Breaking News

Mendaki Kie Gam Lamo, Negeri Besar Para Aulia

 Tak perlu keluar dari zona nyaman, karena zona malaslah yang seharusnya dilawan. Mari mendaki, menakar diri, sembari menjaga bara api di sanubari.

Pagi belum tiba. Azan subuh mulai berkumandang. Saat itu, pada medio Agustus 2020, saya bersama tim Jalamalut bersiap mendaki Gunung Gamalama. Orang Ternate menyebut gunung ini ‘Kie Gam Lamo’ yang artinya Negeri yang Besar.

Gunung vulkanis yang masuk dalam catatan Ring Of Fire ini sering berganti status dari siaga, waspada, hingga hujan abu silih berganti dari waktu ke waktu.

Dalam catatan sejarah, Gamalama telah mengalami 60 kali letusan, sejak tahun 1538. Berbahaya memang, tapi bukan alasan bagi para pelancong pun pendaki dari dalam dan luar negeri untuk tidak menginjakkan kaki di puncak tertinggi dari kota Ternate tersebut.

Perkebunan warga yang didominasi oleh pohon pala dan cengkeh. Foto: Ipang Mahardika/jalamalut

Kurang dari 2000mdpl tepatnya 1.715mdpl adalah ketinggian yang dimiliki oleh Gamalama, dibandingkan dengan pegunungan lain di luar sana yang mungkin lebih hits, tentu jarak ini tak terlalu semampai. Namun, kesulitan dalam setiap pendakian tidak selalu ditentukan oleh seberapa tinggi, terkadang diukur dari seberapa jauh jarak tempuh hingga berapa derajat kemiringan suatu gunung.

340mdpl adalah ketinggian titik start dalam melakukan pendakian. Terletak di Kelurahan Moya yang berjarak tempuh sekira 10 menit dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Dari lokasi ini kita akan mulai menanjak dengan santai melewati jalan kebun yang didominasi oleh berbagai pepohonan rindang mulai dari pohon cengkeh, pohon pala, kayu manis (sudah mulai kurang yang berdiri tegak karena banyak ditebang), pohon durian dan berbagai macam tanaman lain yang ditanam warga setempat.

Istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Foto: Ipang Mahardika/jalamalut

Jarak tempuh 3,2 kilometer dengan durasi sekira 150 menit perjalanan kita akan sampai di Pos 1. Lokasi ini adalah pilihan para pendaki dalam beristirahat agak lama untuk memulihkan energi. Secangkir teh panas atau sekadar berbaring meluruskan badan adalah pilihan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Tempat ini banyak dipilih karena terdapat sumber mata air dengan debit lumayan melimpah yang menjadikannya pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan air selama pendakian. Pos ini terdapat mata air yang disebut dengan Air Belanda.

Perjalanan berikutnya menuju Pos 2 akan ditempuh dalam waktu 90 sampai 120 menit tergantung kecepatan berjalan dengan jarak sekira 1.500 meter, lalu berjalan lagi selama 90 menit untuk sampai ke Pos 3 dengan jarak sekira 1.000 meter.

Puncak Gamalama dan segala keindahan yang menyertainya. Foto: Ipang Mahardika/jalamalut

Pos 3 biasanya menjadi pilihan sebagian pendaki untuk mendirikan tenda dan bermalam untuk mempersiapkan tenaga dalam menghadapi summit pada keesokan hari, selain karena tempatnya yang luas lagi rindang dan terlindungi dari terpaan angin kencang, di tempat ini juga ada sumber air yang berasal dari sungai kecil walau debit airnya terbatas dan kadang-kadang kering saat bukan musim penghujan.

Dari Pos 3 menuju Pos 4 memakan waktu sekira 30 menit dengan jarak tempuh 500 meter. Air Abdas, itu nama sebuah sumber air di lokasi ini, berupa sebuah kolam kecil bertingkat dengan diameter kurang-lebih 20x30cm. Ada sebuah cerita rakyat pada air Abdas yang mengatakan bahwa hanya orang-orang beruntung dan berhati bersih yang bisa mendapatkan air tersebut. Sepertinya itu memang betul karena selama belasan kali saya mendaki, tak pernah sekalipun mendapatkan air.

Selanjutnya dari Pos 4 menuju Pos 5 berjarak sekira 1.000 meter, akan tetapi menuju Pos ini bisa ditempuh dalam waktu lebih cepat karena melalui medan dengan kemiringan yang tidak terlalu curam.

Pintu Suba atau Batas Suci adalah nama lain dari Pos 5, dengan ketinggian sekira 1500mdpl. Dalam aturan pendakian di gunung Gamalama, Pintu Suba adalah tempat para pendaki muslim untuk melantunkan azan, hal ini telah dilakukan sejak dulu sebagai penghormatan, bentuk syukur dan doa agar dilancarkan segala sesuatunya dalam perjalanan menuju puncak.

Kawah gunung Gamalama yang mengeluarkan asap belerang setiap saat. Foto: Ipang Mahardika/jalamalut

Dari Pintu Suba atau Pos 5 menuju puncak akan ditempuh dalam waktu 60 menit dengan jarak 1600 meter. Dalam perjalanan ini para pendaki akan melewati tumbuhan seperti tebu atau rerumputan besar yang tingginya bisa mencapai 3 meter, masyarakat setempat biasa menamai tumbuhan itu dengan nama kano-kano.

Setelah berjalan kaki selama 7 jam, pakaian basah karena mandi keringat dalam perjalanan melewati berbagai aral, kini tibalah di tempat yang selalu diimpikan para pendaki yakni puncak tertinggi gunung Gamalama. Sampai di sini semua perjuangan, semua letih selama berjam-jam bagai sirna menguap ke angkasa, segala keluh kesah langsung terbayar lunas saat mata, hati dan jiwa disajikan laut biru sepanjang mata memandang dan hamparan kepulauan Halmahera yang kaya raya.

Selain pesona keindahan puncak gunung, di Gamalama juga terdapat beberapa makam yang dipercaya sebagai makam orang-orang suci yang telah menyebarkan agama Islam di Maluku Utara. Makam-makam ini dalam beberapa waktu akan ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Ternate secara turun-temurun untuk berziarah dan mendoakan para wali yang telah banyak berjasa bagi masyarakat Kie Gam Lamo.

One thought on “Mendaki Kie Gam Lamo, Negeri Besar Para Aulia

  1. Informasi yg menarik. Mudah dicerna. Ana ada usul perlu penelusuran ttg kebenaran fakta yg dikebumikan di puncak gamalama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *