Breaking News

Pak Tua dari Kata-Kata Terakhir

Bulan agung baru saja berlalu. Masih dalam waktu tuk mengenang kepergiannya, dengan enam hari puasa sunnah setelah kemenangan dirayakan. Dalam rentang waktu itulah kita berjumpa. Namun, kata-kata terakhirmu bagai susu dan kurma, berkah di kala sahur dan berbuka. Kata-kata terakhirmu juga terasa nikmat di hati, sebab mengandung kebenaran dan kebaikan, juga  keindahan. Dari kata-kata terakhirmu, kuikuti makalah terakhirmu yang menandakan keluasan ilmumu. Dari kata-kata terakhirmu, kubaca dua suratmu untuk sahabatmu yang memancarkan kejujuran, ekspresi seorang sahabat sejati. Dari kata-kata terakhirmu, kutahu bagaimana kau merespon tindakan dan pemikiran pihak lain, yang menunjukkan kesopan-santunan dan kebijaksanaan. Dari kata-kata terakhirmu, kulihat karyamu, di mana kau tampil bak malaikat bersayap dua, yang terbang seimbang tuk menggapai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dalam kata-kata terakhirmu, aku adalah sang anak yang mendengar bisikan angin di dedaunan, yang senang melihat bulan tersenyum. Namun, dalam kata-kata terakhirmu, kau adalah manusia dewasa yang arif, yang tak akan pernah menyalahkanku. Karena itu, dari kata-kata terakhirmu, akan kukisahkan perjumpaan kita, meski imajiner belaka.

(Inilah kisahnya)

Pak tua itu berambut, berkumis dan berjanggut putih, berkacamata pula. Kami bertemu pertama kali di ruang depan sebuah bangunan besar serupa istana. Saat itu, kami duduk semeja dan mulai ngobrol begitu saja tanpa saling mengenalkan diri satu sama lain. Makin lama, obrolannya makin serius dan agak teoritis. Tapi, aku enjoy saja dan lebih banyak pasang telinga. Ia dengan fasih mendedahkan tentang pentingnya ikhtiar becoming religious, di samping to have a religion. Padaku ia bilang, “Banyak sekali manusia beragama, tapi tidak beriman. Sedangkan tidak sedikit yang beragama, atheis dalam praksisnya, tetapi beriman; bersikap baik pada sesama, suka menolong yang lemah dan lain sebagainya. Memang idealnya, dua-duanya, beragama sekaligus beriman. Tapi hal ini membutuhkan perbuatan terus-menerus seumur hidup. Hal ini perlu sekali disadari karena menyangkut pandangan kita terhadap sesama manusia dan alam, ilmu pengetahuan dan yang lebih sempit lagi, sains, dan teknologi itu sendiri.”1

Entah bagaimana, kata-kata Pak tua itu seperti deja vu, harus dicari kapan dan di mana. Kulihat kiri-kanan, kesana-kemari. Tak lama, penglihatanku jatuh pada sosok yang sudah kukenal sebelumnya, Imam Khomeini, yang berdiri di sudut yang tak jauh. Kutinggalkan sebentar Pak tua itu dan berjalan menuju Imam, bermaksud peroleh keterangan yang mencerahkan. Beliau yang arif, yang mungkin sudah mengetahui isi benakku, langsung berbicara setelah mengucap salam dan bersalawat, “Ketahuilah bahwa keimanan berbeda dengan pengetahuan tentang Allah, pengetahuan tentang malaikat, kitab-kitab suci dan hari akhir. Orang yang memiliki pengetahuan tentang semua itu tidak lantas menjadi seorang Mukmin. Iblis memiliki pengetahuan tentang semua itu lebih dari diriku dan engkau, atau manusia pada umumnya, tetapi ia tetap tidak beriman. Keimanan adalah tindakan hati; jika tidak masuk dalam hati, pengetahuan tidak bisa disebut sebagai keimanan. Setiap orang yang telah mengetahui suatu prinsip melalui metode rasional harus mengantarkan pengetahuannya itu ke dalam hatinya, dan menjadikannya sebagai tindakan hati berupa kepasrahan atau ketundukan serta penerimaan dan penyerahan-diri. Hanya dengan demikianlah seorang menjadi Mukmin.”2

“Maaf Imam, berarti antara orang yang berilmu dengan orang yang beriman itu berbeda ya? Yang berilmu belum tentu beriman, begitu ya?” tanyaku antusias.

Pemilik wajah bercahaya itu hanya membalas dengan senyuman, yang kuartikan dengan “ya” sebagai jawaban atas pertanyaanku.

Aku berpikir sejenak, lalu kembali ke meja, tempat aku dan Pak tua duduk tadi. Aku bermaksud meneruskan apa ya dibilang Imam barusan, yang menurutku nyambung dengan apa yang Pak tua itu dedahkan tadi. Tapi, Pak tua itu tak ada. Hanya ada beberapa lembar kertas berisi tulisan tangan di atas meja. Kertas-kertas itu kuangkat dan kubaca. Pada baris-baris terakhir dalam lembar terakhir tertulis:

… bagi kita, apa yang disajikan oleh filsuf Sidney Hook ini tetap sangat berharga sebagai ajakan untuk lebih mendalami lagi permasalahan-permasalahan yang begitu penting dan menentukan….

Tidak untuk melimitasi cara pemecahan soal wilayah budaya lain yang mempunyai histori dan posisi lain sama sekali dari situasi kondisi yang kita duduki,  akan tetapi untuk mengambil hikmah dari setiap pemikiran yang mendalam, termasuk pemikiran-pemikiran Hook. Demi pencarian kita meraih kebenaran dan kemanusiaan yang adil dan beradab, yang mempunyai esensi universal.

Dalam suasana hati keterbukaan, namun juga kritis, kita renungkan esai esai Sokrates dari Amerika ini.3

Ketika sedang mencoba mencerna apa yang baru saja kubaca, sontak aku dibuat kaget oleh kehadiran dua sosok yang berdiri tepat di belakang punggungku. Sepertinya, mereka sudah di situ sebelum aku menyelesaikan baris-baris terakhir tadi. Pak tua itu kemudian mengambil lembar-lembar kertas yang ada di tanganku, “Ini catatan hasil dialogku dengan Sokratesnya Amerika, Sidney Hook”, katanya, “Bila kita arif, maka kita dapat belajar dari orang lain, dari pengalaman bangsa dan filsuf dari bangsa-bangsa lain, karena khazanah pemikiran dan kearifan dari bangsa mana pun dan zaman kapan pun adalah harta kekayaan bangsa kita juga yang pantas kita manfaatkan sebagai modal”4.

Kata-kata Pak tua itu masuk ke akal lalu meresap ke hati. Kupalingkan wajahku ke wajah Imam yang berdiri di sebelah Pak tua itu. Lagi-lagi, ia melemparku dengan sebuah senyuman hangat, senyuman yang secara ajaib membuatku ingat akan wasiat Junjungan kami: hikmah adalah harta milik setiap mukmin, di mana saja kau temui, maka ambillah. Dalam batinku, “Kok bisa seselaras itu, antara kata-kata Pak tua itu dan wasiat agamaku. Memangnya siapa dia? Apa agamaku, apa agamanya?” Baru saja mau kunyatakan isi batinku itu, keduanya telah pergi entah ke arah mana.

Karena dorongan rasa penasaran, aku kemudian mencari keduanya. Kususuri lorong-lorong bangunan besar serupa istana itu. Di tengah mataku yang mencari kesana-kemari, bertemulah aku dengan seorang bapak yang kemudian mengenalkan namanya sebagai Bismar Siregar. Sepertinya ia berpengalaman. Melihat gerak-gerikku, ia seakan tahu kalau aku sedang mencari orang, kemudian menanyakan padaku ikhwal siapa yang kucari.

“Aku mencari dua orang lelaki tua, yang satu berjubah dan bersorban, sedang satunya lagi berambut, berkumis dan berjanggut putih, juga berkacamata,” jawabku penuh harap akan petunjuk.

“Oh, mereka telah menuju aula besar. Apa perlumu dengan mereka?”

“Aku tadi sempat berbincang dengan mereka. Ada pertanyaan penting yang ingin kutanyakan, terutama pada Pak tua yang berambut, berkumis dan berjanggut putih, juga berkacamata itu. Sudikah kau menunjukiku, ke arah mana aula besar itu?”

“Ikutlah saja denganku. Aku juga hendak ke sana,” kata Pak Bismar yang mulai mengayun langkah.

“Baik, terima kasih,” aku pun mengikutinya.

Pak Bismar adalah seorang mantan hakim agung. Aku tahu itu dari obrolan kami sepanjang jalan menuju aula besar.

“Apa kau mengenal mereka atau sebaliknya?” tanyanya.

“Satunya sudah kukenal. Tetapi Pak tua berambut, berkumis dan berjanggut putih, serta berkacamata itu, belum. Kami baru saja bertemu dan bercakap-cakap di ruang depan tadi tanpa terlebih dahulu saling mengenalkan diri. Apa kau tahu siapa dia?”

“Oh, Pak tua yang kamu maksud itu…”, kata Pak Bismar, “Kami memang seakan tak pernah jumpa, kecuali saat penganugerahan ‘Yap Tiam Hien Award’ di TIM5. Beliau adalah pengabdi Allah, pejuang diam-diam, tanpa teriak-teriak dan hujat-hujatan, pembawa dan pengajak kedamaian6. Menghadapi keberanian dan kejujuran, beliau tidak menenggang ‘apa nanti kata orang’. Ia hanya mempertimbangkan ‘apa kata hati nurani dan pesan Ilahi’. Tak ada ragu dan bimbang dalam rangka saling ingat-mengingatkan, menyampaikan yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil7.”

Mendengar keterangan Pak Bismar, ingatanku langsung terbawa pada Kitab Suciku. Dalam batinku, “Kok, Pak tua itu seperti bagian dari golongan manusia yang dikecualikan dalam surat al-Ashr? Siapa sih Pak tua itu? Apa agamaku, apa agamanya?”

Langkah kaki dan cerita tentang sosok Pak tua itu oleh Pak Bismar telah mengantarkan kami sampai tepat di depan pintu masuk aula besar. Sebelum masuk, kami berhenti sejenak. Pak Bismar rupanya ingin menuntaskan cerita tentang Pak tua itu. Katanya, ia percaya bahwa Pak tua itu telah banyak menyumbangkan pemikiran yang membangun lewat tulisan-tulisannya, bukan memojokkan pihak tertentu. “Dari sudut manapun beliau mengupas peristiwa”, lanjut pak Bismar, “selalu terlintas kesejukan, ketulusan dan kedamaian. Ya, karena beliau tidak ingin  ada yang tersinggung atau berdendam. Kalau pun ketersinggungan dan dendam masih muncul juga, bagi beliau tidak masalah, karena jiwanya sudah mapan oleh pesan luhur Santo Lukas: Aku berkata kepadamu: kasihilah seterumu, dan berbuat baiklah kepada orang yang membencimu.”8

Dari ceritanya, Pak Bismar seperti tahu banyak tentang Pak tua itu, dan ini sebuah kesempatan, pikirku. Namun, ketika akan kutanyakan siapa dan apa agama Pak tua itu, dalam sekejap mata, Pak Bismar telah hilang dari pandanganku di tengah ramainya orang dalam aula besar itu. Lagi-lagi, pertanyaanku itu harus tetap kuendapkan dalam batin, meski makin bergolak menuntut jawab.

Kini aku telah berada di dalam aula besar yang ramai dengan orang-orang, sebagiannya belum kukenal. Dari yang kukenal, Habib Abu Bakar al-Athas adalah yang pertama kulihat. Kudatangi sang alim yang konon dapat membaca isi hati dan pikiran orang itu, agar memperoleh petunjuk tentang Pak tua yang kumaksud.

Sebelum terlambat, dan agar tak bernasib seperti sebelumnya, segera saja kuutarakan pertanyaanku, “Maaf Bib, apa Bib tahu di mana keberadaan Pak tua berambut, berkumis dan berjenggot putih, juga berkacamata yang datang ke sini bersama Imam Khomeini? Kalau Bib mengenalnya, bolehkah Bib jelaskan padaku tentang siapa dia dan apa agamanya?”

Dengan begitu tenang, beliau beri tanggapan atas pertanyaan-pertanyaanku yang kurasa bukan jawaban, tetapi nasehat, “Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat baik padamu, sedangkan kepada orang yang berlaku jahat padamu, tetaplah berbuat baik juga terhadap mereka. Ingatlah kisah seorang pembenci Nabi saw. yang telah kuceritakan saat lailatulqadar di Istana Kesultanan Ternate. Setiap hari, sang Nabi saw. dengan sabar membersihkan kotoran yang dibuang di depan rumah beliau oleh seorang pembencinya. Nabi saw. pun tidak menceritakan perlakuan yang keterlaluan ini kepada sahabatnya, bahkan kepada istrinya sendiri. Hingga suatu ketika, Nabi saw. seorang diri datang menjenguk orang itu yang terbaring sakit, dan karena itu tidak lagi membuang kotoran di depan rumah Nabi saw. selama tiga hari berturut-turut. Akhlak Nabi saw. yang mulia ini menuai hasil. Pembenci itu berbalik mencintai Nabi saw., dan atas hidayah Tuhan, ia akhirnya mengucap dua kalimat syahadat.” Sampai di sini, Habib pun beranjak meninggalkanku tanpa beri jawaban yang to the point atas pertanyaan-pertanyanku tadi. Namun sesaat setelah kupikir-pikir, nasihat Habib padaku tadi, terasa seakan mempertegas gambaran Pak Bismar tentang laku Pak tua itu. Hal ini justru membuatku semakin penasaran tentang siapa dan apa agamanya Pak tua itu.

Setelah ditinggal sang Habib, aku masih terus berkeliling dalam aula besar yang ramai, mencari Pak tua itu. Tiba-tiba, tanpa kusadari, aku sudah berada di samping sekelompok orang yang kulihat sedang asyik dalam perbincangan mereka. Di antaranya terlihat Syams dari Tabriz dan belahan jiwanya, Maulana Rumi. Lalu ada Pak Haidar Bagir dan Cak Kuswaidi Syafi’ie. Aku yakin mereka melihat kebingungan pada diriku, baik dengan mata lahir, lebih-lebih dengan mata batin mereka. Karena itu sang Maulana, lewat lisan Cak Kuswaidi yang kental logat Maduranya, menyenandungkan sepotong bait dari kitab Rubaiyat dengan volume suara yang seakan-akan hanya cukup tuk didengar telingaku:

Api cinta membuat kami matang.

Setiap Malam api cinta mendorong kami pada reruntuhan.

Ia mendudukkan kami bersama orang-orang yang berada di reruntuhan.

Agar tak seorangpun mengenal kami, kecuali orang-orang yang berada di reruntuhan.9

Pengalamanku menunjukkan bahwa selalu ada hikmah dari setiap apa yang keluar lewat lisan si ahli hikmah, aku yakin itu. Dan dengan segala keterbatasan, aku menafsirkan sendiri bahwa senandung itu merupakan singgungan atas kebingunganku, tepatnya, kebingunganku tentang siapa dan apa agama Pak tua itu. Ya, kini aku tahu alasan kebingunganku itu, pasti karena aku bukanlah dari golongan mereka, yakni orang-orang yang terbakar api cinta dan telah berada di reruntuhan, seperti dalam bait yang disenandungkan Cak Kuswaidi barusan. Tapi aku tak ingin berputus asa, karena Tuhan melarang itu.

Pak Haidar, yang telah kubaca beberapa karyanya, sepertinya kasihan denganku. Dengan jari syahadatnya, ia beri isyarat yang menunjuk pada suatu arah. Kuikuti isyarat itu dengan mata dan juga langkah. Tak lama, nampak olehku Pak tua yang kucari sedari tadi. Ia masih bersama Imam Khomeini dan beberapa kawan mereka yang terlihat bersuka cita menikmati obrolan dan kebersamaan mereka. Agar tak kehilangan lagi, dan agar memperoleh jawaban langsung dari orangnya, kudatangi Pak tua itu dengan langkah setengah berlari tanpa sedikitpun kukedipkan mataku dari melihatnya.

Tibalah kini aku di hadapan Pak tua itu dan kawan-kawannya yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh populer. Tanpa menunggu lama, pertanyaan yang membuatku penasaran sedari tadi itu, kusampaikan dengan suara lantang, yang tentu di dengar juga oleh semua kawannya yang berada di situ, “Pak, sebenarnya anda siapa? Apa agama anda?”.

Kebingungan pastilah masih jelas terlihat dalam raut wajahku saat itu. Apalagi saat mereka semua meresponnya hanya dengan senyum-senyum saja, yang membuatku makin bingung dan penasaran. Tiba-tiba salah satu dari mereka, Mas Kuntowijoyo, maju dan memegang bahu kananku, lalu bicara dengan nada yang terdengar bergurau, “Engkau sedang berada dalam persekongkolan ahli makrifat. Karena itu, kalau kau tidak punya ini, kau harus punya ini,” sambil bergantian menunjuk ke dada dan kepalanya.10

Tetapi, jawaban konkritlah yang kubutuhkan. Bukan jawaban penuh misteri seperti itu, yang masih menimbulkan pertanyaan ini dan itu lagi.

Pertanyaan itu makin bergolak menuntut jawab. Kali ini, wajah dan badanku benar-benar kuhadapkan ke Pak tua itu. Lalu, dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya, kutanyakan sekali lagi, “Sebenarnya anda ini siapa? Dan apa agama anda?”

Bukannya segera memberi jawaban, Pak tua itu malah tenang-tenang saja sambil terus memasang senyum di wajahnya. Kawan-kawannya pun demikian, mereka saling melempar senyum saat melihat diriku yang semakin bingung. Lalu kawannya yang lain, Gus Dur, maju. Sambil menepuk-nepuk pundak kiriku, ia bicara dengan gayanya yang khas, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”11

Selepas itu, terdengar sebuah pengumuman, semacam panggilan. Lalu mereka, Pak tua itu dan kawan-kawannya, termasuk semua orang dalam aula besar itu, pun bergerak ke satu arah, menuju sebuah ruangan yang di atas pintunya tertulis “Ruang Khusus Ahli Makrifat”. Seperti itulah aku ditinggalkan mereka, tanpa diberi tahu tentang siapa dan apa agama Pak tua itu.

Aula besar yang tadinya ramai berangsur sepi dan sunyi. Dalam kesunyian itu aku membatin, “Andai saja semua orang dalam aula besar tadi kutanyai dengan pertanyaan yang sama tentang siapa dan apa agama Pak tua itu, tetap saja takkan kudapati satu pun jawaban yang konkrit. Mungkin, begitulah mereka, para ahli makrifat. Atau, mungkin karena mereka tak lagi peduli tentang siapa dan apa agama seseorang?”.

Tiba-tiba, aku teringat pada Dia yang hanya kepada-Nya setiap makhluk seharusnya memohon pertolongan.  Dengan penuh harap, dan atas dasar keyakinanku bahwa Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, kutengadahkan wajahku ke langit kemudian dengan sekeras-kerasnya kulontarkan pertanyaanku itu, “Tuhan… siapa sebenarnya Pak tua itu…? Apa pula agamanya… ya Tuhan…?” Suaraku memecah kesunyian, menggema dalam aula besar yang kosong itu selama beberapa saat. Lalu selepas itu, kembali sunyi-senyap. Aku menunggu. Tapi, telingaku tak kunjung mendengar jawaban-Nya. Aku mulai lelah dan pasrah. Di saat mendekati puncak kesadaran akan ketakberdayaanku itu, batinku berkata, “Jangan-jangan, Tuhan pun tak ingin bertanya tentang hal itu? Atau, mungkin Tuhan merasa tidak perlu lagi menanyakan hal itu karena Dialah al-‘Alim, Yang Maha Mengetahui apapun, termasuk siapa dan apa agama Pak tua itu?”.

*

Setelah 20 tahun dari kepergiannya, lewat “Kata-Kata Terakhir”, kutahu Pak tua itu: Namanya Y.B. Mangunwijaya. Akrab disapa Romo Mangun. Seorang rohaniwan, ‘penunggu’ kali Code, Yogya. Tapi gerak aktivitasnya ‘blusukan’ ke mana-mana: ya novelis, ya esais, ya arsitek yang pembela mereka yang miskin dan lemah.12

 

Ternate, 10-11 Juni 2019

Penulis: Hasbullah

(Inspirasi kisah imajiner diperoleh dari buku “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas tahun 2014)

 

Daftar kutipan dalam kisah ini:

Y.B. Mangunwijaya, “Peran Buku Demi Kearifan Dalam IPTEK” dalam “Kata-kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 45).

Imam Khomeini, “40 Hadis” terbitan bersama Penerbit Mizan dan Islamic Cultural Centre, cetakan II, 2009 (hal. 36).

Y.B. Mangunwijaya, “Pengantar buku Sidney Hook: Sosok Filsuf Humanisme Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme” dalam “Kata-kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 148).

Y.B. Mangunwijaya, “Pengantar buku Sidney Hook: Sosok Filsuf Humanisme Demokrat dalam Tradisi Pragmatisme” dalam “Kata-kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 143).

Bismar Siregar, “Mengenang Romo Mangun: Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama” dalam “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 165).

Bismar Siregar, “Mengenang Romo Mangun: Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama” dalam “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 160).

Bismar Siregar, “Mengenang Romo Mangun: Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama” dalam “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 165).

Bismar Siregar, “Mengenang Romo Mangun: Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama” dalam “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 169).

Kuswaidi Syafi’ie, “Nada Dasar Cinta” terbitan DIVA Press, 2017 (hal.16).

Kuntowijoyo, “Persekongkolah Ahli Makrifat” terbitan DIVA Press, 2018 (hal. 89).

“Pesan Gus Dur: Berbuat Baik Apa Pun Suku dan Agamamu”, KOMPAS.com (30 Desember 2009).

Th. Bambang Murtianto, “Kata-Kata Terakhir di Meridien Itu” dalam “Kata-Kata Terakhir Romo Mangun” terbitan Penerbit Buku Kompas, 2014 (hal. 3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *