JELAJAH

Jumat, 31 Januari 2020 - 20:24

2 bulan yang lalu

logo

Teluk Jailolo, Halmahera. Foto: Rajif Duchlun

Jailolo

Aroma kepiting bakau tercium dari dapur. Meja kecil sudah penuh makanan. Ada sagu dan sayur kasbi santang. Suara riak air terdengar. Rumah ini memang berdiri di atas laut dan dipeluk pohon-pohon mangrove yang rimbun.

Itulah yang teringat semasa kecil di Jailolo, Halmahera. Saya tumbuh di tanah ini. Saat kecil, sekira pada 1996, saya melihat dan masih mengingatnya, pesisir Jailolo sangat asri. Pohon mangrove berjajar sepanjang tepi teluk. Di kampung, kami mengenal nama pohon ini dengan sebutan soki-soki.

Desa Gufasa, pusat dan titik akses keluar-masuk barang dan jasa sudah cukup ramai. Ada satu pelabuhan di daerah ini. Saya belum menemukan tahun pasti, sejak kapan pelabuhan ini mulai dibangun.

Namun, sekitar pelabuhan ini juga terdapat banyak pohon mangrove, sampai akhirnya pada medio 2000-an, secara perlahan aktivitas pembangunan terjadi di pesisir Gufasa. Reklamasi dibuat dan pohon-pohon itu ditebang.

Saat ini, tampak panggung Festival Teluk Jailolo berdiri gagah di sisi pelabuhan. Dulu, sekitar daerah ini, tempat mancing paling familiar. Ikan-ikan padang lamun dan karang mudah didapat. Saya tidak tahu sekarang.

Ada juga mata air Gufasa. Dua mata air yang mengalir. Satu untuk air panas, satu untuk air dingin. Kala kecil, saya dan teman-teman selalu menghabiskan waktu sore di mata air ini. Di sisi mata air ada sebuah pohon beringin besar. Lokasi ini sekarang sudah dibeton. Sensasi mandi di mata air ini tidak seperti kala itu lagi.

Tidak jauh dari pesisir Gufasa, ada sebuah sungai yang paling digemari. Sungai Sofinga, namanya. Orang-orang dari Gufasa, Jalan Baru, dan Gamlamo, kerap menjadikan lokasi ini sebagai tempat permandian, sekaligus untuk mencuci pakaian. Tapi, itu dulu.

Saya belum melihatnya langsung sekarang. Menurut cerita Risman Ali Muhammad Djen, teman saya, ia melihat sungai ini sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Sampah rumah tangga menumpuk di sekitarnya. Tidak jauh dari sungai, rumah-rumah sudah semakin padat. Rumah Risman memang sangat dekat dengan lokasi sungai ini.

Sementara itu, lokasi yang berdiri gagah Masjid Raya Sigi Lamo dulunya adalah lokasi Taman kanak-kanak. Di sekitarnya juga terdapat banyak pohon beringin dan dahan-dahan yang cukup besar. Di tempat ini pula, pernah ada Tugu Banau. Menurut cerita warga sekitar, tugu ini dibangun oleh TNI, untuk mengingat perjuangan sosok Banau melawan Belanda.

Fachri M Taher, seorang pemerhati sejarah Jailolo, kepada saya, mengatakan, sekitar 100 meter dari lokasi itu, sebenarnya ada juga Tugu Banau. Berada tepat di dekat jalan utama. Orang-orang di Gufasa lebih akrab menyebut titik ini toko Haji Abu. Tugu Banau yang paling lama usianya diakuinya berada di titik ini.

Tugu ini dibongkar, kata Fachri, sekira 1940-an. Ia mendengarnya langsung dari neneknya, yang sudah berusia sekitar 90 tahun. Ia juga mendengar dari tetua Haji Ibrahim S Takome, yang usianya kurang lebih sama. Lahir pada tahun 1930. Sementara tugu yang dibangun oleh TNI, dibongkar karena pembangunan taman di sekitar masjid raya, pada medio 2000-an.

