Breaking News

Oasis di Tengah Dahaga Literasi

Jaringan Komunitas Ternate (JARKOT) akhirnya merilis Kelas Literasi pada Program Reguler Coworking Space. Kegiatan ini digelar di Sekretariat Jarkot, Benteng Oranje Ternate, Jumat, Maret 2019. Ini tentu ini merupakan angin segar bagi peminat Literasi di Maluku Utara. Tentunya kelas ini diharapkan mengisi dahaga para Literasis untuk mengupdate pengetahuan Literasi, terlebih menghadapi era teknologi masa kini.

Sebelum beranjak, saya awalnya tak berminat datang. Percuma, hal itu pasti terulang sebagaimana kelas-kelas sebelumnya yang sangat minim partisipan, bahkan molornya jam pelaksanaan selalu menjadi masalah yang terus terjadi.

15 menit sebelum beranjak, hal itu berubah kala sahabatku mengajukan 2 buku yang spontan menghentikan cangkir Kopiku. Buku itu tentu begitu luar biasa sebab membuat saya sadar akan bobroknya peran Jurnalisme serta fungsi Literasi di Maluku Utara yang kian merosot.

Banyak hal yang berubah. Baik fungsi, peran dan keminatannya, serta tak lupa diskursus etik dan fungsinya sebagai suatu kesatuan norma yang senantiasa hadir dalam tiap produk literasinya. Dalam posisi sini, benar, bahwa Literasi harus diselamatkan dari syahwat indivualistik dan multitafsir zaman yang kian membelot dari zaman ke zaman.

Lihatlah, berapa banyak karya literasi produksi daerah kita, sungguh minim. Kita harus berubah memperbaiki etos Literasi, dari Teoritis ke praksis, tentunya bagi keterjaminan literasi generasi di masa depan. Usai tercerahkan, beranjaklah saya ke sana.

Kegiatan tak seperti biasa, banyak keramaian di Benteng bekas kebanggaan Kolonial Belanda kini. Saya pun tiba di lokasi. Seperti dugaan saya, acara tak kunjung mulai. Kita molor hingga pukul 22.00 WIT. Satu setengah jam terlewati dari jam yang diputuskan (20.30). Bila di Rumah Sakit, entah mungkin beberapa pasien gawat yang meninggal bila kehilangan waktu seperti itu. Ini tabiat lama yang menjadi penyakit bagi daerah ini, harus diubah.

Sesekali bunyi gitar dan tawa mencoba menenangkan hati ini, ludah masih kecut kutelan melihat fakta bahwa masih ada fenomena ‘Guru mencari murid, bukan sebaliknya’ dan ini terbiarkan dengan tawa opini ‘tak mengapa’. Untuk berubah kita harus berusaha belajar bukan sebaliknya.

Dalam edisi Kelas perdana ini pihak Jarkot menghadirkan 4 narasumber Literasis lokal yang telah banyak berkarya serta berpengalaman dalam bidang literasinya, mereka antara lain Arief Paturusi (Kepala Jalamalut), Faris Bobero (Pendiri Cermat Kumparan), Pandan Arum Ayu (Novelis), dan Rajif Duchlun (Wartawan Cermat dan Redaktur Jalamalut).

Ada hal yang menggusar hati saya, saya belum tahu keempat teman saya ini berbicara pada tematik yang mana, sedang di Poster pelaksanaan tak menjelaskan tematik itu akan dibawa oleh siapa di antara mereka. Barulah saya sadari ketika materi itu berjalan. Kelas itu kemudian dibuka oleh Faris Bobero.

Kegiatan itu dimulai dengan Tematik pertama, yakni ‘Mengenal Jurnalistik’. Sudah kuduga, bung Arief Paturusi akan membawa materi ini. Arief mengantar mengantar materi itu dengan berbagi pengalamannya selama menjadi Jurnalis di beberapa daerah dan institusi Pers di Timur Indonesia.  Pengantar terasa hangat kala ia mengkomparasi etos Jurnalis dan prinsip Jurnalistik di era kontemporer yang tak lagi memiliki etik.

Menurutnya, beberapa Jurnalis di Indonesia kini  dan di Maluku Utara kini kehilangan norma dan etik Jurnalisnya. egosentris individualistik dan potensi diskriminasi terhadap suku, ras, dan agama (SARA) serta etika dalam norma kesusilaan yang menjadi batu sandungan kala mendengar pemberitaan yang tak berpihak pada sisi humanisme.

Narasumber : Faris Bobero, Rajif Duchlun, Arum Pandan, dan Arif Paturusi

Sesekali dengan kesalnya ia mengangkat sebuah contoh reportase-reportase yang begitu kontroversial soal identitas kekerasan yang melibatkan korban dan terdakwa. Sebagian dikisahkan begitu vulgarnya, demikian beberapa foto yang ditampilkan, sangatlah begitu gamblang tanpa adanya filteri guna menjaga etik norma kemanusiaan dalam objek Jurnalisme. Arif mengajarkan kita bahwa Jurnalis juga punya perasaan, ia harus mampu bijak dalam menjunjung etik Humanisme dalam tiap sajian kebenaran yang menjadi visi Jurnalisme itu sendiri.

Arif mencoba mengangkat fakta soal krisisnya etik Jurnalis di Maluku Utara, dan hal itu membukan nurani kami. Kelas ini dimulai dengan orientasi, dan ia berharap, untuk menjadi seorang Jurnalis, seorang harus mampu memahami kerja Literasi, dan ia menjanjikan praktik nyata pada kelas pertemuan berikutnya.

Pada Tematik kedua, Narasumber membuka jilid materi ‘Belajar Menulis Fiksi’, pada fase ini, Pandan Arum Ayu dan Rajif Duchlun tampil menjadi Narasumber. Pandan dan Rajif mengisahkan bagaimana pengalaman ia belajar dan memahami seni dalam menulis fiksi. Keduanya membuktikan usaha itu dengan beberapa buku yang telah diterbitkannya.

Rajif menolak bila ada yang mengatakan ‘Menulis itu mudah’. Ada beberapa fase dalam menulis, dan hal itu tidaklah mudah. “Menulis itu harus dilatih, tak hanya fisik, tapi jiwa juga harus dilatih agar minat itu hadir” ungkapnya. Uniknya ia mengungkapkan bahwa ia adalah orang yang paling malas membawa Laptop ke mana-mana, namun ia tetap menulis ujarnya menginspirasi.

Seorang penanya pun mencoba menyela materi bertanya, ia berkonsultasi soal kesulitan ia menulis cerita fiksi, “Ketika dipertengahan tulisan, kadang saya kesulitan melanjutkannya karena ide saya menjalar ke mana-mana” ujar penanya sedikit gusar.

Dengan bijak, Pandan menjawab “Pada titik itu, anda harus berhenti.” Pandan mengajarkan sang penanya bahwa dalam menulis Fiksi dibutuhkan konsentrasi yang baik dan penyaluran ide yang matang. Dalam kondisi itu, penulis membutuhkan upaya yang baik dalam mengalirkan idenya dalam tulisan agar tidak bias.

Materi pun ditutup oleh tematik ‘Menulis Perjalanan’, Faris Bobero, dan Rajid Duchlun turut berbagi pengalamannya soal pengalaman mereka melakukan penulisan perjalanan.

Faris mengisahkan bagaimana pengalamannya sebagai Literasis di beberapa pelosok daerah Indonesia yang tak terlepas dari pendokumentasian perjalananannya. Ia mengajarkan catatan perjalanan tak hanya narasi, audio dan video juga adalah bagian dari catatan perjalanan. Namun semua butuh konsep tulisan yang syarat akan kronologis. Ia mengungkapkan bahwa genre Jelajah inilah yang menjadi khas Jalamalut dan Cermat yang coba ia pertahankan dalam ide dan eksistensnya kini.

Faris mengatakan “Tak penting soal apa dan bagaimana, yang penting adalah menulis”. Rajif juga menambahkan, bahwa unsur kelengkapan kronologis dan kelengkapan pendokumentasian perjalanan pun harus tersedia. “Tempat, waktu, subjek, objek dan buku catatan itu wajib tersedia, bila ada gadget itu lebih ekonomis lagi, sebab memudahkan penulis dalam mengarsipkan setiap hal penting yang ditemui selama perjalanan” ujarnya.

Faris dan Rajif mengarahkan penulis agar lebih santai namun serius. Santai dengan menikmati perjalanan, sedang serius dalam arti memperhatikan objek penting dalam kelengkapan tulisan hingga sumber tulisan. Bahkan keduanya menyentil “Menulis Perjalanan harus bajalan (Melakukan perjalanan), kalo bukan bajalan berarti bukan catatan perjalanan namannya” ujar keduanya tertawa kecil sambil dimeriahi para peserta mengangguk.

Mengutip pernyataan bung Arif di awal materi mengungkapkan, “Maluku Utara adalah ladang Literasis. Hal itu dapat dilihatnya dari tingginya tingkat interaksi literasi di sosial media. Hampir semua kalangan baik muda hingga tua memiliki akun media sosialnya sendiri”

Namun dari  pernyataan sentimen itu, saya sadar, pandaikah mereka berliterasi dengan baik ? serta mampukah menjadikan menjadikan Literasi sebagai hal yang berfaedah baik bagi diri kita, maupun orang lain?. Tentu Literasi tak hanya menjadi ilmu pengetahuan sebaliknya dapat menjadi senjata mematikan dalam membunuh karakter segelintir orang dan golongan.

Dari kelas Literasi ini, saya sadar bahwa teriring arus zaman, literasi konvensional harus bermoderasi dengan literasi modern (alias milenial). Keduanya dibedakan dengan objek (alat), sedang yang tak berubah adalah subjek (Pelaku). Pada objek, literasi milenial diuntungkan dengan alat teknologi yang lebih mumpuni, sebut saja gadget, komputer, dan internet. Secara statistik tentu minat literasi harus meningkat. Bila tidak, maka kemampuan literasi manusia justru stagnasi bahkan menurun karena penyalahgunaan alat yang lebih pada hedonisme dan kepentingan sosial privat semata.

Hadirnya Kelas Literasi oleh Jarkot seolah bak menjadi Oasis di tengah dahaganya literasi. Hal itu patut saya apresiasi. Dan kiranya Kelas ini terus berlanjut. Tak hanya melibatkan para mentor dari Literasis muda, tapi tokoh Literasis tua pun harus ikut andil dalam berbagi pengalamannya soal Literasi. Dan inilah waktunya.

Daerah ini banyak melahirkan para Literasis, bahkan Narsisme Literasis yang cukup berbahaya secara mentalistik, sayangnya banyak yang tak memahami arah Literasi sebagai hal yang lebih universal. Sebab Literasi bukan soal keaksaraan, menulis dan membaca saja, tapi lebih dari itu. Spirit, idealisme, dan kebijaksanaan dalam proses mengenal sesuatu dari tidak tahu menjadi tahu. (*)

– CATATAN AKHIR KELAS –

Fatir M.N (Kru)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *