TELAAH

Selasa, 7 Januari 2020 - 20:48

3 bulan yang lalu

logo

Supriyadi Sudirman

Akejira

Torang tau perusahan punya dasar hukum tapi torang yang punya bukti. Hukum tara akan jalan kalau tarada bukti, tanah di Akejira itu ada penghuni, saya tara tarima kalau Akejira harus rusak karena tambang”..

Ngigoto nampak serius saat mengucap itu, di kantor AMAN Malut. Sesekali, ia menghisap dalam-dalam, sebatang rokok yang dijepit kedua jari tangannya, lalu menghembuskan asap, tembakau itu.

Keriput di wajah Ngigoto menandakan umurnya tidak muda lagi. di ruang tengah kantor AMAN Malut itu, Ia menceritakan, kejadian yang menimpa keluarganya saat ini, yang masih menetap di tengah hutan—jantung Halmahera.

Tepat di Akejira, Halmahera bagian tengah, keluarganya tinggal. Mereka adalah Komunitas Tobelo Dalam O Hongana Manyawa—suku nomadik yang masih bertahan bersama 21 kelompok lainnya.

Saat bercerita, Ngigoto kadang sedih, kesal, menahan amarah, hingga matanya berkaca-kaca. Ia seakan berfikir bagaimana cara menyelamatkan kehidupan komunitas mereka.

Meski begitu, Ia berusaha tegar dengan sesekali tersenyum. Mungkin dengan senyum, ia bisa menyembunyikan gundah besar di dada.

“Dulu itu, orangtua kami terhina, dihantui rasa ketakutan, karena orang kampung atau orang pesisir menyebut mereka orang hutan, ternyata di balik penyebutan itu ada praktik penyingkiran yang tersirat,“  kata Ngigoro dengan suara pelan, serak bercampur sedih.

Ngigoro, satu dari komunitas Nomadik di Akejira. Ia lahir di sana, Akejira. Dalam silsilah di Akejira, Ngigoro termasuk keturunan dari laki-laki. Di sana, ia sering disapa Ngiariaka, Bokum pun menyebut kata itu untuk memanggil Ngigoro, bahkan mereka yang saat ini menetap di hutan sana.

“Saya lahir di sana. Tanah itu punya hubungan yang dekat dengan saya. Makanya saya akan memperjuangkannya. Tanah itu tara biasa dong kase rusak,” ujarnya, sambil menatap rokok yang masih menyala di tangannya.

Akejira adalah kawasan hutan yang masih alami. Dalam kawasan ini O’Hongana Manyawa menggantungkan hidup: berburu-meramu. Hidup bergantung pada alam merupakan kebiasaan mereka sejak dahulu kala. Mereka juga sebagai penjaga Hutan Halmahera.

Selain itu, mereka  memiliki sistem nilai yang masih dijalankan. Biasanya, mereka membangun bivak dekat sungai. Akejira juga sebagai satu kawasan sumber mata air terbesar di jantung Halmahera. Di sana, kawasan karst yang masih menyatu dengan hutan. Dari sana pula, air itu mengalir langsung pada beberapa sungai: di Maba, Wasile, Weda, dan Oba Kota Tidore.

Akejira bukan hanya persoalan wilayah berburu hewan orang Tobelo Dalam, Akejira merupakan ekosistem ekologis yang mesti sama-sama di jaga. Dari sana, air itu mengalir hingga ke pesisir. Harusnya kita semua berfikir selamatkan sumber air bersih manusia Halmahera. Sebab, air adalah penanda adanya kehidupan di situ. Akejira pusat dan jantung Halmahera yang mesti diselamatkan.

Ekspansi wilayah tambang disana, kini sedang membangun jalan menuju Akejira. Penggusuran jalan telah melewati rumah befak tempat tinggal orang Tobelo Dalam. Wilayah buruan mereka sedang dilewati alat berat yang membabat hutan. Salah satu sungaipun dilintasi. Wilayah buruan orang Tobelo Dalam di antaranya, Ma, kakarebo, Folajaya, Komao, Ngotir-ngotiri, Sakaulen, Namo, Talen, Ngongodoro, Mein, sigi-sigi, dan Tofu Blewen.

Sementara, jalan perusahan itu suda masuk pada Ngotir-ngotiri dan Mein, Wilayah ini terdapat sumber mata air yang mengalir hingga ke pesisir sebagai sumber hidup. Kawasan Ake Jira sebagai lumbung air bersih, dari sana mata air itu mengalir hingga pesisir dan di manfaatkan.

Bertahan hidup di Hutan Akejira

Suku Tobelo Dalam Akejira, menggantungkan hidup pada hutan dan air, hunter-gatherers, sudah sejak lama kebiasaan ini mereka lakukan dan mempertahankan kehidupan alam. Tanpa hutan, kehidupan pun hilang. Bergantung pada alam bagian dari tata nilai dan laku komunitas Tobelo Dalam. Cara menghargai alam pun dipraktikkan ketika mereka akan membuka lahan baru dan berkebun. Kebiasaan ini juga masih dipraktekkan.  Praktek ini dimaksudkan sebagai perantara mereka menyatuh dengan sang Pencipta-Nya. Jadi, sebagai suatu simbolisasi bentuk untuk meminta izin kepada alam dan tuan tanah.

Untuk membuka kebun baru, biasanya air yang sudah diisi ke dalam empat ruas bambu, diletakkan pada masing-masing sudut lokasi, sekira satu minggu sebelum membongkar hutan. Tujuh hari itu kemudian air di bambu tadi, disiram pada lokasi baru yang akan dibongkar. Baru kemudian hutan itu diperuntukkan untuk bercocoktanam.

Praktik ini menurut mereka, agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang dipercayai sebagai penjaga alam semesta. Bagi mereka juga praktik ini sebagai penghormatan mereka kepada alam, sehingga terhindar dari sakit, karena semua itu ada tuannya atau penjaganya.

Jadi, setelah siram itu selama tujuh hari kemudian baru bisa membongkar hutan baru, untuk dijadikan kebun. Demikian cara mereka berkebun. “Jangan sampai torang pe budaya itu hilang, karena di hutan sana tong pe budaya itu tumbuh bersama alam,” ujarnya.

“Kalau perkembangan saya mau, tapi hilang budaya saya tara mau. Jadi tanah itu tidak bisa hancur,”tambahnya. Kehidupan orang Tobelo Dalam, komunitas Akejira terbilang sedikit terbuka dengan masyarakat adat Sawai seperti Kobe dan Lelilef.

Sering orang Tobelo Dalam keluar dari hutan dan menginap—bermalam di Kobe. Hubungan ini lebih disebabkan karena orang Sawai memakai jasa mereka dalam mencari Gaharu, Damar, dan memanfaatkan hasil kayu untuk pembangunan rumah. Tenaga mereka sering dipakai untuk mengeluarkan hasil kayu seusai dipotong dan dipilah. Dengan begitu, mereka sering melakukan barter makanan.

Tupa membeberkan, bahwa kehidupan mereka sekarang sudah sulit untuk berburu, hasil buruan semakin menjauh. Selain itu, ketika mau menangkap udang juga susah. Hidup semakin susah sekarang.

Tupa merupakan salah satu kepala keluarga bagi Komunitas Akejira, ia menggantikan Bokum setelah Bokum dipenjara atas sangkaan kasus pembunuhan beberapa tahun lalu di Desa Waci Halmahera Timur. Ruang hidup mereka tidak lagi ramah, mereka yang hidup keterbatasan ilmu pengetahuan formal, tapi pengetahuan mereka kepada alam lebih bermartabat dibandingkan dengan manusia yang mengenal pendidikan dan hidup di realitas dunia modern.

Mereka menghargai alam sebagai bentuk laku dan tata nilai kepada alam sebagai karunia dari penciptaNya. Tupa bersikeras, ruang hidup mereka jangan sampai dirusak perusahan, hanya pada alam dan hutan mereka menggantungkan hidup, di dalam hutan ada sumber protein untuk mencukupi kebutuhan dan ketahanan tubuh bersama keluarga terutama Dalia yang masih belia.

Dalia, menjadi permata bagi Tupa dan Nawate di hutan Akejira. Umurnya yang masih belia belum mengenal bapaknya, Bokum yang pada 2014 ditangkap pihak keamanan. Dari berbagai informasi, Bokum di tangkap pada malam hari di salah satu rumah warga Trans Kobe Kulo saat Bokum dan Nuhu menginap untuk mengambil makanan yang telah dijanjikan pemilik rumah. Mereka bermalam semalam. Malam itu pun mereka ditangkap langsung digiring ke Polres Kota Weda.

Atas tuduhan itu, Bokum dan Nuhu di Hukum 14 tahun penjara dan denda 100 juta. Mereka menjalani hukuman di rumah tahanan Jambula, Ternate. Kini, Nuhu di kabarkan meninggal Dunia di penjara karena mengidap sakit. Ia pun dikebumikan di Pekuburan Umum di Maliaro Kota Ternate. Teman hidup di penjara telah pergi selamanya. Bokum kini menyendiri di ruang tahanan dan mungkin saja ditemani senyuman Nuhu dalam bayang-bayang sedih dan sepi.

Tupa masih berharap dari tengah rimba Akejira, bahwa Bokum segera kembali, menjadi tumpuan hidup tidak mudah sebagai perempuan yang sudah memasuki usia tua. Ia hanya menuturkan kehidupan mereka sekalian susah. makanya Bokum harus pulang.

“Sekarang semakin susah mencari makanan. Kami lebih susah. Hidup kami sengsara sekarang. Jadi Bokum harus pulang,” ucap Tupa kepada Ngigoro, saat ditemui di bivak mereka yang ada di Akejira.

“Tupa,.. Yakuta dan Elia harus pulang, jangan dipekerjakan mereka di perusahaan. Saya mama, jawab Ngigoro,.. nanti saya berusaha agar mereka bisa kembali. Mereka harus kembali ke hutan, karena hidup kami makin susah,” pinta Tupa.

“Dan Bokum segera harus kembali,” ucap Tupa lagi.

“Saya mama,” ucap Ngigoro.

Kehidupan mereka terganggu, setelah ekspansi perusahaan itu masuk. Ketika semua orang tahu wilayah Akejira akan ditambang, banyak orang pesisir masuk dan meng-kapling hutan untuk dijual ke perusahaan. Perusahaan juga telah melakukan penggusuran jalan hingga ke Ngotir-Ngotiri tempat wilayah berburu Orang Tobelo Dalam.

Kini, mereka menghadapi model pembangunan yang akan merusak hutan dan seisinya, yang diprediksikan dampak negatifnya lebih besar akan melanda Orang Tobelo Dalam dan Masyarakat Adat Sawai di Kecamatan Weda Tengah, dengan total jumlah penduduk 5.310 (data BPS, Weda Tangah dalam angka 2018).

Penulis: Supriyadi Sudirman | Orang muda dari Desa Sagea, Halmahera Tengah.

Baca Lainnya