Breaking News

Musim Merayu

Jika dalam hidup kadang masyarakat menjalani sebagai sebuah komedi, maka adegan Baliho merupakan komedi yang telah berubah menjadi tragedi.

Dua minggu telah berlalu. Semenjak meninggalkan kampung halaman setahun lalu. Wajahnya belum banyak yang berubah, sekalipun beberapa infrastruktur baru dibangun. Panas yang masih sama membakar kulitku menjadi legam, sebelum Jawa mengubah sedikit putih. Bau laut yang masih menyengat ke rongga hidung. Tapi mataku tertarik pada pemandangan kota ini. Semenjak kakiku menginjak bumi Gapi, sepanjang jalan kulihat spanduk, baliho, dan stiker bertebaran dari para calon wakil rakyat. Bukan hanya di jalan, di warung kopi menjadi isu yang hangat memeluk untuk dibicarakan. Maklum ini lagi musim merayu orang dengan janji.

Dari spanduk yang bertebaran berbagai pose serupa model dipamerkan. Ada yang mengisi tangan ke saku celana, berpangku tangan, mengangkat kepal tangan. Ada pulanya wajahnya tegang, aku curiga pose foto ini karena takut terkena silau dari lampu kamera atau baru pertama berfoto. Lama-kelamaan kulihat serupa lirik lagu balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Kepastian yang bisa kudapati, semuanya percaya untuk tampil di depan publik, seperti perilaku selfie. Selain itu, dari posenya menghadirkan makna untuk menjadi orang baik, harus mengaku memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kebenaran ini diterima seperti makna tahi lalat di bibir berarti tandanya ia cerewet. Nyatanya tidak selamanya membuktikan cerewet. Dengan demikian yang tampil tidak selamanya baik. Berhati-hatilah sebab di jalan ini, lampu tidak pernah merah apalagi untuk memilih. Dari berbagai pose, serta tampilan sebagai bentuk menarik perhatian masyarakat, mengingatkanku pada kata-kata biar “biar kalah, asal gaya”.

Aku membayangkan gambar para caleg ini serupa kerumunan, tidak memiliki identitas sebagai wakil yang hendak memperjuangkan rakyat. Hampir seluruhnya yang kulihat memperjuangkan partai, sebab warna pakaian hampir seluruhnya mengikuti warna partai. Sekalipun ini tidak bisa menjadi ukuran. Akan tetapi, ketika gambar yang ditampilkan, semisal seorang pria sedang memakai topi petani (tolu) dan memegang cangkul, mungkin orang-orang bisa berfikir bahwa ia memperjuangkan nasib para petani. Atau berfoto dengan pose memancing mungkin juga dikira cari perhatian, eh salah maksudku bisa memperjuangkan nasib nelayan.

Bisa jadi orang yang memakai pakaian berwarna tertentu, diindikasi sebagai pengikut partai tertentu, mungkin “tidak hitam tidak asik”, begitu yang pernah kubaca. Dari warna ini kuingat sebuah politik identitas dengan warna kulit, orang-orang kemudian berbondong-bondong merayakan, tetapi segala makna yang dibaca terlepas. Nyatanya di negeri ini orang masih saja sibuk membicarakan bahwa “merah warna ayah, merah juga warna anak”. Lebih tepatnya warna telah menjadi pembeda yang paling kuasa dan superior. Semoga mereka tidak.

Belum lagi kata-kata yang tertera pada baliho dari para calon wakil rakyat ini, kadang aku tertawa sendiri saat membacanya. Belum pernah kudapatkan sebuah baliho tertulis kata-kata seperti ini “jika aku baik, pilihlah. Jika tidak, tinggalkan”. Hampir seluruhnya menunjukan dirinya paling benar. Paling berhak terpilih. Dengan sikap seperti ini, kita bisa membaca secara terbalik bahwa kebenaran tidak bisa menjadi wakil rakyat dipertontonkan.

Jarang kita sebagai masyarakat, melihat sebuah debat tentang visi dari setiap wakil rakyat. Yang lebih nampak hanyalah politik pencitraan sebagai juru selamat untuk menang. Baliho dalam artian ini bisa dibaca sebagai politik ada kuasa siapa yang paling tampan dan cantik. Wajah dan penampilan kadang didorong sebagai alat untuk menaikan popularitas dan elektabilitas. Bukan siapa yang lebih pantas untuk memimpin dan terpilih. Benar-benar bertanggung jawab atas jabatan yang nanti diemban.

Penulis : Immamuddin Ayub/Kerabat Jalamalut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *