JEJAK JELAJAH

Jumat, 21 Juni 2019 - 19:45

4 bulan yang lalu

logo

Proses mengukir pola, untuk pembuatan Oven Tobelo.

Kisah di Balik Indah Oven Tobelo

Indah Oven Tobelo, bisa dikatakan telah melegenda. Semenjak kehadirannya pada tahun 80an, oven ini digunakan oleh hampir sebagian besar masyarakat Maluku Utara. Lalu, bagaimana kisahnya di balik oven ini?

Azis Ali Aba, tampak serius mengukur lembaran seng aluminium yang tertumpuk di atas meja kerjanya. Dengan teliti, ia menggunting lembaran seng menjadi beberapa bagian. Ia terlihat sangat cekatan.

Nyong tunggu e, saya gunting ini rabu-rabu” sapanya menyambut kedatangan saya.

Pak Azis Ali Aba, mulai menggunting seng plat.

Pekan lalu, Jalamalut berkunjung ke tempat pembuatan oven yang telah ada sejak 40 tahun lalu itu, di bilangan Sangaji Utara, Kota Ternate. Sebuah papan nama tertulis ‘Indah Oven Tobelo’ digantung tepat di atas pintu masuknya.

Beres menggunting, Om Aji, sapaan akrab Azis Ali Aba, menemui saya dan mulai bercerita. Sementara di sudut lain, beberapa pekerja tampak serius bekerja merangkai bagian-bagian seng menjadi oven.

“Usaha ini dari orang tua, torang ini penerus,” tutur pria 62 tahun ini sambil bersandar di mejanya. Walau tak lagi muda, ia masih ikut bekerja.

Om Aji mengisahkan, awal mula pembuatan oven tersebut berawal pada tahun 80an oleh mertuanya, Yuyu Hasan Basri, di Tobelo, Halmahera Utara.

Kakek lima cucu itu mengisahkan, mertuanya berasal dari Jawa Barat yang merantau ke Tobelo pada akhir tahun 60an.

“Saya kawin deng dia pe anak. Paitua itu montir, bisa bikin apa saja. Sering perbaiki mesin-mesin atau barang yang so rusak. Paitua bisa bikin semua” kenang Om Aji.

Saat usia mertuanya mulai tua dan tidak lagi kuat mengerjakan pekerjaan berat, beliau akhirnya mencoba membuat oven.

“Awalnya, paitua lihat-lihat oven bekas, paitua pelajari, lalu mulai bikin sendiri,” katanya.

Saat itu, kenang om Aji, pembuatan oven paling banyak 10 buah. Itupun sesuai pesanan beberapa toko di Kota Tobelo.

“waktu itu saya masih bekerja sebagai supir lintas Tobelo Sidangoli, jadi belum ikut membantu,” kenangnya

Pada tahun 80an akhir, setelah berhenti dari pekerjaannya sebagai supir, barulah om Aji membantu mertuanya membuat oven. Ia mengaku, bahkan nekat mengambil kredit sebesar 5 juta rupiah di salah satu bank untuk modal memperbesar usahanya.

Suasana rumah produksi Indah Oven Tobel, Azis Ali Baba.

Produk oven tersebut mulai didistribusi ke kota Ternate melalui Toko Kolontjutju dan ke berbagai daerah lain di Maluku Utara. Perihal merek Indah Oven Tobelo, om Aji mengatakan merek itu diberikan oleh mertuanya.

Usaha tersebut dilanjutkan olehnya paska mertuanya meninggal pada tahun 1994. “Beliau meninggal bertepatan dengan piala dunia,” kisahnya.

Om Aji bercerita, salah satu perusahan di Halmahera Utara lalu memberinya bantuan modal. Modal tersebut ia gunakan untuk belanja bahan pembuatan oven dalam jumlah besar.

Kita ingat waktu itu torang ke Surabaya, balanja seng 525 lembar. Saya bangun tempat kerja seluas 32X18 meter, sekaligus rumah saya di Gosoma, Tobelo,” tuturnya.

Mereka mempekerjakan belasan orang. Hasil pembuatan oven meningkat hingga ratusan buah. Om Aji mengaku, ketika krisis moneter melanda Indonesia kala itu, usahanya tidak tergoyah sedikit pun.

Namun naas, usahanya terhenti ketika konflik horizontal melanda Maluku Utara pada tahun 1999. Rumah dan tempat kerjanya hangus terbakar tanpa sisa.

Tara ada yang dibawa [mengungsi], cuma pakaian dibadan,” kenangnya.

Indah Oven Tobelo yang telah jadi

Bangkit Kembali di Ternate

Bersama pengungsi lainnya dari Tobelo, mereka bermukim di kompleks Bambu Kuring, Kampung Makassar, Ternate. Di sana, Om Aji mulai membangun usahanya dari awal lagi.

“Untung waktu itu saya pe maitua sempat bawa lari buku tabungan, jadi buka sasadiki [beli bahan], baru bikin [oven]” tuturnya.

Meski ditawari modal oleh Toko Kolontjutju, ia enggan menerima. Om Aji lebih memilih berusaha dengan modal sendiri walau seadanya.

Dong jadi jaminan saja, semua barang dorang ambil [untuk distribusi],” tambahnya

Perihal desain oven, Om Aji mengaku telah menghafal segala ukuran dari setiap rangkaian oven, sehingga tidak susah untuk membuat kembali.

“Dulu, saya pe papa mantu ada kasih tinggal buku tentang ukuran oven, tapi ikut terbakar saat kerusuhan,” tuturnya.

Di Ternate, tempat pembuatan Oven Tobelo sempat berpindah beberapa kali sebelum akhirnya menetap di Sabia, Sangaji Utara, Ternate.

“Kalau tanah ini kita so beli, dan so tiga tahun torang di sini,” ucapnya.

Atu (49) salah satu pekerja mengatakan, dalam sehari, mereka bisa membuat 24 buah oven. Dalam seminggu, jika banyak pesanan, mereka bisa mengerjakan hingga ratusan buah.

“Ada 3 jenis oven yang torang bikin di sini, ukuran kecil, sedang, dan besar,” ungkap Atu, yang sudah bekerja sejak tahun 90an.

Harga satu buah oven berkisar 200 hingga 300 ribu rupiah. Seluruh Oven tersebut didistribusi oleh beberapa toko peralatan rumah tangga di Ternate. Meski demikian, tak jarang ada pihak yang datang dan memesan langsung di tempat.

“Ada yang pesan khusus sesuai dengan keinginan, misal pakai bahan stenlis. Dorang datang langsung ke sini. Biasanya pengusaha roti dan kue,” kata Faris Yaba (33), anak kedua Om Aji.

Saking terkenalnya merek Indah Oven Tobelo ini, Faris mengaku pernah ada yang membuat tiruan dengan menggunakan nama dan bentuk yang sama.

“Dulu torang dapa info ada yang tiru, tapi kualitasnya beda, dorang pe bahan tipis dan tidak sama dengan yang torang bikin,” ungkap Faris.

Beberapa pekerja berstatus Mahasiswa mulai menggunting bahan Oven.

Mempekerjakan Kerabat hingga Mahasiswa

Saat ini, Oven Indah Tobelo mempekerjakan hampir 20 orang. Mereka adalah para kerabat dari keluarga Om Aji, warga yang tinggal di sekitar tempat, hingga mahasiswa yang sedang menimba ilmu di kota Ternate. Mereka bisa masuk bekerja mingguan atau bulanan. Amatan Jalamalut hari itu, sebagian besar para yang ikut bekerja adalah anak muda.

“Kadang ada mahasiswa asal Tobelo yang kuliah di Ternate, ikut-ikut kerja di sini untuk tambah-tambah uang kuliah,” tambah Faris, anak kedua Om Aji, yang telah 20 tahun bekerja membantu ayahnya.

Penulis: Adlun Fiqri
Editor : Arief P

Baca Lainnya