Sabtu, 15 Mei 2021, hari masih begitu pagi saat kami memulai pendakian di gunung Gamalama. Semua persiapan sudah kami siapkan sehari sebelumnya, mulai dari perlengkapan pribadi hingga logistik selama perjalanan.

Untuk menyiapkan peralatan seperti tenda, kompor dan peralatan masak, kami dibantu oleh Syaiful, salah satu teman kami yang juga sering mendaki gunung. Awalnya Saiful juga akan ikut mendaki, namun batal karena terkendala dengan izin dari tempat kerjanya.

Salah satu rumah di jalur pendakaian Gamalama. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Sebelum fajar, kami berkumpul di rumah salah satu teman, Ari namanya, di Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate Tengah. Di rumah itu juga menjadi tempat awalnya rencana pendakian kali ini. Selain Ari, ada beberapa teman juga yang akan ikut mendaki, yaitu Jito, Zaly, Fitra, Pepi, Ino, dan Reza. Di antara kami ada juga tiga bocah yaitu Ikam anaknya Ari, Farhan anaknya Zaly, dan Zidan anaknya Jito yang baru pertama kalinya ikut mendaki gunung.

Untuk mendaki Gamalama, ada tiga rute yang ditawarkan, mulai dari rute Marikurubu, Torano, hingga Moya. Namun, di akhir-akhir ini rute Moya selalu menjadi pilihan bagi para pendaki untuk menikmati Gamalama, dan kami pun memilih rute yang sama yaitu rute Moya.

Taman Love di jalur pendakian Gamalama. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Tanah Moya masih basah di pagi buta itu akibat diguyur hujan semalam. Namun tidak dapat menggugurkan niat kami untuk mendaki Gamalama, meski ini bukan pendakian pertama kami di Gamalama, namun kesannya selalu berbeda setiap kali memulainya.

Wangi cengkeh dan pala menemani awal perjalanan kami menuju Pos 1. Di pagi buta itu, suhu sangat dingin saat kabut tipis menutupi daerah sekitar, angin bertiup pelan seakan berbisik menjanjikan satu ketenangan yang tak seperti biasanya.

Memilih istirahat di jalur pendakian Gamalama. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Sebelum tiba di Pos1, mata kita akan dimanjakan dengan satu pemandangan indah, yaitu pulau Maitara dan Tidore yang dikelilingi laut biru Halmahera. Di tempat ini sering dijadikan tempat berkemah ataupun sekadar foto-foto.

Taman Love, begitulah sebutan atau penamaan orang terhadap spot ini, alasannya sederhana, karena disitu ada satu anjungan yang terbuat dari tiang kayu dengan lantai papan yang membentuk tulisan “I Love U”. Sederhana sekali, tapi apapun namanya yang terpenting adalah suasananya.

Air sudah dipanaskan, kabut tipis mulai menutupi area Taman Love, begitu juga panorama indah Maitara dan Tidore. Di bawah pohon pala, kami menikmati hangatnya teh panas, canda tawa mulai pecah ketika satu per satu mengisahkan pengalaman mereka saat mendaki Gunung.

Gunung Gamalama dengan ketinggian 1715 mdpl, namun tergolong sulit karena jalurnya selalu menanjak dan butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke puncaknya.

Setelah selesai menikmati teh panas kami mulai berkemas dan melanjutakan perjalanan.

Setiba di Pos 1, beberapa teman segera menuju sumber air untuk diambil sebagai tambahan persediaan di perjalanaan. Sumber air ini bernama Air Balanda atau “Ake Balanda” dalam bahasa Ternate.

Salah satu mata air di jalur pendakian Gamalama. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Air Balanda atau Ake Balanda berada tidak jauh dari Pos 1, tapi kita harus sedikit turun lagi ke sisi jurang untuk bisa mengambilnya. Sayangnya kami tidak beruntung mendapatkan tambahan air dari situ karena airnya lagi keruh dan sedikit bau entah apa penyebabnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan sedikit berharap untuk bisa dapat tambahan air yang berada di pos 4 nanti.

Perjalanan dari pos 1 ke Pos 2 sangat menguras tenaga karena jaraknya lebih jauh, tidak seperti jarak Pos 2 ke Pos 3 atau Pos 3 ke Pos 4 dan Pos 4 ke Pos 5.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, tapi sinar matahari tampak malu-malu karena tertutup kabut di pagi itu, rasa lelah di perjalanan selalu terobati ketika nyanyian burung sesekali datang dari sela-sela pepohonan.

Hari sudah siang saat kami tiba di Pos 2 dengan kondisi perut yang sudah mulai lapar.

Tanpa menunggu lama kami segera buatkan makan siang. Mie instan buatan Jito dan Pepi terasa sangat nikmat bak hidangan mewah dari sebuah restoran mahal saat itu, hmmm… sungguh nikmat.

Lebaran hari kedua di puncak Ternate. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Di bawah rimbun bambu yang berkabut, tiga bocah sedang bercengkerama sesekali tertawa dengan cerita mereka masing-masing: Farhan, Ikam dan Zidan terlihat begitu akur meski mereka bukan teman bermain sebelumnya. Ternyata benar, alam memiliki cara tersendiri dalam menghadirkan cinta bagi penikmatnya.

Sekira pukul 2 siang kami tiba di Pos 3 yang merupakan titik temu dari 3 rute pendakian.

Memiliki area yang cukup luas, Pos 3 juga menjadi tempat camp yang aman dan sangat dianjurkan jika aktivitas gunung Gamalama berada pada level tertentu.

Sekira 20 menit di Pos 3, perjalanan kami lanjutkan menuju Pos 4 yang jaraknya tidak begitu jauh dari Pos 3.
Fitrah dan Zaly segera memeriksa sumber air yang berada di Pos 4 untuk diambil sebagai tambahan persediaan.

Air Abdas namanya. Menurut cerita, air Abdas hanya akan diperoleh bagi para pendaki yang beruntung, dan alhamdulillah kami termasuk beruntung mendapatkan air Abdas saat itu.

Tiga liter air kami dapatkan dari sana, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pos 5, yang diberi nama Pintu Suba.

Kabut datang lebih tebal dari sebelumya, puncak Gamalama tidak kelihatan di saat itu.

Tibalah kami di tempat camp setelah melewati pintu suba. Orang Ternate menyebutnya area Kano-kano yang artinya alang-alang atau ilalang.

Atap Ternate: Puncak Gamalama. Foto: Gustam Jambu/jalamalut

Ada hal yang berbeda dari pendakian saya sebelumya yaitu bertemu dengan beberapa ekor musang di lokasi camp. Ini jadi satu sensasi yang baru jika Anda mendaki di Gamalama, karena hewan yang mirip kuncing ini akan terus datang ke tenda-tenda pendaki sekadar mencari sisa-sisa makanan.

Hari sudah gelap dan sangat dingin, malam itu hujan di Gamalama cukup deras. Setelah makan malam dan hanya sedikit bercerita, kami putuskan tidur lebih awal.

Pagi itu, 4 Syawal 1442 Hijriah, melihat Halmahera dari kejauhan, melihat senyum bocah-bocah sedang menatap langit dengan raut penuh tanya, aku melihat ada rasa bangga dari wajah mereka bisa berada di tempat ini, lalu membayangkan perasaan yang sama beberapa tahun silam ketika pertama kalinya berdiri di sini.

Puji syukur atas segala yang di langit dan di bumi, karena atas segala izinMu mengantarkan kami pada satu pertemuan yang tak sia-sia.

Kiriman serupa

1 Komentar

  1. Saya dari KualaLumpur, Malaysia .
    Akhir tahun 2019, saya pertama kali ke Ternate & Tidore.
    Cantik alam di kedua pulau.
    InsyaAllah, akan kesana lagi nanti dgn rancangan mahu daki gunung juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *