CATATAN PEMBACAAN THE HEN WHO DREAMED SHE COULD FLY KARYA HWANG SUN-MI

 Judul                : The Hen who Dreamed She Could Fly (Ayam Betina yang Bermimpi Bisa Terbang)

Pengarang      : Hwang Sun-Mi

Penerjemah    : Dwita Rizki

Penerbit          : Bentara Aksara Cahaya (Baca), Jakarta Cetakan I  : November 2020

TebaL              : 210 halaman

ISBN                   9786026486523

 

“It’s the possibility of having a dream come true, that makes life interesting.”

(Paulo Coelho, The Alchemist)

 

Di tahun 2000, Hwang Sun-mi, perempuan pengarang dari Korea Selatan menerbitkan sebuah buku cerita anak tentang kehidupan seekor ayam petelur. Buku ini mendapatkan pengakuan internasional setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Chi-Young Kim dengan judul The Hen who Dreamed She Could Fly dan diterbitkan pertama kali oleh Penguin Books pada November 2013. The Hen who Dreamed She Could Fly bahkan diadaptasi menjadi film animasi berjudul Leafie, A Hen Into the Wild yang sukses besar di pasaran dan menjadi film animasi terlaris dalam sejarah perfilman Korea. Beruntunglah di bulan November 2020, Penerbit Baca melalui penerjemahan Dwita Rizki menerbitkan kembali The Hen who Dreamed She Could Fly sehingga cerita anak yang telah dibaca oleh lebih dari dua juta orang di dunia, dapat juga saya baca dan dibaca oleh pembaca hari ini di dua dekade setelah penerbitan pertamanya di Korea Selatan.

The Hen who Dreamed She Could Fly berkisah tentang seekor ayam betina petelur yang hidup di dalam kandang di peternakan milik sepasang suami istri. Ayam betina ini menamai dirinya Daun. Setiap harinya Daun dan ayam-ayam petelur lainnya diberi makan oleh suami istri peternak agar dapat memproduksi telur-telur terbaik yang akan dibawa dan dijual ke kota. Daun telah melakukan pekerjaan bertelurnya lebih dari setahun hingga ia melihat kehidupan lain di halaman yang dihuni oleh ayam jantan, ayam betina dan anak-anaknya, sekelompok bebek, dan seekor anjing tua penjaga. Sejak melihat ayam betina dan anak- anaknya, terbersit keinginan dalam diri Daun untuk bisa seperti ayam betina di halaman yang dapat bertelur lalu mengerami telurnya hingga menjadi anak-anak ayam yang lucu. Ia juga ingin bisa berlari-lari dengan bebas di halaman serta menikmati dunia yang luas di luar.

Setiap hari Daun memupuk keinginan mengerami telur-telurnya hingga menjadi anak-anak ayam. Namun Daun tahu hal itu mustahil terjadi karena ia adalah seekor ayam petelur yang berbeda dengan ayam betina di halaman. Ia adalah ayam betina petelur yang menjalani hidupnya hanya dengan berada di dalam kandang, makan, dan bertelur sebanyak- banyaknya sesuai dengan keinginan majikan lelaki dan perempuannya. Daun sangat sedih setiap kali mendapati majikan perempuan datang dan mengambil telur-telurnya lalu membawanya pergi. Di antara keinginan untuk menikmati dunia luar dan kesedihan tak dapat mengerami telur-telurnya, Daun kehilangan napsu makan yang berefek pada kehilangan tenaganya dan kehilangan keinginannya untuk bertelur.

Suatu ketika telur yang Daun hasilkan tidak sebaik seperti sebelumnya. Saat disentuh oleh majikan lelaki, telur Daun terasa lembek yang berarti cangkangnya belum terbentuk sempurna. Majikan lelaki tidak senang dengan hal ini. Ia lalu mengambil telur lembek Daun dan melemparnya ke halaman hingga pecah. Isi telur yang berhamburan di halaman lalu dijilati oleh anjing tua hingga habis tak tersisa. Daun melihat semua itu dengan hati yang teriris dan untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai ayam petelur, air matanya meleleh. Sesaat kemudian ia menetapkan hati untuk berhenti bertelur!

Tidak bisa tertelur lagi dan tenaga yang semakin lemah membuat majikan lelaki dan perempuan memutuskan untuk mengeluarkan Daun dari kandang. Daun yang mengetahui hal itu seperti menemukan secercah harapan untuk memenuhi keinginnnya berada di luar kandang. Namun, karena tak bertenaga, Daun lalu pingsan. Ternyata, bukannya dibawa ke halaman seperti perkiraannya, majikan lelaki malah membawa Daun yang pingsan bersama tumpukan ayam-ayam petelur mati untuk dibuang ke lubang pembuangan ayam mati di luar area peternakan karena mengira Daun telah mati. Daun yang tak bertenaga berusaha untuk bangun dan keluar dari lubang pembuangan. Atas bantuan dari Bebek Pengelana, seekor bebek lelaki liar, Daun berhasil keluar dari lubang pembuangan setelah selamat dari ancaman musang mengintai dirinya.

Setelah berada di luar kandang, Daun mendapati bahwa tempatnya ternyata bukan di halaman. Sekembalinya dari lubang pembuangan, Daun pergi ke halaman namun ia mengalami penolakan-penolakan dari keluarga halaman yang tidak menginginkannya tinggal di sana. Merasa terusir, Daun meninggalkan halaman. Saat meninggalkan halaman, Daun menyadari keinginannya tidak sesuai dengan kenyataan. Daun mengira setelah keluar dari kandang, ia akan hidup bebas dan bahagia bersama keluarga halaman, namun ternyata tidak. Keluar dari halaman, Daun menyadari bahwa ia harus menjalani hidupnya seorang diri di dunia yang begitu luas, mencari makan dan tempat berteduh sendiri, serta menyelamatkan diri dari ancaman musang si pemangsa seorang diri pula. Daun baru tahu bahwa harga dari kebebasannya dari kandang harus dibayar dengan kehilangan rumah yang aman dan nyaman, juga makanan yang selalu tersedia.

Meskipun demikian, Daun menjadi lebih berenergi menjalani hidupnya karena telah berhasil meraih salah satu mimpinya yaitu melihat dunia luar. Setelah keluar dari kandang, keinginan Daun lainnya adalah mengerami telur. Keinginan itu tidak mungkin menjadi nyata karena Daun sudah tidak bisa bertelur lagi. Namun, bagi Daun tidak ada yang tidak mungkin selama ia masih hidup. Ketidakmungkinan itu terjawab ketika ia menemukan sebuah telur di semak mawar liar. Daun sangat girang karena ia bisa mengerami telur. Ia akan menjadi seorang ibu. Walaupun pada akhirnya ia mengetahui alih-alih seekor anak ayam, telur yang dieraminya malah menetaskan seekor anak bebek!

Meski terkejut, namun hal itu bukan masalah bagi Daun. Ia mencurahkan segala cinta dan kasih sayangnya pada anak bebek sebagaimana seorang ibu merawat anak kandungnya sendiri. Daun mencari makanan dan tempat berteduh bagi anak bebek agar aman dari intaian musang si pemangsa yang tak henti-hentinya mencoba memangsa Daun dan anaknya. Daun membawa anak bebek dari satu tempat berteduh ke tempat berteduh lainnya hingga musang tidak pernah berhasil menemukan mereka. Daun terus melakukan tugasnya seorang ibu dengan bahagia hingga anak bebek beranjak remaja dan menjadi seekor bebek lelaki yang ganteng. Daun menamainya Jambul Hijau karena warna bulunya yang hijau indah dan berkilau.

Jambul hijau tumbuh sehat, kuat, dan ceria berkat kasih sayang, kerja keras, dan perlindungan Daun. Sampai kemudian Jambul Hijau menyadari bahwa ia berbeda dengan ibunya. Ibunya tidak mempunyai selaput di antara jari-jari kakinya sementara ia memilikinya dan ibunya juga tak bisa terbang jauh seperti dirinya. Jambul hijau mengutarakan keinginannya pada Daun untuk melihat dunia dan mengejar impian-impiannya sebagai seekor bebek, bukan anak seekor ayam. Tak lama setelahnya, Jambul Hijau pun pergi. Kepergian Jambul Hijau membuat Daun sangat sedih dan kesepian. Ia ingin Jambul Hijau tetap hidup bersamanya. Namun di saat yang bersamaan ia juga tak ingin Jambul Hijau bersedih karena hidup jauh dari kelompoknya yaitu para bebek yang selalu bermain di bendungan. Sehingga, walaupun sedih, Daun lalu merelakan Jambul Hijau pergi mengejar impian-impiannya.

Sejak kepergian Jambul Hijau, Daun merasa ada yang kosong dalam hidupnya. Kekosongan itu memberinya penyadaran bahwa ia telah hidup cukup lama, lebih lama dari ayam-ayam petelur seangkatannya di kandang yang mungkin telah mati dan membusuk di lubang pembuangan bertahun-tahun lalu. Mengingat kenangan akan perjuangannya keluar dari kandang dan mengejar impian-impiannya, yang juga datang bersamaan dengan tantangan- tantangan di baliknya; Daun merasa ia adalah ayam betina petelur yang beruntung karena telah hidup dengan baik. Hal ini membuat kesedihan atas kepergian Jambul Hijau perlahan menjauh dari tubuh ringkihnya. Ia merasa telah hidup dengan baik maka telah tiba saatnya baginya untuk mengakhiri petualangan hidupnya dengan baik pula. Oleh karena itu, Daun memutuskan untuk menyerahkan dirinya pada kematian dengan memberikan kehidupan pada entitas lain di dalam ekosistemnya.

Jess!

The Hen who Dreamed She Could Fly menghentakkan saya dengan akhir cerita Daun yang mengesankan. Mari tidak menganggap kisah ini menyedihkan karena akhir cerita tokoh utama yang sampai pada kematian. Semua makhluk hidup toh pada akhirnya akan mati/ meninggal juga seperti yang diungkapkan sang pengarang Hwang Sun-Mi dalam wawancara dengan Arirang TV tahun 2014 silam. Yang menarik dari kisah Daun ialah ia mengisi hidupnya dengan menjalani impian-impiannya. Sebagaimana makna kutipan dari Paulo Coelho dalam The Alchemist di atas, meraih impian dan menjalaninya yang membuat hidup seseorang menjadi menarik. Impian-impian yang pada awalnya mustahil untuk diwujudkan namun Daun berhasil meraih dan menjalaninya.

Sejak awal, genre The Hen who Dreamed She Could Fly adalah sastra anak yang berarti buku ini diperuntukkan untuk anak-anak. Namun mendapati pemaknaan-pemaknaan tentang hidup yang filosofis di dalam kisah Daun “kenali diri, raih impian, nikmati hidup, lalu kembali ke asal dengan meninggalkan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan setelahnya”, saya yakin buku ini tak hanya ditujukan bagi anak-anak namun juga bagi saya atau siapa saja yang sedang bertanya-tanya atau sementara mencari tahu alasan atau tengah meyakinkan diri mengapa ia (harus tetap) hidup. Menyelami kehidupan Daun juga membuat saya menyadari bahwa kita tidak mencapai impian untuk menyenangkan atau memukaukan orang-orang, tapi berusaha mencapai impian untuk diri sendiri, untuk hidup, untuk tahu alasan mengapa esok pagi dan esok paginya lagi hingga pagi-pagi berikutnya kita masih harus menghirup udara segar dan melihat matahari bersinar.

***

~ Ambon, 19 Mei 2021

Penulis: Aida Radar

Catatan:

  • Setelah membaca The Hen who Dreamed She Could Fly, saya juga menonton adaptasi filmnya Leafie, A Hen Into the Wild.
  • Saya juga meresapi cerita di balik penulisan kisah Daun dalam wawancara Hwang Sun-Mi tentang The Hen who Dreamed She Could Fly di Arirang TV.
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *