JELAJAH

Kamis, 4 Juli 2019 - 19:54

5 bulan yang lalu

logo

Penulis, Rosydan Arby saat berada di Kampung Lawas Maspati. Foto: Faris Bobero

Jarkot Melancong ke Kampung Lawas Maspati

Saya beryukur, bisa bergabung dengan Jaringan Komunitas Ternate (JARKOT), dan diberi kesempatan kesempatan untuk melancong ke Kampung Lawas Maspati di Surabaya pada Minggu, 30 Juli 2019.

Kampung ini memberikan sebuah catatan yang menarik bagi para pengunjungnya, termasuk kami, dengan beberapa rombongan dari Indonesia Creative Cities Network (ICCN)  perwakilan daerah se Indonesia.

Kini, berkat sentuhan tangan kreatif dan saling kerja sama, Kampung Lawas Maspati disulap oleh warga menjadi kawasan yang ramah, kreatif, edukatif, dan pastinya bisa menjadi inspirasi bagi para pengunjung.

Salah satu kampung di kota Surabaya yang masih menjaga kearifannya dengan menampilkan wajah kampung yang asri. Integrasi antara penduduk setempat dan lingkungan diperlihatkan dengan cara membuat kampung ini terlihat sebagai kampung Tua secara fisik (bangunannya) dan juga pemanfaatan atau budidaya tanaman hingga menjadi barang komoditi yang berguna untuk masyarakat setempat.

Selain itu, kampung Lawas Maspati atau kampung tua Maspati ini, mengajarkan kita sebagai pengunjung dari luar daerah, untuk tidak mengabaikan permasalahan sampah, karena masyarakat di dalam kampung lawas ini menjadikan sampah rumah tangga sebagai bahan baku untuk membuat kerajinan.

Ilen, Pemandu CIlik, usia 8 tahun di Kampung Lawas Maspati, saat berada di salah satu gang dengan lukisan 3D. Foto: Faris Bobero

Di sini pun aturannya cukup ketat, motor tidak boleh dinaiki, tapi dituntun agar tidak menimbulkan polusi baik suara maupun asap. Tampak dari mata kami, beberapa warga mendorong motornya dari depan trotoar hingga ke dalam rumah yang jaraknya bisa mencapai lebih dari 200 meter lebih.

Menulusri setiap gang Kampung Lawas Maspati ini, bak menulusri labirin yang menghadirkan situasi kenyamanan dengan penataan ruang di dalam kampung yang terasa lebih aman. Kita tak akan kehilangan jejak dalam gang-gang kecil tersebut karena di setiap setapak pelataran hunian terdapat berbagai penunjuk arah dan keramahan masyarakatnya, yang menuntun kita sebagai pengunjung untuk tetap menikmati berbagai hasil-hasil industri rumahan.

Ini sangat mengagumkan, masyarakat di dalam kampung ini bekerjasama untuk menghidupkan sejarah kampungnya dan memanfaatkan sebagai produk sumber daya manusianya yang tersisa.

Letak Kampung Lawas Maspati berada di sekitar 200 sampai 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, Kampung Lawas Maspati ini dikelilingi bangunan tinggi dan modern, tetapi siapa sangka, kampung ini tidak terpengaruh dengan adanya bangunan tinggi dan kehidupan modern di sekitarnya.

Terlihat dari salah satu Hunian Tua yang ada di dalam Kampung Lawas Maspati yang berdiri sejak tahun 1907–pemiliknya ialah Pak Margono, salah satu dari sekian pejuang arek-arek Suroboyo. Bangunan Tua ini ialah saksi sejarah berkumpulnya para aktivis kemerdekaan dan tempat untuk merumuskan perlawanan terhadap pasukan dan antek Mallabi (prajurit Inggris) yang ingin membalaskan dendamnya untuk menguasai Surabaya. Bangunan Tua tersebut masih tetap berdiri dan dipertahankan sebagai aset Sejarah kota Surabaya.

Ilen saat berdiri di bangunan tua sejak tahun 1907–pemiliknya ialah Pak Margono, salah satu dari sekian pejuang arek-arek Suroboyo. Bangunan Tua ini ialah saksi sejarah berkumpulnya para aktivis kemerdekaan.

Kita sebagai pengunjung merasa terkesima, dengan hadirnya berbagai keuinikan di dalam kampung ini, kita mendapatkan pelajaran berharga tentang komitmen menjaga kampung tua dan pola pemanfaatan sosial dengan terlibatnya masyarakat setempat sebagai motor penggerak untuk tetap menciptkan ekonomi kreatif yang mandiri. Selain itu, kami merasa berharga dengan  sapaan masyarakat di dalamnya yang mampu menyajikan keramahan dan kenyamanan bagi para pengunjung.

Dari keramahannya, kami sebagai pengunjung merasa terkesima, apalagi dari awal kami masuk gerbang disambut tembang kenangan khas keroncong Jawa Timur yang dilantunkan oleh ibu-ibu lansia.

Ini sangat terhibur menurut kami dan menggoda para pengunjung lainnya untuk tetap menulusuri setiap sudut kampun lawas ini.

Setelah melihat berbagai sudut kampung Lawas Maspati ini, kami di tuntun oleh seorang guide yang berusia 8 tahun, kami terhibur dan merasa ada kebanggaan tersindiri. Apalagi kami dari Ternate yang baru pertama kali melihat sebuah kampung yang dikelola secara profesional. Dalam hati kami, kita punya banyak kampung-kampung semacam ini di tengah kota Ternate, tapi sayangnya kita masih harus banyak belajar bagaimana cara mengelola kampung di tengah kota dengan memanfaatkan potensi masyarakat untuk mendapatkan sebuah hasil dari polarisasi ruang kampung yang tidak dipengaruhi oleh pembangunan yang pesat.

Semoga kota-kota lain di Indonesia belajar untuk menjaga kampung di tengah kota khususnya Kota Ternate, agar menjadi aset wajah kota yang ber-sustainable development, tanpa harus tersingkir dari derasnya arus pembangunan modern.

Penulis: Rosydan Arby

Baca Lainnya