Haji Salahuddin dan Revolusi Halmahera

Gejolak perang itu terjadi sekitar 1941 hingga1947, ahli sejarah menyebut kejadian itu sebagai paruh waktu meletupnya peristiwa “revolusi Halmahera”. Sebanyak 3.000 pasukan Sarekat Jamiatul Iman Wal Islam, organisasi bentukan Haji Salahuddin di Halmahera, dipaksa bergerilya melawan serbuan serdadu Belanda.

Di malam-malam penuh pencengkeraman itulah, pasukan Haji Salahuddin kerap mempersenjatai diri. Bagaimana pun, manuver Belanda menguasai daratan Halmahera masih cukup mengganas. Di tahun yang sama, Haji Salahuddin turut bergabung dengan Sarekat Islam Merah (SI Merah) di bawah komando Semoen.

Buku Sejarah Indonesia Modern: 1200-2004 karya M.C Ricklefs (2005) menjelaskan puncak berkembangnya Sarekat Islam di tahun 1912. Selaras dengan bangkitnya semangat nasionalisme di Indonesia awal abad ke-20 Masehi, Keanggotaan SI (sebelum pecah) tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, tetapi meluas ke Sumatera, Sulawesi, hingga Kepulauan Maluku.

Kilasan Juang Haji Salahuddin

Bila menyebut tokoh penggerak SI Merah atau Sarekat Islam Merah di Maluku Utara yang menentang penjajahan Belanda di paruh waktu 1928, tak asing jika mencerap nama Haji Salahuddin Bin Talabuddin, sang pejuang dari Jazirah Halmahera, Maluku Utara.

Lelaki kampung ini dibesarkan dengan nama Salahuddin Bin Talabuddin. Ia lahir di Desa Gemia, Patani Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, tahun 1874 (Adnan Amal, 2010).

Dalam catatannya, Adnan Amal (2010) menyebutkan, khitah perjuangan Haji Salahuddin ialah menyebarluaskan cita-cita proklamasi kemerdekaan RI. Ia juga sigap dalam meneguhkan panji Islam, sebuah gerakan perlawanan terhadap Belanda yang sejak awal sudah ia lakukan di Raja Ampat, Papua.

Selain menjadi bagian SI Merah, di tahun 1941-1947, Haji Salahuddin tergabung pada sejumlah organisasi nasional yang punya misi merebut kemerdekaan RI dari cengkeraman penjajah. Organisasi itu adalah Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dan Perindra (Partai Indonesia Raya).

Tak hanya itu, kiprah pejuang merah putih ini masih berlanjut dengan gerakan SI jilid dua yang dicetusnya. Hasilnya adalah 3.000 pasukan berhasil direkrut menjadi anggota, ia juga mendirikan sayap militer yang siap mempersenjatai diri melawan Pemerintah Belanda.

Haji Salahuddin memerintahkan pengikutnya untuk menggalang kekuatan di desa-desa yang ada di Halmahera Tengah dan sekitarnya. Kendati demikian, perjuangannya itu kerap mendapat kecaman. Belanda meluncurkan propaganda untuk menyudutkan gerakan Haji Salahuddin bersama pengikutnya.

Pada 14 Februari 1947, Belanda mengirim plenton polisi dari HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestuur: Kepala Pemerintahan Setempat) untuk mencegat pergerakan Haji Salahuddin bersama Sarekat Jamiatul Iman Wal Islam. 15 anggota HPB yang dipimpin seorang pembantu inspektur, bernama Paparang pun tiba di Patani.

Pagi masih sangat buta. Jamaah masjid mendengar rentetan tembakan senjata api, warga Patani yang beberapa puluh laki-laki keluar dan melakukan perlawanan, namun pertempuran pagi buta itu sungguh tidak seimbang.

Artikel Firmansyah Usman (2021) berjudul “Haji Salahuddin” menyebutkan sebanyak 600 orang yang didominasi perempuan menyerbu polisi utusan Belanda itu dengan senjata tradisional. Perlawanan yang tak seimbang itu membuat satuan plenton Belanda itu lari terbirit-birit.

Ada banyak catatan sejarah, lokus, yang melukiskan perjuangan para leluhur negeri ini. Misi dan khitah perjuangan itu, tak lain ialah mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

 Upaya Pengusulan

Untuk menggores kisah heroik Haji Salahuddin pada ingatan generasi muda, Pemerintah Daerah Halmahera Tengah (Halteng), akan mengusulkan putra Fagogoru tersebut masuk dalam deretan nama pahlawan nasional Indonesia.

Sekretaris Daerah Pemkab Halteng, Yanto M. Asri, mengatakan pihaknya turut mendorong tim pengkaji dan tim riset yang sudah dibentuk sebelumnya untuk mengusung gelar pahlawan Haji Salahuddin.

“Saya mendorong kepada tim TP2GD Kabupaten agar dapat menyusun data-data tokoh Haji Salahuddin Bin Talabudin. Baik referensi dari masyarakat, data otentik, dan data pendukung lainnya agar dapat segera disampaikan ke Tim TP2GD Provinsi”, kata Yanto, dilansir laman haltengkab.go.id, 18 Juli lalu.

Selain pemerintah daerah, dukungan untuk mengajukan Haji Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional juga datang dari kalangan pemuda dan mahasiswa di Halmahera Tengah, Maluku Utara dengan membentuk “Forum Manifesto Merah Putih Haji Salahuddin” yang resmi dibentuk pada Kamis (29/7) di Asrama Mahasiswa Gebe, Ternate Selatan, Kota Ternate.

Kelayakan Menjadi Pahlawan

Gelar Pahlawan Nasional merupakan penghargaan tingkat tinggi yang diberikan Pemeritahan Indonesia kepada mereka yang melakukan tindakan heroik. Aksi heroik ini diartikan sebagai perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Khairun Ternate (Unkhair), Irfan Ahmad, mengatakan, heroisme Haji Salahuddin di masa lampau layak diberi penghargaan tingkat tinggi berupa gelar anumerta atas perjuangannya melawan penjajahan Belanda.

“Bila membaca kriteria gelar pahlawan yang ditetapkan melalui UU No. 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, untuk memperoleh Gelar baik syarat umum dan khusus, Haji Salahuddin Bin Talabuddin sangat layak diusul sebagai Pahlawan Nasional”, jelas Irfan, kepada jalamalut (30/7).

Dosen Fakultas Ilmu Budaya itu menyebutkan, ada empat poin yang membuat Haji Salahuddin layak diangkat menjadi Pahlawan Nasional (PN). Pertama, Haji Salahuddin pernah menentang Belanda pada tahunn 1928 saat aktif di organisasi Sarekat Islam (SI-Merah). Kedua, sejak tahun 1941-1947, ia juga aktif di beberapa Partai Nasional. Ketiga, sebagai pendiri organisasi Sarikat Jamiatul Iman Wal Islam. Keempat, melakukan perlawanan di Halmahera (Revolusi Halmahera 1946-1947) dengan tujuan yang sama yaitu menentang Pemerintah Belanda.

Irfan juga mengatakan, dalam laporan Pemerintahan Belanda Kolonial Verslag (Laporan Kolonial) dan Memorie van Overgave (Naskah Serahterima Jabatan Residen), nama Haji Salahuddin beberapa kali disebut. Sayangnya, kata Irfan, perjuangannya dilebelkan sebagai “pemberontak”.

“Perlawanan suci yang dilakukan oleh Haji Salahuddin adalah tanggungjawab generasi muda saat ini. Untuk meyakinkan kepada Negara, tentu berdasarkan bukti yang dikemas dalam Naskah Akademik, bahwa beliau merupakan Pahlawan yang harus diakui” ujar peneliti di Yayasan The Tebings itu.

Menanam sikap patriotisme dari apa yang ditunjukkan Haji Salahuddin kepada generasi muda tentu menjadi sangat penting. Menggores heroisme Haji Salahuddin, bagi Irfan, tidak melulu mewacanakannya sebagai Pahlawan Nasional. Melainkan meneladani jiwa nasionalismenya untuk tanah air.

2 thoughts on “Haji Salahuddin dan Revolusi Halmahera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Lionel Messi Resmi Melepaskan Ban Kapten Barcelona
Next post Kumparan dan Amazon Berkolaborasi