Puisi

Rabu, 28 Agustus 2019 - 11:39

2 bulan yang lalu

logo

Nasarudin Amin

Kemerdekaan yang Sunyi

Kemerdekaan yang Sunyi

Enam ratus tahun sudah berlalu
Suara lesung meriam tak lagi berggema di jantung Sao Paolo
Juga Kabata di iringi musik tifa tak lagi mengkritik
Seperti harum bunga dan dupa yang mengering
Dan tak lagi diyakini

Enam ratus tahun sudah berlalu
Saat aku menghitung jumlah ketukan jantung
Yang terdesak hanya karamat di Puncak Gamlamo
Dan akhir tragedy Khairun yang tak lagi mewangi

Enam ratus tahun sudah berlalu
Masih layakkah kita mengheningkan cipta?
Setelah berjuta ton darah raib untuk kemerdekan
Nyawa melayang dan Kapita mati berkali-kali untuk NKRI
Kita tetap terpenjara di Negeri sendiri

Jumat di dua tahun lalu
Mimpiku pecah
Senja kini menjadi pilu
Langit keruh
Dan gerimis jatuh membasahi pipi yang sunyi

Dalam pergolakan pertiwi
Kabut tak lagi mendung
Awan dan asap panas membumbung
Kala itu Bung Karno berpidato panjang di alun-alun Batavia
Tapi lupa bahwa di Maluku,
Ada morotai yang masih setiap pada jejak Muhammad Jabir Syah

Tanya pada Mac Arthur
Tanya pada Nakamura, yang terpaksa lari bersembunyi kala Herosima-Nagasaki tenggelam di genggaman Sekutu
Tanya pada Walace
Dimana tempat yang bikin Darwin yakin bahwa bumi itu bulat?
Lalu mengapa Bung Hatta menolak Papua ternyenyak dipangkuan Ibu Pertiwi?

Putar lagi sejarah
Saat Nusantara dijajah 100 tahun oleh colonial eropa
Babullah dan Fatahillah lepaskan sarung pedang
Saat itu, Imperium besar abad pertengahan takluk
Konflik babullah dan portugis
Hingga Manhattan di New York
Adalah kisah yang masih setiap pada risalah

Putar lagi sejarah meski enam ratus tahun sudah berlalu
Saat jantung Nusantara ditikam
30 Juanga dan 300o serdadu tetap bersipacu dengan soya-soya
Malaya, Kalakinka dan Rubuhongi teteskan darah demi kedaulatan Nusantara

Esok, 17 Agustus 2019
Orang-orang akan berpesta ria sambil menyanyikan Himne
Tapi lupa bahwa dulu, Nuku pernah berlayar ke Seram hingga Papua
Seperti Qadi Abdussalam, pangeran Tidore yang berjuang bersama Mandela
Atau Salahuddin yang besumpah melindungi Fogogoru
Seperti Banau yang rela mati karena Jailolo

Enam ratus tahun sudah berlalu
Masih sudikah kita berbisik ke lantai
Mengangkat tangan, lalu bobeto mengalir seperti air
Aku rindu para kapita mencium karamah

Penulis: Nasarudin Amin

Baca Lainnya