Benteng Terakhir Orang Laut

Bagan yang melaut terakhir

 Oleh: Faris Bobero

Bagan ikan itu bergoyang lembut. Di atasnya, pemilik bagan, Romi, menatap cemas ke kaki langit. Di batas cakrawala, awan hitam pekat datang bergerombol. Hembusan angin laut dan udara dingin yang datang tiba-tiba, disertai gelombang yang kian membesar, patut membuatnya kuatir. Sejak keluar dari Bajo Sangkuang, desa nelayan milik suku laut Bajau ini, cuaca sudah tak bersahabat. Selasa, sore, ketika bagan mereka melaut, tak terlihat bagan nelayan lain.

“Minggu ini bulan terang, tidak ada bagan yang keluar mencari umpan. Hanya kita,” kata Romi pelan sambil menatap awan di langit.

“Ah, biar sudah, Ini kali terakhir bagan ini melaut,”  lelaki yang juga juragan (pemilik perahu, bahasa lokal) bagan itu kini menatap sisi kanan dan kiri rangka bagan yang mulai melapuk.

Bagan terus melaju, didorong perahu kayu berukuran panjang 6 meter, lebar 1 meter bermesin engkol  bahan bakar solar yang dikemudikan oleh salah satu ABK, Kifli (35 tahun). Kifli yang sudah berpengalaman di laut itu berbadan kekar.

Perjalanan laut itu memakan waktu 40 menit untuk sampai di lokasi penangkapan ikan teri. Endri, salah satu ABK bagan berusia 21 tahun mulai memasang enam buah lampu berkapasitas 36 watt di depan badan bagan, empat buah lampu ia pasang berjejer di samping badan bagan. Lampu itu untuk memancing ikan teri berkerumun di bawah bagan sebelum dijaring pada pukul 05.00 WIT, pagi.

Senja sudah turun dari tadi. Endri mulai menghidupkan generator berkapasitas 650 watt, menggunakan bahan bakar bensin untuk aliran listrik di lampu yang telah ia pasang. Bola lampu listrik menerangi dalam bagan, dan sinarnya dengan susah payah berusaha menembus gelap malam. Si Endri ini bercita-cita kuliah di fakultas hukum. Karena penghasilan laut belum menjanjikan, ia terpaksa mengais rezeki di bagan. “Saya ingin lanjut kuliah hukum,” katanya.

Beberapa menit kemudian angin laut berhembus kencang. Hujan lebat turun disertai gelombang besar. Di dalam bagan, juragan Romi, dan para ABK yakni Endri, Kifli, Hendri (29 tahun) berteduh di kamar bagan berukuran 2 x 4 meter, tinggi atapnya kurang lebih 1,8 meter. Sementara Arul (33 tahun), di belakang kamar bagan mulai menyalakan kompor untuk memanaskan air dan menyediakan kopi panas.

Sekira pukul 23.00 WIT, hujan pun berhenti. Endri, Kifli, dan Hendri meyiapkan alat pancing seadanya. Mereka memancing ikan malalugis (Decapterus kurroides). Malam itu juga  belasan sampan milik nelayan suku Galela-Tobelo dari desa Belang-Belang dan Indomut, Bacan mulai mendekati bagan. Mereka pun memancing ikan malalugis. Selain nelayan, salah satu pengepul ikan malalugis menggunakan long boat berukuran panjang 6 meter, lebar 1 meter, muncul dan menunggu hasil tangkapan nelayan.

Pada pukul 02.00 WIT, dini hari, nelayan malalugis Tobelo-Galela mulai mendayung sampan pulang setelah menjual hasil tangkapan di long boat pengumpul tadi dan membawa sedikit ikan untuk lauk di rumah. “Ikan malalugis mahal di pasar. Jadi kita jual di sini 10 ekor Rp.15.000. Lumayan buat kebutuhan di rumah,” Kata Arul.

Hari sudah menunjukan pukul 5 pagi. Ikan teri sudah mulai berkerumun. Para ABK bagan bersiap  menjulurkan jaring segi empat yang sudah diberi pemberat batu. Jaring yang berukuran lebar bagan itu masuk ke laut dengan kedalaman sekitar 8 meter.

Kifli mengoperasikan lampu, mengarahkan kerumunan teri ke tengah bagan. Satu persatu lampu ia matikan hingga yang tesisa satu lampu menyala di samping rangka bagan. Sementara ABK yang lain bersiap-siap di samping kiri kanan bagan untuk mengangkat jaring. 30 menit kemudian jaring diangkat. Hari ini hasil tangkapan tidak banyak.

Beberapa saat pengepul menggunakan long boat mendekat. Mereka membawa dua kotak ikan. Satu kotak ikan berkapasitas 75 liter. Romi dan para ABK bagan hanya mampu menjual hasil tangkapan satu kotak ikan penuh, dengan harga Rp.250.000.

Setelah menjual hasil tanggkapan, Romi dan para ABK menuju ke teluk Pulau Desa Bajo Sangkuang, tempat bagan ikan parkir. Setibanya di teluk yang dangkal, para ABK terjun ke laut, memasang palang berukuran tiga hasta untuk menyangga bagan ikan. Ini kali terakhir bagan beroperasi. “Bagan sudah mulai lapuk, butuh biaya yang tidak sedikit untuk diperbaiki,” ujar Romi.

Hujan turun lebat, iringi  bagan dinaikan di tiang penyangga. Para ABK naik ke kapal, mereka bergerak pelan mengemasi barang sebelum bergegas pulang. Sekira pukul 07.50 WIT, hujan mulai gerimis, Romi dan para ABK beranjak pulang menggunakan long boat, membawa sedikit ikan teri dan malalugis (Decapterus kurroides) sisa tangkapan semalam untuk lauk di rumah. “Sudah saya bilang jangan keluar (melaut),” ujar Romi pelan.

Orang-Orang laut ini tak menunjukan rasa kecewa. Bagi mereka, apa yang diberikan laut harus disyukuri, meski masih harus berpikir melunasi hutang Rp 250.000 untuk membayar harga solar yang diambil di kios untuk bahan bakar tadi malam.

Lantas bagaimana dengan cinta-cita Endri yang ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum jika penghasilan melaut hanya cukup buat makan?

 

Pernah Jaya di Laut

Orang suku Tobelo, yang memancing ikan di malam hari, di perairan Halmahera Selatan. Foto: Faris Bobero/jalamalut

Kecamatan Batang Lomang memiliki luas wiayah 55,8 kilometer persegi yang terdiri dari delapan desa yakni Bajo Sangkuang, kampung Baru, Batutaga, Prapakanda, Tanjung Obit, Pasimbaos, Sawanakar, dan Desa Toin. Kurang lebih 20 persen nelayan di daerah ini berasal dari Desa Bajo dengan jumlah penduduk 2.350 jiwa, dengan 548 Kepala Keluarga,. Ini adalah jumlah penduduk terbanyak di kecamatan tersebut dengan hampir keseluruhan masyarakat bermata pencarian sebagai nelayan.

Desa Bajo Sangkoang yang mayoritas Suku Bajo itu berada di tengah dan di bagian utara desa tempat bermukim mayoritas Suku Makean Dalam, dan di selatan maoritas Suku Makean Luar. Meskipun satu suku, antar Makean Luar dan Makean Dalam memiliki bahasa yang berbeda.

Pada tahun 1990-an, nelayan di pulau Bajo ini berjaya di laut. Saat itu kurang lebih ada 40 bagan ikan dan motor ikan cakalang berkapasitas 40 Gross Ton (GT). Para nelayan Bajo di masa itu, sekali melaut bisa mencapai pengahasilan Rp.2 juta per orang.

Mohdar Daeng Pagala (66 Tahun) mengisahkan, sebelum konflik horizontal terjadi di Maluku Utara, ia sempat memiliki tiga kapal ikan cakalang dan satu bagan ikan. Masing-masing kapal berkapasitas 40 GT. Dengan hasil melaut, ia dapat menyekolahkan delapan anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Dua anaknya bergelar master dan tinggal di Jakarta. Ada pula yang bekerja di Bandara Sutan Babullah Ternate, dan satunya di Perbankan. “Sementara anak perempuan saya yang berprovesi sebagai bidan, kembali mengabdi di desa ini,” ungkap Mohdar.

Lelaki tua itu menuturkan, pada tahun 90-an nelayan Bajo bisa berjaya karena tidak kesulitan dengan bahan bakar, biaya operasional melaut, bahkan akses untuk menjual hasil tangkapan. “Saat itu masih ada Usaha Mina. Perusahan ini menyediakan es untuk ikan, bahan bakar, bahkan operasional untuk kami melaut,” katanya.

Pasca konflik di pergantian abad, usaha mereka kian redup. Bahan bakar minyak makin mahal. Operasinal bahkan untuk konsumsi di laut dicari sendiri oleh nelayan. “Kini tidak ada lagi perusahaan yang melihat nelayan Bajo. Kita cari BBM (Bahan Bakar Minyak) sendiri, cari biaya operasional sendiri,” ungkap mantan kepala Desa Bajo ini. Mohdar pun terpaksa menjual tiga kapal ikan cakalang bahkan bagan ikan miliknya.

 

Bekerja di Kapal Asing

Kemampuan orang laut di Maluku Utara ini pun membawa mereka hingga bekerja di kapal asing yang juga beroperasi di perairan Indonesia. Banyak kisah yang meraka dapat saat bekerja. Namun, tidak sedikit yang memilih berhenti setelah merasakan bagaimana kapal asing membabat habis sumber daya laut Indonesia.

Kepala Desa Bajo Sangkuang Burhan Ahmad mengisahkan, pada tahun 1993 ia bekerja di kapal asing dari Hongkong yang bekerja sama dengan Pusat Koperasi Angkatan Laut (Poskopal) Indonesia. Kapal ikan Hongkong tersebut menangkap ikan Napoleon Wrasse (Cheilinus undulatus) dengan sistem bius. “Saat itu, dari 18 orang nelayan, 10 orang adalah orang Indonesia, termasuk saya, dari 10 orang itu 9 orang asal Buton, saya sendiri orang Bajo,” kata Burhan.

Burhan mengaku tidak tahu kalau mengunakan sistem bius masuk kategori bahaya dan dilarang. Wilayah operasi mereka meliput perairan Morotai hingga Sorong, Papua. Sekitar satu bulan, mereka bisa mendapatkan 40 ton ikan napoleon untuk dikirim ke Hongkong.

“Kami menyelam sampai kedalamanan 30 meter untuk membius ikan, dan menggunakan mesin kompresor untuk bernafas melalui selang,” katanya.

Setahun bekerja di kapal asing, Burhan dan teman-temannya pernah ditangkap oleh Polisi di perairan Morotai. Ia mengaku sempat kaget sebab, menurutnya, mereka bekerja melalui jalur yang legal dengan Puskopal. “Mulai dari tertangkapnya kami, saat itu juga saya memilih berhenti bekerja di kapal asing dan kembali ke Bajo,” ungkap Burhan.

“Penghasilan bekerja di kapal asing memang menggiurkan, namun ini justeru melemahkan sumber daya Indonesia,” keluhnya.

Menurutnya, dalam hal melaut, nelayan Indonesia sudah cukup tangguh. Hanya saja keterbatasan akan fasilitas dan alat tangkap yang sederhana, jauh tertinggal dengan alat tangkap milik kapal asing yang canggih.“Seandainya pemerintah Indonesia mampu menyediakan fasilitas yang cukup baik untuk nelayan seperti kami, maka sudah tentu nelayan Indonesai bisa berjaya di laut,” ujarnya.

Menurutnya, langkah Menteri Susi Pudjiastuti dalam memberantas illegal, unreported, unregulated (IUU) fishing dan menenggelamkan kapal asing sudah tepat. Sebab, sampai era pemerintahan Joko Widodo ini, kapal asing masih saja beroperasi di perairan Maluku Utara.

“Sekarang ini, kapal asing masuk dengan berbagai modus. Mereka buat kapa penampung ikan, padahal di balik itu, mereka juga menangkap ikan bahkan menggunakan jaring harimau,” kata Burhan yang baru 7 bulan menjabat sebagai kepala Desa Bajo Sangkuang.

“Sebelum saya menjabat jadi kepala Desa, saya punya kapal Inka Mina berkapasitas 33 GT. Jadi, saya tahu kalau kapal asing masih masuk perairan Maluku Utara,” katanya.

 

 Duo Mamboat, Hidup dan Mati Orang Bajo

Ada dua Pulau dengan nama Mamboat terletak di utara, depan Desa Bajo Sangkuang, yakni Mamboat Kecil dan Mamboat Besar. Hanya sekitar 8 menit untuk sampai ke Pulau Mamboat menggunakan perahu sampan bermesin ketinting. Di Pulau Mamboat Besar terdapat kebun milik Suku Bajo Sangkuang dan Suku Makeang. Mereka menanam sagu, kelapa, dan umbi-umbian lainnya. Sedangkan Mamboat Kecil digunakan sebagai tempat pemakaman ketika ada yang meninggal dunia.

Tata kelola kebun di Mambuat Besar sangat berbeda dengan sistem ekonomi pasar. Satu kebun milik satu marga bisa dipakai oleh marga lain untuk menanam umbi-umbian. “Lahan milik satu marga bisa dipakai orang dari marga lain. Asalkan jangan menanam tanaman tahunan,” ungkap Mohdar, yang juga selaku tetua kampung Desa Bajo Sangkuang.

Aktivitas memangkur sagu lebih banyak dari Suku Makeang. Sagu yang telah dipangkur kemudian dibawa ke Desa Bajo Sangkuang untuk dijual pada perempuan Suku Bajo untuk dibuat kerupuk kamplang.

Tidak sedikit pedagang dari luar datang ke Bajo Sangkuang membeli kerupuk kamplang. Hampir sebagian di pasar Labuha Bacan menjual kampalang yang dibuat oleh tangan perempuan Bajo Sangkuang. Bahan dasar kerupuk kamplang dari ikan dan sagu. Ada juga yang dicampur dengan rempah-rempah. “Bahkan, para pedagang dari luar Halmahera Selatan datang ke sini membeli kamplang untuk di jual di Ternate,”kata Mohdar.

Sementara sagu yang berada di puncak Desa Bajo Sangkuang tidak ditebang. Puluhan tahun lahan sagu tersebut menjadi lokasi sumber air bersih yang dialiri ke rumah warga menggunakan bambu. Pada 2016 baru adanya perhatian pemerintah mengadakan pipa untuk mengaliri air bersih dari puncak Desa Bajo Sangkuang.

Tulisan ini pernah dimuat di mongabay.co.id

Potret Kehidupan Orang Bajo di Negeri Seribu Pulau

 

Tinggalkan Balasan