PUSTAKA

Senin, 7 Oktober 2019 - 18:12

2 bulan yang lalu

logo

Cover buku. "Biopolitik: Sebuah Pengantar"

Membaca Ruang Lingkup Biopolitik

Oleh: Budi Sahabu

Saat ini Thomas Lemke membuka ruang bagi peminat biopolitik dengan persembahan satu karyanya berjudul “Biopolitik: Sebuah Pengantar”. Lemke menelusuri dari aspek sejarah pemikiran hingga pada tahap hubungan teoritis kontemporer. Sebagaimana terdapat dalam tujuan buku tersebut. pertama, memberikan tinjauan yang sistematis mengenai sejarah pemikiran biopolitik. Dan, kedua, mengeksplorasi relevansinya dalam perdebatan teoritis kontemporer (hal.3).

Thomas Lemke menyajikan sembilan (9) pembahasa, diantaranya; 1. Kehidupan Sebagai Dasar Politik. 2. Kehidupan Sebagai Objek Politik. 3. Pemerintah Mahluk Hidup: Michael Foucault. 4. Kekuasaan Berdaulat dan Bare Life: Giorgio Agamben. 5. Kapitalisme dan Hidupnya Multitude: Micgael Hardt & Antonio Negri. 6. Hilangnya dan Tranformasi Politik. 7. Akhir dan Reinvensi Alam. 8. Politik Vital dan Bioekonomi. 9. Prospek: Analitik Biopolitik.

Di awal pembuka, sedikit—telah diterangkan oleh Reza A.A. Wattimena. Bagi saya adalah awal yang menyegarkan untuk masuk ke dalam pembahasan Thomas Lemke. Pembahasan awal dikemukakan bahwa biopolitik menjadi sebuah cara pandang yang melihat secara mendalam masalah politik dan kehidupan manusia. Hal ini meliputi berbagai aspek kehidupan, dari evolusi awal perkembangan manusia secara biologis hingga pada tataran kehidupan sosial-politik-ekonomi manusia…Kemunculan konsep biopolitik itu sendiri hadir di masa abad ke-20 awal, dan Thomas Lemke berasumsi bahwa Rudolf Klejjen adalah salah satu tokoh yang pertama kali menggunakan konsep biopolitik tersebut (hal.14).

Dialog Ruang Lingkup Biopolitik

Untuk mengawalinya kita memulai dari beberapa pemikiran tokoh, salah satunya adalah Michael Foucault, yang katanya, biopolitik menandakan sebuah perpecahan dalam tatanan politik: “Masuknya fenomena yang khas bagi kehidupan manusia ke dalam pola pengetahuan dan kekuasaan, ke dalam lingkup teknik politis” (hal.7). Kemudian, Hans Reiter, presiden Departemen Kesehatan Reich, menjelaskan dasar-dasar raisal  “biopolitik kita” dalam sebuah pidato pada tahun 1934. Reiter mengklaim bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan setiap negara ditentukan oleh fakta-fakta “keturunan biologis” (hal.18). Selanjutnya, Thomas Lemke lebih pada penekanan makna biopolitik, bahwa makna biopolitik adalah “mengkalkulasi totalitas proses genetik sejauh berbagai proses itu bisa memengaruhi kehidupan manusia” (hal.22). Sementara itu, Wilson menyatakan bahwa terdapat beberapa pakar biopolitik menuntut perubahan paradigma dalam ilmu politik atau ingin mengintegrasikan semua ilmu sosial ke dalam ilmu sosiobiologi yang baru dan terpadu (hal.24). Namun studi biopolitik, masih menuai perdebatkan panjang atas makna dan ruang lingkup biopolitik.

Walaupun begitu, para kalangan pendukung biopolitik sebagian besar telah menyepakati untuk melihat perspektif penelitian secara umum melalui 3 aspek dasar, yakni; pertama, obyek penyelidikan utama adalah perilaku politik yang—dan ini adalah asumsi yang mendasarinya—disebabkan secara subtansial oleh faktor biologis yang bisa dibuktikan secara objektif. Kedua, tujuan pendekatan bukan hanya sekadar interpretasi struktur simbolik atau menampilkan kritik normatif, namun lebih berorientasi untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perilaku yang bisa diamati untuk menarik kesimpulan demi politik yang rasional, yaitu politik yang konsisten dengan urgensi biologis. Dan, ketiga, berbicara secara metodologis, pendekatan ini berdasarkan pada perspektif pengamat eksternal yang secara objektif menggambarkan bentuk-bentuk perilaku tertentu atau proses kelembagaan (hal.25).

Para pakar biopolitik biasanya tidak terlalu mementingkan hubungan diterministik melainkan mengacu pada “asal-usul” biologis atau “faktor-faktor” yang begitu meyakinkan dalam pembentukan motif dan ruang dari para aktor politik (hal.26). Selanjutnya, para pakar biopolitik secara terstruktur menuntut agar pengetahuan biologi harus diperhitungkan dalam ilmu sosial, bagaimana faktor “biologis” di satu sisi dan faktor “budaya” di sisi yang lain saling berinteraksi dan bagaimana keduanya harus digambarkan satu sama lain. Namun pada titik ini, hal tersebut menjadi permasalahan yang masih belum terjelaskan dalam karya mereka. Kemudian, tidak jelas bagaimana basis biologis diduga benar-benar dapat “menimbulkan” atau “menghasilkan” pola perilaku politik tertentu (hal.29).

Gagasan awal yang dimunculkan bahwa “alam” adalah sistem otonom dan lingkup yang tertutup, dengan keyakinan bahwa lingkup yang tertutup ini bisa membentuk aksi politik secara meyakinkan, maka para pakar biopolitik megedepankan dan memperpanjang dualisme atas alam dan masyarakat (hal.30).

Dari krisis ekologi yang begitu lebat, maka biopolitik mejadi solusi atas problem tersebut. Biopolitik hadir sebagai wujud penunjuk arah atas kebijakan dan regulasi untuk mencari solusi terhadap krisis lingkungan global (hal.32). Di konteks ini, konsep biopolitik mendapatkan makna baru. Ia muncul untuk berpihak pada pengembangan bidang politik baru dan aksi politik yang diarahkan pada pelestarian lingkungan alami manusia (hal.33). Walter Truett Anderson melihat, biopolitik tidak hanya terdiri dari langkah-langkah untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah, tetapi juga mengatasi permasalahan “erosi genetik” dan mengatur kemajuan bioteknologi (hal.39).

Selain itu, Volker Gerhardt dari Filosof Jerman mengkhawatirkan atas kemunculan teknologi baru dalam kehidupan manusia, yang diramalkan dapat merubah tatanan kehidupan sosial masyarakat atau manusia itu sendiri. Sehingga Gerhardt lebih mengedepankan definisi biopolitik lebih pada pendekatan ekologi dan teknosentris. Selanjutnya, dikatakan bahwa sekarang ini biopolitik mencakup “persoalan-persoalan di mana manusia menjadi objek dari ilmu-ilmu kehidupan” (hal.40,41). Sehingga penting untuk mengantisipasi bahaya dan resiko atas teknologi baru.

Terdapat beberapa pemikiran para tokoh yang dipakai Thomas Lemke dalam melihat biopolitik, diantaranya; Michel Foucault,  Giorgio Agamben, Michael Hardt dan Antonio Negri, Ferenc Feher dan Agnes Heller, Anthony Giddens, Didier Fassin, dan terdapat beberapa tokoh lainnya. Dari para tokoh tersebut, Thomas Lemke kemudian melacak pemikiran mereka dan dijadikan sebagai fondasi dalam memperkuat kajian biopolitik kontemporer.

Biopolitik Michel Foucault

Michel Foucault menjadi tokoh pembuka dalam pembahasan buku Biopolitik Sebuah Pengantar Thomas Lemke. Yang menggambarkan biopolitik sebagai patahan yang gamblang bersama dengan upaya untuk melacak kembali proses dan struktur politik pada determinan biologis. Dibalik dari itu, ia menganalisis proses historis di mana “kehidupan” muncul sebagai pusat strategi politik (hal.46). Bagi Foucault, biopolitik tidak memperlengkapi kompetensi dan struktur politik tradisional melalui domain dan persoalan yang baru. Dan konsep biopolitik tidak menghasilkan perbentangan politik melainkan mengubah intinya, sebab ia merumuskan konsep-konsep kedaulatan politik dan menundukan mereka pada bentuk-bentuk pengetahuan politik yang baru (hal.47).

Dalam karya Foucault, Lemke melihat terdapat tiga cara berbeda dalam membaca gagasan biopolitik Foucault; pertama, biopolitik merupakan patahan historis dalam pemikiran dan praktek politik yang dicirikan oleh reaktikulasi kekuasaan berdaulat. Kedua, Foucault menetapkan mekanisme biopolitik sebagai peran sentral dalam kebangkitan rasisme modern. Makna, ketiga, dari konsep ini mengacu pada seni pemerintah yang khas, yang secara historis muncul dengan bentuk regulasi sosial liberal dan pemerintahan-diri individu. Namun, Foucault tidak selalu mengunakan istilah “biopolitik” terkadang ia mengunakan istilah “biopower”. Gagasan tersebut diperkenalkan pada tahun 1976 dalam ceramahnya di College de France dan di buku The History of Sexuality, Vol.1 (hal.48).

Pada tahun 1978 dan 1979, Foucault beranggapan “liberalisme sebagai kerangka kerja umum biopolitik”. Ini merupakan sebuah pergeseran teoritis, bahwa analisis biopolitik sebelumnya merupakan satu dimensional dan bersifat reduktif, dalam arti bahwa biopolitik utamanya hanya berfokus pada kehidupan biologis dan fisik sebuah populasi dan politik tubuh (hal.69). Namun di sini, menurut Lemke, Foucault tidak pernah membuat pernyataan perihal relasi antara biopolitik dan liberalisme secara jelas (hal.71).

Setelah kematian Michel Faoucault pada tahun 1984, konsep biopolitiknya dipertentangkan. Pada satu sisi terdapat sejumlah tulisan dari Giorgio Agamben seorang filsuf Italia, namun tulisannya banyak mendapat kritikan dari Thomas Lemke ketika membandingkan dengan cara berpikir Foucault… Menurut Lemke, Agamben menyisahkan tambahan dari masalah biopolitik sangat tidak jelas. Sebagai pengganti karya konseptual dan kepekaan historis (hal.83). Kemudian terdapat tulisan teori sastra Michael Hardt dan filsuf Antonio Negri.

Biopolitik Giorgio Agamben

Walaupun mendapat banyak kritikan dari Lemke, namun pemikiran Agamben juga berkontribusi dalam pengkajian biopolitik. Agamben menjadi bintang intelektual karena kecemerlangan karyanya dalam menyatukan refleksi filosofis dengan kritik politik. Namun dalam buku Lemke tidak secara detail menjelaskan konsep biopolitik Giorgio Agamben. Homo Sacer adalah karya Agamben pertama dari empat volume yang kemudian memperluas dan mengkontruksi tesisnya (hal.75). Dalam karya-karyanya, Agamben membaca masa sekarang sebagai titik malapetaka tradisi politik yang berasal dari Yunani kuno dan mengarah ke kamp komsentasi Nazi. Agamben menekankan hubungan logis antara kekuasan berdaulat dan biopolitik. Artinya, biopolitik membentuk inti praktik kekuasaan berdaulat. Menurut Agamben, konstitusi kekuasaan berdaulat mengasumsikan penciptaan tubuh biopolitik (hal.76).

Selain Foucault, Agamben turut membahas karya-karya Carl Schmitt, Welter Benjamin, Hannah Arendt, Martin Heidegger, dan Georges Bataille. Menurut Agamben, kita menemukan di permulaan semua politik sebuah penetapan batas dan permulaan ruang yang dirampas dari perlindungan hukum: “Hubungan yurdis-politik yang asli adalah larangan” (hal.77).

Salah satu tesisnya Agamben adalah mengenai kamp. Kamp adalah arena yang terbuka ketika kondisi pengecualian (state of exception) mulai menjadi aturan. Agamben melihat di dalam kamp “kandungan tersembunyi”dari domain politis, dan ia ingin membuat dasar logika yang dapat dibagi guna mengonsepsi dengan baik konstelasi politik saat ini. Dengan perkataan lain, Agamben mengajukan definisi baru dari “kamp” secara khusus, salah satu yang menggantikan definisi tradisional. Bertentangan dengan Foucault, Agamben terus berjalan dari kontinuitas fudamental mekanisme biopolitik yang landasannya telah ia temukan di dalam logika kedaulatan (hal.79-80).

Dalam karya Agamben, Lemke menemukan tiga masalah, yakni; yurdis, negara-sentris, dan pembingkaian quasi-ontologis atas biopolitik (hal.84). Walupun begitu, bagi Lemke, teorinya membantu untuk menunjukan bahwa berbagai masalah ini adalah pokok untuk beberapa konsiderasi atas politik dan bahwa ranah politik mengonstitusi diri dengan tepat melalui eksklusi atas “bare life” yang rupanya apolitis. Begitu pula dengan homo sacer menawarkan perspektif analitis yang memungkinkan seseorang melacak kesinambungan historis dan kesamaan struktural antara rezim Fasis dan Stalinis, pada satu sisi, dan negara-negara demokrasi liberal, pada sisilainnya (hal.91-92).

Biopolitik Michael Hardt dan Antonio Negri

Empire (2000) dan Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (2004) adalah karya Michael Hardt dan Antonio Negri. Bagi ahli teori sastra Michael Hardt dan filsuf Antonio Negri, biopolitik tidak melambangkan tumpang tindih pemerintahan dan pengecualian (exception), melainkan untuk tahap baru kapitalisme yang ditandai dengan hilangnya batas antara ekonomi dan politik, produksi dan reproduksi (hal.93). Hardt dan Negri berpendapat bahwa sejak tahun 1970-an telah terjadi perubahan yang berpengaruh dalam modus produksi (hal.95-96). Menurut mereka, penciptaan kekayaan dalam masyarakat “cenderung mengarah pada apa yang akan kita sebut produksi biopolitik, produksi kehidupan sosial itu sendiri, dimana ekonomi, politik, dan budaya semakin tumpang tindih dan berinvestasi satu sama lain” (97).

Keduanya menggambarkan biopower sebagai “penaklukan (subsumtion) nyata atas masyarakat di bawah kapital” (hal.97). Konsep “produksi biopolitik” di sini melembagakan tren ganda sosialisasi kapitalis. Hal itu, dalam pandangan Negri dan Hardt, penciptaan “kehidupan” bukan lagi sesuatu yang terbatas pada bidang reproduksi dan tersubordinasi pada proses kerja, sebaliknya, “kehidupan” saat ini mendeterminasi produksi itu sendiri. Akibatnya, perbedaan antara reproduksi dan produksi semakin kehilangan arti pentingnya (hal.99).

Hardt dan Negri memberitahu kepada kita bahwa seluruh masyarakat akan digolongkan di bawah kapital, mereka juga mengawinkan diagnosa ketat ini dengan harapan yang revolusioner (hal.101). Inilah yang menjadi dasar analisis Lemke dari pemikiran kedua tokoh tersebut. Apabila biopolitik merepresentasi kekuasaan atas hidup, maka justru kehidupan inilah yang menjadi dasar di mana kekuatan pengimbang dan bentuk-bentuk resistensi ditegakan. Biopolitik tidak saja oposisi pada biopower, tetapi juga mendahuluinya secara ontologis (hal.103).

Relasi Antar-Biopolitik Dengan Politik Klasik

Ferenc Feher dan Agnes Heller

Feher dan Agnes Heller adalah filsuf politik Ference yang menerbitkan buku mereka berjudul biopolitics pada tahun 1994. Analisis mereka bersandar pada perdebatan akademik dan diskusi media mengenai kesehatan, lingkungan, gender, dan ras yang terjadi di Amerika Serikat di tahun 1990-an. Feher dan Heller memandang biopolitik sebagai “politik tubuh” yang muncul bersama era modern (hal.112).

Anthony Giddens

“Politik hidup” adalah konsep Anthony Giddens, titik pangkal Giddens adalah masalah “keamanan ontologi” di bawah keadaan-keadaan modernitas, yang inti penjelasannya adalah konsep refleksivitas (hal.117,118). Giddens berpendapat bahwa modernitas sebagian besar ditandai oleh bentuk politik yang disebutnya “politik emansipatoris”, sebuah istilah yang ia gunakan untuk mengacu pada praktek-praktek yang memiliki tujuan pada pembahasan dari koersi sosial dan politik serta mengalahkan kekuasaan yang tidak sah. Politik emansipatoris bekerja menantang tiga gelagat kekuasaan—eksploitasi, ketidaksetaraan, dan penindasan—dan pada giliranya untuk menjangkar gagasan keadilan, kesetaraan, dan partisipasi di institusi-institusi sosial. Salah satu tujuannya adalah membebaskan kelompok-kelompok yang kurang mampu dari kondisi mereka atau setidaknya mengurangi ketidakseimbangan kekuasaan antarkolektif (hal.119).

Didier Fassin

Biolegitimasi adalah konsep Didier Fassin seorang antropolog medis. Dalam buku serta artikel-artikelnya beberapa tahun belakangan ini, ia telah menunjukan bahwa fenomena biopolitik selalu memiliki dimensi moral, yang berarti setiap analisis dari politik kehidupan harus memperhatikan dasar dari ekonomi moral (hal.124-125).

Fassin memahami moralitas bukan untuk menetapkan nilai-nilai pemisahan benar dan salah, melainkan perkembangan norma dalam konteks geografis dan historis yang ditentukan, yang dapat diakses untuk penyelidikan etnologi. Ia menekankan bahwa peryataan dimensi moral tidak menggeser analisis politik; malah sebaliknya, mengembangkannya dan mendalaminya (hal.125). Fassin memisahkan dua aspek dari dimensi moral tersebut. pertama, masalah kehidupan dan umur panjang, kesehatan dan penyakit, tidak dapat dipisahkan dari ketidakadilan sosial. Kedua, melampaui distingsi antara ekspektasi dan kualitas kehidupan yang membedakan si kaya dan si miskin serta pemerintah dan yang diperintah (hal.125-126).

Refleksi Pembaca

Penjelasan di atas hanyalah sebagian kecilnya, untuk memahami konsep biopolitik dalam buku Thomas Lemke, diperlukan ketekunan dan ketelitian secara serius. Karena dengan begitu dapat kita pahami secara baik makna dan ruang lingkup kajian biopolitik tersebut. Buku Thomas Lemke sengaja dihadirkan kepada kita untuk membuka cakrawala berpikir dalam memahami kondisi sosial masyarakat/manusia pada saat ini. Thomas Lemke menyajikan berbagai pemikiran para tokoh sastra, filsuf, dan sosiologi.

Buku Thomas Lemke ini diterjemahkan dari bahasa Jerman ke Indonesia oleh Maulida, penerjemah Pustka Sophia. Buku ini pertama kali terbit di New York University Press pada tahun 2010 dengan judul, Biopolitics: an advanced introduction. Edisi bahasa Jermannya yaitu Biopolitik zur Einfübrung. Penulis adalah Profesor Sosiologi Heisengberg di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Geohe Ftrangfrut am Main di Jerman. Minat penelitian Thomas Lemke meliputi teori sosial dan politik, biopolitik, dan studi sosial terhadap teknologi genetika dan reproduksi.

Buku “Biopolitik: Sebuah Pengantar” yang diterjemahkan Pustaka Sophia ini sangat membantu, terutama diri saya sendiri. Ulasan dari kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf ke paragraf begitu mudah diserap, namun diperlukan waktu untuk memahaminya. Buku ini penting untuk dibaca para akademisi Indonesia khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kerena ini menjadi satu pegangan dalam ilmu pengetahuan kontemporer. Sebagaimana yang dikatakan Thomas Lemke, bahwa biopolitik memperkenalkan dimensi refleksif dengan kata lain, ia terletak pada inti politik terdalam yang biasanya berada pada batas-batasannya, yaitu tubuh dan kehidupan (hal.169). Semoga dalam penjelasan singkat ini dapat membantu para pemula yang berniat menekuni bidang kajian biopolitik… Semoga (*)

 

Resensi Buku

Judul Buku                              : Biopolitik: Sebuah Pengantar

Judul Asli                                : Biopolitics: an advanced introduction

Terjemahan Bhs. Jerman         : Biopolitik zur Einfübrung

Pengarang                               : Thomas Lemke

Penerjemah                              : Pustaka Sophia

Tahun Terbit                           : 2019

Jumlah Halaman                     : xv-196 Hal.

 

Baca Lainnya