TELAAH

Sabtu, 25 Januari 2020 - 23:10

1 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi || Sumber : Elsinta.com

Musuh Kita Bukan Ras, Tapi Wabah

Pada tahun 2015, saya pernah menulis soal ramalan kiamat (pada tulisan ‘Ancaman Arsenik sejak 3200’ Tahun SM di Kieraha.com) yakni ramalan ke-4 Buddha-Dhama ‘Ayus-Kasaya’ yang menerangkan bahwa : “Jangka kehidupan rata-rata manusia secara makro akan menurun hingga ke titik kritis”. Ramalan ini menjelaskan soal potensi kepunahan ras manusia sebelum kiamat besar terjadi. Tulisan ini akan kembali menjadi nostalgia bila manusia tak lagi mampu mengendalikan kehidupannya karena ulah itu. Pengrusakan alam, senjata kimia, bahkan rangkaian uji coba dan experimen Virus (buatan) yang menjadi boomerang bagi manusia kian mengancam eksistensi manusia itu sendiri.

China sepertinya tak dapat menutup wajah malunya ke publik atas kesulitan mereka mengendalikan Virus Corona mutasi baru (Novel Coronavirus 2019). China telah kehilangan kepercayaan diri, ketakutan, bahkan bingung dalam pengendalian wabah ini. Ketakutan itu berawal saat Rumah sakit kian terbatas dalam menampung rujukan pasien dengan suspek virus Corona.

Virus yang menyebabkan infeksi pernapasan (Pneumonia) berat dan mematikan kini bangkit dengan Genom baru. Ini berat, sebab Pneumonia yang diakibatkan oleh virus Corona baru itu belum ada vaksinnya. Lihat saja bagaimana China bekerja extra waktu hingga pasrah menutup 2 kota besar di Provinsi Hubei (Wuhan dan Huanggang) sejak tanggal 22 Januari 2020 guna suksesnya upaya isolasi manusia di dalamnya.

Runtuhnya Ketangguhan Masyarakat Kota

Usai Dunia dikejutkan dengan pelanggaran HAM otoriter China terhadap muslim Uighur di Xianjiang dan perang dagang terbuka dengan Amerika Serikat, China kini menghadapi pekerjaan rumah lebih berat lagi, The Rise of Coronavirus, bangkitnya sang virus mematikan, Coronavirus. Virus yang bertanggung-jawab atas SARS (2002) dan MERS (2012) itu kini menggempur sebagian Kota China. Efek balik Exodus penduduk dari Wuhan dan Huanggang tak dielakkan dan tinggal menghitung hari.

Wuhan berpenduduk ± 7.5 Juta jiwa, sedang Huanggang berpenduduk  11 Juta jiwa. Penduduk di dua kota itu dilarang meninggalkan tempat sebelum lolos pemeriksaan kesehatan guna memastikan tak lolosnya virus ke luar Provinsi Hubei mewabahi Provinsi lain di Tiongkok. Dua Kota besar itu jatuh ke tangan Virus. Melihat kasus itu, saya teringat film fiksi Resident Evil besutan Paul W.S Anderson yang mengisahkan tragis nasib manusia akibat Virus-T yang menginfeksi manusia, dan 1 per 1 kota di dunia jatuh akibat infeksi mematikan itu. Hingga tulisan ini dikeluarkan, sudah 10 negara postitif terpapar virus Corona baru itu.

Lengahnya China atas Mutasi Virus Corona

Sepertinya ini soal harga diri. China yang notabene negara adidaya Ekonomi sepertinya tak ingin statusnya tercoreng atas kasus wabah yang membuat seluruh dunia mengerutkan kening beberapa minggu ini, wajar saja, karena Coronavirus terakhir mampu dikendalikan 7 tahun lalu dan kini bangkit lagi dengan ganas dan sukar dikendalikan. China bahkan lebih bekerja ekstra kebanding Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO).

Tanpa menunggu upaya WHO pasca rapat kordinasi di Jenewa tanggal 22 Januari 2020. China telah memaksimalkan penanggulangan virus itu sendiri. Namun bila diikuti, China bablas sebenarnya karena sesungguhnya tak sibuk menekan kasus itu dengan pengobatan, melainkan mendata dan mengisolasi, sedang WHO sibuk dengan rapat kordinasi, mensosialisasi, dan mencari serta menguji formula vaksin di dikejar waktu yang berjalan cepat seiring lajunya maut.

Saya ingat kata Arnold J.Tonybee dengan teorinya menjelaskan suatu peradaban akan berkembang maju hingga puncaknya, dan akan hancur pada waktunya karena ketidakmampuan peradaban itu sendiri. Sumeria, Asyiria, babylonia dan Mesir adalah bukti kongkrit bukti kehancuran peradaban maju yang dihancurkan oleh kesadaran manusia itu sendiri.

Kasus bangkitnya Wabah Coronavirus adalah bukti nyata gagalnya manusia mengelola pengetahuannya atas ancaman virus di kemudian hari, mereka tidak siap dan waspada. Ketidakwaspadaan China adalah membiarkan Coronavirus lolos dan menetap di hewan-hewan ternak (Pasar Wuhan) hingga menjangkiti manusia kembali. Bagaimana bisa hewan ternak/manusia yang dijangkiti Coronavirus di Wuhan bisa lolos dari pantauan Lembaga kesehatan pemerintah China ?

Keberhasilan pengendalian Coronavirus pada kasus SARS (2003) dan MERS (2012) bukanlah suatu ukuran keberhasilan WHO atas pengendalian wabah global. Sejarah mencatatkan upaya pembiaran (Tak adanya penuntasan/pembasmian) virus karena semua pihak berhenti berupaya menekan insiden Virus Corona sejak WHO mengumumkan mampu mengendalikan virus tersebut di tahun 2012 silam (Pasca Wabah MERS). China terlalu sibuk atas perang dagang yang ditenggarai ego ekonomi Amerika Serikat atas otoritarian ekonomi Trump. Al hasil mereka lengah menjaga usaha WHO dalam mengendalikan Virus Corona, salah satunya adalah Babi. Ya, WHO memang mampu mengendalikan Virus Corona di Manusia, tapi tidak Hewan.

Ancaman Corana di Masyarakat lingkar Tambang

 Dari kasus Wuhan, tentu akan terjadi gelombang krisis Sosial yang tak biasa. Diskriminasi, stigma agama, dan teori konspirasi akan meledak membabi buta secara global. Etnis China berpotensi mendapat perlakuan rasis-diskriminasi karena tentu dituduh bertanggung-jawab atas ledaknya wabah itu. Belum lagi mereka dituding terpapar wabah virus tersebut tanpa bukti yang ilmiah, meski mereka berasal dari sana. Kelompok rentan saat ini di Indonesia khususnya di kawasan timur Indonesia adalah Tenaga kerja asing (TKA) China. Pihak Perusahaan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) pun tak bisa membohongi kecemasan mereka soal wabah itu dengan mengakui bahwa mereka telah melakukan pendeteksian ketat bagi para TKA-nya yang berangkat dari Bandara Fuzhou (China) via informasi Malut Post 23 Januari 2020 lalu.

Tak sedikit pihak tentu akan menuding China menerima karma atas tindakkannya yang exploitasi umat Islam di Xinjiang atas tudingan indoktrinisasi komunisme yang dilancarkan militer China. Demikian juga Teori konspirasi yang akan beredar soal tudingan balasan Amerika Serikat melemahkan Ekonomi China lewat serangan Bio-war (Mengirim Virus yang melemahkan populasi China) akibat perang dagang selama ini. Demikian efek balik yang siap di terima China kini.

Meskipun China kelak menerima beban stigma dari sektor ekonomi, kesehatan dan politik atas dampak kerugian yang diakibatkan oleh Wabah. Masyarakat global harus mengedepankan sisi humani. Kita tak berperang melawan Ras, melainkan Virus dan mikroorganisme lainnya yang sudah tentu membahayakan eksistensi umat manusia. Masyarakat global harus bahu-membahu saling menolong China dari keterpurukan wabah. Ini soal bertahan hidup.

Kelak tak ada lagi negara, dan bangsa. Yang ada hanyalah umat manusia. Kita akan bersaing secara Taksonomi di Liga Kehidupan di Medan laga (Bumi). Yang kuat bertahan, yang kalah tersingkirkan, dan mati ditelan keniscayaan. Itulah perang dunia yang sesungguhnya. Tentu kita tak boleh lengah bahkan kalah terhadap Virus. Sebab kita dibekali dengan bonus fisiologi (Otak) dan pengetahuan yang mumpuni secara empirisme (Pengalaman).

Maluku Utara salah satu Provinsi yang banyak menggunakan Tenaga kerja asing (TKA) asal China. Dengan adanya kerjasama pihak swasta (Perusahaan) dan Dinas Kesehatan Provinsi, semua TKA China atau yang memiliki keterkaitannya juga memiliki riwayat penerbangan dari negara potensi wabah itu harus di screening. Sebab sedikit saja ada kelengahan dari pemerintah daerah, maka ancaman yang akan terjadi pertama-tama adalah kehidupan masyarakat di kawasan lingkar tambang, ini tentu akan menambah beban derita masyarakat adat selain tertimpa perampasan ruang hidup yang diakibatkan oleh bisnis pertambangan.(*)

Penulis : dr Fatir Natsir/Kru Jalamalut

Baca Lainnya
  • 7 Januari 2020 - 20:48

    Akejira