Breaking News

Sang Jenderal Ikan Ngafi dari Pesisir Kao

Sekira 1472 orang Kao Muslim menggantungkan asupan protein biota laut, terutama ikan ngafi, dari hasil usaha sang Jenderal. Dua dekade menjadi pemburu ikan ngafi, Jendral bukan hanya menjadi tumpuan pemberi protein bagi orang Kao, tapi juga untuk kampung-kampung lainnya di Kecamatan Kao.

Gelap masih menyelimuti kampung Kao, Halmahera Utara, angin utara terus berembus menerobos gelap. Sebentar lagi pagi datang. Awan memerah perlahan naik di ufuk timur. Aroma ikan teri atau ngafi menembus hidung di pagi buta.

Para anak buah Juragan mulai berdatangan di rumah yang berdekatan dengan pantai itu, sebagian adalah karyawan lepas. Beberapa anak-anak juga suka terlibat, sang Jendral tidak melarang mereka ikut selama sekolah sedang memasuki waktu luang. Umur mereka diperkirakan 10 hingga 11 tahun. Anak-anak itu mendapat bagian jika ada hasil. Sementara karyawan tetap berjumlah tujuh orang.

“Suka saja ba iko, apa lagi waktu libur. Senang kalau dapa banyak,’’ ucap Anto bocah kelas 4 sekolah dasar itu di atas palka haluan motor.

Pada pagi buta itu, Jendral layaknya pelayan bagi Anak Buah Kapal (ABK). Bagi nelayan, hubungan antara karyawan dan juragan tak melulu hubungan layaknya bos dan anak buah, seperti yang terjadi di perusahan besar. Saat itu sang Juragan menghidangkan satu teko teh panas dan roti sembari mempersilakan makan sebelum tali pandara naik di palka Motor Ikan. Jendral kali ini tidak bisa terlibat dalam perburuan ikan ngafi.

Dalam kepemimpinan laut, yang menjadi juru mudi tak melulu pemilik modal atau juragan. Ada tradisi kepemimpinan yang mestinya menjadi contoh dalam sistem bernegara kita, apalagi negara kita yang mayoritas wilayahnya adalah laut. Kita mesti belajar pada nelayan, mereka memercayakan anak buah yang benar-benar teruji, tidak ada istilah nepotisme seperti yang sering dijumpai dalam kepemimpinan berbasis darat (kerajaan). Kepemimpinan nelayan benar-benar meritokrasi.

Para nelayan di Kao, Halmahera. Foto: Supriyadi

Dalam buku Mengapa Kita Belum Cinta Laut? M. Ridwan Alimuddin mengatakan, kita harus memakai pola pembangunan yang berbudaya laut, bukan gunung/daratan. Kebudayaan laut pernah berjaya dan besar dalam waktu yang lama dan tidak ada pemusatan kekuasaan, yang ada hanya pengembangan dan kontrol. “Budaya laut lebih mampu beradaptasi dan terbuka,” tulisnya.

Seorang nahkoda yang layak adalah mereka yang punya pengalaman, keberanian dan pengetahuan. Walaupun seorang juragan mempunyai anak yang ingin menjadi nahkoda, akan tetapi sang anak tidak mempunyai unsur tersebut maka tidak bisa jadi nahkoda. Pada kepemimpinan laut sangat otonom sebab di antara mereka punya kewenangan masing-masing. Selain itu, anak buah juragan punyak hak untuk keluar dari kelompok tersebut (Ridwan 2013).

Pada pukul lima subuh, tali pandara sudah harus naik ke buritan palka. Waktu itu adalah jadwal para nelayan pergi berburu ikan ngafi menuju fishing ground. Satu kali jalan, dibutuhkan minyak 25 – 30 liter dan seliter oli. Jika dirupiahkan mencapai Rp 300 ribu.

Perburuan dilakukan hingga pukul 11 – 12 siang. Bukan tanpa alasan, itu dilakukan agar mereka bisa menjemur hasil tangkapan di atas para-para hingga sore. Minimal setengah kering. Hanya butuh dua hari agar ikan teri atau ngafi sudah kering sepenuhnya dan siap dipasarkan.

Ikan teri termasuk dalam ordo Malacopterygi, Family Clupidea, jenis Stoplehours sp. Dalam bahasa Kao, ikan yang ditangkap di dekat bibir pantai ini dinamakan Lakorotu, kemudian disebut ikan teri/ngafi setelah dikeringkan di atas para-para yang terbuat dari jaring waring/kofo.

Nelayan di Kao, Halmahera. Foto: Supriyadi

Pagi itu, saya bersama Borik berkesempatan naik di atas palka perahu motor berkapasitas dua ton untuk ikut bakofo (berburu ikan ngafi) di perairan Kao. Haluan menuju utara. Di sana ada burung yang terbang sambil mendarat di permukaan laut. Burung adalah tanda keberadaan ikan ngafi.

Burung dara laut kumis, berperan sebagai Nonako bagi mereka. Jangkar dilego di pantai Biang, sambil menunggu ikan ngafi mendekat ke pesisir. Jaring kofo siaga di geladak utama siap dilego kalau ikan ngafi mendekat ke bibir pantai.

“Ikan ngafi ini memang dia pe nasib sial, kalao dia di dolom ikan basar bage dia nae di permukaan, di permukaan burung bage, dia kadara kofo bage,” ucap Om Buang, salah satu ABK, yang berdiri di haluan motor ikan.

Karena Sang Jendral belum bisa ikut melaut, maka ia percayakan pada anak buahnya sebagai juru mudi. Ini adalah hari ketujuh mereka melaut, sayangnya hasil masih nihil. Pulang dengan perahu kosong. Sementara kerugian sudah mencapai Rp 2 juta. Memang demikian nasib para nelayan, hasil tidak menentu meski menerobos samudera. Sudah menjadi hukum kausalitas kehidupan nelayan pesisir.

Nelayan ikan ngafi di Kao merupakan nelayan mandiri. Selama ini tak ada bantuan dari pemerintah. Sejak tahun 80-an usaha ini digeluti Sang Jendral. Usaha yang diwarisi dari orang tuanya. Jendral memiliki dua jaring kofo jenis purse sein mini yang ia peroleh justru dari daratan; dibeli dari hasil kebun kelapa miliknya.

Nama ‘jendral’ sendiri ia peroleh bukan karena pernah mengikuti pertempuran di laut, itu didapat karena kesamaan nama dengan sang jendral di masa kemerdekaan dulu, yakni Jendral Soedirman. Ya, nama sebenarnya si juragan adalah Sudirman. Bocah-bocah kerap memanggilnya Om Diman.

***

Malam itu, di dapur milik Sudirman terdapat ikan ngafi setengah kering, hasil tangkapan pagi tadi di perairan Fayaul, Wasile Selatan dan Tanjung Buleo. Ia bilang, wilayah tangkapan ikan ngafi terbentang hingga Wasile. “Torang sampe Wasile kalau kaluar, di Wasile kalau di Kao ikan ngafi tara sandar di pante, karena rerata nelayan di sana pake Bagang,” ucapnya.

Tak mudah menjadi seorang nelayan. Selain harus mampu membaca cuaca, juga mesti mengerti pergerakan gelombang. Pengetahuan ini berguna untuk mengetahui kapan ikan ngafi benar-benar ada di dekat pantai.

Anak-anak nelayan di Kao, Halmahera. Foto: Supriyadi

“Paling tidak tong tau ilmu sadiki to karna itu bekal pigi mangel,  karna tong so pake orang pe tenaga lagi. Ilmu itu tong bisa baca pa dia saat mo nae di perahu, jadi biasanya saya paling terakhir,” katanya. Itu semua merupakan bentuk permohonan kepada alam dan pencipta, semoga selalu selamat dan mendapat rezeki yang banyak.

Kampung Kao punya sejarah kejayaan usaha dan sumber daya perikanan yang terkenal. Hasil tangkapan ikan ngafi di Kao punya rasa yang berbeda dari ikan ngafi di tempat lain. Perbedaan itu dikarenakan ikan ngafi Kao menggunakan jaring Kofo tarik sedangkan wilayah lain menggunakan jenis tangkapan Bagang. Hasil tangkapan dengan jaring kofo biasanya dijaring pada waktu pagi, siangnya sudah di jemur, sedangkan hasil dari bagang biasanya bermalam dulu baru kemudian dijemur di para-para keesokan harinya.

Mangael (mancing) ikan ngafi bergantung pada musim, sebab hasil tangkapan bakal berbeda pada angin selatan dengan angin utara. Selain itu, hasil tangkapan juga bergantung pada kemunculan bulan. Pada hari pertama hingga hari kelima biasanya hasil tangkapan melimpah.

Nelayan memang sering kali dipandang berbeda, mereka merupakan kelompok sosial yang selama ini terpinggirkan, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan di belahan dunia yang lain nelayan dianggap kasta terendah (baca: Ekonomi Nelayan). Di Kao, hal serupa juga dijumpai, lihat saja hasil laut melimpah namun perhatian pemerintah masih jauh dari harapan.

Om Diman, saat ini punya dua jaring Kofo, satu masih parkir karena keterbatasan kapal jenis motor tempel. Perahu berkekuatan 2 ton dengan satu mesin berdaya 40 pk yang saat ini beroperasi berasal dari hasil jualan ikan ngafi.

Dari sanalah Om Diman berhasil menyekolahkan dua anaknya, satu bersekolah di Ternate dan satunya lagi di Makassar. Selain pada hasil kebun kelapa, hidup Sudirman bergantung pada jaring kofo miliknya.

“Kalau kelapa masa panenkan 4 bulan satu kali, satu tahun bisa empat kali panen belum lagi harga kopra yang terus menurun tapi ikan ngafi tidak dia tiap saat meski kadang hasil nihil,” katanya.

Berbeda dengan saat ini, dulu dalam sebulan penuh ikan ngafi selalu tersedia. Namun kini, ikan tersebut hanya muncul paling sedikit dua pekan dalam sebulan. Di luar waktu itu, sang jenderal gunakan untuk berkebun.

Di Kao, ikan ngafi dijual pada kisaran Rp 60 ribu – Rp 70 ribu per kilogramnya, harga itu tergantung jenisnya. Ia juga mengaku kadang pembeli datang langsung di rumahnya, mulai dari Tobelo, Malifut dan kampung-kampung tetangga. Sementara untuk harga pasaran ikan ngafi di Ternate sebesar Rp 90 ribu per kilogram. Harga tersebut untuk ikan yang berkualitas super. Bisanya mereka menjual di salah satu bakul di Ternate dengan jumlah ratusan kilogram.

Perbedaan ini tidak terlepas dari kontribusi perusahan ekstraktif PT Nusa Halmahera Mineral (NHM) yang mencemari perairan Kao. Hal ini diakui oleh Sudirman.

“Dulu sebelum perusahan dan perairan ini tercemar hasil tangkapan mencapi ton per bulan, sejak perusahaan itu mencemari laut hasil tangkapan menurun, memang punya pengaruh pada hasil tangkapan bagi nelayan. Bahkan hingga sekarang susah untuk mencapai ton,”  tuturnya sambil meneguk teh dan menghisap rokok surya di atas meja makan rumahnya.

Nelayan di Kao menembus jantung samudra Halmahera. Foto: Supriyadi

Sejak berabad-abad silam orang Kao menjadi nelayan ikan ngafi. Menurut Kepala Desa Kao, Taufik Mex, sebagai sumber mata pencaharian dan sumber pangan protein utama warga Kao, usaha ini pernah mandek ketika terjadi konflik sosial beberapa tahun lalu.

Meskipun terjadi degradasi lingkungan perairan dan laut serta konflik sosial yang melahirkan kesenjangan sosial, budaya dan ekonomi, nelayan ikan teri di Kao punya adaptasi atau penyesuaian (behavioral adaptation) pada kondisi tersebut. Seusai konflik itu, Sudirman tetap punya semangat baru untuk kembangkan usahanya, hal itu tidak terlepas peran dari sang istri. Sejak menikah mereka saling mendukung untuk membangun usaha mandiri mereka.

Sudirman mengakui, istri adalah faktor penting dalam membangkitkan semangatnya dalam melaut. Mereka berbagi peran, sang istri bertugas menjaga ikan teri yang dikeringkan di para-para hingga masuk dalam karung dan siap jual. Ketika sang Jenderal melaut, istrinya selalu menunggu di dapur yang persis menghadap laut. Istrinya juga berperan dalam pembagian upah kepada setiap anak buah yang ikut melaut.

Namun, tahun ini, sebuah cobaan menghampirinya. Sang istri berpulang ke Maha Pencipta pada usia 50 tahun. Baginya, ditinggal istri untuk selamanya membawa perbedaan yang sangat berarti. Tak ada teh atau kopi bikinan sang istri yang menyambutnya sepulang melaut.

Saat saya temui malam itu ia masih diselimuti duka, duka yang tak mau harus diterima. Semangatnya terjun bebas dan belum bangkit pulih. Hidup dalam kesendirian di usia senja. Ia akan terus mengingat masa-masa di mana istrinya menemani membangun usaha mandiri mereka itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *