TELAAH

Rabu, 9 Oktober 2019 - 18:19

1 minggu yang lalu

logo

Kedai Kopi Sibu Sibu, Ambon. Foto: ambonesia/kumparan

Kedai Kopi dan Ruang Budaya

(Catatan untuk Ibu Jane Tahitu, Sibu-Sibu Cafe, Ambon)

Saya nonton Nicky Manuputty & Friends di channel Youtube di Cafe Sibu-Sibu, Ambon. Saya pernah minum kopi di situ dalam sebuah kunjungan ke sana. Cafe Sibu-Sibu itu tempat nongkrong orang-orang Ambon dari berbagai lapis sosial. Sebuah kedai kopi sederhana di jantung kota dekat perempatan tugu Trikora yang berdiri sejak 2006 milik seorang ibu bernama Jane Tahitu.

Di Cafe Sibu-Sibu hanya ada kopi, musik dan kehangatan orang-orang Ambon dalam menjamu setiap orang yang datang sebagai keluarga. Apalagi Ambon memang tengah serius membangun identitas kotanya sebagai kota musik, pesannya jelas “Ambon pono deng musik”.  Cafe Sibu-Sibu memang adalah medium, ia adalah ruang publik untuk memperbincangkan 1001 urusan.

Ia menjadi ruang  untuk melepas segala kepenatan di tengah rutinitas yang berat dengan urusan-urusan yang serius. Sampai di sini saya paham bahwa Jane Tahitu pasti sadar bahwa ia adalah bagian dari sejarah perjalanan panjang kedai kopi itu sendiri, mulai dari Afrika, Eropa hingga Asia.

Ia berganti peran sesuai ruang sejarahnya, dari tempat nongkrong para pialang bisnis di abad ke-16, lalu menjadi rumah ideologis kalangan intelektual aktivis Prancis hingga menjadi rumah kedua komunintas anak-anak muda saat ini.

Riwayat kedai kopi memang panjang, ia tumbuh bersama perjalanan kopi itu sendiri sejak Baba Budan, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji bibit kopi dari Jazirah Arab ke kampungnya di India pada abad ke-15.

Namun, hingga abad ke-17, pengetahuan “orang-orang Barat” perihal kopi boleh dibilang minim (seperti pada artikel Kopi yang Mengubah Eropa, yang diterbitkan di Historia.id). Kata “kafe” sendiri berasal dari bahasa Prancis yaitu cafe yang berarti kopi. Sedangkan istilah kedai kopi (Coffehouse) baru muncul di Inggris pada abad ke 18, artinya butuh waktu selama dua abad untuk dikenal di Eropa.

Orang-orang Eropa secara formal baru berkenalan dengan kopi pada tahun 1615. Ketika para pedagang Venezia, Italia, membawa pulang kopi dari daerah Levant (area Timur Tengah, meliputi Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria).

Setahun kemudian orang Belanda membawa kopi dari daerah Adan, Yaman, lalu membudidayakannya, dari Ceylon (Sri Lanka) hingga ke Nusantara. Belanda akhirnya memetik hasil. Mereka memonopoli industri kopi dunia, bahkan bisa menentukan harga. Puncaknya, pada 1700-an, kopi produksi Jawa bersaing dengan kopi asal Mocha, Yaman, sebagai produk kopi paling populer di dunia (gallacoffee.co.uk, James Grierson, dalam  artikel “History of Coffee: Part III – Colonisation of Coffee” dalam Historia.id)

Jauh sebelum itu, Turki sudah lebih dulu mengenal kopi. Karena kedai kopi pertama kali muncul kota Konstantinopel sekarang Istanbul) pada tahun 1475 bernama Kiva Han, sebagai sebuah coffee shop dengan menu kopi khas Turki.

Pada masa itu, kopi adalah unsur penting dalam kebudayaan Turki, yang disajikan kuat, hitam dan tanpa filter. Orang-orang Turki gemar menikmati kopi mereka dengan memasaknya menggunakan ibrik/pot ala Turki. Berikutnya kedai kopi muncul di Wina Austria oleh Franz George Kolschitzky pada tahun 1529 sebagai kedai kopi pertama di Eropa, setelah Austria diserbu oleh tentara Turki yang mundur dan meninggalkan 500 karung biji kopi.

Kopi tentara Turki itu kemudian diklaim sebagai rampasan perang. Di kedai kopinya Kolschitzky adalah orang pertama yang memperkenalkan ide minum kopi menggunakan penyaring dan dicampur dengan krim dan gula. Kolschitzky memang pernah tinggal di jazirah Arab dan ia faham betul cara meracik kopi.

Pada tahun 1650 seorang pedagang berdarah Yahudi, Jacob, membuka coffee shop pertama di London bernama “Angel”. Kedai kopi ini kemudian menjadi tempat berkumpulnya kaum terpelajar untuk membaca, belajar dan berdebat. Orang Inggris yang terkenal suka minuman beralkohol menganggap bahwa coffee shop adalah tempat untuk “menjadi waras” dan pengunjungnya dianggap lebih cerdas ketimbang para pengunjung bar dan pub ketika itu.

Di Inggris, kedai kopi adalah ruang untuk berdiskusi tanpa memandang kelas, aliran politik, dan kasta, asalkan masih dalam batas kesopanan dan tidak membahas hal-hal yang sensitif seperti agama. Berikutnya “The Turk’s Head”,  kedai kopi ini buka pada tahun 1652 dan masih berkiblat ke gaya Turki.

Orang-orang Inggris menyebutnya “penny universities” karena harga kopinya dan menjadi tempat nongkrong para bisnisman kelas atas. Pada tahun pada 1668 Edward Llyoyd membuka sebuah coffee shop kecil yang menjadi sebuah pusat pertemuan bisnis, dan pada akhirnya menjadi kantor perusahaan asuransi London.

Pada Abad 17 dan 18, coffee shop di Inggris adalah tempat untuk orang-orang berkumpul dan berdagang sambil minum kopi dengan membayar 1 penny untuk secangkir kopi. Para pelancong di Abad 17 ketika itu diperkenalkan bahwa kopi adalah minuman orang Inggris, dan awalnya memang kopi bagi orang Inggris adalah minuman untuk pengobatan.

Adalah Sir Francis Bacon, seorang filsuf Inggris yang ketika itu mempopulerkan kopi sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit cacar ringan dan juga untuk menyadarkan orang yang sangat mabuk.

Pada tahun 1672 kebiasaan minum kopi diperkenalkan di Paris oleh seorang anak muda Armenia bernama Pascal yang menjual kopi dalam sebuah pameran besar di Saint Germain dan di sebuah kedai kecil miliknya di Quai de Evole seharga dua sol, enam dernier (sekitar dua penny Inggrir) satu cangkir.

Di Prancis, kedai kopi menemukan dimensi sosial politiknya dalam bentuk yang lain. Ia berubah dari tempat nongkrong biasa menjadi ruang perlawanan ideologis terhadap penguasa. Kopi menjadi rutinitas sosial yang bertransformasi bersama ide-ide perjuangan kelas sosial kalangan intelektual aktivis dalam diskusi-diskusi politik yang pada akhirnya terakumulasi menjadi api yang menyalakan Revolusi Prancis.

Lalu budaya minum kopi menyebar ke Amerika karena negara ini dijajah oleh Inggris. Di Amerika pada mulanya kedai kopi adalah tempat nongkrong para komunitas bisnis sebagaimana di Inggris. Pada tahun 1792 The Tontine Coffee House adalah lokasi awal dari New York Stock Exchange sebagai pusat transaksi bisnis.

Sampai di Amerika jenis kopi yang disajikan di kedai kopi masihlah jenis kopi biasa. Baru pada tahun 1946 jenis kopi baru bernama espresso ditemukan oleh Gaggia di Italia. The Gaggia Coffee Bar adalah kedai kopi pertama yang menjual kopi biasa dan juga espresso yang diolah dengan mesin piston espresso komersial. Di titik inilah kedai kopi modern akhirnya lahir.

Saya masih di sini, di Tomagoba, sendiri membaca dan menulis kembali riwayat kedai kopi. Berjarak kurang lebih 10.657 Km dari Kiva Han di Konstantinopel. Di tengah rutinitas yang penat, merenung bagaimana menyediakan kedai kopi sebagai ruang budaya alternatif di tengah silang sengkarut dinamika komunitas di kota ini.

Kita bersyukur telah punya the Kora-Kora Cafe, Elang Kafe, dengan anak-anak muda hebat yang luar biasa. Jika bisa, saya ingin sekali bertemu dengan Baba Budan, Sir Francis Bacon, Franz George Kolschitzky, Gaggia dan tentunya Ibu Jane Tahitu untuk belajar tentang kopi sambil menikmati alunan saxophone Nicky Manuputty and the Band.

Kedai kopi memang seharusnya menjadi ruang budaya yang riang sebagaimana di Cafe Sibu-Sibu Ambon. Atau juga bisa menjadi tempat untuk merawat kewarasan seperti di Angel Coffeshop London. Mari minum kopi bung!

[Beberapa referensi diolah dari berbagai sumber]

Penulis: Syahidussahar MZ Ismail

Baca Lainnya