Gugusan pulau-pulau kecil di bawah langit biru terlihat—nampak ketika mendekati kepulaun Morotai menumpangi kapal ferry, dengan jarak tempuh sekira tiga jam perjalanan pada Januari, awal tahun 2018.

Beberapa pulau kecil yang terkenal adalah pulau Dodola, Zum-zum, bahkan Pulau Kolorai, tempat produksi rumput laut. Pulau-pulau kecil ini pun menyimpan jejak sejarah panjang Perang Dunia ke II, dan Pulau Zum-zum menjadi saksi bisu pertempuran Jepang dan sekutu Tentara Amerika yang dipimpin Jenderal MacArthur. Pulau ini dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit menggunakan speed boat.

Sawah di Desa Aha, Morotai Selatan, Pulau Morotai. Foto: Layank/ Mongabay Indonesia

Keindahan Pulau Morotai mulai mencuat semenjak Sail Morotai dilaksanakan pada Juni-Septeber 2012, yang diikuti lebih dari 100 peserta dari luar negeri. Pulau ini pun dikenal dunia dengan keindahan pariwisata baharinya.

Ketika tiba di Pusat Kota pulau dengan Luas Wilayah2.476 km2 ini, langit mulai gelap, tanda akan turun hujan. Musim hujan di awal Januari ini membuat enggan mengunjungi pulau-pulau kecil tersebut. Sekadar bermalam di Daruba, Ibokota Kabupaten Pulau Morotai menjadi pilihan tepat, sambil menggali informasi tentang apa yang belum pernah diketahui banyak orang luar. Berberapa warga setempat menyampaikan sebagian informasi yang belum diketahui banyak orang, terkait sumber pangan di Desa Pilowo dan Aha, kelapa Bido di Desa Bido, dan cerita lainnya.

Dari informasi awal, baru kita ketahui, di balik keindahan pulau berpasir putih, laut nan biru yang menyimpan  jejak sejarah Perang Dunia II, terdapat beberapa desa yakni desa Aha dan Pilowo yang menjadi sumber pangan—jantung penghidupan orang-orang antar pulau di sini.

Badan Stastistik Pulau Morotai Dalam Angka 2016 mencatat, pada tahun 2015 tanaman padi sawah memiliki luas lahan 1450 ha, luas panen sebesar 314 ha dan produksi sebesar 943 ton. Selain itu, Kabupaten ini memiliki empat komoditi unggulan yakni kelapa, cengkih, pala, dan kakao.

Pada tahun 2013, tanaman kelapa memiliki luas area 12.374 Ha, dengan produksi sebesar 11,166 ton, cengkih memiliki luas area 2.124 Ha, produksi 207 ton, pala memiliki luas area 2.966 Ha dengan produksi 101 ton, dan kakao memiliki luas lahan 1.630 Ha produksi 217 ton. Sedangkan hasil produksi perikanan pada tahun 2014 tercatat sebesar 179.620 ton. Alat tangkap yang paling banyak ddigunakan yaitu hand line sebanyak 1.038 buah. Kapal penangkap ikan yang paling banyak digunakan adalah kapal motor tempel sebanyak 694 kapal.

Esok harinya, kami menuju Desa Aha dan Pilowo di selatan Pulau Morotai, menggunakan sepeda motor, menempuh waktu sekira 15-20 menit perjalanan dari Desa Daruba. Di tengah perjalanan, kita akan menemukan monument patung Teruo Nakamura, salah satu prajurit Jepang pada Perang Dunia ke dua di Morotai.

Pada monument tersebut tertulis; Nakamura adalah suku asli Taiwan yang direkrut menjadi tentara sukarela kekaisaran Jepang pada Perang Dunia Ke-2, sebagai pasukan khusus Takasago ke-4 yang terkenal sebagai pasukan khusus perang gerilya untuk mempertahankan kepulauan Morotai dari gempuran tentara sekutu. Monument tersebut dibangun saat momentum Sail Morotai 2012, tepat di samping jalan utama Desa Dehegila.

Rumah adat Bugis Bone, disebut juga Bola Soba di Desa Aha, Morotai Selatan, Pulau Morotai. Bola Soba ini dibangun tepat menghadap sawah, Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

Beberapa menit kemudian terlihat rumah panggung, persis seperti rumah adat Bugis Bone, berjejer dari arah timur ke barat, berhadapan dengan berhektar-hektar ladang sawah. konstruk rumah tersebut hanya terdapat di Desa Aha.

Di bawah rumah panggung berdinding papan itu nampak kosong tanpa dinding, dengan ketinggian kurang lebih 2,5 depa. Dipergunakan untuk menaruh hasil panen butir padi atau gabah, dimanfaatkan untuk meletakkan kayu bakar, dan barang lainya.

