Breaking News

Ikan Ngafi dan Tagi Jere

Bagi masyarakat Kao, kemunculan ikan ngafi (teri) tidak terlepas dari Tagi Jere, sebuah ritual yang dilakukan tiap bulan Sya’ban. Tagi, dalam bahasa lokal berarti pergi atau mengunjungi, sementara jere memiliki arti makam yang dikeramatkan.

Tagi Jere merupakan ritual tolak bala yang dilakukan untuk menjemput datangnya Ramadan. Sesuai namanya, ritual ini dilakukan sekaligus untuk membersihkan kuburan yang dianggap keramat yang berada di bantaran sungai Talak, Kampung Tua Kao.

Ritual sakral ini memiliki kemiripan dengan Sasi Laut di Haruku, Maluku, yang tak membolehkan adanya proses penangkapan ikan hingga pada waktu yang ditentukan (bukan waktu sasi).

Seorang tetua sedang melaksanakan ritual Tagi Jere. Foto: Adlun Fiqri/jalamalut

Kuburan kuno itu sudah berusia ratusan tahun dan merupakan pusaka bagi masyarakat Kao. Sebelum pindah ke perkampungan di pesisir pada 1880, masyarakat Kao terlebih dahulu mendiami kawasan ini.

Jarak dari kampung Kao sekarang dengan kampung Tua berkisar 20 kilometer. Sejak mendiami kawasan pedalaman itu mereka sudah memeluk Islam. Ini sejalan dengan catatan Fraasenn, bahwa pada 1686 warga Kao diketahui telah memeluk agama Islam.

Pada 1868 di hulu air Kalak, telah dibangun mesjid oleh Syekh Mansyur (mubaliq dari Baqdad). Perannya begitu penting dalam menyiarkan islam di Kao. Syekh Mansyur pun mangkat di Kao, dan dalam ritual Tagi Jere ini, makamnya menjadi makam terakhir yang diziarahi setelah masyarakat melakukan salat di bekas masjid tua.

Tagi Jere ini juga biasanya diikuti juga oleh Kampung lainnya di Kao. Hal tersebut sebagai bentuk persaudaraan sesama muslim. Tak hanya sebatas ritual keagamaan, Tagi Jere juga berlaku sebagai ritual adat yang mengandung nilai-nilai budaya.

Warga yang melakukan sholat di bekas mesjid kampung Tua Kao. Sholat ini dilaksanakan sebelum berziara ke kuburan panjang di samping mesjid tua. Foto: Supriyadi/jalamalut

Dalam pelaksanaannya, yang bertanggung jawab menjalankan ritual tersebut adalah Dewan Adat, yang dipimpin langsung oleh Sangaji Kao selaku ketua bersama perangkat struktural serta Badan Syara’.

Rugaya (58), seorang warga Kao yang mengaku tak pernah sekalipun melewatkan ritual ini mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam ritual Tagi Jere bersumber dari keterpanggilan hati. Mereka, kata Rugaya, cukup mendengar kabar akan diadakannya ritual tersebut maka tanpa diperintah akan berbondong-bondong turut serta. Membawa keluarga, mendirikan rumah sederhana serta membawa perbekalan selama ritual pun dilakoni.

Biasanya, ritual akan dimulai dari masjid kampung, kemudian melewati sungai hingga ke hulu. Malamnya, semua orang dewasa yang dipimpin Pak Imam akan membacakan barjanji. Namun, berbeda dengan tahun sebelumnya, jalannya ritual Tagi Jere di tahun ini dilakukan secara sederhana. Musababnya adalah wabah COVID-19 yang belakangan merajela. Akibatnya keterlibatan warga pun dibatasi.

Sholat di kampung tua, Kao. Foto: Adlun Fiqri/jalamalut

“Tong pe pemerintah larang, padahal Tagi Jere ini juga tong biking tolak bala biar virus itu dia jaoh dari torang,” ucap Rugaya.

Ia bilang, kalau bukan karena virus, lokasi ini dijamin sesak dipadati warga. Rumah sementara (bivak) pun akan berdiri di sepanjang bentaran sungai Kalak.

Selama bermalam di sana, warga akan melaksanakan salat di bekas mesjid tua yang masih dijumpai bangunannya. Lokasi masjid berada di pinggang gunung sungai Kalak.

Tiap kali ritual Tagi Jere berlangsung, ikan-ikan di laut melimpah, mulai dari ikan ngafi, ikan pelagis kecil, suntung serta udang. Kata Om Diman, juragan ikan ngafi yang kondang disapa Jendral karena namanya mirip dengan Jendral Soedirman, sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kao, ketika membersihkan makam dan masjid tua, rumput-rumput itu akan dilepas ke laut. Hal ini dipercaya mendatangkan rezeki selama bulan Ramadan.

Pagi itu, warga melantunkan ayat Al-quran di Kuburan besar, Syeh mansur, sebagai tokoh penyiar Islam di Kao. Foto: Supriyadi/jalamalut

Sebagai seorang nelayan yang telah melaut sejak dekade 80an, Om Dirman laiknya seorang pemimpin yang berkewajiban memastikan warganya mengonsumsi protein yang cukup. Bersama mendiang istrinya, Om Dirman memastikan posisinya sebagai pemimpin laut di Kao.

Kendati tanpa bantuan dari pemerintah, perburuan ikan ngafi telah membawa Om Dirman pada kemandirian.
Pada Selasa, 14 April 2020 silam, saya meneleponnya. Terdengar suara bahagia di ujung telepon. Om Dirman nampaknya sedang bersukaria. Penyebabnya adalah kapal motor berkapasitas tiga ton milliknya akan berlabuh sebelum memasuki bulan puasa.

Ikan ngafi yang dikeringkan di Kao, Halmahera Utara. Foto: Supriyadi/jalamalut

Di haluan perahu motornya tertulis dua buah kata, yakni “Gogoneng Nohikari”. Kata ‘Gogoneng’ berasal dari nama salah satu gunung yang dikeramatkan di Kao. Sementara ‘Nohikari’ berarti cahaya atau matahari terbit.
Ikan ngafi sendiri dipercaya memiliki ragam manfaat. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa ikan ngafi bisa menyehatkan jantung serta berkontribusi terhadap kesehatan tulang.

Menurut Dr. Tecky Indriana, dalam disertasinya di Universitas Airlangga, kandungan gizi pada ikan ngafi terbukti dapat meningkatkan proses pembentukkan tulang atau osteogenesis.

Lewat ritual Tagi Jere ini, masyarakat Kao sebenarnya sedang mengagungkan Yang Kuasa. Berterima kasih atas nikmat dari kekayaan laut yang melimpah ruah, yang dari sana bukan hanya diperoleh kesejahteraan ekonomi, namun juga kesehatan.

Kru penulis/fotografer yang melakukan peliputan foto bersama warga di Kao, Halmahera Utara

One thought on “Ikan Ngafi dan Tagi Jere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *