesekan bambu, kicauan burung, berpadu menjadi instrumen musik alami yang indah. Sungguh syahdu. Daun teratai, dan beberapa ekor burung terbang rendah mengitari air danau. Saya mengenang kunjungan 6 tahun lalu, kami sering menghabiskan sore di tepian lain danau ini. Pikiran saya lalu terlempar jauh, pada penggalan sajak Indonesia O Galelano, penyair asal Galela dalam sajak Kartu Pos Hitam-nya:

dulu, pada semasema perahu danau

dulu, pada pagi berkabut di danau

dulu, pada belibis yang mengitari senja di danau

dulu, pada titik embun terakhir teratai danau,

Sayang, lamunan tiba-tiba buyar, pasukan agas menyerang betis saya. Rupanya mereka hendak berpesta melihat kelengahan saya. Cukardeleng.

Saya dan Jamal lalu melangkah menuju sebuah ‘Gua Jepang’ yang berada di kaki bukit ini. Diameter goa tak terlalu besar, hanya bisa untuk satu tubuh dewasa. Bentuknya seperti terowongan. Panjangnya sekira 10 meter dan saling terhubung antara dua pintu yang bersebelahan. Dalamnya agak lembab dan gelap. Gua itu adalah bekas persembunyian tentara Jepang semasa Perang Dunia II dulu. Banyak peninggalan Jepang tersebar di jazirah Galela, mengingat, dahulu daerah ini merupakan salah satu basis pertahanan tentara Jepang. Dan konon, di dasar Talaga Duma, banyak persenjataan yang dibuang Jepang dan sekutu usai peperangan.

Jamal mengkesplorasi dinding di dalam Goa Jepang. Foto: Adlun Fiqri/jalamalut

Puas mengeksplorasi, kami kembali ke atas bukit lalu bertemu dengan ibu Nofa. Ibu Nofa merupakan salah satu tutor dari Pusat Pengembangan Anak (PPA) di Desa Duma. PPA adalah lembaga yang mendampingi puluhan anak-anak untuk pengembangan pendidikan dan spiritual, sekaligus pengelola Tanjung Van Dicken.

“Mulanya dikelola oleh desa dan gereja, namun PPA dipercayakan mengembangkan menjadi spot wisata,” tuturnya.

PPA sudah dua tahun mengelola Tanjung Van Dicken, sekaligus dijadikan lokasi kegiatan anak-anak dampingan. Berbagai spot foto dibuat untuk menarik pengunjung, meski menurut saya yang paling menarik di sini adalah sejarahnya dan panorama danau. Menurutnya, waktu-waktu ramai kunjungan pada saat hari libur. Untuk masuk ke kawasan ini, para pengunjung cukup membayar karcis sebesar 2000 rupiah sebagai retribusi.

“Tapi karcis untuk hari libur saja,” ujarnya.

Dua orang anak bersepeda di kawasan Tanjung Van Dijken. Kawasan ini sering digunakan sebagai tempat kegiatan anak-anak dampingan PPA. Foto: Adlun Fiqri/cermat

PPA juga mengelola sebuah kantin yang menyediakan berbagai kudapan untuk menemani anda menikmati panorama Talaga Duma. Bagi anak-anak penikmat hujan pecinta senja, tempat ini juga sangat cocok untuk menyaksikan matahari tenggelam.

Sayangnya kami tak bisa berlama-lama menunggu dan memotret senja untuk anda. Perjalanan kami masih panjang, harus kembali ke Tobelo sebelum gelap. Intinya, jika kerabat sekalian sedang berkunjungg ke Galela, mampirlah ke Tanjung Van Dicken ini.

Dari Duma kami kembali memacu sepeda motor melintasi jalanan aspal, melewati kembali kampung-kampung, kebun kelapa, dan hutan-hutan. Namun ada yang mengganjal hati saya, di beberapa batas kampung, kami menemui plang dengan tulisan: pelan-pelan ada pos militer!!, disertai polisi tidur yang merintang. Memangnya ada apa?

 

Tinggalkan Balasan