TELAAH

Minggu, 26 Januari 2020 - 21:52

2 bulan yang lalu

logo

Ardiansyah Fauji bersama Goenawan Mohamad. Foto: Faris Bobero/jalamalut

Corona dan Homo Deus yang Terancam

2019 n-CoV; Ekonomi yang pesat dan transportasi canggih lumpuh seketika hanya karena virus super duper kecil berdiameter 100-120 nanometer berbentuk crown (mahkota). Daya rusaknya seperti bom atom yang lepas tepat di jantung kota.

Hari-hari mencekam dan suram, hampir 22 juta manusia diisolasi, dalam rentan waktu yang begitu pendek, novel ini menekan alarm kematian dengan begitu cepat dan mengerikan. Kepanikan bukan hanya melanda Wuhan dan Huanggang China dan sekitarnya, menyebar bukan hanya ke Singapura, Thailand, Vietnam, Jepang, Taiwan, Korsel, Amerika Serikat, Perancis, dan Nepal tetapi, telah sampai ke kampung-kampung di semenanjung Pasifik, Obi, Weda, dan juga kota kecil tempat saya menulis resensi suram tentang novel tahun baru Imlek yang sedang ramai dibicarakan warga dunia.

Novel penuh ketakutan ini diberi judul resmi 2019 n-CoV oleh Centers for Disease Control and Prevetion Amerika Serikat, mesti dibaca dengan masker dan penutup tubuh lengkap, tanpa segelas Avocado Coffe atau pisang raja goreng. Dilarang membacanya sambil menarik pelan-pelan sebatang rokok, karena novel ini bisa membunuhmu lebih cepat dari puluhan bungkus rokok yang kau habiskan bertahun-tahun.

Benar-benar bukan kisah yang baik untuk dibaca di abad milenium ke-3, dimana kita sepertinya telah merayakan kemenangan atas tiga musuh terbesar kemanusiaan; Kelaparan, wabah dan perang. Novel ini sekali lagi tak cocok dibaca dengan ditemani kopi dabe (rempah) sambil menunggu sunset datang membawa pulang matahari. Tiap lembar novel ini adalah semacam lonceng kematian yang berdentang kencang, seribu lebih sudah orang terinfeksi, 40 lebih orang sudah kehilangan nyawa.

Homo Deus sedang terancam!

Harari dalam lembar-lembar awal buku Homo Deus menceritakan kepada umat manusia, sejarah Wabah di masa lalu di dekade 1330 yang membunuh sekitar seperempat populasi manusia di Eropa. Adalah Black Death (Maut Hitam) virus yang menumpang pada kutu berkendara armada tikus. Di Inggris 4 dari 10 orang mati karena peristiwa black death.

Saking mengerikan wabah maut hitam ini, masyarakat abad pertengahan mempersonifikasi black death sebagai kekuatan iblis yang melampaui kendali manusia, bahkan pemahaman manusia lumpuh menghadapinya (Tak ada obat penawarnya).  Populasi Eurasia susut dari 3,7 juta jiwa sebelum wabah melanda menjadi 2,2 juta setelah wabah. Tercatat sekitar 75 juta sampai 200 juta jiwa yang mati karena gigitan kutu Yersinia pestis ini.

Kota Florensia Italia yang populasinya tak jauh berbeda dengan Kota Tidore Kepulauan saat ini, barangkali paling kehilangan akibat wabah maut hitam di dekade 1330 tersebut, sekitar 50.000 dari 100.000 penduduknya mati, benar-benar mengerikan.

Sejarah selalu berulang, entah sebagai tragedi maupun komedi, dan dalam sejarah wabah, keseluruhannya berulang sebagai tragedi.

Musuh Kita Bukan Ras, Tapi Wabah

Pada 1520, wabah menyerang lagi, peristiwa black death ternyata bukan peristiwa tunggal dan bukan yang terburuk dalam sejarah dunia. Adalah wabah ‘smallpox’, yang sanggup menyebabkan 90 persen populasi lokal meninggal. Dalam 10 hari saja virus Smallpox bisa menyulap Kota Cempoallan yang padat berubah menjadi lahan kuburan. Saking mencekam situasi ini, masyarakat Maya di semenanjung Yukatan menyakini bahwa tiga dewa jahat- Ekpetz, Uzannkak, dan Sojakak- terbang tiap malam dari satu perkampungan ke perkampungan lain—menulari orang dengan penyakit itu.

Masyarakat Aztec menyebutnya sebagai ulah dewa Tezcatlipoca dan Xipetotec, atau sihir hitam orang-orang kulit putih. Para pendeta dan dokter kala itu tak bisa berbuat banyak, kecuali menyarankan berdoa, mandi air dingin, melumuri tubuh dengan bitumen dan mengoles luka dengan kumbang hitam yang sudah dikeringkan. Tapi sekali lagi itu saran yang tidak berguna, puluhan ribu mayat berjatuhan tiap detik di jalan jalan, para pejabat yang berwenang tak berdaya, rumah dirobohkan di atas mayat-mayat tak berani disentuh lagi, setengah populasi musnah.

Virus Smallpox menyebar lebih cepat, menyusuri lembah Meksiko, tak butuh waktu lama memasuki ibukota Aztech, melumpuhkan kota Tenochititlan berpenduduk 250.000 jiwa, metropolitan termegah kala itu, hanya  berselang dua bulan sepertiga penduduknya musnah. Meksiko saat itu berpenduduk 22 juta jiwa ketika virus cacar Smallpox tiba pada September dan Desember, empat bulan kemudian tersisa 14 juta yang hidup.

Apakah tragedi wabah itu tak berulang lagi? Ternyata masih ada yang lebih ganas lagi!

Selang dua abad kemudian, epidemi masih terus membunuh puluhan juta manusia. Pada 18 Januari 1778, penjelajah Inggris Kapten Cook tiba di Hawaii yang kala itu berpenduduk setengah juta jiwa. Flu pertama di perkenalkan, tuberkulosis dan Sipilis, juga tipus dan cacar. Pada tahun 1853, hanya 70.000 orang yang selamat di Hawaii.

Puncaknya abad ke-20, sebuah wabah ganas kembali menyerang, orang-orang menyebutnya ‘Flu Spanyol’ dalam beberapa bulan saja membunuh 5 persen populasi di India (15 juta jiwa) di Tahiti membunuh sekitar 14 persen populasi, dan di Samoa sekitar 20 persen populasi. Di pertambangan-pertambangan Kongo satu dari lima buruh tewas. Flu Spanyol membunuh total 50 sampai 100 juta orang dalam kurung waktu satu tahun.

Dan hari ini, di milenium ke-3, ketika sebagian manusia dibelahan dunia lain seolah-olah sedang merayakan kemenangan atas musuh terbesar kedua kemanusiaan ‘wabah’, musuh pertama-kelaparan, musuh ketiga-perang, dan manusia-manusia itu sedang berupaya keras mencapai imortalitas. Novel Coronavirus (2019 n-CoV) lalu datang mengintrupsi, bahwa ada yang belum selesai dan diselesaikan dalam agenda terdahulu umat manusia.

Kota Xi’jia

Kita disarankan untuk terhindar dari Novel Coronavirus dengan melakukan beberapa hal; Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih. Melakukan etiket batuk dan bersin. Menggunakan masker. Terakhir menghindari orang yang telah terpapar virus Novel Corona. Kita berharap segera ditemukan penawarnya sebelum menyebar lebih luas lagi. Penyakit-penyakit menular baru muncul terutama sebagai akibat dari kemungkinan mutasi dalam genom penyakit.

Mutasi-mutasi ini memungkinkan penyakit melompat dari binatang ke manusia untuk menaklukkan kekebalan sistem manusia atau resistensi pada obat seperti antibiotik. Kini mutasi-mutasi semacam itu mungkin terjadi dan berbiak lebih cepat karena ulah manusia pada lingkungannya. Dan kita bisa menyaksikan sendiri kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana akibat dari keserakahan dewasa ini.

Ketakutan memang selalu berlari lebih cepat dari pada logika. Dibekali dengan kemampuan kognitif dan pelajaran dari pengalaman panjang ribuan tahun atas sejarah epidemi, korban yang jatuh akibat wabah hari ini lebih bisa ditekan daripada masa dahulu.

Para Homo Deus kemudian berhasil menemukan bioteknologi dengan maksud melindungi populasi manusia dari ancaman wabah penyakit mematikan. Bioteknologi di satu sisi memungkinkan kita mampu mengalahkan bakteri dan virus dengan lebih cepat dan efektif, tetapi disisi yang lain bisa mengubah manusia menjadi ancaman yang tak ada presedentnya. Dengan alat yang sama (bioteknologi) memungkinkan para dokter bisa dengan cepat mengidentifikasi dan mengobati penyakit-penyakit baru, tetapi yang mesti digarisbawahi bioteknologi memungkinkan militer dan teroris merekayasa penyakit yang lebih mengerikan serupa penyakit kiamat.

Karena itu, sangat mungkin epidemi besar akan terus membahayakan manusia di masa depannya hanya jika umat manusia sendiri yang menciptakannya, demi kepentingan ideologi yang kejam.

Mungkin saja era manusia tak berdaya di hadapan epidemi alamiah sudah usai, kisah-kisah semacam itu di abad milenium ke-3 sudah berubah menjadi semacam kisah dongeng pengantar tidur setelah kemenangan gemilang berapa dekade atas wabah yang pernah menyusutkan populasi manusia dalam waktu cepat, namun kita bisa saja keliru. Semoga tidak semakin banyak korban yang berjatuhan akibat novel coronavirus.

Oleh: Ardiansyah Fauzi | Novelis asal Tidore

Baca Lainnya