TELAAH

Rabu, 7 Agustus 2019 - 19:18

4 bulan yang lalu

logo

Penat di Kota, #AyokeHiri

Berangkat dari sebuah konsep besar tentang kota, sebenarnya ada proses pembangunan yang belum selesai. Kota kian hari lebih ‘mengharapkan’ pada kekakuan sistem pembangunan. Pada kekakuan itu pula, pembangunan Hiri sebagai benteng identitas Ternate tidak akan menyentuh pada hakikat pembangunan yang sebenarnya.

Hiri dengan marwah identitasnya masih luput dari kekuatan tangan-tangan magic. Pembangunan jalan lingkar Hiri hanya menjadi euforia yang minim narasi hingga empati. Sebuah kekakuan sistem yang sejauh ini tak bisa melegitimasi kebutuhan masyarakat Hiri atas permintaan mereka tentang tambatan penyeberangan. Kebutuhan yang mengangah seolah masih dipikirkan, padahal kita tahu bersama apa yang mereka butuhkan.

Narasi judul di atas merangkul semua proses konsep yang harus direncanakan sesegera mungkin, agar tuntutan terkait konsep besar kota ini dapat terlaksana, termasuk city branding yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di semua kalangan. Dalam konsep kota, kita kenal dengan konsep sentrifugal (keluar dari zona padat kota) sistem perencanaan ini seharusnya diagendakan sebagai formulasi pembangunan kota yang berkelanjutan (baca Krugman ;1994).

Konsep perencanaan sentrifugal kota, harus diakui sebagai out of the box nya konsep kota yang begitu banyak permasalahannya. Perencanaan sentrifugal hadir solusi untuk mengkomprehensifkan pengembangan di segala sektor. Hiri, kini tidak lagi hanya dibatasi sekadar euforia tapi komitmen untuk membangun dengan titik sentral dalam melihat wajah kota. Ada tiga hal penting yang harus dipertimbangkan agar dapat menempatkan perencanaan kota sentrifugal, sebagai produk dalam perencanaan kota dengan gaya desentralisasi.

Pertama, Konsep pemberdayaan harus menyentuh pada potensi kampung-kampung di Hiri yang berupa, konsepsi mata pencaharian dan lokalistik produk kebudayaan yang tidak lagi didapatkan di ruang kota. Kedua, menempatkan Hiri sebagai centrum kebudayaan lokal Ternate, produk ini semisalnya membuat Museum (bukan yang dibayangkan seperti penyimpanan artefak saja, tapi konsep diorama kesejarahan Ternate bisa dihadirkan, tentunya dengan gaya arsitektur yang modern) dan penyediaan perpustakaan yang disitu hanya menyediakan khazanah literatur Ternate. Ketiga, menempatkan Hiri sebagai Kecamatan Tematik, yang diambil dari potensi kampung-kampung tematik di Hiri, semisal; orang yang mau merasakan wisata alam dan adat istiadat maka solusinya Ayo ke Hiri.

Sistem perencanaan tanpa adanya penumpukan di ruang kota inilah yang segara digagas sebagai bagian dari titik tumpu konsep city branding kota Ternate. Bukankah Hiri adalah bagian wilayah administratif kota Ternate, jika iya, maka desentralisasi konsep dari bawah ke atas (bottom-up) dengan potensi yang ada harus direncanakan. Hal ini dimaksudkan sebagai ketersediaan potensi non-fisik yang harus dimanfaatkan, lalu diikuti dengan pembangunan fisik, tanpa terkecuali tambatan atau dermaga Ternate ke Hiri. Dengan demikian, Hiri tidak hanya menjadi destinasi wisata remain pengunjung namun juga menjadi destinasi literatur sejarah. Target dari sistem yang sebelumnya kaku pada sector ekonomi yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD), akan tercapai.

Saat ini, dengan gagasan teknologi berbasis 4.O.  menyediakan bukan lagi hanya persaingan negara dengan Negara, tetapi gagasan ini menyediakan persaingan kota dengan kota di seluruh Negara. Olehnya itu, city branding wajib menyertakan potensi lokalistik yang kita punya di tengah citra Ternate sejak dulu sudah mendunia.

City branding, pada hakikatnya ialah hasil pelapukan antara potensi dan mimpi untuk kesejahteraan masyarakat kota, lalu ditetapkanlah sebagai sebuah frasa yang terpatri dalam setiap penghidupan masyarakat kota. Maka dari itu, penulis ingin mengusulkan bahwa Hiri harus menjadi ruang pengetahuan adat dan kebudayaan Ternate yang tidak didapatkan di ruang kota yang kian hari kian penat.

Penulis : Rosydan Arby/Pengamat Kota

Baca Lainnya