Breaking News

Cerita Wabah dan Obat Kampung Orang Patani

Hasrat meyakini datangnya wabah seperti menjadi pengingat orang-orang di kampung Tepeleo, Patani Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Tanda-tanda wabah itu hadir bersamaan dengan kondisi alam yang kurang membaik. Bagi mereka, wabah tak lain merupakan kutukan alam kepada manusia. Karena itu, ritual dan pemanfaatan obat kampung perlu dilakukan.

Sore itu, angin utara seolah datang menyapu sudut-sudut kampung. Sekira pukul 16.30 WIT, Om Sirajuddin (52 tahun), menjelaskan, keyakinan orang-orang di kampung ini tentang wabah yang masih melekat.

Di teras rumahnya, lelaki paruh baya ini menjamu Saya dengan teh hangat bikinan istrinya, yang kerap disapa, Mama Ila. Saat itu, kampung Tepeleo sendiri memang tengah menghadapi situasi musim pancaroba. Membuat cuaca tidak cukup bersahabat.

Ramuan tradisional yang dibuat oleh Mama Saadia. Foto: Rian Husni/jalamalut.

Dengan kondisi alam seperti ini, narasi tentang hadirnya wabah mudah dijumpai pada tutur orang-orang tua (tetua) di sini. Bagi mereka, angin biasanya mendatangkan wabah penyakit tertentu. Bahkan dapat menjadi musibah bagi kampung.

Sirajuddin menuturkan bagaimana kepercayaan tersebut masih subur di lingkungan masyarakat Patani.

“Biasanya kalau angin begini, itu dia bawa penyakit. Biasa kami sebut Lewe. Lewe itu artinya wabah penyakit yang datang dibawa angin,” kata Sirajuddin, pada medio Juli 2020.

Sesekali, pemilik kulit sawo matang itu menyeduh teh yang dihidangkan di depannya, sembari lanjut bertutur perihal wabah. Ia bahkan menyebut pandemi covid-19 sebagai bagian dari apa yang mereka yakini sebagai Lewe, yaitu wabah penyakit menular yang dapat menjalar dan saling berjangkit.

Penyakit yang disebabkan oleh Lewe biasanya bermacam-macam, seperti flu, batuk, sakit kepala, hingga sakit perut.

Kepercayaan ini tak hanya melahirkan hasrat manusia berupa pengetahuan mereka tentang tanda-tanda alam yang diyakini dapat mendatangkan wabah.

Meski begitu, aspek religiusitas juga menjadi ritual yang diyakini dapat menolak segala marabahaya yang bila saja menerjang.

Maka, kata Sirajuddin, para leluhur mereka sering memberi sesajian dan melakukan ritual di tempat-tempat tertentu.

Ritual ini bertujuan untuk membentengi kampung dari serangan musibah–maupun wabah. Sesajian yang dipersembahkan biasanya berupa nasi kuning, koin emas, dan piring raja.

“Dulu, orang-orang tua kampung sering bikin ritual di gua-gua dan di laut. Dorang (mereka) hambur (menghambur) nasi kuning dan membuang piring,” katanya. Tujuan ritual itu semata meminta kepada Tuhan untuk menjaga kampung musibah.

Manus atau Batu Dua di Tepeleo. Foto: Istimewa

Sirajuddin juga menuturkan dalam kepercayaan orang Patani, tanda-tanda alam diyakini memiliki hukum tersendiri. Sementara manusia hanya bisa menerka kemungkinan-kemungkinan itu dengan prasangkanya, “Entah baik atau buruk, begitulah cara alam mendidik kita”.

Hari sudah semakin menua. Sekira pukul 18.00 WIT, Sirajuddin masih melanjutkan perbincangan kami. Kali ini, ia mengisahkan bagaimana wabah kolera pernah menyerang sejumlah perkampungan di jazirah Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Selain di Patani, wabah itu juga merebak di kampung-kampung pesisir lain di wilayah Halmahera Timur seperti kampung Bicoli. Sirajuddin memperkirakan serangan wabah itu terjadi di paruh waktu 1978.

“Sebelum penyakit itu menyerang, orang-orang mencium bau anyir yang datang dari laut (dibawa oleh angin). Itu adalah tanda datangnya Lewe. Saat itu di Tepeleo ada 41 orang meninggal, di Bicoli paling banyak, sekitar 150-an,” ungkap lelaki yang merupakan tokoh adat di desa itu.

Namun, keterbatasan tenaga medis dan obat-obatan kala itu menjadi kendala dalam menangani wabah yang bersumber dari bakteri dan basil tersebut. Kendati begitu, obat-obat kampung yang diramu menjadi pengobatan tradisional menjadi solusi pengobatan bagi para pasien penderita kolera.

Dengan bahan-bahan yang disediakan alam pula, masyarakat di sini memanfaatkan tumbuh-tumbuhan berupa dedaunan dan rempah-rempah yang diolah menjadi obat. Di Maluku Utara, cara tradisional tersebut hingga saat ini masih cukup lestari.

Obat Kampung

Cara menyembuhkan suatu penyakit tidak melulu bergantung pada obat-obatan medis modern. Sebagian masyarakat modern justru masih memanfaatkan pengobatan tradisional yang dianggap ampuh menyembuhkan ragam penyakit.

Seperti yang dipraktikkan Mama Saadia Hi. Jumati di rumahnya, Sabtu (27/6). Sekali setiap minggu, warga kampung Tepeleo ini harus beranjak ke hutan untuk mengumpulkan dedaunan dari berbagai jenis tumbuhan herbal.

Kumpulan dedaunan itu kemudian direndam dengan air panas selama beberapa menit. Setelah meresap, ramuan ini pun dapat diseduh.

“Rasanya pahit, tapi menyehatkan,” kata Mama Saadia, sembari menuangkan air rendaman dedauanan itu untuk diminum.

“Saya sering ke hutan ambil obat kampung ini. Karena ini musim penyakit (Lewe), jadi saya ambil untuk memberi minum anak-anak di rumah,” ujar wanita usia 51 tahun itu.

Bagi Mama Saadia, efek lain mengonsumsi obat kampung adalah meningkatnya selera makan. Belum diketahui pasti, terdapat kandungan apa sehingga nafsu makan seseorang bisa bertambah. Juga dapat meningkatkan imun tubuh.

Menurut Mama Saadia, obat kampung hendaknya diminum sesudah makan. “Paling bagus juga saat ingin istirahat di malam hari. Biar bangun pagi, badan lebih segar,” katanya.

Di rumahnya yang menghadap ke laut, wanita paruh baya ini tampak tekun menghaluskan daun-daun yang dikombinasikan dari berbagai jenis tumbuhan itu. Ia memegang peda (parang) lantas memotong tebalnya dedaunan tersebut.

Pelestarian obat kampung atau lazim dikenal dengan sebutan rorano ini memang telah berlangsung sejak berabad-abad. Cara penyajian dan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan herbal di Maluku Utara ini sangat beragam.

Sebuah artikel berjudul “Rorano, Ramuan Tradisional Orang Maluku Utara” karya Rajif Duchlun, misalnya. Mengulas bagaimana orang-orang Jailolo dan Ternate memanfaatkan daun keladi tikus sebagai pengobatan penyakit kanker karena memiliki kandungan karsinogen.

Tentu masih banyak marga dan jenis tumbuhan herbal di Maluku Utara baik yang sudah diteliti maupun yang belum tersentuh di laboratorium medis.

Namun, kekayaan alam, sejarah, dan tradisi masyarakat di Maluku Utara barangkali menjadi alasan, mengapa berbagai ritus, ritual, dan obat kampung yang digunakan untuk membentengi kampung dan manusia dari penyakit masih lestari hingga sekarang.

One thought on “Cerita Wabah dan Obat Kampung Orang Patani

  1. Saya cuma bilang, tulisanya kren asyek di baca dan memberikan ingatan kembali obat2an yang dimana di buat oleh leluhur2 kita..

    Luar biasa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *