JELAJAH

Sabtu, 7 Maret 2020 - 12:23

4 minggu yang lalu

logo

Gerbang Falajawa, Ternate. Foto: Rajif Duchlun

Kampung Falajawa Ternate

Sore itu, sekitar awal Mei 2019, bulan ramadan, saya ikut Ternate Heritage Society (THS), menyusuri kampung atau lingkungan Falajawa di Kelurahan Muhajirin, Kecamatan Ternate Tengah, Ternate, Maluku Utara.

THS adalah salah satu komunitas di Ternate yang fokus pada pelestarian serta jelajah pusaka. Sebelum mulai, peserta yang akan menyusuri kampung Falajawa melaksanakan salat Ashar berjemaah di Masjid Muhajirin. Setelah itu, berkumpul di bundaran Pantai Falajawa, yang juga berada tepat di depan masjid.

Ketua THS, Didit Prahara, membuka kegiatan jelajah. Ia bilang, tujuan dari kegiatan itu mengajak peserta melihat langsung wilayah jelajah, terutama Kampung Falajawa, yang mempunyai banyak sejarah.

“Wilayah Falajawa menjadi gerbang masuk kebudayaan karena berdekatan dengan pelabuhan sehingga corak ragam dan kultur setempat perlu dipelajari. Mengingat dari sekian banyak kampung di Ternate, penggunaan alat bakar ‘forno’ masih digunakan di kampung tersebut,” ujar Didit.

Didit kemudian mempersilakan Lurah Muhajirin, Faisal Karim, berbicara sebelum kegiatan jelajah dimulai. Faisal dalam kesempatan itu, mengatakan kegiatan ini sangat baik, sebab di Falajawa ada banyak informasi sejarah yang bisa didapat.

“Kampung ini mempunyai sejarah, mempunyai nilai. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini bisa memberikan manfaat dan nilai bagi rekan-rekan. Sehingga dari sini, kalian bisa saling berbagi kepada yang lain,” ucap Faisal.

Jelajah pun dimulai. Lalu-lalang kendaraan memadati jalan utama Falajawa. Tampak para penjaja takjil berderet sepanjang jalan. Orang-orang sudah berjubel membeli takjil. Bersama peserta, kami menerobos padatnya lalu-lintas. Berjalan kaki menuju ke arah permukiman, tempat yang akan kami kunjungi.

Rumah-rumah warga sendiri berada di belakang Masjid dan bangunan toko. Kami tiba di tempat pertama. Sebuah rumah dengan arsitektur khas Ternate. Di rumah itu, kami akan melihat alat pembakar kue tradisional. Warga di sini menyebutnya ‘forno’.

Seorang perempuan paruh baya mempersilakan masuk. Ia meminta agar tidak memotretnya. Sebelumnya, kami memang sudah diingatkan, sosok yang akan memberikan kami penjelasan mengenai proses penggunaan forno itu, tidak begitu suka difoto.

Satu per satu masuk. Kami diarahkan menuju ke dapur. Perempuan paruh baya itu kemudian mulai menjelaskan kegunaan forno. Ia bilang, alat pembakaran tradisional itu, memang sudah jarang digunakan saat ini. Ia sendiri memakainya untuk membuat kue khas Ternate, seperti bagea dan makrom.

“Ini tampa (tempat) bakar-bakar bagea, makrom. Cuma sekarang roti so (sudah) bakar di oven. Dulu roti bakar di sini. Cara bakar bagea itu, bara apinya harus kase (kasih) kaluar. Kalau biskuit makrom tetap kase tinggal bara di dalam,” ujarnya.

Ia mengaku, memakai alat tersebut sejak 1981. Kendati begitu, sebelum tahun itu, forno diakuinya sudah digunakan oleh orangtuanya.

“Sudah lama. Hanya banyak yang sudah beralih ke oven. Sisa beberapa saja yang masih pakai. Tapi kalau bakar pakai ini, kue pe (punya) rasa lebih enak,” katanya, lalu mengambil kayu bakar, menaruhnya di dalam forno, sembari mencotohkan cara membakar kue kepada peserta jelajah.

Forno, alat pembakar kue. Foto: Rajif Duchlun

Kami diminta untuk tidak berlama-lama, sebab akan mengunjungi dua tempat lagi. Saat keluar, saya sempat melihat sejumlah pajangan foto dan beberapa bingkai berisi informasi susunan silsilah keturunan nabi yang dipajang di dinding rumah. Kampung Falajawa sendiri memang familiar sejak lama dihuni komunitas Arab.

