Pemikiran Ibnu Khaldun Dalam Bingkai SocFes II

Oleh: Sarfan Tidore

Sociology Festival II (SocFes II) hendak digelar pada 25 Juli 2022, memilih alas pemikiran seorang sosiolog dan cendekiawan muslim. Seorang sarjana sosiologi Italia, Gumplowiez melalui penelitian yang cukup panjang berpendapat, kami ingin membuktikan bahwa sebelum Comte (1798) dan Giovani Vico (1668-1744M) telah datang seorang Muslim yang tunduk pada ajaran agamanya.

Dia telah mempelajari gejala-gejala sosial dengan akalnya yang cemerlang. Apa yang ditulisnya itulah yang kini disebut sosiologi. Walaupun istilah sosiologi ditemukan oleh Auguste Comte pada abad ke-19 tetapi, kajian mengenai kehidupan sosial manusia sudah diuraikannya dalam kitab Muqaddimah, 500 tahun lebih awal pada usianya 36 tahun.

Sejarawan dan bapak sosiologi ini berasal dari Tunisia, keturunan Yaman dengan nama lengkap Waliuddin bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasn. Namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Dikenal sebagai sejarawan, politikus, filsuf dan bapak sosiologi Islam. Dalam lintasan sejarah tercatat sebagai ilmuan muslim pertama yang serius menggunakan pendekatan historis dalam wacana keilmuan Islam.

Ibnu Khaldun mengemukakan pemikiran yang menyatakan bahwa sistem sosial manusia dapat berubah seiring kemampuan pola pikir mereka. Keadaan muka bumi di sekitar mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri. Beliau berpendapat bahwa pola pemikiran masyarakat berkembang secara bertahap yang dimulai dari tahap primitif, pemilikan, peradaban, kemakmuran dan kemunduran (keterpurukan).

Sosiologi menurutnya adalah ilmu yang mempelajari tentang solidaritas sosial atau ashabiyah (baca: Muqaddimah). Asal-usul solidaritas sosial menurutnya dapat dilacak pada komunitas masyarakat yang memiliki ikatan darah serta kedekatan hidup bersama. Dasarnya dapat bermacam-macam: persamaan keturunan, tempat tinggal yang berdekatan, persekutuan, atau al-magi, dan hubungan antara yang pelindung dan yang dilindungi (Ibnu Khaldun, 151).

Pembangkit solidaritas kelompok adalah adanya rasa malu bila terjadi perlakuan tidak adil atau penganiayaan atas mereka yang mempunyai hubungan berdasarkan satu ikatan atau lebih dari ikatan tersebut. Perasaan ikut merasakan setiap kesetiaan yang menimpa kaumnya adalah pembangkit rasa solidaritas kelompok.

Apabila tingkat kekeluargaan antara orang yang bantu-membantu dekat sekali, maka jelaslah bahwa ikatan darah, sesuai dengan buktinya, yang membawa kepada solidaritas sesungguhnya. Apabila tingkat kekeluargaan itu jauh, maka ikatan sedikit lemah. Sebagai gantinya timbullah perasaan yang didasarkan atas pengetahuan yang lebih luas tentang persaudaraan, (Munawir Syadsai, Islam, hal.105).

Dalam keadaan yang demikian setiap suku mempunyai kepentingan dan aspirasi yang berbeda-beda satu sama lain, dan tiap kepentingan dan aspirasi suku-suku tersebut didukung oleh solidaritas kelompok suku. Karena solidaritas itulah yang membuat orang menyatukan usaha untuk tujuan yang sama: mempertahankan diri dan menolak musuh atau ketidakadilan (Khaldun, hal.166). Suku, organisasi sosial dan agama adalah faktor penting yang dapat mempersatukan berbagai perbedaan sekaligus menimbulkan konflik dalam masyarakat.

Selain solidaritas sosial, gagasan Khaldun tentang hubungan antara alam, iklim dan manusia: kondisi iklim di planet bumi membentuk kebudayaan manusia. Dalam Muqaddimah, ia menulis satu pembahasan mengenai korelasi peradaban dengan kondisi kesuburan tanah dan kelaparan serta pengaruhnya terhadap akhlak manusia.

Relevansi Pemikiran Tokoh Dalam SoFes

Sebelumnya, telah digelar Sociology Festival (SoFes I) pada Mei 2018, di Benteng Orange, Kota Ternate. Ide mengenai pelaksanaan SoFes waktu itu dilatarbelangi oleh berbagai meta-realitas sosial di Maluku Utara.

Sehingga peran sosiologi di tengah masyarakat sangat diperlukan dalam memberikan kerangka analisa perkembangan dan perubahan sosial. Terutama realitas pendidikan di perguruan tinggi pada waktu itu mengalami penurunan kualitas, dan tokoh sosiologi yang diangkat pemikirannya dalam memotret realitas pendidikan adalah Piere Bourdieu.

Harapan diangkatnya perspektif Piere Bourdieu adalah sebagai suluh memahami realitas serta spirit baru perkembangan dan perubahan di dunia pendidikan. Fakta sosiologis itulah menjadi landasan mengapa SoFes digelar, yaitu memotret dan membingkai dinamika perkembangan sosial setiap tahunnya.

Sociology Festival kali ini akan memotert diskursus di Maluku Utara menggunakan paradigma Ibnu Khaldun. Sejauh manakah pemikirannya memiliki relevansi dengan persoalan di Moloku Kieraha?

Pertanyaan tersebut mengantarkan kita pada penjelasan Khaldun mengenai konsep solidaritas seperti sudah dijelaskan di atas, dinamikanya dapat diamati lewat tradisi kebudayaan di Maluku Utara. Tradisi babari (kerja sama) misalnya, adalah budaya gotong-rotong atau kerja sama yang sudah melekat sejak lama dimiliki komunitas suku di wilayah pedesaan.

Baik dalam bentuk menyelesaikan suatu pekerjaan, hajatan pernikahan, kematian, sunatan dan sebagainya. Berupa pertukaran tenaga kerja, sembako, uang dan kebutuhan lainnya yang oleh Marcel Mauss disebut Pemberian (1992). Memberi, menerima dan memberi balik adalah proses sosial yang terjadi terus-menerus. Proses itu membentuk jaringan pertukaran sosial permanen yang disebut solidaritas sosial.

Solidaritas kelompok sosial dapat kita telisik juga dalam setiap momentum politik. Misalnya setiap pemilihan kepala daerah baik bupati, wali kota, gubernur, tiap anggota komunitas akan lebih memilih pasangan calon berdasarkan identitas. Hal ini tidak lepas dari ketidakadilan dan kesamaan identias suku, agama dan tempat tinggal. Dalam keadaan demikian setiap suku dan agama mempunyai kepentingan dan aspirasi yang berbeda-beda. Tiap kepentingan dan aspirasi didukung oleh solidaritas masing-masing anggota kelompok.

Solidaritas sosial pada batas tertentu akan menciptakan konflik diantara kelompok sosial yang berbeda identitas. Berakibatnya terjadi saling serang diantara kelompok sosialpun tak bisa dihindari. Konflik agama tahun 1999 misalnya merupakan konflik identitas organisasi keagamaan yang berujung saling bunuh-membunuh antara kelompok Islam-Kristen dan ini tak lepas dari menguatnya solidaritas anggota saling membantu, melindungi satu sama lain.       

Tingkatan perasaan solidaritas pengetahuan lebih luas dimana setiap orang merasa senasib, seperjuangan, sikap peduli, menaruh hormat terhadap komunitas manusia serta makhluk lainnya yang disebut Khaldun sebagai geoklimatik (ekologi). Para aktivis dan organisasi lingkungan merasakan perasaan solidaritas kemanusiaan dan menantang keras perusakan alam akibat kebijakan pemerintah di sektor pertambangan.

Prof. Oekan Abdoellah, Dari Ekologi Manusia ke Ekologi Politik melihat pandangan Ibnu Khaldun, di dalam teori ekologi manusia disebut teori geoklimatik atas kebudayaan dan peradaban manusia. Dimana kondisi iklim, kondisi alam, keragaman musim, serta tingkat curah hujan memberikan pengaruh yang besar terhadap keragaman budaya dan bangunan sosial-politik, (2020:62-63).

Keragaman budaya dan bangunan sosial-politik komunitas di Maluku Utara mencakup pengetahuan, kearifan tradisional, tarian, nyanyian, bahasa, tempat-tempat keramat, inovasi dan praktik-praktik kehidupan dalam segala dimensinya. Yakni bertani, menangkap ikan, berburu, kerajinan tradisional dan sebagainya adalah bentuk peradaban manusia yang tidak terlepas dari kondisi alam yang membentuknya. Namun, peradaban dan kebudayaan masyarakat dalam perkembangannya akan mengalami kemunduran (keterpurukan).