Masyarakat setempat menyebutnya rumah tinggi atau Bola Soba dalam bahasa lama Bugis Bone, Sulawesi Selatan. Konstruk rumah sengaja dibuat demikian untuk mengingat kampung halaman mereka, yang mayoritas Suku Bugis Bone di Desa Aha.

***

Sebelum dimekarkan menjadi satu desa otonom dari Desa Pilowo pada tahun 2013, Desa Aha adalah lokasi hutan sagu, anak dusun dari Desa Pilowo. Pada tahun 1968, (Alm) Sire Gani dari Bugis Bone datang ke morotai mendiami Desa Cocomare, Morotai Selatan, ia kemudian sering berkunjung ke Desa Pilowo, mengunjungi kepala desa Arsad Mahmud untuk meminta lokasi agar ia bisa berkebun.

Kepala Desa tersebut kemudian membawa Sire Gani menuju hutan sagu, daerah berawa yang belum dimanfaatkan warga untuk berkebun. “Karena hutan sagu ini tidak terurus, Kepala desa kemudian menyerahkan ke ayah saya untuk membuka lahan kebun,” Kata Anwar Gani (46), Kepala Desa Aha saat ini.

Mulai dari itu, setiap waktu luang, Sire Gani berjalan kaki kurang lebih delapan kilometer dari Desa Cocomare ke hutan sagu untuk membuka lahan perkebunan. “Saat itu bapak saya mulai membongkar hutan rawa lalu balik ke cocomare jalan kaki delapan kilometer,” Anwar mengisahkan.

Almar, ketika ditemui sedang membuat kopra di bibir Pantai Pilowo, Morotai Setan Pulau Morotai, Foto: Faris Bobero/ Mongabay Indonesia

Pertama kali membuka lahan, Sire Gani kemudian menanam padi ladang yang diambil bibitnya dari masyarakat lokal, bibit padi gogo. Saat pertama kali panen, Sire kemudian balik ke Makassar. Di sana, sebagian saudara-sadaranya di Bone kemudian meminta agar Sire bisa membawa mereka ke Morotai untuk berkebun.

“Kalian boleh ikut, namun saya tidak menjamin apakah kalian senang atau berhati susah ketika di sana sebab, saya juga baru memulai bertani,” Anwar mengulangi pesan ayahnya, Sire ke keluarganya. Akhirnya, tiga kepala keluarga pun mengikuti Sire balik ke Morotai. Sampai di sini, mereka dikasi hutan lagi, terus berhasil, mereka pulang lagi, begitu seterusnya. Jadi, migrasi ke sini bukan program pemerintah tetapi inisitatif sendiri.

Pada tahun 70an, Aha baru dihuni empat kepala keluarga asal Bugis Bone atas persetujuan Kepala Desa Pilowo. Orang-orang Bugis ini pun berhasil membuka beberapa hektar padi ladang. Mereka memanen dengan secara sederhana, menumbuk benih padi menggunakan lesung.

Namun, saat itu belum menggunakan sistem irigasi, mereka hanya memanfaatkan air hujan untuk padi ladang hingga bergeser ke padi sawah pada tahun 80an yang bibitnya diambil dari Makassar. Pastinya, jika musim kemarau, mereka tidak akan panen. Jadi, saat panen, setiap kepala keluarga wajib menyisihkan beberapa kilogram padi, disimpan agar tidak kekurangan pangan saat musim kemarau tiba. Sepuluh tahun kemudian barulah irigasi dibangun oleh pemerintah setelah akses jalan terbuka.

Sebelum ada jalan, hasil panen padi dijual ke Desa Daruba, mengunakan perahu sampan dari pantai Desa Pilowo.“Setelah padi dipanen, setiap orang memikul satu karung padi 30 kg, lalu jalan kaki 700 km menuju pantai Pilowo,” kata Anwar.

Setahun kemudian, beberapa petani Aha balik ke Makassar dan balik bersama beberapa keluarga. Aha kemudian banyak dihuni oleh Suku Bugis.

Melihat kondisi petani yang banyak belum menempuh pendidikan formal, Sire berinisiatif membangun sekolah, yang ditempatkan di bawah rumah panggungnya. Saat itu, ia mengajak satu orang untuk menjadi guru, yang digaji dari hasil panennya, sekadar mengajar berhitung dan mengeja huruf. Bahan belajar seperti buku Matematika dan Bahasa Indonesia didapatkan Sire dari kerabat di Desa Daruba ketika berjualan hasil panen di sana. Hingga Aha dimekarkan

Menariknya hingga saat ini, masyarakat Aha tidak ketergantungan dengan pupuk meskipun stok pupuk sudah tersedia di dinas Kehutanan di Morotai, karena tanah memiliki kualitas yang baik untuk menanam padi, sayuran, kelapa, bahkan cengkih dan pala.