Sosok Banau sendiri dituliskan dalam berbagai sumber sebagai seorang pejuang di zamannya. Seperti yang ditulis dalam artikel Busranto Latif Doa, “Patriotisme Seorang Banau dalam Perang Jailolo Tahun 1914”.

Busranto menulis, sosok Banau muncul pada perang Jailolo sekira tahun 1914. Banau melakukan konsolidasi untuk melawan pihak Belanda di distrik Jailolo, karena dianggapnya pihak Belanda telah melakukan sistem kerja paksa sekaligus memperketat pajak.

Sosok ini berasal dari Tuada. Sebuah kampung yang berhadapan dengan teluk Jailolo. Ia dikenal memiliki kecakapan mengatur strategi. Dituliskan, pada 12 September 1914. Matahari belum meninggi. Rakyat Jailolo sudah berkumpul di sekitar kediaman Gezaaghebber Agerbeek.

Kedatangan rakyat Jailolo mulanya untuk menyampaikan protes atas sikap Belanda yang tidak toleran dalam penagihan pajak. Melihat kondisi itu, Agerbeek, penguasa Belanda di Jailolo itu kemudian memerintahkan anak buahnya menghalau massa tersebut.

Tentu massa yang dipimpin Banau ini tidak mundur. Mereka malah menyerang dan merusak sebuah rumah pos hingga menerobos masuk sampai di kediaman Gezaaghebber. Amukan rakyat semakin menjadi-jadi dan Banau tampil terdepan, terus masuk memburu penguasa Belanda itu.

Kisah pemuda ini juga ditulis sejarawan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Irfan Ahmad, dalam artikelnya “Banau: Pejuang yang Diabaikan”. Irfan menulis, jauh sebelum ada perlawanan di kediaman Agerbeek, Banau bahkan sudah terlibat dalam pertemuan-pertemuan di utara Halmahera hingga terjadi Perang Kao 1908.

Keterlibatannya dalam perang Kao ini karena atas dasar ingin terus menentang pihak Belanda. Sikap kritis ini ia gelorakan separuh Halmahera. Mengelilingi dari suatu tempat ke tempat yang lain hanya untuk mengajak rakyat agar terus berjuang melawan ketidakadilan.

Begitulah sosok Banau. Tentu masih sangat banyak yang bisa ditulis mengenainya. Namun, jejak dua Tugu Banau yang pernah dibangun sebagai penanda perjuangannya, tentu sudah tak dapat disaksikan lagi. Pembangunan bergerak sangat cepat. Beberapa jejak masa lalu tergerus begitu saja.

Tanah ini memang punya riwayat besar di masa lalu. Saya pernah membaca riset dari Laila Abdul Jalil, seorang pegawai di Ternate.

Risetnya berjudul ‘Nisan Kuno di Jailolo: Bukti Perkembangan Islam Abad ke-18 di Maluku Utara’, menyebutkan, di Jailolo dijumpai peninggalan arkeologis berupa masjid, nisan, dan fragmen keramik asing dari Cina dan Eropa.

Disebutkan Laila, dalam satu kesempatan menjelajahi Jailolo, terutama di desa Galala dan Gamlamo, ia sempat menemukan persebaran nisan kuno dan fragmen keramik asing yang tersebar di permukaan tanah. Temuan ini sekaligus mengonfirmasi adanya indikasi permukiman dan aktivitas perdagangan pada masa lampau.

Syahruddin Mansyur, dalam riset arkeologis bersama Balai Arkeologi Maluku, juga menemukan sebaran benteng peninggalan bangsa Eropa di beberapa titik di Jailolo.

Ia menulis, salah satu benteng yang berada di Gamlamo merupakan benteng terkuat yang ada di Jailolo. Melalui papan informasi yang ada di lokasi, disebutkan benteng ini dibangun oleh Spanyol sebagai basis militer di wilayah Jailolo. Tidak diketahui sejak kapan benteng ini dibangun.

Syahruddin menyebutkan dari beberapa catatan sejarah, benteng ini pernah dikuasai oleh Fernao de Saosa de Tavara dan Jenderal Spanyol Roy Lopez de Villabolos pada tahun 1545. Benteng ini juga pernah dikuasai oleh Raja Jailolo bernama Katarabumi.

Kondisi benteng saat ini hanya reruntuhan yang sudah diapit permukiman. Tampak tidak terurus. Bekas reruntuhan benteng ini seperti sedang melawan kesunyian. Sedikit sekali yang mengunjunginya. Kendaraan berlalu-lalang, seolah tak tahu, di sisi jalan Gamlamo itu, pernah ada sejarah besar.

Sekitar 500 meter dari benteng ini juga terdapat sebuah masjid tua, yakni Masjid Gammalamo. Sebuah artikel ilmiah dari Novita Siswayanti yang diterbitkan Buletin Al-Turas, dengan judul “Sejarah dan Peranan Masjid Gammalamo Jailolo dalam Menyingkap Jejak Warisan Budaya Jailolo”, menyebutkan masjid ini merupakan masjid tertua yang dibangun pada awal tahun 1900.

Dibangun secara swadaya dan bergotong-royong oleh sejumlah etnis di Jailolo. Berjalannya waktu, selain menjadi tempat ibadah, juga menjadi tempat bermusyawarah. Pada perang Jailolo 1914, misalnya. Masjid ini digunakan untuk menyusun strategi dan memperkuat pertahanan. Sebagian orang menyebutnya masjid kesultanan Jailolo.

Mendiang Adnan Amal, dalam bukunya “Borero: Tulisan-Tulisan yang Tercecer”, menulis Jailolo adalah nama desa di masa lalu yang kemudian tumbuh menjadi sebuah kerajaan. Ia menyebutkan, Jailolo merupakan salah satu kerajaan tertua di Maluku.

Tidak disebutkan sejak kapan kerajaan ini lahir. Tapi, ditulisnya kerajaan ini telah eksis sebelum abad ke-13. Konon raja pertamanya adalah seorang perempuan yang menikah dengan Raja Loloda.

Loloda sendiri merupakan sebuah kerajaan yang saat ini sedang dihidupkan kembali kejayaannya. Berada di pedalaman Loloda, di sisi bantaran sungai Soasio tua. Saya pernah sampai di sana, melihat langsung jejak kerajaannya.

Dalam beberapa penamaan untuk kerajaan di Maluku, Jailolo selalu disebut sebagai “Jiko ma Kolano”—atau yang berarti penguasa teluk. Pusat kota Jailolo memang berhadapan dengan teluk.

Kekuasaan Jailolo kala itu nyaris meliputi pulau besar Halmahera. Beberapa peta kuno atau kartografi yang tersebar dalam berbagai sumber, tergambarkan Pulau Halmahera bahkan ditandai dengan nama Jailolo atau Gilolo. Ekspansi ini tentu tidak terlepas dari peran para raja atau sultan Jailolo di masa lalu, yang berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke setiap sudut Halmahera. Sampai sekarang Kedaton Kesultanan Jailolo memang masih berdiri gagah di bukit Tagalaya.

Jailolo hari ini tentu sudah banyak yang berubah. Pusat ekonomi tersebar di beberapa titik. Ada dua pusat ekonomi yang cukup representatif, yakni Gufasa dan Hatebicara. Gufasa mungkin saja karena dekat dengan jalur pelabuhan, sedangkan Hatebicara dekat dengan aktivitas perkantoran.

Sementara itu, beberapa titik seperti Bobanehena, Marimbati, Galala, Payo, Bobo, Saria, dan Tuada, kini sudah menjadi destinasi yang kerap dikunjungi. Di daerah Bobo, misalnya. Terdapat sumber mata air panas. Berbeda dengan di Gufasa, Bobo memiliki mata air yang mendidih, bisa dipakai untuk memasak telur.

Orang-orang tinggal memilih, mendatangi setiap sudut Jailolo untuk merasakan keindahannya. Namun, wisata masa lalu yang ada di tanah ini, tentu tak boleh tergerus, tak boleh dilupakan. Ada narasi yang harus dirawat. Sekecil apapun cerita mengenainya. (*)

 

Penulis: Rajif Duchlun/kru Jalamalut

Baca Lainnya