Catatan perjalanan saya sepanjang tahun 2013 ke Asmat, Papua, mengendap lama di leptop. Sekira puluhan halaman, bahkan ada ratusan foto dan video yang saya abadikan selama 6 bulan di Asmat, meski dalam kondisi tepar karena malaria. Niatnya, catatan ini menjadi arsip hidup saya dan bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Saya merasa, ini sudah terlalu lama niat tersimpan di ceruk ingatan. Maka, catatan perjalanan ini, akan saya bagikan dalam bentuk cerita di media komunitas jalamalut ini. Tabik.

Awal Perjalanan

Senin, 14/10/2013 malam, berkisar pukul 20.10 WIB saya dan Kusnul Wahyu (Pulunk) mulai perjalanan awal dari kantor Perkumpulan Sokola di jalan Jenggala 1 No 7 Kompleks Depnakertrans, Kranji, Bekasi menuju Bandara Soekarno-Hata untuk Perjalanan udara menuju Timika lalu ke Asmat, Papua. Tepatnya di Kabupaten Agats, sebelum ke Mumugu Batas Batu lokasi kita mengajar. Mumugu Batas Batu berada di dua wilayah administrasi yakni Kabupaten Asmat dan Nduga.

Saya (kanan) bersama Kusnul (tengah) dan Kak Butet (kiri). di Rumah kak Butet, di Bekasi, sebelum berangkat ke bandara.

pesawat Garuda boing GA O652  yang kita tumpangi batas cek-in pukul 21.30 WIT dan berangkat pukul 22.00 WIB, Kita butuh waktu satu setengah jam untuk ke bandara. Sedangkan waktu normal kurang lebih dua-tiga jam untuk sampai ke bandara. Malam itu, Kak’Butet (Sapaan Ketua Perkumpulan Sokola Rimba Butet Manurung) bersedia mengantarkan kita ke bandara sambil nyetir mobil, ngebut!.

Salah satu bandara di Timika untuk menuju ke Ewers.

Sebelumnya, dalam perjalanan ke Bandara, napas saya terengah-engah, wajah pucat pasih, Kak Butet yang waktu itu menyetir mobil juga panik sebab harus melaju kecepatan tinggi, terburu-buru jangan sampai saya dan Pulunk ketinggalan pesawat padahal, beberapa kali jalanan macet.

Namun hebatnya Kak Butet mampu meredamkan suasana ketegangan saya yang waktu itu ketakutan dengan lajunya mobil. Sambil menyetir mobil, Kak Butet masih sempat bercerita suka-duka di rimba raya saat menjalankan Program Sokola Rimba. Seru!

Potret saat menuju Agats

Al hasil, kita sampai ke bandara pukul 21.25 WIB. Masih ada sisa waktu lima menit untuk cek-in. ciuman pipi Kak Butet sebagai tanda salam berpamitan adalah hal yang tak bisa dilupakan kita. Bagi saya, ciuman pipi tersebut menandakan kasih sayang Kak Butet terhadap anggota guru Sokola dan sebagai tanda salam sayang untuk murid-murid Sokola, berdasarkan pengalamannya selama di Jambi.

Pesawat pun menuju Denpasar, Bali. Berkisar 50 menit perjalanan lanjut ke KabupatenTimika, Papua. Harga tiket pesawat Garuda perorang Rp2.817.000,00 Pagi itu Hari Raya Idul Adha 1434 H, 15/10/2013 pukul 06.30 WIT, kita sampai di Timika, Papua. Sesampai di Timika, 30 menit perjalanan langsung dengan pesawat berkapasitas penumpang sembilan orang menuju bandara Ewer, Kabupaten Asmat. Ada yang unik di sini cek-in harus ditimbang barang beserta penumpang untuk mengantisipasi berat muatan, ini pengalaman pertama dalam hidup kami.

Suasana di Agats. Orang Asmat saat menggunakan speed boat

Kurang lebih muatan kita 57 kg ditambah berat badan saya 50kg dan Pulunk 80Kg. Untuk menuju Ewer kita harus mengeluarkan uang senilai Rp 2.200.000. di Ewer perjalanan lanjut menuju Agats, di Agats pukul 11.00 WIT kita sampai di Kantor Keuskupan Agats, Asmat, Papua. Bertemu dengan Pastor Hendrik. Pukul 11.30 setelah itu kita bertemu dengan Habibi dan Agung di rumah tamu Keuskupan Agats. Kita berkoordinasi terkait perkembangan Sokola literasi di Mumugu Batas Batu.

Catatan Lapang Faris Bobero ke Asmat, Papua (Bagian 2)

Kata Habibi, Sokola dengan Keuskupan melalui Pastor Hendrik, sedang mengadakan belajar bertani dan membuat kolam ikan di samping sekolah untuk murid-murid kita. Jadwal belajar mengajar (dalam perkembangan akan berubah) pada Senin-Selasa proses  Baca-tulis, Rabu pagi pelajaran Agama yang dibawakan oleh Anselmus S. Prera (29) Guru Katekis Keuskupan Agats. Sore harinya  belajar baca tulis, Kamis  pagi dan sore belajar mengajar, Jumat Olahraga, Sabtu libur, Minggu Ibadah.

Bersambung….

Tentang Admin

Pendiri Jalamalut | Pekerja teks bebas.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *