TELAAH

Jumat, 7 Februari 2020 - 17:20

2 bulan yang lalu

logo

Penulis: Hasan Bahta/Redaktur di Halmaherapost.com - Jalamalut Media Grup 

Mawas Diri Seorang Jurnalis

(Sebuah Refleksi HPN, 09 Februari 2020)

Andai saja pendiri media Soenda Boerita, Tirto Adisuryo masih hidup, dia akan malu sekaligus menangis melihat kehebatan para jurnalis di Negeri Antah Berantah itu.

Dia malu karena hidupnya tak seindah mereka, menangis karena dia tak bisa memuji kekuasaan seperti mereka.
Tirto dan jurnalis malang lainnya, akan merasa bersalah memahami ilmu jurnalistik, sebab mereka selalu bersinggungan dengan kekuasaan, bahkan seringkali karya tulis mereka dibawa ke meja hijau dan masuk penjara.

Jurnalis di negeri itu lain lagi ilmu jurnalistiknya. Dalam ilmu mereka, seorang jurnalis boleh menulis berita tanpa titik, koma dan runutan logika kalimat yang benar sesuai ejaan yang disempurnakan.

Bukan cuma itu, dalam ilmu jurnalistik mereka, seorang jurnalis bisa menulis berita tanpa konfirmasi sumber lain dan serampangan, asal bisa tulis dan mempublikasikan.

Sepertinya mereka punya kitab sendiri, kampus sendiri, dan buku bacaan sendiri yang tidak pernah dibaca Tirto, Pram, Geonawan, Bondan, Joekob Oetama hingga para jurnalis yang pernah diteror kekuasaan.

Dalam ilmu mereka, seorang jurnalis dipersilahkan memuji kekuasaan tanpa memedulikan rakyat yang tertindas. Bisa jalan-jalan keluar daerah bersama bupati/walikota, karaokean bersama, bahagia dan hura-hura secara berjamaah.

Dalam ilmu mereka pula, pemerintah dipuja dalam sajian berita. Mereka tak sungkan “berkampanye” untuk calon bupati/walikota di laman facebook pribadi, dengan frasa “lanjutkan” untuk calon penguasa-petahana.
Alhasil, sumber berita di negeri itu berhasil membujuk jurnalis di sana, termanja dengan lembaran “uang”. Mereka terhanyut, tenggelam dalam genggaman akal bulus sang sumber. Tak ayal mereka nubuatkan sumber berita sebagai “papa piara” yang selalu menguras isi dompet untuk memelihara romantisme mereka.

Para jurnalis itu benar-benar terhipnotis, naluri jurnalis lenyap, hilang begitu saja. Isi berita mereka tak sama sekali mengorek penderitaan rakyat. Yang terekam hanya mulut manis dari “pejabat”. Kesalahan pejabat dibela mati-matian dalam berita, sementara kebenaran ditutup rapat, dan hilang. Jurnalis itu hidup dalam lumpur “kemunafikan” para pemangku kepentingan.

Padahal mereka juga baca buku kecil Bill Kovach, jurnalis kawakan Amerika keturunan Albania dan temannya Tom Rosentiel. Buku itu semacam kitab “suci” wajib bagi jurnalis, The Elements Journalist.

Dalam buku mini itu ada sembilan “rukun” yang wajib bagi jurnalis dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Sembilan rukun itu simpel dan sederhana. Semua orang, bahkan yang bukan jurnalis pun bisa memahaminya.
Bill dan Tom bilang, seorang jurnalis mesti tunduk pada kebenaran. Bukan kebenaran menurut satu pihak lain, tapi kebenaran yang datang dari suatu proses kenyataan. Kebenaran berita yang dimaksudkan adalah kecocokan antara apa yang dibicarakan dan kenyataan.

Kebenaran jurnalistik itu bisa disebut sebagai kebenaran proses, yang bermuara pada suatu pemahaman semua orang. Di negeri Antah Berantah itu, nyaris tak ditemukan kebenaran semacam itu dalam isi berita. Jurnalis di sana lebih menonjolkan kebenaran yang mengasyikkan para pejabat dan kekuasaan.

Selain aspek kebenaran yang ditawarkan Bill dan Tom, ada juga aspek lain seperti loyalis pada warga, disipilin dalam masalah verifikasi, independensi, menjadi WatchDog, menyediakan forum publik untuk kritik (komentar maupun dukungan bagi warga), berupaya membuat hal penting menjadi menarik dan relevan, menjadikan berita komprehensif dan proposional. Dan yang paling terakhir adalah keharusan bagi seorang jurnalis menggunakan nurani dalam pemberitaan-jurnalisme empati.

Jurnalis yang rajin membaca, dapat mengaktifkan dan aktualisasikan tawaran Bill dan Tom dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Misalnya, untuk memenuhi elemen-elemen di atas, seorang jurnalis sebelum melakukan kegiatan jurnalistik menyiapkan diri dengan cara membaca berita terbitan sebelumnya, melakukan evaluasi, menyusun perencanaan, dan meliput dengan baik dan benar.

Pengalaman saya, saat menjadi wartawan di beberapa media, saya selalu mengedepankan prinsip verifikasi, ini prinsip paling wajib bagi seorang kuli tinta. Verifikasi itu melakukan pengecekan secara teliti dan detail tentang isi berita supaya berita tidak dangkal dan serampangan.

Tulisan ini sesungguhnya, sebuah gambaran singkat tentang pengalaman saya. Saya pernah menjadi jurnalis sebagaimana yang dilukiskan dalam negeri Antah Berantah itu. Saya mengangkat pengalaman ini adalah tamparan bagi diri saya sekaligus bahan evaluasi bagi siapa saja yang ingin menjadi jurnalis. Semoga bermanfaat!

Penulis: Hasan Bahta/Redaktur di Halmaherapost.com – Jalamalut Media Grup 

Baca Lainnya