JELAJAH

Senin, 18 Februari 2019 - 21:41

9 bulan yang lalu

logo

Panahan, Historis Hingga Minat Baru di Maluku Utara

“Bersama para rekan sahabatnya, Siti membuka pusat pelatihan memanah di halaman kecil depan jalan Kelurahan Tanah Tinggi Kota Ternate. Meski dipandang awam bagi warga sekitar, ia berharap olaharaga ini menjadi Minat baru di Maluku Utara, khususnya bagi warga Kota Ternate di sana”

Anda pernah mendengar kisah Zurgadai ? seorang prajurit pemanah yang tak pernah akan merasakan jabatan Panglima Perang Kekaisaran Mongol (1206-1368) bila ia tak memberanikan diri menunjukkan seni panahnya di depan pasukan kavaleri Mongol yang telah membumihanguskan desanya. Ia hanya terobsesi satu hal, menumbangkan sang Raja.

Lewat perang sengitnya, anak panahnya berhasil menembus kepala kuda sang Kaisar (Jengis Khan) yang saat itu terkawal ketat oleh pasukan elitnya. Usai ditangkap, bukannya dihukum mati, Jengis Khan takjub akan kemampuannya dan mengangkatnya sebagai pelatih dan Panglima perang Kekaisaran yang pernah menguasai setengah dunia itu. Dari kisah ini, Mongol memberi pelajaran bahwa Seni dan ilmu pengetahuan jauh lebih berharga dari sebuah nyawa.

Selain sebagai simbol perang, panahan juga dikenal sebagai suatu olahraga yang sakral. Di India, memanah merupakan suatu seni senjata yang sakral. Bukan untuk kekerasan, melainkan sebagai suatu syarat untuk mendapatkan sebuah kasta bergengsi di tengah masyarakat (Ksatria). Hal itu diurai dalam Kitab kuno seni bela diri tertua di india, Dhanurveda. Yang pada bab awal Kitabnya menerangkan soal wajib mempelajari seni memanah.

Selain epos Mahabaratha yang epik mengisahkan Arjuna dan panahnya sebagai alat dalam membungkam kemudharatan Kurawa, faktanya, Kasta ksatria di India terlebih-dahulu diwajibkan menamatkan materi dasar (Bab pertama Dhanurveda) panahan sebelum melanjutkannya ke bab lainnya. Begitu besar peran olahraga itu dalam historis dan perkembangannya. Tentunya di atas tadi adalah satu dari banyaknya kisah menarik soal filosofis memanah dari belahan dunia baik secara historis maupun seni dan budaya.

Olimpiade Tak Mengenal Indonesia dari Bulutangkis

Jika anda berpikir Badminton / Bulu Tangkis adalah Olahraga tersohor dan bersejarah bagi Indonesia di mata dunia, anda salah. Cabang itu hanyalah berstatus sebagai cabang olahraga yang banyak menyumbang medali dan piala antar dunia di Indonesia. Namun tidak sekelas Olimpiade, ajang terhormat di dunia yang dihormati historisnya sejak masa Yunani kuno.

Jauh sebelum Susi Santi dan Alan Budi Kusuma meraih medali Emas pertama dalam sejarah Indonesia di Olimpiade Barcelona, Spanyol 1992. Justru cabang olahraga Panahanlah yang pertama kali menyumbang medali sekaligus mencatatkan nama Indonesia di Sejarah keikutsertaannya di Olimpiade.

Awal tertorehnya sejarah itu berawal dari dari rasa sakit hati seorang atlet nasional pemanah putera Indonesia Donald Pandiangan yang gagal berangkat ke Olimpiade Moskow Tahun 1980 usai pemerintah melarang seluruh atletnya terjun ke sana sejak Uni Soviet memutuskan tetap menggempur Afganistan. Indonesia sebagai negara HAM saat itu mengutuk aksi itu tersebut lewat kebijakan politiknya (Kebijakan Politis semasa Orde Baru).

Donald yang sakit hati akhirnya memilih pulang kampung dan gantung busur, Donald begitu depresi. Indonesia sontak kehilangan pemanah terbaiknya yang telah dikenal khalayak di masanya sebagai ‘Robin Hood’-nya Indonesia. Gelar itu tak lain karena rekornya tak pernah sanggup dilewati atlet panahan di masanya, yakni 1 medali perunggu Asian Games 1978, dan 22 Medali Emas SEA Games, dan masuk dalam 12 besar peringkat dunia.

Indonesia tak lagi punya atlet putra panahan sekaliber Donald. Donald pun telah kehilangan kemampuannya sejak ia pensiun dari panahan. Di tempat lain, eksistensi pemanah putera nasional pun seolah punah pasca Donald memutuskan mundur dari Tim nasional (Timnas).

Di masa penuh kekecewaan bertahun-tahun, Donald sadar, ia tak boleh egois. Ia masih mendengar Pemerintah (KONI) membutuhkan dirinya, namun ia menolaknya. Ia justru menginginkan dirinya sebagai pelatih untuk menyiapkan para atletnya putri Indonesia ke Olimpiade Seoul, Korea Selatan 1988.

Donald akhirnya kembali ke Jakarta dan memenuhi permintaan Pemerintah menyiapkan para atlet putri untuk berlaga di Olimpiade Seoul 1988 dengan syarat bahwa ia tak mau lagi ada intervensi negara secara politis pada para muridnya, dan dirinya.

Tak menunggu waktu lama, Donald melakukan seleksi atlet dengan ketatnya, Dari seleksi itu terpilihlah Nurfitriyana Saiman Lantang dari Jakarta, Kusuma Wardhani dari Sulawesi Selatan, dan Lilies Handayani dari Jawa Timur, kisah mereka terukir kembali di layar lebar Indonesia tahun 2016 berjudul ‘3 Srikandi’.

Di bawah pelatihan, ketiganya tak mendapat keringanan latihan. Ketiganya dilatih kerasa dengan porsi yang sama dengan atlet pria. Donald tak pilih kasih, ia mengeluarkan seluruh potensinya kepada ketiga muridnya itu. Ia menyakinkan bahwa tak ada yang tersisa dari pengetahuannya yang ia turunkan pada mereka.

Olimpiade di Seoul pun berlangsung. Satu per satu babak telah mereka lewati. Proses tak mengkhianati hasil, ketiga muridnya akhirnya berhasil menyumbangkan medali pertama untuk Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaannya di Olimpiade.

Keberhasilan itu tak mungkin dilupakan bangsa ini, Ketiganya berhasil menyabet medali Perak di Olimpiade Seoul-Korea Selatan di Tahun 1988. Misi Donald menyumbangkan medali Olimpiade terbayar sudah. Ia sadar ia memang tak pernah menjuarai Olimpiade, tapi ia bahagia, ia dapat membayar hutang juara di ajang olahraga bergengsi dunia bukan sebagai atlet, melainkan sebagai pelatih.

Indonesia masih terus berharap dan berjuang memiliki para atlet handal Panahan yang mampu menorehkan prestasi emas di tahun 1988. Meski  demikian anda akan takjub bila mendengar cabang olahraga yang pernah mengharumkan Indonesia ini siap menjadi minat baru di, Maluku Utara.

Siti dan mimpinya mengenalkan olahraga Panahan Di Maluku Utara

Patriotisme dan niat keras Donald Pandiangan seolah masih terngiang di pikiran penulis. Kisah ini seolah menginspirasi penulis sejak penulis bertemu dengan Siti Aisyah Husen, seorang perempuan yang baru saja mengenalkan olahraga tersohor ini di Maluku Utara.

Siti tak terlahir dari seorang keluarga atlet Panahan. Bukannya memilih objek usaha lain, Siti memilih konsen ke olahraga ini mengawali usahanya dengan mendirikan Tempat pelatihan terbuka di Ternate. Pusat latihan itu ia ikutkan dengan usahanya sambil mencari rizki dengan bermodalkan sedikit modal materi dan fisik halaman seluas 10 x 5 meter.

Usahanya yang ia dirikan dan diresmikan pada tanggal 27 Januari 2019 lalu itu ia bangun di sebuah laman kosong Kelurahan Tanah Tinggi, Ternate Selatan itu, bernama ‘Byu Memanah Ternate’. Tak hanya tempat latihan, di sana ia juga menjual perlengkapan panahan bagi mereka yang berminat.

Sebagai pendiri dan pemilik usaha, ia tak hanya mencari peruntungan, dengan rendah hati ia mengungkapkan niatnya mengenalkan olahraga baru ini ke warga Maluku Utara khususnya Ternate dengan harapan mereka dapat mencobanya langsung.

Poster Tempat Pelatihan yang dirintis Siti dan para rekannya

Meski baru berdiri, tempat latihannya sontak menjadi pusat perhatian warga maya maupun nyata. Tak sedikit warga Tanah tinggi hingga warga seluruh kota Ternate ingin merasakan pengalaman memanah di sana. Hingga kini, tempat latihan itu digandrungi para muda-mudi dari berbagai latar belakang.

“Olahraga tak hanya Sepakbola saja, demikian juga jogging. tapi juga memanah. Harapannya sih agar masyarakat tak bosan dengan olahraga itu itu saja” ujar Siti tersenyum.

Ditanya soal kriteria usia dan gender, Siti mengaku membukanya tanpa ada perbedaan usia dan gender. Usaha dan pelatihan murni untuk umum kecuali anak kecil yang belum mampu.

“Untuk di tempat kami, tak ada kriteria umur dan gender. Tak ada larangan bagi perempuan dan laki-laki, semua bisa, soal batasan khusus, kecuali dari mereka yang memang ingin terpisah. Seperti para wanita atau akhwat yang benar-benar ingin tak mau digabung, anak-anak pun juga dapat ditinjau” ujarnya

Dibuka tiap hari dan di waktu tertentu kecuali Jum’at

Saat ditanya pula apakah pelatihan ini begitu berbahaya bagi para pemanah pemula (amatir), Siti menambahkan “Sejujurnya mau bilang ekstrim, iya, tapi kami berusaha agar olahraga ini tak keluar dari zona nyaman. Kami mengatur batas-batasannya. Baik garis batas memanah atau line shoot, pelindung arah tembak yang tertera dibalik papan target, serta metode latihan. Yang masih baru atau belajar kami wajibkan untuk orientasi dengan jarak dekat dulu sebelum berada pada jalur normal”

Siti mengaku tak ingin olahraga ini mengganggu aktifitas kerja masyarakat, Siti memilih waktu kegiatan diluar jam kerja pada umumnya serta full aktifitas di jam liburnya.

“Olahraga ini dibuka tiap hari kecuali jumat. Kalo untuk hari kerja, atau hari Senin sampai Sabtu dibuka sore saja, yakni jam 4 sampai jam 6. Kecuali hari Minggu tempat ini dibuka sejak pagi jam 8 sampai jam sore”.

Siti sadar ia tak hanya dapat mengembangkan minat olaharaga panahan semata-mata tanpa memikirkan mata pencaharian bagi dirinya. Dari olahraga ini, ia menyisihkan sedikit keuntungan baginya dan pelestarian alat-alat panahannya.

“Kalau mau dihitung, usaha ini tak terlalu mendapatkan keuntungan besar, lumayanlah untuk dapat dijadikan biaya pelestarian dan jerih keringat kami. Usaha ini awalnya tak membutuhkan anggaran besar, olehnya itu kini, dengan sepuluh ribu rupiah, para warga sudah dapat merasakan sensasi sekaligus dapat berlatih panahan di sini” ujarnya

Berharap kelak Maluku Utara melahirkan atlet panahan di masa depan

Seorang rekan Siti, Amran, mengajakku menguji sebuah busur untuk melesatkan panahnya di tempat itu. Saya tak mau melewatkan kesempatan itu. Sambil berdiskusi ringan, ia mengungkapkan keinginannya menempa mereka yang memiliki minat di cabang panahan.

“Saya berharap panahan tak sekedar menjadi minat, tapi ke depan kita dapat melahirkan para atlet panahan dari sini” ujarnya

Amran menambahkan, “Kami sudah komunikasi ke pusat dan sedang menggodok berdirinya PERPANI di Maluku Utara, usai rampung kami akan mengajukannya ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Maluku Utara untuk diresmikan berdiri sekaligus menggelar pelantikan pengurus’” ujar  rekan Siti yang bertugas sebagai relawan melatih mereka yang awam soal teknik memanah di sana. (*)

Penulis : Fatir M.N / Kru

Baca Lainnya