Menengok Bengkel Sepeda Tua di Ternate

Bersama Rian, teman saya, Sabtu siang, 29 Januari 2022 itu, kami menyambangi bengkel sepeda di tepi jalan Mangga Dua, Ternate, Maluku Utara. Di beranda bengkel, tampak Ari Honson Liode, anak pemilik bengkel itu, menyervis dua sepeda. Ia menggantikan Cano Liode, ayahnya yang istirahat dua tahun lalu karena sudah tua dan terjatuh sakit.

Di dalam bengkel tersebut, tertampung puluhan sepeda tua yang tak lagi layak diperbaiki. Meski begitu, sepeda-sepeda bekas itu beberapa bagiannya, seperti stang, saddle, pedal, dan rantai, bisa digunakan untuk mengganti kerusakan sepeda lain, bila akan diservis.

Saat menemuinya, lelaki 46 tahun itu memberi tahu bahwa ayahnya lagi terbaring di sofa ruang depan rumah yang bersebelahan dengan bengkel tersebut. Sambil memperbaiki sepeda pelanggan, Ocen bercerita, bengkel itu ia upayakan untuk tidak ditutup, karena satu-satunya sumber pencarian ayahnya yang selama ini menghidupi ia dengan tiga saudaranya.

“Berkat bengkel sepeda ini, torang [kami] bisa hidup, dan saya pe saudara dua (dua saudara saya) bisa jadi sarjana teknik,” katanya.

 

Ari Honson Liode, anak pemilik bengkel itu, tampak menyervis sepeda. (Dok: Ghalim/jalamalut)

Tempat servis sepeda itu, para pelanggan di Ternate mengenalnya dengan nama bengkel Om Sam. Nama yang diambil dari panggilan akrab kakek 87 tahun itu.

Setelah bercerita beberapa menit, kami menengok Kakek Sam. Ternyata, ia telah bangun dari rebahan di sofa. Kami kemudian minta Ocen untuk menyampaikan maksud kedatangan kami menemuinya. Setelah masuk dan keluar dari rumah, ia menyampaikan sediaan Sam, tapi setelah makan dan minum obat.

Dibantu anaknya, Sam melangkah tertatih-tatih keluar dari rumah menemui kami. Ia bercerita, membangun bengkel itu pada 1960-an. Suami dari almarhumah Lin Kasangke itu datang dari Gorontalo untuk mengadu hidup di Ternate pada 1955. Ketika tiba di Ternate, ia sempat bekerja sebagai buruh di bengkel Sidodadi. Setalah mendapat sedikit modal ia membuka bengkel sendiri di kelurahan Falajawa Satu.

Awalnya, ia lebih banyak terima sepeda becak, kemudian sepeda onthel milik suster rumah sakit Dharma Ibu. Namun, karena belum merasa beruntung, ia sempat mencari peruntungan ke Tobelo, tetapi tak bertahan lama. Hanya dua tahun, ia memilih kembali ke Ternate, tempat semula, Falajawa. Saat itu, sehari hanya bisa terima dua sepeda.

Kendati begitu, ia terus bertahan. Hingga kemudian pada tahun 2000an, ia lalu pindahkan bengkel ke ke Mangga Dua, di lahan yang dipinjamkan keluarganya. Di istu pelanggan sepeda makin meningkat, dalam sehari bisa terima 20 sepeda.
Namun, makin ke sini saat usia semakin menua, tenaganya juga semakin lemah. Padahal, masih ada peluang karena bengkel sepeda hampir tak lagi ada. Banyak bengkel sepeda motor.

Kakek Sam bersama Rian saat berada di Beranda Bengkel miliknya. (Dok: Ghalim/jalamalut)

Sam mengaku keterampilan servis sepeda ia latihan sejak masih di Gorontalo. Ia memiliki minat dalam teknisi, karena itu sering memperbaiki sepeda orang-orang dekat, seperti kerabat dan keluarga. Lalu, memulai dengan membuka jasa servis.

“Walau begitu, tidak banyak pelanggan, hanya satu dua sepeda dalam sehari yang saya perbaiki. Karena itu, saya mencari jalan untuk merantau ke Ternate,” kenangnya.

Ia memang hanya menempuh pendidikan sampai SD kelas tiga. Tapi, ia memiliki banyak keterampilan secara otodidak. Selain sepeda, ia juga bisa menyervis sepeda motor, karena banyak juga yang sering membawa sepeda motor padanya. Hanya bermodal berani ia tangani kendaraan itu.

Namun, semakin sering ia menolak dan hanya menerima sepeda. Dulu memang, ia tak berniat membuka pelanggan yang menyervis sepeda motor, karena ingin berbagi rezeki dengan yang lain.

Bengkel itu dalam sehari, kata Sam, bisa dapat keuntungan 200 rb. Meskipun sekarang pendapatan mulai menurun, terkadang hanya dapat 50 ribu per hari.

Kendati pendapatan cukup, keterampilan tersebut membantu ia menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Ia juga bisa berangkat umrah bersama istrinya. Namun kini, sudah waktunya ia istirahat, karena sudah harus bolak-balik rumah sakit untuk berobat. Ia bersyukur, ada anaknya yang meneruskan bengkel itu.

***
Bagi Ocen, bukan urusan gampang, seperti ayahnya yang konsisten menghidupkan bengkel selama 62 tahun. Kendati peluang bengkel sepeda makin kecil. Karena sepeda bukan lagi menjadi kendaraan utama masyarakat, sehingga bengkel sepeda pun sudah jarang ditemukan di Ternate.

“Saya merasa terpanggil menyambung kerja ayah agar bengkel ini tidak tutup. Biar bagaimanapun, bengkel inilah yang menghidupi kami sekeluarga,” kata lelaki dua istri itu.

Ia mengaku, selama ini merantau dan bekerja di kapal rute Sulawesi Jawa. Tapi, harus kembali saat ibunya meninggal 2019 lalu. Dan, saat itu, melihat ayahnya tak lagi sanggup bekerja, ia putuskan untuk menggantikannya.

Kini, hari-hari harus memperbaiki sepeda. Ia hanya bermodalkan pengalaman sejak remaja, saat masih membantu ayahnya perbaiki sepeda.

“Dulu, kalau papa perbaiki sepeda, mama jaga suruh torang [kami] antar makanan. Di situ torang jaga lia-lia papa (ayah) perbaiki sepeda. Kadang torang juga baku bantu, papa suru ambil alat, pegang-pegang sepeda, perlahan-lahan hingga terlibat memperbaiki,” ceritanya.

Meski sering masih banyak pelanggan, kini ia hanya sanggup mengerjakan empat sampai lima sepeda per hari. Satu sepeda, misalnya, hanya menempel ban, biaya kerjanya 12 ribu. Kalau mangkok tengah 20 ribu.

“Kerusakan sepeda hanya banyak di bagian itu, seperti ban, mangkok dan hagel belakang,” tambahnya.

Ocen mengaku, selama ini ayahnya tak pernah dapat bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan usaha bengkelnya. Ayah, kata ia, tak tahu cara meminta bantuan ke pemerintah.

Memang sempat diberitahukan orang untuk mengajukan proposal, tapi ia merasa repot dan tidak ada waktu. Sementara, ia harus rutin menyervis sepeda pelanggan yang kadang banyak antri di bengkel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Menanti Sail Tidore, Pagelaran yang Akan Menghimpun Ribuan Orang
Next post Kampung: Watak Kolonial dan Masa Depan yang Suram (2)