Dosen dan peneliti arsitektur kota dan urban haritage dari Universitas Khairun, Maulana Ibrahim, yang ikut dalam kesempatan itu mengaku, awal melakukan penelitian di Falajawa, sempat bingung, sebab secara penamaan, kata ‘fala’ dalam bahasa daerah Ternate berarti ‘rumah’. Sementara Jawa, merujuk sebuah pulau di Indonesia bagian barat. Itu artinya, orang umumnya memahami kampung ini sebagai ‘rumah Jawa’.

Hanya saja setelah ditelusuri, dikatakan Maulana, belum ditemukan ciri khas Jawa yang kuat atau orang-orang dari Pulau Jawa yang menetap di sini sejak lama.

“Tidak ada bukti seperti itu. Malah buktinya orang-orang Arab yang datang berdagang bermukim di sini. Sebenarnya sudah ada Kampung Tenga, salah satu pemukiman orang Arab juga di Ternate, hanya di sana sudah terbatas, jadi ada yang tinggal di sini. Karena dekat pelabuhan, jadi akses keluar-masuk barang gampang,” paparnya, di sela-sela jelajah.

Maulana bilang, dikenal dengan nama Falajawa, sebab dulu, di daerah itu terdapat sebuah gerbang besar yang disebut ‘Gerbang Falajawa’. Di dalam arsitektur Ternate, rumah bangsawan dan bangunan-bangunan utama seperti masjid atau kedaton di depannya memang selalu ada gerbang.

“Ada beberapa gerbang itu yang diberi nama Falajawa. Atau rumah Jawa, kenapa demikian, karena memang asrsitekturnya sekilas mirip arsitektur dari Jawa, seperti susunan atap bertumpang, padahal sebenarnya itu bukan atap dari Jawa juga sih, itu atap khas nusantara,” ungkapnya.

Penyebutan ‘Gerbang Falajawa’ itu, dijelaskannya, semata-mata untuk memudahkan orang-orang untuk mencari alamat.

Kami akhirnya tiba di tempat kedua. Sebuah rumah yang juga sekilas mirip dengan tempat sebelumnya. Melalui pintu dapur, kami dipersilakan agar bergegas masuk. “Inilah salah satu tempat produksi oleh-oleh kue khas Ternate terbesar di Ternate. Depot Muhajirin namanya,” ujar Maulana.

Kala masuk, forno dalam keadaan tertutup. Salah satu pekerja di tempat itu, Fahri Suleman, lalu membuka penutup alat pembakaran tradisional itu. Sontak saja, peserta jelajah langsung berdesak-desakan, berusaha mendekat sembari mengarahkan kamera ke arah lubang forno.

Memang saat dibuka, terlihat sejumlah talam besar yang sudah berisi roti kanari atau sebagian orang Ternate mengenalnya dengan biskuit kenari.

“Selain buat roti kenari dan makrom, ada juga yang paling suka pakai ini untuk bikin bagea. Dalam forno ini berisi sekitar 12 loyang. Dan dalam sehari itu bisa dua kali produksi,” ucap pria 40 tahun itu.

Forno besar itu, dikatakan Fahri, yang membuatnya kuat dan mampu menyimpan suhu panas, karena terbuat dari batu bata merah. “Iya batu bata merah kan bisa simpan suhu panas,” jelasnya.

Saya kemudian masuk ke bagian paling belakang. Tampak sejumlah rak tempat menaruh talam besar atau loyang. Terlihat, beberapa kue juga dibuat menggunakan oven. Kami tak punya banyak waktu di tempat itu.

Mengenal Asrsitektur Rumah Tua Ternate

Seorang anggota THS meminta kami agar bergegas ke tempat selanjutnya. Di tempat ini, tentu kami tidak akan melihat proses pembuatan kue. Para peserta diajak melihat sebuah bangunan rumah berarsitektur khas Ternate.

Menyusuri lorong dan setapak, tiba juga kami di rumah tua itu. Pemilik rumah, Ibrahim Slamet Ali Hanafi, menyambut kami dan sontak memperlihatkan foto rumah tersebut yang menurutnya diperkirakan sudah ada sejak 1889.

“Rumah ini sudah lama sekali. Lihat itu (sambil menunjuk dinding rumah) ada lobang bekas tembakan zaman dulu,” ujar Ibrahim.

Sayangnya, foto yang diperlihatkannya sudah dalam bentuk foto copy. Ia mengaku, foto asli pernah dipinjam seorang mahasiswa asal Cina. Mahasiswa tersebut lalu mengembalikan foto itu dalam bentuk yang sudah tidak asli.

“Dia bawa yang asli, dia kase (kasih) pulang yang fotocopy,” ucapnya, sambil memperlihatkan bentuk rumah tersebut saat sebelum ada reklamasi. Tampak dalam gambar, hanya beberapa meter sudah terdapat garis pantai.

Maulana dalam kesempatan itu, ikut menjelaskan arsitektur rumah. Ia bilang, rumah tua yang kami kunjungi itu merupakan perpaduan rumah Eropa dan kebudayaan lokal orang Ternate.

“Kita menyebutnya arsitektur indische. Indische itu kebudayaan yang berpadu antara kebudayaan Eropa dan kebudayaan lokal nusantara,” ungkapnya.

Ibrahim Slamet Hanafi saat memperlihatkan foto rumah tuanya kepada para peserta jelajah. Foto: Rajif Duchlun

Rumah tersebut, dipaparkan Maulana, terdapat kolom di depan. Mulanya ada enam kolom. Tiga di sebelah kanan, tiga di sebelah kiri. Hanya saja, sekarang yang tersisa hanya dua kolom utama, dan yang lain adalah kayu.

Namun, sebelum adanya pengaruh kolonial di sini, menurutnya, arsitektur di Ternate itu sesunggunya adalah rumah kayu. “Jadi ketika kebudayaan Eropa masuk, dia hanya menyusaikan saja. Buktinya di dalam kolom ini ada kayu. Kayu yang dibungkus dengan batu,” jelasnya.

Dinding rumah ini hanya setengah atau orang Ternate menyebutnya rumah setengah batu. Biasanya bagian atas dinding menggunakan material papan. Tapi, rumah ini sudah direnovasi. Bagian atas dinding menggunakan seng. Kemungkinan besar seng itu dipakai ketika Jepang masuk di Indonesia. Mereka yang membawa material tersebut.

Maulana bilang, ruang dalamnya cukup luas. Denahnya mirip rumah bangsawan orang Ternate zaman dahulu. Teras dan ruang tamunya cukup besar. Kemudian terdapat dua kamar. Ada ruang makan dan sebuah teras di belakang.

“Jadi rumah ini memiliki ada teras depan, ada teras belakang. Sesudah itu dapurnya terpisah. Dapur rumah-rumah Ternate itu terpisah. Itulah perpaduan Eropa yang memiliki kolom, dinding-dinging yang tebal, rumah yang tinggi, karena daerah tropis dengan kebudayaan Ternate yang dapurnya terpisah. Dari sisi pembagian kamar jelas antara ruang privat dan publik,” paparnya.

Memang diakuinya, orang-orang zaman dahulu sangat tahu menjaga ruang privasi. Itu dapat dilihat dari arsitektur kamarnya.

“Kamar rumah ini punya pintu-pintu kecil yang menghubungkan ke bagian belakang, sampai ke kamar mandi. Jadi kalau ada tamu di sini, orang yang di kamar ini tidak perlu keluar, karena dia punya pintu kecil yang bisa tembus sampai di dapur dan kamar mandi,” pungkasnya.

Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dipelajari dari rumah khas Ternate itu. Hanya saja, jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.20 WIT. Kami diminta untuk segera kembali ke tempat semula.

Namun, peserta jelajah diberikan sedikit tantangan. Mereka diajak mencari kuliner khas Ternate dan Eropa. Kue-kue khas yang dibeli itu lalu dibawa ke bundaran Pantai Falajawa. Tiba jua, waktu berbuka puasa. Matahari memerah di kaki langit. Azan magrib terdengar jelas dari sejumlah masjid.

Saya menikmati sebotol air mineral dan sebuah kue yang kerap menjadi andalan sebagian orang Ternate saat berbuka puasa. Lalampa, namanya. Terbuat dari beras ketan, ikan, serta dibungkus dengan daun pisang. Lumayan, bisa mengganjal perut saya hingga usai tarawih nanti.

Baca Lainnya
  • 31 Januari 2020 - 20:24

    Jailolo