Breaking News

Kisah Para Sahabat Herman ‘Seventeen’

Jatuh bangun dalam prestasi membuat band kenamaan yang berasal dari Yogyakarta itu terus bertahan di belantara musik Indonesia. Universal Music Indonesia, salah satu perusahaan musik yang menaungi Seventeen saat masih belia, kala digawangi Herman Sikumbang, Yudi, Bani, dan Andi, mampu menggetarkan publik dengan lantunan nada-nada indah.

Canda tawa bersama Herman masih terngiang di kepala Fajrin Ali Mahmud, raut wajah kusam terpampang jelas oleh Fajrin, di ruangan Prefecto, salah satu percetakan di Takoma, Ternate, 26 Desember 2018.

Fajrin berkisah, ia, Herman, dan Ivan Dahlan pernah ngamen bersama. “Saat itu, vokalis kami Ko Ivan, saling sikut karena belum pernah ngamen di Yogyakarta. Kami ngamen di Malioboro hasilnya biar cuma recehan oleh pengunjung tapi memberi kesenangan tersendiri menurut Herman,” kenang Fajrin.

Fajrin tertunduk. Sesekali menggelengkan kepala. Tampak tak percaya ketika mendengar informasi mengenai tsunami yang melanda Banten dan Lampung, dan band Saventeen ada di sana. Beberapa hari sebelumnya Herman sempat menghubungi Fajrin.

“Rhines, Januari nanti siap-siap saya balik dari Jakarta kamu cetak baliho, saya baru selesai sakit. Dua hari sakit, tetapi sekarang sudah mendingan, rencana mau manggung di Pantai Banten,” kata Fajrin, meniru kata-kata Herman. Rhines adalah sapaan akrab Fajrin.

Fajrin, seorang laki-laki yang juga berasal dari Indonesiana, Tidore dan Herman Sikumbang yang berasal dari Tomagoba memang sudah bersama sejak TK hingga SMP. Berpisah saat masuk  SMA, ketika Fajrin memilih SMA 1 Ternate dan Herman ke Yogyakarta. Setelah SMA kelas 2, Fajrin juga pindah ke Yogyakarta pada 1998. Di Yogyakarta, mereka kembali bertemu. Kala Herman bersama teman-temannya membentuk Band Seventeen, Fajrin diajak oleh Herman untuk bergabung menjadi Kru Seventeen hingga album ketiga.

Saat di Yogyakarta Herman sekolah di SMA Muhammadiyah 3 bersama Yudi, Bani, Riza, dan Andi. Mereka mulai mengikuti band-band dalam festival. Saat di Yogyakarta, Herman tinggal di Pathuk Asrama Padang. “Setelah beberapa tahun dia pindah kosan bersama saya,” kata Fajrin. Suaranya mulai lirih.

Sedangkan Ivan Dahlan, sebagai senior dan mahasiswa Periklanan di Yogyakarta kala itu, sering diskusi dan membantu mengabadikan foto-foto hingga terlibat sebagai fotografer Seventeen.

Kilas balik bersama Herman juga Seventeen itu, dikenang Ivan Dahlan. “Saya awalnya kuliah di Periklanan di Yogyakarta bersama Rhines, kawan Herman yang juga dari Tidore. Awal mula saya kenal mereka ketika pulang kuliah selalu lihat mereka nongkrong di Gang, kemudian Rhines memperkenalkan mereka ke saya. Selama bersama mereka di Yogyakarta, semangat dan motivasi anak-anak itu yang memberi pelajaran juga ke saya, yang saat itu sudah kuliah sedangkan mereka masih SMA,” kenang Ivan.

Ivan bilang, ketika bersama, mereka merilis album pertama yang berjudul Bintang Terpilih dan beberapa lagu. Mereka mulai membuat proposal untuk sejumlah perusahan musik, di antaranya Sony BMG, Warner, Musica, Aquarius, dan Universal Music Indonesia. Saat proposal itu dibuat, dirinya diajak jadi fotografer, membuat cover album. “Diskusi dan risau terpampang di wajah mereka waktu itu akhirnya terjawab ketika surat dari Kantor Pos oleh Universal Music Indonesia bahwa mereka diajak ke Jakarta untuk launching album di Thamrin, Jakarta Pusat,” kisahnya.

Tiba-tiba air mata Ivan menetes, saat menceritakan sosok Herman. Menurut Ivan, Herman bisa dikatakan sebagai panutan dan tokoh bagi musisi di Maluku Utara. “Herman meski ada juga darah Padang tetapi masih terus mengangkat nama Maluku Utara di nasional. Para musisi belajarlah seperti Herman, ia sederhana, tidak menganggap diri sebagai publik figur yang angkuh,” ujar Ivan.

Herman Sikumbang bersama Seventeen memang sudah melahirkan banyak karya, itu dapat dilhat dari sejumlah album, seperti Bintang Terpilih (1999), Sweet Seventeen (2005), Lelaki Hebat (2008), Dunia yang Indah (2011), Sang Juara (2013) dan Pantang Mundur (2016) dan beberapa single.

Sebulan sebelum tsunami di Banten dan Lampung, Herman sempat tampil di Ternate dalam pagelaran Pesta Komunitas Ternate #2. Bersama perintis sanggar Timur Jauh, Hasan Ali atau dikenal dengan Ata Dengkofia, mengiringi Faris Bobero yang juga sebagai Kepala Jalamalut, membaca puisi berjudul Loema Dara. Nama Loema Dara diambil dari salah satu tokoh dalam karya Mangunwijaya,  “Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa”.

Musikalisasi puisi itu tidak diagendakan. Hanya Ata Dengkofia dan Herman yang akan tampil kolaborasi. Tapi saat mau naik panggung, Herman memanggil Faris. Ia meminta Faris membacakan puisi kemudian diiringi musik olehnya bersama Ata Dengkofia. Penampilan itu juga menjadi kolaborasi terakhir bersama Herman di Pesta Komunitas Ternate.

Zandry Aldrin, Koordinator Jaringan Komunitas Ternate atau Jarkot, pun menceritakan saat Herman sempat meminta untuk menjadi bagian dari Jarkot dan Pesta Komunitas Ternate. “Yang terlintas di kita itu pertama yang pasti suntikan semangat, ketika sosok yang selalu jadi inspirasi anak muda Ternate tiba-tiba mau berbagi peran di komunitas kecil seperti kami, mau bersama-sama membangun daerah lewat sektor-sektor informal,” katanya.

Dikatakan Zandry, sosok Herman, adalah senior yang selalu mengayomi dan memberi inspirasi. “Sampai kapanpun Ko Herman akan tetap jadi bagian kami, dia tetap hidup dalam semangat kami, untuk terus berbuat bagi daerah ini, bagi kami seorang legenda tidak akan pernah mati,” kenangnya.

24 Desember 2018, jenazah Herman Sikumbang itu tiba di tanah yang dicintainya, Maluku Utara. Kala sampai di sini, memberi kesedihan mendalam kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat.

Kini sendiri di sini, mencarimu tak tahu di mana, semoga kau tenang di sana….

Penggalan lirik “Kemarin” yang diciptakannya dua tahun lalu itu, yang juga karya terakhirnya itu, seolah dibuat untuk kisahnya sendiri.

Penulis: Risman Rais/Kru Jalamalut

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *