SASTRA

Rabu, 28 Agustus 2019 - 11:04

2 bulan yang lalu

logo

Peta Pulau Halmahera (Maps)

Sanafi dan Wasiatnya (sebuah fiksi sejarah)

Beta Sanafi, imam para Canga yang menghalau gerombolan-gerombolan Hongi yang tamak. Masa hidup beta di daulat jadi Sangaji pulau Gebe sewaktu jazirah Haliyora dikapling bangsa pendusta. Tak usah mencari nama beta di buku-buku sejarah. Percuma!

Riwayat beta dan orang-orang kampung yang syahid tidak akan kau temukan di naskah-naskah ilmiah itu. Jejak kami sudah terkubur ke dasar lautan, menyatu dengan karang yang kini terpapar limbah tambang yang mencakar. Dari garam laut-lah, arwah kami menjadi abadi sebagai roh suci pulau, tempat moyang para Wonge menjaga mantra laut, tanjung, dan Gurua.

Tapi apalah artinya kematian kami itu, di hadapan mereka yang tunduk menghamba pada modal dan kongsi jahat? Apalah artinya sejarah masa lalu yang dibaca berlembar-lembar demi mengundang decak kagum, namun setelahnya lembar sejarah itu berakhir sebagai kertas bungkusan jajanan tanah (yang diuruk)?

Beta Sanafi, kawan sezaman Kaicil Nuku, sosok yang beta kenal menghabiskan masa mudanya sebagai pelarian dan berjuang mengembalikan kedaulatan petani kecil macam beta. Ya, petani kecil yang menaruh hidupnya pada cengkih-pala, namun dibabat tanpa ampun oleh keserakahan expartie Hongi tochten.

 Kau mestilah tau, tentang seberapa besar hakikat kebun cengkih-pala, sagu atau kelapa bagi seorang jelata. Kebun cengkih-pala tidak saja sebagai penopang hidup petani, lebih dari itu ia adalah harga diri, simbol kedaulatan orang pulau, dan sewaktu masa panen merebak digapai tangan-tangan kecil kami, ia menjadi penanda bahwa kemerdekaan itu tak cuma kata-kata, menjadi perayaan yang mendebarkan dan bukan kooptasi barisan begundal.

Tahukah dirimu tentang kesalahan paling memalukan sepanjang sejarah orang pulau? Kebodohan macam apa yang lebih besar, jikalau bukan menyerahkan kedaulatan orang pulau untuk dikebiri pedagang-pedagang Eropa melalui tangan-tangan para tuan terhormat di empat kerajaan itu? Penyakit seperti apa yang sudah menjangkiti pikiran tuan-tuan terhormat itu sehingga mau diperbudak orang-orang Walanda?

Gulden-gulden receh itu nyatanya menyumpal akal mereka, begitupula traktat-traktaat yang penuh tipu daya. Wibawa para paduka, dano-dano, kapita-kapita, dan sangaji-sangaji rontok bak dedaunan kering, tak punya nilai di hadapan kami, para kano-kano.

Memuakkan! Lihatlah, sejak tarik masehi jatuh pada angka 1720, hongi tochten membumihanguskan 100.000 pohon cengkih milik petani, bergulir selama ratusan purnama. Harapan pupus, kenistaan dipupuk, dan kekalahan mendekap sepanjang hayat, sejak tempo itu.

Beta Sanafi, pekebun cengkih dari Gebe, seperti halnya Molobi, petani pala dari kampung Maba yang didapuk jadi Kapita. Dia adalah kawan beta yang sama-sama menabuh tifa di haluan puluhan kora-kora, menyulut jiwa berani para kestaria untuk menghentikan keculasan yang merebak sewaktu pembajak berparade di laut lepas.

Nyawa yang kami pertaruhkan itu, tidak menuntut gelar yang sekiranya akan kau prasastikan di buku-buku sejarah. Hendak kau apakan semua gelar itu? Menumbuhkan rasa banggakah, kekagumankah? Tak perlu!

Cukup kau pahami apa yang terjadi di masa kami, dan apa yang berlaku di masamu? Waktu peristiwa, nama dan rupa, bisa saja berbeda, tapi pikiran yang diperbudak oleh kekuasaan, hasrat untuk mengelabui kaum jelata, nyaris sama. Watak penguasa di masamu persis dengan yang berlaku di masa kami, yang dengan bodohnya mengganggap diri sebagai ikan Ido, memangsa ikan homa, namun justru masuk ke dalam perangkap si predator bengis, ikan hiu.

Nalar dangkal itu serupa di masamu hari ini. Syahwat kekuasaan tampak sudah dibudidaya, dan ia akan diterima sebagai barang warisan yang dengan suka cita dijalankan generasi berwatak culas.

Apakah kamu mengira musuh terberat kami adalah serdadu-serdadu jangkung berambut pirang itu, seperti yang diwartakan di dalam buku-buku sejarah? Dan apakah kamu mengira sebab kekalahan kami yang berlanjut itu lantaran tak cukup kebal menghadapi senapan-senapan mutakhir para serdadu? Keliru!

Sebut semua ilmu kebal di seantero penjuru, maka tak ada satupun yang tersisa tertampung di batok kepala. Tak dinyana, ilmu kebal yang pernah menyulap amarah musuh menjadi buih-buih itu takluk oleh secarik kertas yang berisi “Nota perjanjian dagang”, hasil kompromi di bursa saham. Di sanalah, sumber petaka bersarang dan berpinak. Nasib orang kecil diputih-hitamkan demi dan atas nama kemakmuran bersama, sebuah mantra dari para penyulap. Bukan, bukan saja soal politik pecah belah, namun juga soal nalar dangkal yang tak mampu menguak tabir kebodohan masa lalu sehingga yang tampak seolah cukup merayakan romantisme, sambil memuja kisah epos para raja.

Apa yang sudah kau catat dari wasiat beta ini? Jika riwayat beta dan orang-orang kampung itu hanya mengentalkan identitas kedaerahanmu, hanya kau kira membikin kubus berwarna, maka berhentilah mencatat. Sebab jika begitu lakumu, kentara sudah kedunguanmu. Kami yang berkalang tanah, tak dibaluti seragam, bendera, pun tak membangun kubus berwarna di atas pusara. Sejarah kami adalah sepenggal kisah petani pulau yang pernah memangku merdeka, kisah orang kalah yang bergelut menuntut haknya. Setidaknya, kami pernah menjadi tuan di atas tanah moyang kami sebelum akhirnya dikapling oleh kaum penjilat, perampok yang bersertifikat, penjarah berseragam necis, dengan mengantongi nilai terbaik untuk mata pelajaran pendidikan moral dan agama.

Jika riwayat kami, hanya kau catut dalam festival, seni, dan politik dagang wisata, sementara tanah si petani lepas dari penjagaanmu, hasil jerih keringat mereka kau serahkan ke meja-meja perjudian yang kau namai “mekanisme pasar” itu, sungguh engkau telah berlaku khianat. Sejarah yang kau anggap besar, tak lekas membikinmu terjaga bahwa keadaanmu saat ini seperti ikan Ido yang hidup di kolam raksasa para hiu.

Beta Sanafi, inilah wasiat beta. Lantas, untuk anak cucumu kelak, peristiwa apa yang sudah gelar untuk mereka?

*******
Catatan fiksi di atas terinspirasi dengan fragmen kisah tokoh Salafi dan Molobi, dua pemimpin kharismatik di Halmahera yang luput dari pencatatan sejarah. Sanafi diketahui sebagai seorang Sangaji Gebe. Molobi sendiri dikenal sebagai seorang Kapita Laut yang berasal dari Maba. Pada 1801-1805 hongi-hongi Tidore dibawah Sanafi dan Molobi menguasai perairan timur nusantara. Kekuatan hongi mereka juga didukung oleh bajak laut Papua. Ekspedisi hongi Tidore telah menghentikan extirpartie hongi tochten (ekspedisi pemusnahan pohon rempah-rempah di luar wilayah yang diperbolehkan VOC) yang dilakukan VOC dengan memanfaatkan hongi kora-kora Ternate. Dalam catatan VOC sejak 1720-an setiap tahun rata-rata 100.000 pohon telah berhasil dimusnahkan untuk menjaga harga rempah-rempah dan monopoli perdagangannya.

Hongi sangaji Sanafi terdiri dari 24 korakora perang dari Gebe dalam pelayarannya berhasil menguasai 41 korakora dan lebih dari 30 padewakang. Sedangkan hongi kapita laut Molobi berangkat dari Patani dengan enam korakora perang dalam pelayarannya berhasil menguasai 13 korakora dan 20 kapal dagang berbagai jenis. Kompeni menyebut mereka sebagai rover (bajak) onverzoenlijke vijand (musuh yang tak mau berdamai).

Sementara itu, pulau Gebe yang dulunya berperan cukup besar atas serangkaian gerilya sultan Nuku yang sukses itu juga luput dari pencatatan. Hingga pada awal abad XIX pulau ini amat dikenal, bukan saja oleh orang-orang Maluku Papua, Makassar, orang Mangindanao dan Sulu tetapi juga oleh Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol dan Tionghoa. Sebagai akibat monopoli Belanda atas perdagangan rempah-rempah Maluku, maka dalam zaman kolonialisme Belanda pulau tersebut disebut-sebut dalam laporan-laporan gubernur-gubernur Ternate sebagai “suatu sarang tempat berhimpun kapal-kapal dan perahu-perahu penyelundup, perompak dan pemberontak”. Peranan pulau Gebe sebagai sarang perniagaan-penyelundupan berlaku sekali lagi dalam sejarah yaitu dalam tahun 1950 sesudah kedaulatan yang sepenuhnya atas Indonesia. Pulau Gebe terletak di pinggiran daerah sengketa, tetapi tidak termasuk daerah sengketa. Tapi nasib tragis pulau ini bergulir, setelah kedatangan tambang bersambut baik, “dikapling oleh gerombolan penjilat”.

Cara kita membaca dan menafsirkan sejarah “orang-orang besar” seringkali jatuh pada pemujaan “heroisme”, yaitu penokohan sosok pahlawan tunggal, tanpa bisa menautkan kembali konteks peristiwa masa lalu dengan gejala sosial saat ini. Catatan fiksi ini mencoba keluar dari cara pandang semacam itu.

Dan sebagai bahan referensi, roman sejarah Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa menjadi suplement yang begitu baik untuk kemudian membaca teks sejarah melalui sudut pandang “orang biasa”.

Penulis: Arifin A Gafar
Pegiat Literasi di Rumah Baca Litera Pesisir, Guruapin, Kecamatan Kayoa, Halmahera Selatan.

Baca Lainnya
  • 26 Januari 2018 - 17:42

    BALINDINA