Cerita Keluarga Nelayan di Jambula, Kampung Nelayan di Ternate

 


Samiun Basir sesekali memandang ke laut, memastikan kepulangan putra sulungnya dari melaut. Matahari hampir tenggelam, tapi perahu anaknya belum juga nampak dari kejauhan.

Jumat sore itu, 4 Februari 2022 di Kelurahan Jambula, Kota Ternate, Maluku Utara, Samiun menikmati kopi sambil merokok di dapur usai membantu istrinya, memotong ikan tuna kecil hasil tangkapannya Kamis kemarin. Ikan itu untuk lauk makan malam mereka.

Tiba-tiba terdengar Assalamualaikum dari arah pintu ruang depan. Suara itu tak lagi asing baginya. Ia hanya berteriak minta tamu untuk masuk. Benar, Yasim Taher, ketua koperasi, yang di mana ia juga sebagai anggotanya.

Istrinya, Nurjani, yang lagi memasak, jadi turut mendengar obrolan mereka. Sesekali mengiyakan apa yang diceritakan suaminya, ketika menyetujui langkah ketua koperasi yang datang sore itu.

Yasim sementara lagi mendatangi para nelayan Jambula untuk meminta mereka berfoto dengan perahu nelayan mereka masing-masing. Termasuk Samiun dan anaknya.

Langka itu untuk memastikan mereka benar-benar berprofesi sebagai nelayan, sehingga bila ada bantuan dari pemerintah, pendistribusiannya tepat sasaran. Karena itu, ia juga menanti kedatangan Istam, putra sulung Samiun itu.

Kopi belum juga habis, Nurjani menunjuk ke arah laut, seraya berseru perahu anaknya sudah kelihatan. Ibu tiga anak itu mengenal betul perahu milik suaminya.

Samiun langsung berdiri dari kursi dan mengajak Yasim bergegas ke pantai, yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah mereka. Saat tiba ke pantai, nelayan 35 tahun itu sudah membuang sauh, kemudian mendekatkan longboat fiber dua mesin 15 PK tersebut ke bibir pantai. Ia lalu menurunkan hasil tangkapannya.

Samiun bersama istri, Nurjani, dan menantunya, Nursan Dahlan, menyambut kedatangannya. Lalu, membantu menurunkan tangkapan tersebut. Hasilnya lumayan, satu ekor tuna sekitar sepulu kilo lebih dan puluhan ekor tuna kecil.

Para nelayan itu baru pulang memancing. (Dok: Ghalim/jalamalut)

Dengan gerobak, ikan-ikan hasil tangkapan tersebut diangkut ke rumah. Sambil menunggu pembeli, ikan itu diletakkan di lantai beralaskan karung. Satu ikan tuna besar langsung diangkut oleh anggota koperasi untuk ditimbang.

Hari itu, Samiun tak melaut. Ia ke kebun, setelah sehari sebelumnya sudah melaut. Itu telah menjadi kebiasaannya, sebagai seorang nelayan yang juga memiliki kebun pala. Meski begitu, ia lebih banyak melaut, karena nelayan profesi utamanya.

Berkebun hanya mengisi waktu senggang saya. Kalau saya istirahat Trenbolone effects on cholesterol, testosterone collection – Elite Test & Training buy trenbolone acetate online is amazon getting into the pharmacy business? this is what you need to know mengail, saya ke kebun pala

Lelaki usia 56 tahun itu, mulai melaut setelah menikah dengan Nurjani Kahar pada 1987. Saat itu, usianya baru sekitar 18 tahun. Mulanya, ia menggunakan perahu sampan untuk memancing ikan-ikan kecil, seperti pelagis kecil dan tongkol.

“Siang saya mengail ikan tude [pelagis kecil], malam saya mengail komo (tongkol). Saat itu, hasilnya dalam sehari, sekitar tiga baskom hitam besar, yang sering menjadi tempat ikan waktu itu. Ukurannya seperti itu, karena belum pakai timbang,” ceritanya.

Ikan-ikan itu dijual oleh istrinya, per tusuk (10 hingga 15 ekor) 1500 di depan toko Ambon, kelurahan Gamalama. Dan, karena pendapatannya banyak, dalam sehari istrinya bisa tiga kali bolak-balik untuk menjual. Hasilnya, 500 lebih per hari. Baginya, hasil itu lumayan dapat menghidupkan keluarganya dan membikin rumah.

Dua tahun terakhir, ia sudah beralih menangkap ikan tuna. Penangkapan itu menggunakan alat pancing tarik. Karena harga ikan tuna lebih mahal. Apalagi sejak ada pembeli di kampung, mereka tak lagi direpotkan dengan urusan pemasaran. Ikan itu dibeli dengan harga 45 ribu per kilo.

Bersama anaknya, sekali melaut, mereka bisa dapat lebih dari seratus kilo. Dalam sehari, pendapatan mereka bisa dua juta per orang.

“Tapi kadang, tidak dapat hasil sama sekali. Karena itu, sering juga harus cari ikan tuna kecil dan cakalang untuk dijual menutupi biaya minyak,” katanya.

Samiun merasa melaut hasilnya menjanjikan, dua putranya, Istam Samiun dan Anas Samiun, sudah diajarkan melaut semenjak masih di bangku SMA. Dengan cara keduanya diajak setiap kali melaut. Karena itu, terutama kini putra sulungnya, menjadi teman saat melaut.

Istam, juga memilih nelayan sebagai pekerjaan utama, sambil bekerja tambahan sebagai satpam di Dinas Pariwisata Kota Ternate. Sementara putra keduanya, harus istirahat karena menjalankan tugas sebagai satpam di pertamina Sanana, Kepulauan Sula.

Kini, ia sudah menggunakan longboat dua mesin. Satu mesin ia beli sendiri, satu lagi dibeli anaknya melalui kredit usaha rakyat. Sebelumnya, awal melaut (1990-an), ia juga sempat mengambil uang tiga juta di bank, tapi karena lama baru bisa dilunasi, mendapat bunga, ia harus membayar sampai seratus juta lebih.

Kendati begitu, ia mengakui, berkat intensitas melaut, ia dapat melunasi hutang di bank, dan hidupnya makin membaik. Apalagi, ia juga memiliki kerja tambahan, seperti bertani pala. Karena itu, terkadang anaknya harus melaut sendiri, saat ia istirahat ke kebun. Bisanya, mereka mulai keluar melaut pukul tiga subuh, atau pukul 19.00. kembalinya sore, jelang magrib.

“Biar dia pigi mengail sendiri, uang minyak itu saya yang tanggung. Tapi kadang-kadang, kalau pulang saya minta dia ganti seratus ribu,” kata Samiun.

Selain melaut dan bertani, ia juga berternak sapi. Samiun pernah memiliki puluhan sapi, tapi sebagian sudah dijual. Saat ini tinggal empat ekor. Meski begitu, nelayan menjadi profesi utamanya, dan itu sudah terjadi turun-temurun dalam keluarganya. Mulai dari ayahnya, hingga ia juga mengajarkan kedua putranya.

Kampung Nelayan

Samiun belum dapat informasi saat kelurahan Jambula ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai kampung nelayan di Ternate, sebagaimana pemberitaan Halmaheropost.com, 2 Februari lalu. Ia memang terlibat dalam kelompok nelayan dan koperasi, tapi belum mendapat informasi itu.

Istam Samiun, memperlihatkan tangkapan tuna (Dok: Ghalim/jalamalut)

Memang, menurutnya, warga di Jambula sebagian besar adalah nelayan. Para nelayan itu terhimpun dalam kelompok nelayan, yakni Marimoi, Marimoi Jaya, dan Bubula Majang. Dua dari tiga kelompok nelayan itu punya koperasi, Marimoi dan Marimoi Jaya. Ia tergabung dalam koperasi Marimoi Jaya, bersama 25 nelayan lainnya.

Namun, ia mengakui, hingga kini belum pernah mengikuti pelatihan apa pun, terutama yang berkaitan dengan produksi dan pemasaran hasil tangkapan. Bahkan, hingga puluhan tahun ia melaut, sama sekali belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

“Justru, ada orang yang bukan nelayan, karena dorang [mereka] cuma mengail buang-buang di pinggir pantai [memancing dari pesisir pantai] hanya untuk makan, yang dapat bantuan,” ungkapnya.

Pernah, tambahnya, pemerintah memberi bantuan dua longboat, tapi bukan pada orang yang tepat. Selain itu, ia juga menyebut beberapa nelayan di Kelurahan Kastela, kampung tetangga mereka, juga sering mendapat bantuan dari pemerintah.

Ia sendiri, dulu sekitar tahun 2014, pernah mendapat satu longboat bersama nelayan lainnya di Jambula, hasil ganti rugi dari pihak kapal Patriot Andalan yang karam di pesisir Jambula. Sebab, kapal yang karam itu merusak terumbu karang, taripang, dan banyak ikan yang mati. Karena diproses hukum, pihak kapal dikenakan ganti rugi.

Sementara,Yasim Taher, ketua koperasi Marimoi Jaya, sudah mengetahui Kelurahan Jumbula ditetapkan sebagai kampung nelayan. Karena itu, saat ini ia berupaya menertibkan data nelayan sehingga bisa dapat bantuan dari pemerintah. Saat ini mereka lagi berupaya untuk mendapat bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk bikin rumah produksi.

Saat ini, nelayan di bawah pimpinannya sudah fokus menangkap tuna. Sesuai pendataan yang baru direkap bulan September sampai Desember 2021 kemarin, mereka sudah menghasilkan sembilan ton ikan tuna. Itu di luar ikan kecil, yang hasilnya mencapai lima ton lebih.

“Ikan-ikan itu kami jual ke Pak Agus, pembeli tuna asal Sulawesi Utara yang bermukim di Jambula,” ujarnya.

Di luar itu, pihaknya juga saat ini sudah menggelar pelatihan, memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari pertamina. Pelatihan pengolahan ikan ini melibatkan ibu-ibu nelayan, seperti bikin abon, nugget dan bakso. Dan, hasilnya saat ini sudah mulai dipasarkan, meski masih dalam skala kecil.

2 thoughts on “Cerita Keluarga Nelayan di Jambula, Kampung Nelayan di Ternate

  1. I was extremely pleased to discover this page. I want to to thank you for ones time due to this wonderful read!! I definitely appreciated every part of it and I have you bookmarked to look at new information on your web site.

  2. Нello all, guуsǃ I knоw, mу mеѕѕagе mаy be toо ѕpeсifіc,
    Βut mу sіstеr found niсе man herе аnd they marrіed, ѕо how about mе?ǃ 🙂
    Ι аm 25 yearѕ оld, Νаtalia, frоm Ukrаinе, I know Εnglіѕh аnd Gеrmаn lаnguageѕ also
    Αnd… I hаve ѕрecіfiс disеaѕe, nаmеd nуmphomаnіа. Ԝhо know whаt is this, сan underѕtand mе (better to sау it іmmediatеly)
    Аh уeѕ, I cоok very tаѕtyǃ аnd I love nоt only сoоk ;))
    Ιm rеal gіrl, nоt prоѕtіtute, and loоking for ѕerіouѕ аnd hot rеlatіonshір…
    Аnywaу, уou cаn find mу рrоfilе hеre: http://asanniti.tk/user/6841/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Meriahkan Sail Tidore dengan 150 Booth Pelaku Usaha
Next post Pameran Lokal Orang Maluku Utara di Sail Tidore 2022 Nanti