Kebijakan pemerintah pusat maupun daerah di sektor pertambangan dalam mengelola sumber daya alam di daratan Halmahera berakibat terjadinya kerusakan alam begitu akut. Laut dan sugai dicemari limba industri pertambangan. Pembabatan hutan oleh pihak pertambangan di daratan Halmahera, pulau Gebe dan Obi menyisakan kerusakan ekologi dan budaya masyarakat tempatan. Atau dengan kata lain, aktivitas pertambangan mengakhiri ikatan ekologi dan budaya komunitas dengan alam. Lebih jauhnya, kerusakan ekologi berakibat pada suatu kelak akan terjadi krisis pangan dan melebarnya kemiskinan.

Konsep geoklimatik Ibnu Khaldun, membantu kita untuk menyadari bahwa krisis lingkungan yang semakin parah menghantam bumi dan mempercepat kerusakan alam menjadi penanda utama kehancuran kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Dalam jangka panjang kerusakan alam akan menghancurkan kebudayaan manusia dalam mengelola sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia, adalah bagian dari kemunduran peradaban.

Problem ekologi ini memunculkan solidaritas kemanusiaan baik di tingkat lokal, nasional hingga global dan menantang keras kebijakan yang tidak mengutamakan prinsip etika lingkungan hidup. Sejumlah fakta tersebut memperlihatkan pemikiran Ibnu Khaldun masih menjadi relevan dalam memotret berbagai kondisi kekinian.

Kritik Paradigma

Sosiolog Muslim ini (Khaldun) teramat jarang pemikirannya diperbincangkan baik di dunia akademik dan bahkan mungkin saja tidak dikenal masyarakat luas. Saya tidak tahu pasti mengapa kurang digemari, ataukah ada faktor lainnya sebagai penyebab terpinggirnya seorang pemikir hebat ini dalam lintasan ilmu pengetahuan.

Sebagai alumni sosiologi, saya menyadari betul bahwa Ibnu Khaldun bahkan tak dikenal di dunia kampus. Pengalaman semasa menjadi mahasiswa di jurusan sosiologi Univ. Muhammadiyah Maluku Utara, tidak seorangpun dosen sosiologi memperkenalkan pemikiran Ibnu Khaldun di setiap mata kuliah kepada kami. Baik pengantar, mata kuliah sosiologi klasik hingga modern. Ini menjadi landasan mengapa Ibnu Khaldun menjadi branding topics pada SoFes II.

Hal ini membahwa kita pada pertanyaan: bagaimana sehingga sosiolog muslim ini tak begitu dikenal di dunia kampus maupun ilmu sosial-humaniora. Pertanyaan tersebut menggiring kita untuk melacak episode sejarah pergulatan sosial-budaya dan politik peradaban dunia. Menurut Gustave Le Bon, pada abad ke-19 dan ke-10 M, ketika Islam di Andalusia pada masa kejayaannya, lembaga-lembaga intelektual Barat menjadi tempat persembunyian kebodohan raja-raja Barat yang semi barbarisme dan buta huruf. Sementara itu, tempat-tempat pendidikan Kristen di Barat dibina oleh para pendeta yang masih menggunakan metode jaman purbakala (Nur Syam, 2012:142).

Orang Islam Spanyol (Andalusia) membangunkan masyarakat Barat dari tidurnya, dan mampu mewujudkan mimpinya membawa Andalusia dalam kemajuan diantaranya dalam ilmu pengetahuan. Orang Islam Andalusia abad ini telah memberikan sumbangan yang begitu besar terhadap peradaban dan tamadun Barat, baik dari segi intelektual maupun perkembangan fisikal, Mahyudin Hj. Yahya (1990:101), Islam di Spanyol dan Sicity.

Semua itu dapat dilihat dari banyaknya peradaban Islam Andalusia dibawa ke negeri-negeri Eropa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di institusi-institusi pengujian tinggi di Kordova, Seville, Malaga dan Granada. Bahkan dibawa oleh para penjajah Kristian yang pernah hidup bersama dengan orang Islam di Andalusia.

Kejayaan peradaban Islam dalam perkembanganya mengalami pergolakan, peperangan sesama Muslim, ego kesukuan dan agama. Puncak keruntuhan Kordoba pada 1469 ketika Granada dikuasai Ferdinand dari Aragon dan Isabella dari Castile menikah untuk menyatukan dua kerajaan besar Kristen terbesar di Eropa. Membunuh, mengusir, memperbudak atau secara paksa mengubah Muslim dan Yahudi di Semenanjung itu.

Jauh sebelumnya seorang ahli sejarah Eropa, Anathol Frans mengatakan, “sejarah terpenting dalam kehidupan Perancis adalah pertempuran Bawatih- Bilath Asy-Syuhada, ketika Charls Martil berhasil mengalahkan pasukan Arab (kaum muslim) di Bawatih pada tahun 732 masehi. Pada saat itulah peradaban Arab mulai mengalami kemunduran di hadapan kebengisan dan keterbelakangan Eropa, lihat Raghib As-Sirjani, Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013:114).

Selain pemusnahan fisik, para raja Katolik juga memberikan sanksi terhadap vandalisme budaya. Teks Arab dan Ibrani yang berharga dibakar, juga sebagiannya dianggap penting dibawa oleh kerajaan Eropa. Bahkan mahakarya Muslim berupa istana alhambra maupun mesjid agung Cordoba dinodai. Pusat peradaban Muslim termegah di benua Kordoba hilang di telan jaman. Bangsa Eropa mulai mengawali kejayaannya sebagai perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Seorang peneliti dari Universitas Pennsylvania Amerika Serikat, Maria Rosa Menocal yang terkenal dengan karyanya tentang Andalusia. Mencatat, gerakan secara sengaja menghapus jejak kejayaan Islam dengan memusnahkan karya-karya cendekiawan muslim di abad pertengahan di Andalusia adalah untuk menancapkan tarung dominasi ilmu pengetahuan bangsa Barat sebagai pusat peradaban dunia modern.

Ilmu pengetahuan modern yang dipelajari sekarang ini adalah cara pandang Barat, yang berkembang dari revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17 dan ke-18. Kemajuan ini bahkan tak terlintas di alam pikir masyarakat dunia bahwa ada fakta sejarah yang melandasi revolusi itu. Seperti disebutkan Menocal, sedikit sekali orientalis Barat yang jujur mengakui peran cendikiawan Muslim sebagai penemu ilmu pengetahuan modern hasil akulturasi ilmu kuno Yunani dan Romawi dengan al-Quran.

Sehingga secara epistemologi masyarakat dunia berkiblat pada filsuf-filsuf Barat seperti Galileo Galilei, Francis Bacon, Rene Descartes, Isaac Newton, Aristoteles, Imanual Kant, Saint Simon hingga Auguste Comte dan sebagainya yang mendasarkan ilmu pengetahuan modern pada dasarnya sekuler, mekanistis dan reduksionistis. Sebuah cara pandang individualis, egosentris dan dalam etika lingkungan disebut antroposentris.

Dominasi ini membuat kita jarang melirik khasana dan kekayaan ilmu pengetahuan yang bersumber dari ilmuan Muslim. Sebab penegasan mereka lebih pada etika sosial dan kearifan tentang manusia, alam dan budaya dengan ekologis. Dan salah satunya adalah Ibnu Khaldun, bapak sosiologi Islam.

Pada titik ini kita perlu suatu perubahan mendasar dan revolusioner yaitu perubahan mental, sikap dan perilaku terhadap tatanan dunia kekinian. Yang oleh Fritjof Capra (1997) disebut sebagai titik balik perabadan. Ilmu pengetahuan Barat merupakan residu peradaban yang tereduksi oleh sistem yang kita kenal dengan modernisme. Dan sekarang kita sampai pada puncak perubahan yang dramatis penuh resiko.

Sehingga paradigma mekanistis-reduksionis mesti ditinggalkan dan menancapkan pemahaman, sikap hormat sesama manusia serta makhluk lainnya berdasarkan prinsip-prinsip moral. Bahwa setiap makhluk hidup baik manusia, komunitas biotis dan ekologis memiliki nilai pada dirinya sendiri yang harus dihargai serta mendapat perlakuan yang sama secara etis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Menampar “Wajah” Intelektual