Skola Seni dan Geliat Kesenian Maluku Utara

Kehadiran Skola Seni menjadi satu-satunya aktivitas kesenian di Maluku Utara yang bersifat inklusif. Di sini, orang-orang dapat ‘memungut’ ilmu secara gratis dari para maestro yang sudah lama menekuni dunia kesenian.

Pembentukan Skola Seni Maluku Utara, yang baru saja digelar pembukaannya pada Senin (1/11), di Benteng Oranje, Kota Ternate, bakal menjadi wadah yang menghimpun calon seniman di Maluku Utara.

Usai dibentuk, satu-satunya Skola Seni terbesar di Maluku Utara ini membuka kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang kesenian.

Kepala Skola Seni Maluku Utara, Hasfian Hasyim, kepada jalamalut, Rabu (4/11), mengatakan dibentuknya Skola Seni merupakan hasil kerja kolektif seniman Maluku Utara yang tersebar di berbagai daerah di tanah air.

“Sebutlah teman-teman dari Bali, Bandung, Jogya, Jakarta dan untuk lokalnya hampir merata Ternate, Tidore,  Halmahera, Makian, Bacan, Obi, Sula,  Taliabu dan Morotai,” kata Hasfi.

Bermula dari semangat menggaungkan seni itu, kata Hasfi, maka Tim Konservasi Seni Malut sadar akan pentingnya sebuah institut seni yang berdiri dan berperan menumbuhkan potensi sumber daya di Maluku Utara.

“Agar dapat manjawab kebuntuan berkesenian selama ini, yang selalu menempatkan seni pada bagian akhir daripada role model pembangunan, bahkan keropos dan tidak menyentuh pada substansi pembangunan itu sendiri,” jelasnya.

Poster grand opening Skola Seni Maluku Utara. Foto: Istimewa

Hasfi bilang, selama ini aspek kesenian tidak dilibatkan secara holistik untuk mengapungkan kekayaan seni di Maluku Utara, baik secara nasional maupun global.

Fahdi Hasan, Koordinator TIM Konservasi Seni Malut, mengatakan selain seniman, ada juga akademisi yang secara sukarela membagi ilmunya untuk teman belajar (siswa) Skola Seni. Meski baru dibentuk, sudah ada puluhan pengajar yang siap mengisi kelas di sekolah tersebut.

“Pengajar terdiri dari para maestro, yakni dari praktisi maupun  akademisi. Mereka sudah ambil bagian di ajang nasional maupun internasional, sebut saja Jogja Biennale, Boki Emelia Show. Jadi siapa saja bisa mendaftar sebagai teman belajar di Skola Seni, tidak dibatasi usia dan dari daerah mana pun bisa bergabung,” jelasnya.

Saat ini, lokasi belajar Skola Seni masih menggunakan sejumlah fasilitas di Benteng Oranje. Benteng yang banyak menyimpan tinggalan sejarah ini juga menghimpun banyak komunitas orang muda yang cukup antusias mendukung Skola Seni.

“Fasilitas belajar sementara kita masih sukarela dibantu oleh sejumlah komunitas seni di Kota Ternate, tetapi kelasnya sudah jalan beberapa hari ini,” kata Muhammad Sahab, salah satu pendiri Komunitas Nomat.

Menurutnya, kehadiran Skola Seni Maluku Utara menjadi kesempatan untuk membangun potensi seni. Ia pun berharap agar generasi muda dilibatkan dalam menggaungkan kesenian Maluku Utara.

Belajar dari Para Maestro

Skola Seni menyediakan berbagai kelas belajar, mulai dari seni rupa, pertunjukan, musik tradisional, bahkan pembuatan film hingga belajar aliran musik barat.

Salah satu seniman seni rupa Maluku Utara, Salim Atamimi (71), saat berkesempatan berbagi ilmu dengan para peserta Skola Seni, siang itu, Rabu (4/11), mengatakan, belajar seni merupakan kecakapan yang harus ditingkatkan di zaman sekarang.

Kelas Seni Rupa yang diisi oleh Salim Atamimi, seniman seni rupa di Maluku Utara. Foto: Rian/jalamalut 

“Ini menjadi momen penting untuk mereka yang mau belajar seni. Seseorang harus dilandasi dengan pengetahuan seni agar dia dapat berekspresi dan menciptakan karya,” ujar pencipta karikatur Om Faduli tersebut.

Sementara itu, salah satu peserta Skola Seni Malut, Muhdin M Yahya, usai mengikuti kelas seni rupa, menyebut dirinya sangat beruntung bisa bergabung dengan skola tersebut. Ia bilang, pelajaran seperti seni rupa baru pertama kali di Maluku utara.

“Bagi saya ini sangat luar biasa. Proses belajarnya juga sangat santai, dan ini jadi inspirasi untuk generasi muda dalam mengembangkan bakatnya,” kata Muhdin.

Tim Pengajar Skola Seni Maluku Utara:

  • Hasan Ali (Musik Tradisi)
  • Oji Heuvelman (Musik Tradisi)
  • Fauzan (Musik Barat, pengajar gitar)
  • Maulana Moestafa (Musik Barat, pengajar gitar)
  • Fahdi Hasan (Seni Pertunjukan)
  • Jerry Dounald R (Seni Rupa)
  • Salim Atamimi (Seni Rupa)
  • Rahma Fara (Sastra)
  • Abdul RaufKriya (batik)
  • Apoel Mailoa (Literasi Teater Rakyat)
  • Zainudin M Arie (Teater)
  • Muchlis Kamarullah (Teater)
  • Hasfian Hasym (Film, DKV)
  • Opan Jacky (Videografer)
  • Ivan Dahlan (Fotografi & Film)
  • Karman Hirto (Film)
  • Muhaimin Usman (DKV)
  • Ari Kusno (Musik Barat)
  • Muhammad Sahab (Organisasi Seni)
  • Faris Bobero (Penulisan Kreatif)
  • Arie Kusno (Musik Barat)
  • Fajrin Ali Mahmud (Seni Rupa)
  • Presiden Tidore (Kriya Tenun)
  • Isa Tidore (Seni Tari)
  • Is Baskara (Seni Tari)
  • Tiara Fardilla (Seni Tari)
  • Tresya (Seni Tari)
  • David (Seni Tari)
  • Is (Rumah Kotak Kreatif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Kisah Yayu, Penjaja Manisan di Bandara Sultan Baabullah Ternate
Next post Cerita Orang Muda Jadi Petani Milenial di Ternate