“Tanah di sini berbeda dengan Makassar atau pulau Jawa, di Makassar tidak ada pupuk, tidak jadi padi. di sini kalau dipupuk, padi roboh semua karena besar.  Pupuk justeru membuat padi hancur dan menambah hama,” kata Anwar.

Saat ini, Desa Aha dihuni oleh 72 kepala keluarga, luas wilayah mencapai 4,380 lebih. Kata Anwar, pada tahun 2017, sitem irigasi mulai diperbaiki oleh pemerintah, hal ini membuat mereka belum bisa menentukan hasil panen. Diperkirakan, dalam setahun, bisa tiga-empat kali panen. Satu kepala kelaurga bisa menghasilkan 3-4 ton bulir padi atau gabah.

Rerata, satu kepala keluarga memanen padi lebih dari 100 karung. Satu karung beratnya 35 kilogram. “Jadi, hitungan saya, satu kk, sekali panen mengasilkan 3 ton atau 350 kg. Jika dikalikan 75 kk, berarti Desa Aha sekali panen mencapai 26,250 kg atau 26 ton lebih’’ katanya. Kalau dalam setahun tiga kali panen,  Desa Aha menghasilan panen 78,750 kg atau 78 ton bulir padi.

Anwar bilang, mereka masih terus berbenah sebab, hingga saat ini, mereka masih menggunakan sistem tradisional, belum didukung dengan alat-alat modern untuk kualitas dari gabah menjadi beras. Ia sedikit khawatir jika hasil panen mereka kalah dengan berar dari luar Morotai yang mendominasi pasar.

Sebab itu, mereka pernah mengusulkan Bupati Morotai agar hasil panen Desa Aha bisa ditangani oleh Perusda untuk mencari strategi pemasaran.

Layang Sutanto, masyrakat Desa  Daruba mengatakan, sejak dahulu, mereka suka mengkonsumsi beras dari Desa Aha. “Di Daruba, kami menyebutnya beras baru. Jika petani Desa Aha belum datang julan ke sini, kami akan datang ke Aha sekadar membeli beras dari sana. Saat ini, sekilo beras Rp.10.000,” Kata Layang.

Layang bilang, sejak dahulu, sebelum Desa Aha dimekarkan, dan menjadi bagia ndari Desa Pilowo, adalah sumber pengan kepulauan Morotai. “Jadi, dua desa ini bisa dikatakan, dua desa ini adalah dapur Kabupaten Pulau Morotai,” katanya.

******

Masyarakat desa Pilowo membangun rumah di pesisir pantai, sekira tiga kilometer dari Desa Aha. Di sana, kala musim melaut, secara berkelompok mereka akan menggerakan bagan ikan, kala musim panen kelapa, mereka ke kebun membuat kopra.

Nelayan bagan Almar (31 tahun), ketika ditemui sedang membuat kopra di bibir pantai Pilowo mengaku, beberapa bulan ini, ia tidak melaut karena salah satu bagan ikan rusak dimakan usia. “Di sini ada empat bagan ikan, tapi satu rusak,” kata Almar, ayah tiga anak. Kopra yang ia kerjakan adalah milik majikannya, Hamid.

Upah Almar dihitung persatu karung kopra jadi Rp 35.000. Ia perkirakan, kopra yang ia kerjakan sebanyak 40 ton. Hasil panen dijual ke Desa Aha. “Saat ini harga kopra jatuh, hanya Rp 6500 perkilo. Jadi kami jual ke orang bugis saja, di Desa Aha,” katanya.

Katanya, panen kopra di Desa Pilowo cukup melimpah, pada bulan ke tiga, hasil panen bisa mencapai 100 ton.

Supriono Ahmad Dosen Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pasifik, Morotai mengatakan, Hasil riset model integrasi Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2017 yang ia ikuti, di Kepulauan Morotai hanya ada empat bagan ikan. Keempat bagan hanya terdapat di Desa Pilowo dan Beringin yan berdekatan, sayangnya satu bagan rusak parah. “kami sudah riset. Di Morotai hanya ada empat bagan ikan. Satunya rusak, jadi hanya tiga yang beroperasi di perairan Morotai,” kata Supriono.

Artikel ini pernah terbit di mongabay.co.id dengan judul:
Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

Tentang Admin

Pendiri Jalamalut | Pekerja teks bebas.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *