Cerpen SASTRA

Senin, 21 Januari 2019 - 20:37

11 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi by naoncing.com

Karena Puteraku Raja

“Saat tak ada lagi alasan untuk bertahan, Tuhan mengirimkan sepasang tangan mungil untuk menggenggam jemariku yang mulai lemah seiring layunya jiwa. Ketika tangan mungil itu menyentuh wajah, mengusap peluh, menghapus airmata, maka saat itu aku tahu bahwa pemiliknya membutuhkanku lebih dari apapun.”

“Mama, Raja mau dibeliin gelas yang ada sedotannya.” Suara Raja memaksaku mengalihkan perhatian dari layar laptop. Tangan mungilnya menarik paksa lenganku, merengek memintaku melihat gelas yang dia maksud.

“Yang itu mama, gambar Tayo.” Telunjuk kanannya menunjuk  ke televisi, ada penampakan gelas kecil berwarna biru dengan motif mobil anak khas Jepang.

“Iya sayang, besok mama beliin. Tapi Raja gak usah minum susu pakai dot lagi ya?” Sebelum rengekan jagoanku ini semakin menjadi, aku memilih mengiyakan. Tawaranku membuat bocah kecil di hadapanku terlihat berfikir sejenak. Sorot matanya memancarkan keraguan, bola matanya berputar manja mencoba mencari jawaban untuk tawaran yang baginya pasti menimbulkan dilema.

“Oke ma, nanti Raja buang botol dot Raja.” Akhirnya putraku berani mengambil keputusan. Dengan gaya bicara khas anak balita ia mengangguk mantap, diacungkan jempol tangan kanannya tanda menyetujui tawaranku demi mendapatkan gelas Tayo impian. Wajah polosnya sangat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu.

Bukan tanpa alasan aku memberi tawaran itu pada putra semata wayangku. Memasuki usianya yang menginjak 3 tahun, aku ingin melepas beberapa ketergantungan dalam dirinya. Termasuk botol dot dan popok. Sebagai ibu tentu aku ingin Raja tumbuh maksimal, bagiku sudah saatnya aku menyingkirkan benda-benda itu guna menunjang tumbuh kembang terbaiknya.

Beberapa waktu lalu aku telah berhasil menyingkirkan popok dari keseharian Raja. Kini saatnya botol dot harus kuenyahkan, dan putraku dengan sendirinya membuka jalan untuk itu. Permintaan tentang gelas bergambar kartun favoritnya  menjadi senjata guna melancarkan misiku sebagai seorang ibu. Aku tahu benar dia akan menggadaikan apapun demi mendapatkan apa yang menjadi inginnya, termasuk dot kesayangan demi gelas Tayo.

Menjadi ibu adalah gelar istimewa, dititahkan langsung oleh sang Maha Esa. Aku percaya bahwa Tuhan tak pernah salah memilih rahim untuk diberi amanah, termasuk padaku. Tuhan telah menitipkan anugerah terindah dirahimku saat diriku justru sedang dirundung pilu. Tak kudapati rasa bahagia  menyambut kehadiran calon malaikat kecilku. Kehilangan banyak hal berharga dalam waktu bersamaan membuatku terbelenggu dalam keputuasaan. Yang ku tahu saat itu aku hanya ingin pergi jauh, melenyapkan diri bersama derai tangis yang tak kunjung mengering. Jiwaku kalut, aku seperti kehilangan arah untuk melangkah. Masih ku ingat dengan jelas ketika aku seperti berada dalam ruang hampa yang gelap, sendirian meringkuk meratapi suratan Tuhan.

Menjadi ibu sekaligus ayah bagi Raja adalah hal tersulit yang harus aku hadapi dalam takdir perjalanan hidupku. Ya, memutuskan berpisah setelah babak ketidakpastian merupakan keputusan besar yang akhirnya harus kuambil demi kebaikan bersama. Aku dan Raja khususnya.

Denting waktu kulalui dengan penuh rasa hampa. Duka telah merenggut asa, yang tersisa hanya cerita lara tanpa jeda. Sepanjang hari merana, menangisi diri. Meronta ingin marah, namun hati telah menyerah.

“Ma… Raja mau bobo sama mama.” Suara khas milik Raja membuyarkan lamunanku tentang sepenggal kisah lalu yang sudah lama terkubur . Aku segera menghapus sisa air mata, sebelum Raja bertanya penuh penasaran mengapa aku menangis dan ia akan ikut menangis seolah mengerti resah ibunya.

“Ayo sayang, sini kita cuci tangan kaki dulu baru tidur.” Dengan sigap aku membimbing putraku menuju kamar mandi. Raja menyambutnya dengan sumringah, bocah ini selalu suka dengan air.

“Sekarang Raja baca doa dulu.” Aku memintanya melakukan ritual wajib sebelum tidur sambil membentangkan selimut kesukaannya. Berukuran minimalis dan bermotif Tayo. Raja dengan cepat mengangkat tangannya dan komat-kamit membaca doa tidur. Kemudian berteriak penuh semangat ketika sampai pada pengucapan amiin. Aku tertawa demi melihat tingkahnya. Sekejap saja, suluruh kenangan pilu masa lalu luruh seketika dengan satu senyum polos dari bocah berlesung pipi yang kuberi nama Raja.

Tak butuh waktu lama untuk mengantarkannya terbuai mimpi. Setelah memastikan bahwa putraku terlelap, aku memandangnya dengan perasaan sedalam samudera, dengan cinta seluas semesta. Tak terasa mataku basah, aku didera rasa paling syahdu setiap kali hanyut dalam denyut kasih yang hanya dipahami seorang ibu.  

Masih jelas bermain dalam memori, ketika tangis Raja hadir dan memberikan warna baru dalam ruang gelap yang telah lama aku huni sendiri. Mataku terpejam, mati-matian mengendalikan emosi. Aku tak ingin lagi menangisi sisa cerita lama. Kini Raja telah tumbuh menjadi anak lelaki pintar berhati lembut. Tak terasa, setelah 9 purnama aku membawanya dalam kandungan kini 3 tahun berlalu sejak ia lahir ke dunia fana.

Aku membesarkannya seorang diri. Menimangnya setiap malam, menyusui tanpa henti, menggadai jam tidur demi melihat Raja tidur nyenyak. Semua kulakukan tanpa kawan, seorang diri menguatkan hati. Bayi mungil dengan tatap mata polos itu adalah alasanku tetap hidup sampai sekarang.

Ketika melihat Raja tertawa, ia mengajarkanku bahagia dengan cara sederhana. Saat kudapati ia lemah terserang demam, aku mengerti tentang artinya sakit tanpa luka. Tuhan mengambil banyak hal dalam hidupku disaat bersamaan, namun Tuhan mengirimkan anugerah terindah yang tak ternilai sebagai gantinya. Dari sosok bocah berkulit putih yang Tuhan titipkan padaku, aku mendapatkan  ribuan kali lipat bahagia.

Menjalani hari-hari berdua hanya dengan Raja seringkali menguras batas kesabaran. Bagaimana tidak, ketika diri ini terlalu lelah untuk bercanda Raja justru menginginkan aku untuk menjadi teman bermain kuda-kudaan. Saat mataku sudah sangat lelah untuk sekadar menguap, Raja justru memintaku untuk menjadi teman curhatnya. Masih ada lagi, kau ingin tahu? Biar kuceritakan sedikit.

Ketika nafsu makan sedang menggebu, menyantap hidangan pemberian Allah dengan penuh syukur Raja merengek minta buang air besar dan ketika ibunya yang ingin buang  air besar Raja malah tak ingin bermain sendiri. Akhirnya, supermom harus memutar otak untuk membuat si jagoan aman bersamanya dalam kamar mandi.

Tak jarang aku di luar kendali hingga bersikap sedikit kasar pada bocah mungil tanpa dosa itu hanya karena sikapnya seringkali memantik emosi padahal aku tahu benar Raja tak pernah bermaksud membuatmu kesal dan marah. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia begitu membutuhkan bantuanku, ia memerlukanku dalam setiap hal. Setidaknya untuk saat ini. Ah, maafkan mama sayang.   

Sejak Raja dalam kandungan, aku telah terbiasa berdua hanya dengan Raja. Membagi duka lara hanya dengan putraku. Aku tahu Raja telah merasakan seluruh pedih dihati ibunya bahkan saat ia belum lahir ke dunia ini. Kemudian saat ia telah benar-benar menjadi warga dunia, Raja tahu benar bahwa hanya aku yang selalu di sisinya. Mulai dari membuka mata sampai menutup mata lagi, hanya ada aku bersamanya. Tak ada kawan mengganti popok di malam hari. Tak ada genggaman yang menguatkan ketika aku harus merasa lelah menjalani semuanya sendirian.

Kini Raja sudah bisa melakukan beberapa hal sendiri. Mengganti celana, buang air kecil bahkan makan. Putraku seolah mengerti bahwa kemandiriannya bisa sedikit mengurangi kerepotan ibunya. Terlepas dari suka duka menjadi ibu tunggal dari Raja, aku selalu mengkhawatirkan satu hal. Peran Ayah yang tak sedikitpun diperoleh Raja. Aku tahu ia berhak untuk itu, namun apa dayaku? Memikirkan ini membuat luka kembali menganga. Ah, biarlah Tuhan yang menyelesaikannya. Aku percaya Dia Yang Maha Kuasa tak akan membiarkan hambaNya dalam bahaya. Jadi biarkan segenap resah kupasrahkan pada Tuhan. Menunggu jawaban terbaik dengan sisa kesabaran.

***

“Assalamualaikum.” Aku masuk ke rumah dengan hati-hati.

“Waalaikumsalam.” Mamaku menjawab salam dengan mengatupkan telunjuk ke bibir tanda aku tak boleh berisik.

“Raja tidur ma? Masih demam ga?” Aku meletakkan belanjaanku dengan pelan, tak ingin sedikitpun mengusik putraku yang terlelap.

“Iya, baru aja tidur. Demamnya masih sama, sepertinya kita harus membawanya ke dokter.” Mama mendekat dan duduk di sampingku. Aku tahu dalam keadaan seperti ini, kekhawatiran mama lebih besar karena mama tak ingin melihatku terbelenggu resah dan semakin kesulitan menghadapi kenyataan bahwa aku harus merawat Raja sakit sendirian. Mama tentu tahu ini bukan hal yang mudah.

“Iya ma, besok biar aku bawa ke dokter. Sekarang mama istirahat, sudah malam. Aku juga lelah.” Aku memilih beranjak meninggalkan mama yang terlihat lebih resah. Ragaku benar-benar ingin merebah.

“Ma… mama….” mataku belum sepenuhnya terpejam ketika samar kudengar suara Raja memanggilku, lirih.

“Iya sayang….” Setengah sadar aku menghampiri Raja. Menggendongnya, aku tahu yang dia mau. Susu. Masih dalam gendonganku, kuajak putraku ke dapur  membuatkannya susu.

“Mamaaaaaa… Raja maa, Raja kenapa?” Sekencang mungkin aku berteriak. Aku tak siap dengan pemandangan yang baru saja terjadi.

Sedetik lalu, putraku masih tersenyum saat aku memeluk dan menciumnya. Belum sempat ia meminum susunya, tubuhnya terguncang hebat. Sekujur tubuhnya menegang, kaku. Matanya melotot untuk kemudian layu, sayup meredup. Inikah yang namanya kejang? Aku panik tak terkira.  

“Bawa ke UGD! Sekarang!” Mama berteriak tak kalah panik. Keadaan rumah menjadi kacau.

Adik laki-lakiku segera meraih kunci mobil dan bergegas mengantarkanku ke Rumah Sakit terdekat. Dalam dekapanku, Raja terkulai lemah tak berdaya. Matanya tertutup rapat. Berbanding terbalik dengan mataku yang tak henti mengalirkan bening. Bertahanlah nak…. Jangan secepat ini. Diantara derai tangis, batinku tak pernah mau memberi jeda untuk terus berdoa melafadzkan semua ayat Tuhan berharap Kemurahan dan KeajaibanNya.

“Suster tolong anak saya suster. Dia baru saja kejang, sekarang tak sadarkan diri.” Aku menghambur ke meja petugas jaga UGD Rumah Sakit terbesar kota ini.

Suster dengan sigap membawa putraku ke pembaringan. Alat-alat medis yang aku kenali dengan baik segera terpasang ke lengan mungil Raja. Ia menangis kesakitan, tapi hanya sepersekian detik saat tajamnya jarum menyentuh permukaan kulitnya. Setelah jarum itu terpasang sempurna, Raja kembali melemah. Tangisnya reda seketika. Matanya tertutup rapat lagi, tangisku pecah.  Aku terus memeluknya. Membisikkan doa-doa terbaik seorang ibu. Pertama kalinya aku merasa belum siap dan menolak kehilangan. Jika ada syarat yang diajukan Tuhan untuk membuat Raja tetap menetap bersamaku maka akan kulakukan, meski nyawaku yang diminta.

Empat jam berlalu, Raja telah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya masih sangat lemah. Di ruangan sedingin ini, aku bersimbah peluh. Mama, adik-adikku dan paman bibiku beserta semua anaknya ada memberikan dukungan. Mereka semua berkumpul memberikan doa terbaik bagi Raja. Rasanya aku tak sanggup lagi menghadapi pemandangan ini, putraku benar-benar tak bergerak tapi nafasnya masih dapat kurasakan seperti detaknya yang masih samar kudengar. Kata dokter, ini biasa terjadi pada anak yang mengalami kejang, setelahnya ia akan lemas. Selama degupnya tak meredup bersama matanya yang kian layu, tak ada yang perlu dirisaukan. Aku mengerti  penjelasan dokter, sayangnya penjelasan yang terkesan menghibur itu tak membuatku berhenti tersedu pilu memecah sunyi.

“Raja akan baik-baik saja mbak, dia kejang karena demamnya cukup tinggi mencapai 39’ biasanya disebabkan oleh infeksi dan merupakan respons dari otak terhadap demam yang terjadi di hari pertama demam. Pada umumnya kejang demam pada anak dialami bayi usia 6 bulan hingga anak usia 5 tahun. Setelah demam anak akan mengalami beberapa kondisi seperti lemas dan tertidur. Dalam beberapa jam kedepan, Insya Allah Raja akan bangun.” Dokter mengusap pundakku sebelum ia berlalu setelah memberi penjelasan panjang lebar mengenai kondisi yang dialami putraku.

“Ma… mama….” Aku mendongak demi mendengar suara itu. Suara yang sejak 3 tahun terakhir sangat lekat di telingaku. Raja membuka matanya, aku dan semua keluargaku bangkit menghampiri ranjang perawatan. Bocah mungil yang tergolek lemah di hadapanku berusaha bergerak ingin memelukku. Aku mendekat. Membawanya dalam dekap. Semua anggota keluarga yang hadir menangis haru. Aku mendaratkan kecup bertubi-bertubi. Akhirnya aku bisa bernafas lega.

Pukul 02.00 dini hari. Satu persatu keluargaku telah  meninggalkan aku dan Raja. Aku menatap putraku lekat-lekat. Tubuh mungil Raja sudah lelap dalam nyenyak. Tak terasa mataku basah kesekian kalinya. Aku menangisi diriku sendiri. Tak terbendung penyesalanku di masa lalu, ketika aku ingin menyerah bahkan merasa hidup tak lagi bermakna. Kejadian hari ini benar-benar menampar nalarku. Bagaimana bisa aku ingin menyerah meskipun hanya sebatas angan? Sungguh malu aku pada diriku sendiri. Tuhan telah memilihku sebagai penerima amanah menjadi ibunya Raja. Lalu hanya karena aku harus menjalani takdir sebagai single parent aku hendak menyerah begitu saja?

Tak terbayang apa jadinya jika saat itu aku benar-benar menyerah. Siapa yang akan mendampingi malaikat kecil ini dalam kondisi seperti sekarang. Demi melihat tubuh putra semata wayangku terbaring lemah, aku berujar janji sendiri. Tak akan lagiku biarkan asaku redup meski sedetik. Tak akan lagi kuberikan kesempatan hatiku untuk merasa sendiri. Tak akan pernah lagi ada keinginan untuk pergi terbersit dalam diri. Telah kuputuskan untuk tetap bertahan. Sekuat apapun badai menerjang, aku akan tetap di sini bersama putraku. Tak peduli berapa banyak halang rintang, aku tak akan beranjak dari sisi putraku. Akan kupastikan aku selalu menjadi ibu terbaik selama nafas masih kuhela.

Melaui Raja, Tuhan memberikan alasan sebuah kekuatan. Melalui malaikat kecil yang Tuhan kehendaki lahir dari rahimku, Tuhan ingin aku bersabar sedikit lagi demi sebuah bahagia. Karena kehadiran putraku Raja adalah cara Tuhan membuatku lebih dari sekadar mengerti arti perjuangan.

Pada akhirnya aku memang harus tetap bertahan, karena putraku Raja adalah alasan terbesar yang Tuhan berikan untuk menjadi dasar perjuanganku menjalani hari demi hari. Hingga suatu saat nanti putraku mengerti bahwa ia tak pernah sendiri. (*)

 

Penulis: Pandan Arum Ayu Darmayanti

Pandan Arum Ayu Darmayanti, kelahiran 7 Juli 25 tahun silam di kota Susu Boyolali, Jawa Tengah yang suka menulis sejak Sekolah Dasar. Ibu dari jagoan bernama Raja ini adalah pengagum senja dan hujan, sejak remaja ia jatuh hati pada warna merah muda. Kini ia sedang berusaha mewujudkannya dengan melahirkan beberapa antologi sebagai langkah awal. 

***

Cerpen di atas telah ikut serta dalam project antologi bertema MY STRENGTH yang diselenggarakan oleh komunitas online Amateur Writter Indonesia dan terpilih menjadi naskah dengan cerita terbaik dari kurang lebih 100 naskah lain kiriman penulis muda yang berasal dari berbagai daerah Indonesia.

Baca Lainnya
  • 27 November 2018 - 08:43

    Gua Ayah