Kisah Pilu Mama Nia Ketika Lahan Kangkungnya Diterjang Banjir Rob

Tangis Mama Nia pecah bersama deru ombak yang menerpa lahan kangkungnya awal Desember 2021 lalu. Di wajahnya, sisa-sisa sedih itu seolah masih tampak.

Sore itu di lahan kangkungnya, Mama Nia (60) mengambil pelepah daun kelapa untuk memagar lahannya. Ia kemudian memotong setumpuk kangkung untuk diikat lalu dibawa pulang ke rumah.

Di atas tumpuan kangkung itulah, Mama Nia bercerita tentang banjir rob yang menyerbu lahan sayur miliknya beberapa pekan lalu. Nada suaranya parau, sambil memandang ke pantai.

“Rasa sakit, lelah, dan setengah mati. Kami angkat pasir dengan tenaga sendiri untuk bikin tanggul. Dalam waktu dekat ini Gambesi akan miskin. Bagaimana nasib anak-anak kami mau sekolah nanti,” kenang Mama Nia, saat itu.

Mama Nia berdiri di atas tumpuan kangkungnya ketika gelombang pasang menerjang pesisir Ternate, Maluku Utara. Mama Nia mengaku tak bisa menahan air matanya melihat daun-daun kangkung itu digenangi air setengah lutut orang dewasa.

Lahan kangkung Mama Nia memang cukup dekat dengan pantai. Jaraknya sekira 10 meter. Itu membuat lahan tersebut sering jadi ancaman jika musim ombak datang. Dua lahan kebun itu, dikelolanya sudah sejak lama. Mama Nia bilang pada tahun 1980-an petak lahan itu mulai digarap.

“Berkat lahan ini juga, torang pe kebutuhan sehari-hari di rumah alhamdulillah bisa terpenuhi,” kata Mama Nia.

“Tapi banjir rob kemarin, bikin penghasilan menurun. Biasa sebelum kejadian ini, penghasilan bisa sampai satu juta lebih. Sekarang sebagian kangkung mati, jadi penghasilan menurun,” tambahnya.

Usai banjir rob, Mama Nia mengaku didatangi beberapa orang untuk mengambil gambar. Mereka memotret lahannya yang terdampak, sementara ada juga jurnalis. Tetapi, ia merasa hal itu biasa-biasa saja.

“Orang cuma kamari foto-foto, bantuan tara pernah datang, cuma bagitu-bagitu saja,” kesal Mama Nia saat ditemui kru jalamalut di Kelurahan Gambesi, Ternate Selatan, Kota Ternate, Senin 3 Januari 2022.

Mama Nia berharap agar tanggul penahan ombak segera dibangun, seperti halnya di kelurahan lain yang sudah dibangun.

Kota Ternate dan daerah lain di Maluku Utara, pada awal Desember 2021, memang dilanda cuaca ekstrem. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Ternate mencatat 920 jiwa pengungsi banjir rob. Mereka tersebar di beberapa kelurahan.

Kota Ternate pun menetapkan status tanggap darurat melalui keputusan Wali Kota M Tauhid Soleman, tertuang dalam SK nomor : 130/III.6/KT/2021 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Banjir Rob di wilayah Kota Ternate tahun 2021. Status tanggap darurat ini akhirnya dicabut pada 19 Desember 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Video Clip Budaya untuk Sail Tidore 2022
Next post Kampung: Watak Kolonial dan Masa Depan yang Suram (1)