JELAJAH

Rabu, 3 Juli 2019 - 16:23

4 bulan yang lalu

logo

Melawat ke Utara Halmahera

Bagian 1

Langit mendung dan sepertinya akan hujan. Namun, tidak membuat saya mengurungkan niat untuk menikmati bumi Halmahera.

Hari itu, Sabtu (14/6/19), saya sudah membuat janji dengan seorang kerabat dari Galela akan melawat ke Halmahera Utara. Muhammad Guntur, namanya. Saya memanggilnya Gun. Ia salah satu penulis asal Maluku Utara yang juga terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Indonesia.

Sejak 08.00 WIT saya sudah berkemas. Menaruh pakaian dan beberapa kebutuhan lain di dalam tas. Menggunakan motor tua, Astra Legenda, saya bergegas dari rumah di Kelurahan Sasa ke Pelabuhan Bastiong Ternate. Salah satu pelabuhan penyeberangan di wilayah selatan Ternate.

Menyeberang menggunakan armada kapa Ferry ASDP Ternate_Sofifi

Sebenarnya tidak sendiri. Sebelumnya juga membuat janji dengan seorang teman asal Tidore. Suyono Sahmil, namanya. Saya memanggilnya On. Hanya saja, sampai pukul 09.00 WIT, ia belum memberi kabar.

Usai membeli tiket kapal Feri, saya ikut antrean kendaraan. Menunggu sekitar setengah jam, baru bisa memasukkan motor ke palka kapal. Saya kemudian naik ke lantai dua. Memilih kursi di samping jendela. Lumayan besar dan nyaman.

Saya kembali menghubungi On melalui aplikasi pesan singkat. Ia mengaku, masih mencari kendaraan agar bisa ke Pelabuhan. Sementara rinai hujan sudah mulai turun. Membasahi tanah kering sejak beberapa hari terkena terik. On bilang, akan diantar oleh Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Ternate, Sahrony A Hirto.

Menggunakan motor tua, Astra Legenda, melawat ke utara Halmahera. Foto: Suyono Sahmil

Karena terlalu lama, saya kemudian ke bagian anjungan. Memandang ke arah pelabuhan, mengecek, barangkali ia sudah tiba. Sontak saja, ia muncul dari bagian bawah kapal. Menggendong tas kecilnya dan menaikki tangga dengan tenang. Di tangannya ada kamera dan alat pancing joran yang masih terbungkus.

Ia hanya tersenyum sembari memberikan sedikit alasan, mengapa tadi belum sempat memberikan kabar sejak awal. Di dalam kapal, kami bertemu dengan seorang teman yang kami kenal semasa masih mahasiswa di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Saya akrab memanggilnya Adit.

Adit mengaku juga akan ke Tobelo. Dari Tobelo, ia kemudian akan lanjut dengan kapal ke Pulau Morotai. Di Tobelo memang terdapat salah satu pelabuhan penyeberangan kapal Feri. “Tapi saya bermalam dulu di Tobelo. Besoknya baru ke Morotai. Ada kerja di sana,” ujar Adit.

Setelah berlayar sekitar dua jam, kapal Feri yang kami naik tiba juga di pelabuhan Sofifi sekira pukul 11.50 WIT. Kami bertiga kemudian bersepakat akan ke Tobelo bersamaan. Saya membonceng On, sementara Adit sendiri. Dari Sofifi ke Tobelo sekira lima jam lebih. Itu pun tergantung kecepatan kendaraan.

Jalan lintas Sofifi-Tobelo. Waktu tempuh sekira lima jam lebih.

Selama perjalanan, kami beberapa kali bertemu hujan lebat. Ini yang membuat perjalanan kami sangat lama. Ada sekitar lima kali kami berhenti hanya untuk berteduh. Pertama, kami berteduh di sebuah teras rumah, kedua di sebuah rumah makan, ketiga di sebuah tempat jualan yang berada di pinggir jalan, keempat di teras warung, dan kelima di sebuah ruko.

Saya tidak tahu nama-nama desa yang kami singgahi kala hujan. Hari itu, saya memang baru pertama kali ke Tobelo. Saya meminta On untuk mengecek aplikasi peta melalui gawai. “Sudah dekat. Sedikit lagi sampe,” ujarnya.

Meski hujan, saya minta padanya untuk bergegas. Hari memang sudah semakin sore. Perjalanan dilanjutkan. Melewati pepohonan kelapa yang berderet sepanjang jalan dan bebukitan. Aliran sungai kecil serta beberapa petani yang lalu-lalang menggendong saloi (serupa tas pengangkut hasil kebun).

Lampu lalu lintas sudah terlihat. Tanda-tanda perkotaan mulai tampak. Sejumlah ruko berjajar. Becak motor lalu-lalang. Wajah Tobelo begitu ramai. Barangkali ini salah satu tempat di Pulau Halmahera yang cukup maju. Geliat indusrti rumah makan dan jajanan dapat dijumpai dengan mudah.

On meminta menyetop motor. Melalui aplikasi peta, ia bilang, Gun berada di dalam warung kopi. “Dia ada di sana (sambil menunjuk warung kopi). Nanti saya cek,” katanya.

Tampak gunung Karianga terlihat jelas dari Tobelo. Halmahera Utara memang memiliki beberapa gunung, di antaranya gunung Mamuya, Tarakani, dan Dukono.

Dan benar saja. Gun dan dua orang teman asal Galela sudah menunggu kami. Dua teman itu Dede dan Rahmat Mustari. Hanya saja tidak lama di tempat itu. Gun lalu mengajak kami makan di sebuah rumah makan. Di luar, rinai hujan masih mengguyur kota Tobelo. Sambil menunggu pesanan makanan, saya sempat melihat ke arah gunung.

Terlihat gunung Karianga. Pada hari yang sama, beberapa kerabat saya dari Jalamalut juga sedang mendaki gunung tersebut. Selain gunung Karianga, Halmahera Utara memang memiliki beberapa gunung lainnya, seperti gunung Tarakani, Mamuya, dan Dukono. Gunung yang terakhir itu adalah gunung api dengan aktivitas tinggi.

“Gunung Dukono di sini hampir setiap hari erupsi,” kata Amat, sapaan akrab Rahmat Mustari.

Sebelumnya, saya sempat diajak juga mendaki gunung Karianga, tapi belum punya kesempatan. Saya dan On memang punya janjian sendiri dengan Gun, akan pelesir ke beberapa titik destinasi serta memancing di perairan Tobelo-Galela.

Usai makan, kami bergegas ke Galela. Perjalanan dari pusat kota Tobelo ke Galela cukup jauh. Kami memang akan ke rumahnya Gun, tepatnya di Desa Barataku. Waktu tempuh sekitar satu jam. Melewati beberapa perkampungan dan kebun-kebun warga yang berada sangat dekat dengan jalan utama.

Lumayan lelah. Kami bersepakat esok hari akan ke beberapa titik di Galela. Harus istirahat dulu. (*)

Penulis: Rajif Duchlun

 

Baca Lainnya