TELAAH

Jumat, 12 April 2019 - 18:20

8 bulan yang lalu

logo

Orang Moro dan Dunia Yang Paralel

Suatu siang yang terik di masa kanak-kanak, saya dan beberapa teman, memancing di antara pulau-pulau kecil. Sembari menunggu kail disambar ikan, saya melihat beberapa baris ombak nampak menghempaskan buih, tempias tatkala menghantam bebatuan yang terbentuk dari proses pembekuan lava akibat letusan gunung Dukono. Lokasi kami memancing adalah sebuah titik di teluk Galela yang menghadap langsung ke samudera Pasifik, sejak lama, masyarakat pesisir Halmahera percaya bahwa batu-batuan besar yang menghampar di sepanjang pantai adalah rumah bagi bangsa Moro, makhluk astral yang hidup di dimensi lain.

Saya teringat penggalan memori diatas ketika membaca sebuah berita dari media di Malaysia tentang hilangnya seorang pejalan kaki secara tiba-tiba, di suatu kawasan hutan yang dipercaya oleh budaya masyarakat setempat sebagai tempat tinggal orang-orang Bunian, meski tidak mempunyai pembuktian yang jelas, masyarakat tradisional di Malaysia juga percaya bahwa hilangnya pesawat Malaysia Airlines dengan nomor registrasi MH370, tujuan Beijing yang hilang secara misterius pada tahun 2014 adalah karena diculik orang Bunian. Orang Bunian bagi kebudayaan Melayu kurang lebih sama dengan bangsa Moro dalam kebudayaan di Maluku Utara, orang Bunian dan orang Moro dideskripsikan sebagai manusia biasa dengan postur yang agak mirip dengan manusia pada umumnya, namun mereka menempati suatu dimensi lain yang tidak terjangkau oleh dunia manusia.

Dapat dikatakan, kebudayaan masyarakat Maluku Utara dalam hal kepercayaan mereka pada keberadaan bangsa Moro memiliki pertalian yang identik dengan kepercayaan masyarakat Melayu, Dayak dan Minangkabau terhadap eksistensi orang Bunian. Jika ditelusuri lebih jauh, ceritera mengenai eksistensi ‘manusia dimensi lain’ ini tersebar melalui aktivitas perdagangan dan jaringan masa lampau, di mana wilayah Maluku Utara terkoneksi secara dinamis dengan Bandar Malaka. Maluku Utara, dengan pulau-pulau penghasil ‘emas coklat’ yang bernama latin Syzigium aromaticum adalah tujuan mutlak bagi kapal-kapal dagang dari Eropa masa itu.

Tidak dapat dipastikan, apakah eksistensi orang Bunian dan Moro telah ada sebelum kedatangan bangsa Eropa yang membawa begitu banyak cerita yang di-cover atau diversikan kembali sesuai dengan daerah yang mereka duduki ataukah memang bahwa cerita-cerita tersebut telah ada jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Yang jelas, sikap kritis kita terhadap begitu banyak kesamaan atas mitos-mitos dan heroisme kolosal di nusantara, senantiasa selalu identik satu sama lain pada wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kolonial. Contohnya, kisah tujuh bidadari yang hampir selalu ada dalam setiap kebudayaan nusantara dalam konteks lahir atau terbentuknya suatu tempat atau kerajaan. Saat kecil dulu, saya malah bingung, apakah istri Jaka Tarub di Jawa dan Jaffar Sadik di Ternate adalah bidadari kayangan yang sama?.

Melihat kemiripan antara cerita dan kepercayaan tersebut, maka unsur lokalitas mengenai eksistensi orang Moro yang ‘eksis’ dalam pengetahuan dan kepercayaan masyarakat Maluku Utara tidak lagi mendapatkan legitimasi untuk dibahas secara spesifik, namun yang pasti adalah; kepercayaan tentang eksistensi orang Moro merupakan satu di antara begitu banyak kepercayaan tradisional lain di nusantara tentang keberadaan makhluk misterius di dimensi lain, kepercayaan ini tetap lestari, sebagaimana kepercayaan orang Amerika Utara terhadap eksistensi makhluk bernama Bigfoot dan kepercayaan orang Tibet dan Nepal terhadap eksistensi makhluk bernama Yeti yang hidup di Pegunungan Himalaya yang bersalju.

Jika dikaji secara historis, orang Moro sebenarnya mengacu pada penduduk kerajaan Morotia yang hilang tertelan lava akibat letusan gunung Dukono berabad-abad lampau. Morotia atau Moro Daratan yang hilang tersebut adalah sebuah kerajaan yang cukup makmur pada saat itu. Sebagian penduduk kerajaan tersebut yang selamat dari bencana letusan gunung Dukono memilih untuk mengungsi ke pulau di seberang yang menghadap langsung ke samudera Pasifik, pulau tersebut kini dikenal dengan nama Morotai, yang artinya Moro Lautan.

Penamaan Moro sendiri berakar dari penyebutan bangsa Portugis terhadap pulau Halmahera yang oleh mereka disebut sebagai Batucina de Moros, bangsa Portugis yang berasal dari semenanjung Iberia membuat penyebutan yang melekat pada orang muslim di Andalusia sebagai bangsa Moro, maka ketika mereka melihat orang Halmahera yang muslim, mereka pun menyebutnya juga sebagai ‘Moro’. Belakangan, penyebutan Moro juga disematkan oleh bangsa Spanyol terhadap penduduk Mindanao, sesaat setelah mereka berlayar ke utara dari kepulauan Maluku, sebagai imbas dari disahkannya perjanjian Saragossa pada 22 April 1529, yang memaksa Spanyol angkat kaki dari kepulauan Maluku dan fokus mengkolonisasi Filipina.

Sebuah Eksplanasi Terhadap ‘Waktu’

Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati dalam berbagai sudut pandang terkait dengan kepercayaan ini, sebab bangsa Moro itu sendiri muncul dan menjadi cerita yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Maluku Utara, terutama di pesisir bagian utara pulau Halmahera. Bagaimana masyarakat di Maluku Utara melihat alam, bagaimana mereka memikirkan dunia secara multidimensi, bagaimana mereka mendeskripsikan waktu dengan cara-cara kompleks yang hanya dapat dijangkau oleh pengetahuan modern, semuanya terkulminasi dalam kepercayaan terhadap keberadaan orang Moro ini. Sebab pada dasarnya, manusia merefleksikan pengetahuan dan cara hidupnya sendiri dari cerita dan kepercayaannya terhadap sesuatu yang ia tempatkan di luar proses sosial dan nalarnya sendiri.

Dunia orang Moro digambarkan sebagai sebuah peradaban yang maju, banyak gedung-gedung tinggi dan teknologi canggih yang punya kemampuan ajaib, meski begitu, orang Moro gemar menculik manusia biasa yang tersesat di dunia mereka. Konon, waktu di dunia Moro berbeda dengan waktu di dunia kita, berdasarkan kesaksian orang-orang yang mengaku pernah diculik oleh bangsa Moro dan kembali lagi ke dunia kita, keberadaan mereka di dunia bangsa Moro sudah bertahun-tahun, mereka bahkan telah menikah dengan bangsa Moro yang cantik-cantik dan bersih dan memiliki anak yang berbudi baik serta cerdas, nyatanya mereka rata-rata tersesat di hutan selama sehari atau dua hari sebelum kemudian ditemukan oleh warga yang mencari. Kisah para korban yang diculik oleh bangsa Moro selalu begitu, dengan cerita yang sama dan selalu diulang-ulang oleh banyak orang yang berbeda, berkembang kemudian dari mulut ke mulut.

Orang Moro juga dipercaya sangat tidak suka jika ada yang menebang pohon sembarangan. Suatu saat di Galela seorang penebang pohon ditemukan meninggal dunia tertimpa pohon yang ditebangnya, masyarakat setempat percaya bahwa ia meninggal karena ulah orang Moro yang marah, sebab pepohonan di wilayah mereka ditebang, kepercayaan masyarakat tersebut diperkuat dengan arah jatuhnya pohon yang berlawanan dengan arah potongan gergaji mesin yang digunakan oleh penebang tersebut. Orang Moro yang tidak senang dengan penebangan pohon ini sebenarnya adalah refleksi dari kehidupan orang Galela dan Tobelo yang menjunjung tinggi alamnya, di mana mereka melihat alam sebagai nanga dihimo (orang tua kita) yang memberikan apapun kebutuhan hidup mereka, apabila alam dirusak, maka hancurlah ekosistem.

Selain refleksi penghargaan terhadap alam, orang Galela dan Tobelo melihat konsep dan perbedaan realitas waktu antara dimensi orang Moro dan dimensi manusia yang sangat agregat sebagai perwujudan dari bagaimana mereka mengeksplanasi waktu itu sendiri. Dapat dikatakan, perspektif ini menempatkan waktu sebagai unsur penting kehidupan, sebagaimana narasi dalam introduksi film Time yang mengatakan bahwa ‘waktu adalah komoditas paling berharga di alam semesta’. Inilah kenapa, orang Tobelo dan Galela zaman dulu senantiasa berlomba dengan matahari untuk pergi ke kebun sepagi mungkin, ketika embun di antara dedaunan belum menguap dan hilang. Penghargaan mereka terhadap waktu juga tergambar ketika mereka melakukan aktifitas canga (bajak laut), dengan menggunakan perahu dayung, orang Tobelo dan Galela menetapkan waktu antara tenaga yang dibutuhkan dan kapan mereka bisa tiba di perkampungan sepanjang pantai timur Pulau Sulawesi yang akan mereka jarah.

Konsep waktu seperti ini sangat penting dalam sebuah kebudayaan, karena selain bangsa Maya yang melihat waktu secara fisik dan abstrak, hampir seluruh kebudayaan di dunia secara sederhana melihat waktu hanya sebagai sebuah institusi fisik yang menandai segala bentuk aktifitas di kehidupan mereka. Kebudayaan manusia melihat waktu dengan cara melihat fenomena fisik, dari pergerakan bulan, pergerakan matahari, migrasi burung, pergerakan air, angin dan lain sebagainya untuk membuat prediksi-prediksi yang presisi dengan segala kebutuhan mereka di alam. Dengan cara ini, mereka dapat bertani dengan tenang, hewan ternak dapat diatur kecukupan makanannya, pun demikian juga di Maluku, panen cengkeh dan pala dapat diperhitungkan melalui tanda-tanda tertentu yang terjadi di alam.

Konsep waktu seperti ini sebenarnya jauh lebih baik dibanding konsep waktu matematis dengan angka-angka yang abstrak, saya teringat dengan penjelasan Dr. Tony Rudyansyah dalam sebuah kuliah yang membahas karya Evans-Pritchard tentang kebudayaan orang Nuer di Afrika, ketika sampai pada pembahasan tentang konsep waktu menurut orang Nuer, Dr. Tony membuat analogi tentang perbandingan konsepsi waktu, di mana pada zaman dulu, orang akan berhenti bekerja apabila matahari sudah mulai terbenam, saat ini orang justru harus bekerja dengan ketentuan hingga jam 6 sore, sehingga mereka terpaksa harus pulang ke rumah ketika hari sudah gelap. Ini menunjukkan bahwa waktu abstrak cenderung memaksa manusia untuk terlibat dalam rutinitas dunia kerja jauh lebih lama dibanding waktu-waktu berharga yang bisa mereka dapatkan di rumah dan lingkungan sosial mereka.

Kepercayaan terhadap eksistensi orang Moro bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya Galela dan Tobelo, menciptakan perspektif baru bahwa waktu bukan hanya sebatas utilitas yang menandai fenomena-fenomena alam, lebih dari itu, bagaimana mereka mengeksplanasi konsep waktu pada hakikatnya adalah cara mereka menghargai waktu, disinilah mereka percaya bahwa memberikan penghargaan terhadap waktu, berarti memberikan penghargaan terhadap gerak alam semesta.

Ketika orang Mesir menjadikan Obelix sebagai pengukur waktu berdasarkan posisi bayangan matahari lalu kemudian mengkultuskannya, orang-orang Maluku Utara di Gurabunga, Tidore juga menciptakan alat pengukur waktu dengan proses yang rumit dan penuh kesungguhan, menggunakan pasir paling halus dari pantai-pantai di Halmahera dan lubang aliran pasir yang diameternya sekecil rambut perempuan suci, alat pengukur waktu ini dikombinasikan dengan gerak matahari dan musim yang memungkinkan mereka untuk bekerja dalam sistem bari (kerja bersama) dalam membuka kebun, disinilah nilai-nilai sosial dan kesetiakawanan dibangun, yang pada muaranya menciptakan integrasi sosial dan budaya yang kuat dan solid.

Dunia Yang Paralel?

Hampir seluruh kebudayaan dan peradaban manusia mempercayai keberadaan alam lain, yaitu alam sesudah kematian. Beberapa di antaranya mempercayai keberadaan alam roh sebagai tempat bermukimnya para dewa atau roh penguasa alam semesta, namun hanya sedikit yang percaya dengan eksistensi kehidupan yang hidup secara paralel di dimensi yang lain. Sebagaimana kepercayaan masyarakat Melayu terhadap keberadaan orang Bunian, kepercayaan terhadap eksistensi orang Moro dalam kebudayaan di Maluku Utara adalah sedikit contoh dari konsep ‘dimensi lain’ yang hidup dalam pikiran manusia.

Dimensi lain yang menjadi dunia orang Moro bagi orang Tobelo dan Galela adalah tempat di mana ruang dan waktu berbeda secara agregat dari dunia manusia, di sana waktu bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat, di sana ruang bisa jadi lebih futuristik atau lebih kuno. Pemikiran seperti ini jelas telah ‘melompati waktu’, sebab konsep dunia paralel (parallel universe) adalah produk pengetahuan modern yang telah melalui proses pembuktian yang panjang dengan melibatkan ilmuwan-ilmuwan paling pintar yang pernah terlahir di muka bumi.

Sebelum meninggal, Stephen Hawking, ahli fisika kuantum terkemuka mengungkapkan dalam tulisannya yang berjudul A Smooth Exit from Eternal Inflation (jalan keluar mulus dari inflasi abadi) mempertegas teori para ilmuwan sebelumnya tentang keberadaan dunia paralel. Teori yang muncul semenjak ilmuwan asal Austria, Erwin Schrodinger mempublikasikan temuannya tentang teori Many Worlds pada tahun 1952 mengundang banyak perdebatan, namun di beberapa dekade para ilmuwan mengerucut pada kesepakatan bahwa dunia paralel dapat dibuktikan eksistensinya melalui tinjauan-tinjauan rumit yang dilakukan oleh sains kontemporer.

Dapat dikatakan bahwa teori dunia paralel merupakan kisah fiksi yang sering ditampilkan dalam budaya popular seperti film, sebagai contoh adalah karya Cristopher Nolan dalam film berjudul Interstellar. Pada kenyataannya, teori yang coba divalidasi keberadaannya di ranah ilmu pengetahuan ini telah lebih dulu ada dalam pikiran masyarakat Tobelo dan Galela di Maluku Utara dalam bentuk kepercayaan mereka terhadap eksistensi orang Moro.

Dunia paralel adalah konsep yang hanya dapat dijelaskan dengan cara yang rumit, menggunakan begitu banyak rumus dan hipotesis yang kompleks. Namun, kita dapat menjelaskan dunia paralel secara sederhana sebagai suatu teori yang mengatakan bahwa pada dasarnya, dunia terdiri atas banyak dunia, bisa milyaran, trilyunan, bahkan bisa jadi dalam jumlah yang tidak terbatas. Teori ini didasarkan atas pandangan umum para ilmuwan yang menyimpulkan bahwa ruang dan waktu itu bersifat datar dan meluas, tidak bulat atau lonjong. Ketika ruang-waktu datar, maka apa yang kita lihat selama ini di alam semesta merupakan bagian terluar dari dimensi alam yang lebih besar, atau yang dikenal sebagai sembilan dimensi, dan dunia kita adalah satu diantara banyak dimensi tersebut.

Professor Tom Shanks dari Universitas Durham pada tahun 2017 mengatakan bahwa ‘dunia-dunia’ secara paralel dipisahkan oleh sebuah peristiwa kuantum yang membuat alam semesta-alam semesta tersebut berdivergensi dari alam semesta kita, itu artinya bahwa alam semesta terdiri atas begitu banyak kehidupan yang hidup dalam dimensi, ruang dan waktu berbeda-beda, namun berlangsung secara paralel dengan dunia kita.

Agak naif memang jika saya mencoba menghubungkan suatu mitos dalam kepercayaan masyarakat tradisional dengan suatu mitos dalam sains yang diyakini benar oleh para ilmuwan, karena hasilnya kemudian pasti akan sampai pada kesimpulan yang tidak selesai, cocoklogi, atau menciptakan dongeng-dongeng baru yang hanya akan menghibur orang-orang, alih-alih menjadi suatu pengetahuan baru yang menarik untuk ditelusuri oleh pembaca. Namun begitu, menurut saya ini menarik dalam hal mengajak masyarakat untuk mengenal produk kebudayaan dengan cara yang lain, bahwa pada dasarnya, manusia dengan kebudayaannya terkoneksi secara langsung dengan kosmos dan segala misteri yang ada di dalamnya, sehingga kadangkala, dari situlah ilmu pengetahuan dan temuan-temuan penting abad modern dirumuskan, disintesiskan dan pada akhirnya ditemukan, baik dalam bentuk artefak maupun teori. Kita pada akhirnya tidak dapat memungkiri hal-hal seperti ini, sebab, bahkan artificial intelligence yang sedang gencar saat ini didasarkan hanya dari cerita film kartun Doraemon.

Mengakhiri tulisan yang mungkin sebagian besar dilandasi oleh mitos dan imajinasi yang disisipkan dengan beberapa teori yang mungkin tidak korelatif, saya ingin menyederhanakan tujuan saya atas tulisan ini sebagai sebuah cara penulisan kreatif yang menantang orang untuk mempelajari kembali kebudayaan masyarakatnya sendiri, sebuah spirit baru untuk membangkitkan ketertarikan orang terhadap aspek budaya lokalnya dengan melihat implikasi-implikasinya. Sebagai analogi, tujuan saya sedikit mirip dengan tujuan sebuah klub sepakbola di Amsterdam yang menggunakan nama Ajax, salah satu tokoh dalam Perang Troya yang disimbolkan dengan karakter yang kuat, cerdas dan berwibawa untuk membangkitkan lagi semangat penduduk Amsterdam dalam mendukung klub kebanggaan kota tersebut.

Penulis

Muhammad Guntur / Redaktur Jalamalut

(Mahasiswa Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia)

Baca Lainnya