Breaking News

Lonceng Kematian Sastra Lisan Ternate

Tarate sio tarate
Tarate ruru ma saya ruriha
Tarnate sio Tarnate
Tarnate ri ua doka sosira

(dola bololo-sastra lisan Ternate)

Dola bololo di atas sangat relevan merepresentasikan kondisi Ternate saat ini. Relevansi itu dapat dilihat dari perubahan kebijakan pembangunan pemerintah Kota Ternate. Sastra lisan sengaja ditulis tanpa arti, untuk mewakili generasi Y zaman Now yang masih fasih menuturkan bahasa Ternate. Dola bololo tersebut bukan hanya menjadi bahan renungan pribadi dan penerus generasi, tetapi juga refleksi atas kondisi kota tercinta yang kian menua.

Secara umum, sastra lisan mencangkup ekspresi kesusastraan warga. Suatu kebudayaan yang disebarluaskan secara turun-temurun atau dari mulut ke mulut (Hutomo, 1990:1). Artinya, sastra lisan merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat yang harus dipelihara dan dilestarikan.

Sastra adalah bagian penting dari eksistensi bahasa terutama sastra lisan, begitu pula sastra lisan Ternate. Sebagai sastra-bahasa yang tidak memiliki aksara, sastra lisan Ternate memiliki posisi penting sebagai fundamental bahasa Ternate. Sastra lisan Ternate dikenal dengan “Dola bololo. Kata ini merupakan morfen yang terdiri dari dua kata, yaitu Dola (potongan atau hadang) dan Bololo (siput). Jadi secara harafiah berarti mengahadang siput. Siput sebagai simbol kelambanan. Jadi Dola bololo merupakan ungkapan yang mengemukakan pendapat melalui majas-majas dan metafora yang diyakini sebagai kebenaran dan dapat dijadikan renungan hidup bagi sesama lawan bicara (Baca : Sastra Lisan Ternate).

Sementara itu, Dola bololo adalah sepotong ungkapan yang terdiri dari dua bait, pernyataan perasaan dan pendapat seseorang dalam bentuk sindiran dan tamsilan, merupakan ciri kebijakan seseorang dalam masyarakat untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya melalui peribahasa kepada seseorang atau temannya agar kawannya dapat memahami dan menanggapi maksud serta tidak merasa tersinggung dengan kehalusan tutur bahasa sindiran yang kita gunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Dolaalolo lebih berkesan, berbahasa halus dan sopan, sindiran tak langsung serta mudah dihayati, dipahami maksud dan pendapat seseorang.

Sastra lisan Ternate adalah cermin masyarakat Ternate. Selain Dolabolo, Dalil Tifa dan Dalil Moro melengkapi trilogi unggulan sastra lisan Ternate. Dalil Moro, menurut Hasan merupakan perumpamaan berbentuk dalil sebagai contoh untuk ditiru, dan menjadi warisan datuk moyang yang telah merasuk dan dihayati, hingga patut ditaati. Menurut Ridwan Dero  Isi dan pengertian syair Dalil moro menjelaskan hakikat kehidupan manusia yang dituntut menempatkan dirinya dengan baik di tengah keberagaman demi terwujudnya hubungan kekeluargaan dan kemasyarakatan.

Sementara Dalil Tifa merupakan sastra lisan berbentuk pribahasa yang lebih khusus di ranah religius Islami. Tifa diambil dari nama alat musik-bedug di langgar atau mesjid. Tifa atau bedug dipukul menjelang waktu sholat untuk mengingatkan orang menaati perintah panggilan sholat. Sastra lisan ini kemudian berkembang pemaknaanya sebagai wadah untuk menyampaikan pendapat umum yang lebih bersifat keagaamaan atau religius terutama Islami. Namun, Dalil Tifa bisa digunakan oleh umat agama lain di luar tata ibadah agama baik antara personal maupun acara-acara tertentu. Intinya, Dalil Tifa berupa nasehat menyangkut hakikat manusia, bumi dengan segala isinya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dimana datangnya maut, kehidupan alam akhirat dan nasihat-nasihat bernafaskan religius lainnya.

Trilogi Sastra Lisan Ternate yang telah dijelaskan di atas menjadi dasar utama bagi penutur bahasa Ternate, dimana masing-masing sastra lisan secara fungsional memiliki tingkatan penggunaan berupa sopan santun dan tata cara berkomunikasi lewat bahasa Ternate.

Pelestarian bahasa dalam hal ini sastra lisan Ternate yang pada dasarnya tidak memiliki aksara, kecuali Melayu-Arab telah menjadi pilihan publik bagi pemerintah Kota Ternate sejak era masa kepemimpinan Samsyir Andili melalui Peraturan Walikota No. 09 Tahun 2007 tentang Pembentukan Balai Bahasa Daerah Ternate, kemudian Perda Kota Ternate, No 13 tahun 2009 tentang Perlindungan Hak-Hak Adat Dan Budaya Masyarakat Adat Ternate.

Kedua produk hukum itu secara gamblang mengakui, melindungi, dan melestarikan budaya Ternate. Sementara pada masa kepemimpinan Burhan Abdurahman yang mengusung visi menjadikan Ternate yang Berbudaya, Agamais, Harmonis, Mandiri, Berkeadilan dan Berwawasan Lingkungan, diakronimkan dengan Kota Ternate “Bahari Berkesan,” pelestarian budaya difokuskan pada upaya revitalisasi bahasa Ternate melalui Peraturan Walikota No. 16 Tahun 2011 tentang Organisasi Balai Bahasa Daerah Kota Ternate, tentang wajib belajar bahasa daerah dengan memasukkannya sebagai pelajaran muatan lokal di tingkat Sekolah.

Kebijakan ini diharapkan menjadi sebuah pilihan publik yang diambil oleh pemerintah atas kesadaran melestarikan budaya Ternate secara universal. Namun, pengakuan dalam bentuk produk hukum belum menjadi pijakan bagi pemerintah dalam melestarikan budaya Ternate secara universal baik budaya yang bersifat tangible (Bangunan dan benda-benda bersejarah berupa Keraton Kesultanan, Stampa (mahkota), Mesjid Kesultanan, Ngaralamo, Lapangan Sunyie Ici, Sunyie Lamo, Kompleks Pekuburan Sultan Baabullah, Kompleks Pekuburan Keluarga Kesultanan, Mesjid Heku, Mesjid Cim, Dodoku Ali/Jembatan Batu, Talaga Nita, Tolire Ici, Tolire Lamo, Ngade, Falasoa, Ake Santosa, Ake Sibu/Ake Rica, So Sao Madaha).

Selain itu, benda-benda bersejarah peninggalan masa penjajahan seperti benteng-benteng dan rumah bersejarah yang juga dilindungi dalam undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang benda benda cagar budaya. Sementara budaya Ternate yang intangible (Sastra Lisan Ternate yakni Dola Bololo, (Petuah/Nasihat). Dalil Tifa (Petua tentang hidup), Dalil Moro Pantun, Jarita, Cum-cum, Rorasa, Tamsil, Tarian Gala, Salai Jin)

Ino Malefo, dan Kenapa Harus Kalase?

Anggaran sebagai Rekayasa Kultural

Dua produk hukum itu yang menunjukkan kegentingan status kepunahan bahasa Ternate belum konsisten dijalankan oleh Pemerintah Kota Ternate pada masa kepemimpinan Burhan Abdurahman periode kedua. Inkonsistensi pelaksanaannya dapat dilihat dalam kurun waktu 2014-2017. Dihapusnya item revitalisasi bahasa daerah pada APBD tahun 2017 membuktikan inkonsitensi pemerintah dalam kebijakan penganggaran daerah, terutama terkait bahasa Ternate. Padahal di tahun 2014, anggaran revitalisasi bahasa Ternate dialokasikan sebesar Rp. 276.000.000.

Sementara di tahun 2017, item revitalisasi bahasa daerah dihilangkan di tengah status terancam punahnya bahasa Ternate. Adapun item anggaran pelatihan guru bahasa daerah sebagai program penguatan kapasitas dialokasikan stagnan senilai Rp 28.865.000, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Kedua item yang masuk dalam Program Penyediaan Biaya Operasional & Administrasi Balai Bahasa Daerah di atas, dipangkas hampir 60 persen di tahun 2017, yakni sebesar Rp. 402.359.150 dari anggaran sebelumnya tahun 2014 yakni sebesar Rp. 1.290.865.000. Dampaknya, honor guru kontrak bahasa Ternate yang hanya sebesar Rp 750.000 per bulan tidak lagi bisa dibayar. Sementara pada tahun anggaran 2015 dan 2016, kedua item tersebut juga tak diusulkan. Atau dengan kata lain, revitalisasi bahasa Ternate tidak lagi diusulkan dalam tiga tahun anggaran terakhir.

Urgensitas bahasa dan inkonsistensi kebijakan pelestarian tersebut, komunitas yang di dalamnya terutama generasi muda sebagai pemilik identitas-bahasa perlu hadir sebagai pegiat sekaligus pelestari yang aktif mempertahankan eksistensi bahasa lewat berbagai macam cara-cara yang kreatif dan inspiratif.

Memang benar, pelestarian sastra-budaya sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah. Akan tetapi, di tengah keterancaman punahnya bahasa Ternate apalagi sastra lisan Ternate mengharuskan pemerintah wajib menjadikan program pelestarian budaya yang intangible (Non fisik), sebagai prioritas. Ini menjadi mandat politik warga atas sumber daya publik yang wajib direalisasikan oleh pemerintah kota Ternate.

Kenyataannya bahwa pelestarian sastra-budaya yang berorentasi tangible (fisik), dan monumentalis menunjukkan inkonsistensi dan kebeperihakan pemerintah Kota Ternate. Hal ini perlu dipertanyakan untuk tetap menjaga ‘kewajaran’ pembangunan di negeri Kie Gapi (gunug Gamalama).

Persoalan tersebut diperkuat dengan penerapan penganggaran klasik-incremental oleh pemerintah Kota Ternate, yang inkonsisten mengalokasikan item-item anggaran dalam program pelestarian sastra-budaya. Padahal, penganggaran incremental menerapkan prinsip kesinambungan yang senada dengan hakikat pelestarian sastra-budaya dalam konteks sustainable development (Pembangunan Berkelanjutan). Artinya, penganggaran berbasis incremental sengaja dipertahankan untuk melanggengkan kepentingan elitis dari pada mengutamakan kepentingan budaya masyarakat Ternate dalam setiap kebijakan anggaran daerah. Di sisi lain, penentuan anggaran yang dipijaki dari hasil musrembang telah direduksi dalam kepentingan elit. Dalam aspek kebijakan, model yang digunakan sangat teknokratis.

Pengabaian terhadap dampak perubahan kebijakan di atas berimbas pada pola perilaku masyarakat. Hal ini dijelaskan oleh Marjali, bahwa perubahan kebijakan akan mendorong orang sesuai dengan kebijakan baru dan berimbas panjang pada perubahan mentalitas, pikiran, nilai dan kepercayaan. Jadi, kebijakan anggaran (publik) dalam usaha mengubah pola perilaku masyarakat dapat dianggap sebagai sebuah cultural engineering (rekayasa kultural).

Kebijakan anggaran pelestarian sastra-budaya menjadi tolak ukur, konsisitensi, dan keberpihakan dari rekayasa kultural yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Ternate. Oleh karena itu, anggaran sebagai salah satu instrumen penting dalam rekayasa kultural harusnya merepresentasikan sebuah “Kebudayaan” dalam arti “tindakan manusia” yang diwujudkan melalui proses politik. Penyusunan dan perubahan kebijakan anggaran tak dimaknai secara kaku dan sektoral, tetapi dibudayakan sebagai sebuah proses yang diskursif dalam ruang publik yang demokratis. Saya tutup catatan ini dengan dola bololo, Guraci No Ige Ua Kara Banga Yo Bonofo.*

Penulis: Firjal Usdek/Kru Jalamalut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *