Breaking News

Pelajaran dari Tomalou

Masyarakat pembelajar dan eksistensi masyarakat sipil (civil society), adalah dua pelajaran yang dapat dipetik dan dihikmati dari perhelatan Festival Kampung Nelayan Tomalou (FKNT), yang dibuka pada Minggu, 1 Maret 2020.

Narasi kebudayaan Maluku Utara tentang etos dan kemandirian sosial adalah narasi tua. Mungkin sama tua dengan beberapa legenda atau hikayat mashur jazirah ini.

Pastinya ia lebih tua dari kisah pencapaian, peneladan dan kisah heroik para sultan, pemimpin pembelajar, pembebas, pemerdeka, dan peneguh identitas, antara paruh awal abad ke 16 dan seterusnya.

Mengapa? Para sultan besar itu belajar, membentuk kepribadian, kepemimpinan, dan ketrampilannya dari nilai-nilai warisan pendahulunya. Beberapa kemudian ditransormasikan sesuai kebutuhan dan tuntutan dialektika zaman.

Kampung nelayan Tomalou, dan sedikit sekali kampung di Maluku Utara yang masih mempraktikkan sebagian kearifan dan kecerdasan lokal (local wisdom, local genius), adalah umpama oase di luasan lanskap kehidupan modern bangsa dan daerah yang kebablasan dan nyaris nyasar dalam arah pembangunan masa depan bersama yang baik (future better).

Tomalou dan sedikit kampung tersisa itu, ibarat tonggak terakhir yang masih mungkin meneguhkan bahwa kita adalah kebudayaan tua yang boleh disebut mapan, baik rancangan, antisipasi pun promosi sumber daya dan potensi masayarakat dalam pemecahan maslah.

Sebagai kebudayaan tua kita sejak lama, barangkali lebih dari 1 milenium, belajar dan berproses menata struktur, nilai dan praktik sosial semisal bari, mayae, marong, galasi, jojobo, gololi, cou, dan sebagainya.

Kompilasi sistem sosial dan sistem nilai, yang membentuk satuan-satuan konsep dengan fokus dan spesifikasi masing-masing.

Bila ditelisik, dibedah dan dianilisis lebih jauh lagi, niscaya tampak kekuatan dan modal sosial kita, warisan kebaikan dan kearifan dari leluhur, melampaui konsepsi gotong royong yang sederhana itu, bahkan konsepsi civil society sekalipun.

Betapa tidak konsep seperti bari, mayae, marong, galasi, jojobo, gololi, cou, dan seterusnya, pada praktiknya, berlandaskan pada azas atau prinsip kesadaran, kepemimpinan, solidaritas, konsensus, inisiatif, kerjasama, kemandirian, pemberdayaan, kedayagunaan, transparansi, kolektifitas, dan seterusnya.

Ruang lingkupnya mencapai demensi publik, komunal, kelompok hingga semi privat, semisal hajatan rumah tangga atau keluarga tertentu.

Menjangkau bidang dan ranah yang luas dari pertanian, perkebunan, perikanan, perumahan-permukiman, rumah ibadah, infrastruktur dan sarana prasarana publik.

Meliputi juga jaring pengaman sosial (social protection and social secrity), misalnya pembentukan institusi sosial dan ekonomi yang saling menopang, saling memperkuat dan saling memberi solusi antar masyarakat, juga institusi pengelolaan sumber daya dan potensi, pemecahan dan atau pengatasi permasalahan bersama, dan lain sebagainya.

Itu dapat dijumpai pada praktik semisal urunan menbangun rumah, modal usaha, biaya sekolah, biaya berobat bagi anggota masyarakat yang sakit, hingga hajatan keluarga semisal khitanan, kawinanan, kedukaan.

FKN Tomalou dan seluruh rangkaiannya, dari ide dan konsep, etos swakarsa dan swadaya, solidaritas dan kolektivitas, energi dan kesadaran mengatasi tantangan dan hambatan, kemampuan komunikatif untuk menggalang dukungan luas, desain konten yang baik, strategis dan meyakinkan banyak pihak, komitmen edukasi dan konservasi, ekspresi kuat rasa bangga dan rasa memiliki warga terhadap ide dan desain festival untuk disukseskan secara bersama-sama.

Kesemuanya itu umpama seruan. mengajak kita membaca ulang kitab tua kearifan, warisan leluhur kita, yang terbukti ampuh mengatasi dan memecahkan banyak soal.

Orang-orang Tomalou dari semua usia dan gender, hemat saya, adalah guru dan mentor bagi kita.

Mereka percaya, hanya cukup dengan mengandalkan kebaikan, pelajaran dan kearifan dari masa lalu, kita bisa memecahkan banyak soal. Termasuk merumuskan masa depan.

Dari keyakinan demikian mereka telah lama membangun komunitasnya menjadi masyarakat pembelajar. Banyak inovasi, terobosan sejak lama mereka lakoni dengan hasil pun pencapaian besar dan unggul, dibandingkan dengan hal sama yang dilakukan oleh komunitas lain di Maluku Utara.

Keyakinan demikian memang berdasar dan ilmiah. Ia menjadi semacam “dolo-dolo” (isyarat pengingat) kepada kita, sebagaimana yang diingatkan oleh Yudi Latif, “sebagian dari ketidakmampuan kita mengatasi permasalahan hari ini adalah karena kita meninggalkan kebaikan-kebaikan dari masa lalu”.

Kebaikan, kearifan dan keseluruhan tradisi yang unggul dari masa lalu adalah cetak biru (blue print) yang menjadi acuan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk mengisi blok-blok kebudayaannya, sekaligus menjaga kesinambungan kebudayaan dan bahkan peradaban.

Karena itu, sedari awal saya mengatakan, “Kita pantas belajar dari Tomalou. Bukannya mengajari mereka”.

Saya mengatakan itu dalam FGD pematangan konten edukasi dan konservasi FKNT 2020, di Jakofi, 7 Januari 2020.

Demikian pula kepada Rocky Gerung, saat berdikusi dengannya di panggung FKNT, Kamis, 9 Januari 2020, saya mengatakan, Tomalou adalah sedikit dari kampung di Tidore yang tersisa, yang masih merepresentasi pengatahuan dan kearifan Kesultanan Tidore. Mereka juga mengekspresikan bentuk masyarakat sipil (civil society) yang kuat.

Cempaka Putih, 2-3 Maret 2020.

Penulis: Sofyan Daud | Sastrawan, Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *