Mengibarkan Merah Putih di Benteng Gamlamo

Enam tenda kemah di tepi pantai terlihat berjejer. Kainnya sedikit basah embun semalam. Di samping tenda itu, beberapa orang muda terlihat duduk di kursi pendek, berhadapan sambil menyeruput kopi. Tak jauh dari mereka, ada sebuah bangunan bertingkat berbahan papan.

“Sudah jam sembilan lewat. Ayo kumpul di depan tiang bendera. Upacara segera di mulai,” panggil Zafira D, salah satu staf di Perkumpulan Pakativa, Selasa, 17 Agustus 2021.

Tiga orang anak yakni Haedar Ali Elmurtada (10 tahun), Fatimah Azzahra Ratuela (10 tahun), dan Almira Geminastiti Haliyora Bobero (5 tahun),  sudah siap di tiang bendera yang terbuat dari bambu.

Sementara, beberapa orang muda yang tadi sedang menyuruput kopi, langsung bangkit dari duduk lalu bersejajar di sepanajang pesisir pantai, menghadap tiang bendera. Beberapa anak-anak dan orang tua yang sedari tadi berada di lokasi itu pun ikut upacara sederhana itu.

Haedar Ali Elmurtada (10 tahun), Fatimah Azzahra Ratuela (10 tahun), dan Almira Geminastiti Haliyora Bobero (5) tahun,  sudah siap di tiang bendera yang terbuat dari bambu. Foto: Faris Bobero.

Fatimah Azzahra Ratuela membentangkan Sang Saka Merah Putih. “Bendera siap!,” teriak Mazza, sapaan Fatimah Azzahra Ratuela. Sementara, Haedar Ali Elmurtada menarik pelan tali, Sang Saka mulai berkibar pelan.

Puluhan orang yang ada itu melantunkan Indonesia Raya, yang diciptakan WR. Supratman. lagu wajib Nasional ini, pertama kali dinyanyikan Supratman menggunakan biolanya pada 28 Oktober 1928, saat Kongres Pemuda.

Penghormatan Sang Saka Merah Putih, saat momen peringati HUT ke-76 RI secara sederhana itu, diinisiasi oleh Dodoku Dive Center. Sungguh, saya takjub melihat proses itu. Sebab, sebelumnya, tak ada gladi persiapan. Saat penghormatan, Haedar, Fatimah, dan Almira Geminastiti, yang berperan mengibarkan bendera itu, bahkan terlihat khusyuk.

Suasana pengibaran bendera di Benteng Gamlamo. Foto: Layang Sutanto

Bagi saya, ini adalah sejarah mereka bertiga. Saya harus menulisnya dengan sederhana. Di tempat bersejarah Benteng Gamlamo, terletak di selatan kota Ternate– salah satu situs benteng terbesar dalam sejarah colonialism di Asia Tenggara.

Ada banyak penyebutan untuk benteng jejak Portugis ini. Dalam catatan sejarah, Gamlamo juga disebut Sampalu atau Malayu, Nostra Senora del Rosario, hingga Kastela.

Peristiwa kelam tentang benteng ini, sudah banyak tertulis. Penghianatan Portugis terhadap Ternate, masih tersimpan di ceruk ingatan, saat Sultan Khairun dibunuh pada 28 Feburari 1570. Hingga Sultan Babullah membalasnya.

Namun, bukan itu yang menjadi fokus saya menulis. Nostalgia catatan sejarah ini sudah banyak ditulis. Meski begitu, kondisi benteng terbesar di Pulau Ternate ini, tak seindah catatan sejarah.

***

Sang Saka Merah putih sudah berkibar. Beberapa lembaga, yang saat itu hadir, yakni Perkumpulan Pakativa, Walhi Maluku Utara, Ternate Heritage Society, dan NBCL, Jalamalut Media Grup, hingga anak-anak pesisir di sekitar, berkumpul lagi. Kali ini, mereka melepasliarkan tukik atau anak penyu, kembali ke habitatnya.

Tukik di bak milik Dodoku Dive. Foto: Faris Bobero.

Tukik sudah ke laut. Para orang mud aitu kembali duduk di kursi pendek, sambal berbagi cerita. Sementara, beberapa petugas terlihat memakai helm dan seragam. Mereka sedang membangun proyek parit di tengah benteng itu.

Tugu peringatan pembunuhan Sultan Khairun masih kokoh di tengah lokasi benteng. Di depan tugu itu, ada semacam prasasti yang entah isinya apa. Baru dibangun.

Anak-anak saat ikut pelepasan tukik. Foto: Faris Bobero.

Saya hanya melihat prasasti itu dari jauh. Pikir saya, peristiwa bersejarah membangun prasasti baru di depan tugu itu, harus ditulis lagi. Temui narasumbernya. Orang yang membangun itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Kumparan dan Amazon Berkolaborasi
Next post Cerita Abduh Lestaluhu Tendang Bola di Ternate