WARTA

Sabtu, 29 Desember 2018 - 20:33

11 bulan yang lalu

logo

Mareno Saya, Ziarah hingga Deklarasi Ke-Pahlawan-nan Baabullah

Wangi pandan dan cempaka segar semerbak dari arah empat nenek renta berkonde dan berkebaya putih di pojok utara Pendopo Kedaton Ternate. Mereka adalah Kalsum (72), Manawia (73), Hj Saffa (62), Kuraisin (70), yang sedang menyiapkan bunga rampai untuk Acara Ziarah Makam Para Sultan untuk memperingati Hari Jadi Ternate ke-768.

“Tahun 1986 gunung Gamalama Meletus. Torang (kami) sudah biasa iris bunga rampai di Kadaton. Waktu itu Jo’Ou (Sultan) kasih tahu orang yang percaya saja yang bisa bikin bagini. Kalau tidak percaya lebih baik tidak usah,” ucap Kalsum, Kamis 27 November 2018 Kemarin.

Kalsum bilang, sudah 30 tahun mengerjakan tradisi mareno saya (memotong/mengiris bunga). Kalsum dan Kuraisin yang tinggal di Sidangoli dan Ake Jailolo, Halmahera Barat rela memeras waktu dan tenaga dengan bolak-balik Ternate-Sidangoli tiga kali seminggu demi menjaga amanat dari Sultan.

“Saya percaya apa yang Jo’Ou bilang. Jadi saya tidak keberatan,” ucap Kalsum.

Menurut Hj, Saffa, tradisi mareno saya di kedaton dilakukan oleh lima orang saja. Jika salah satu dari mereka meninggal dunia, maka ia berharap tradisi tersebut akan diteruskan oleh keturunan mereka. “Kalau bukan dari keturunan kami, istri khatib dan imam juga bisa,” ucapnya sambil mengunyah pinang.

Ratusan peziarah berjalan kaki dari Mesjid Heku, Akehuda menuju Kedaton Kesultanan Ternate | Foto Nahdi Ade

Semangat menjaga tradisi dan budaya itu pula menjadi alasan mendasar Keluarga Malamo Tarnate (KARAMAT) menyelenggarakan kegiatan Ziarah Makam-Makam Para Sultan Tarnate. Kegiatan yang diberi tema “sigodiho doka sosira” (kembalikan Seperti Dulu), itu digagas bersama beberapa paguyuban ini berlangsung selama dua hari 26-27 Desember kemarin.

Pada hari pertama, acara Ziarah Kubu Lamo (Makam Besar) di Lingkungan Siko dan Kubur Sultan Baabullah di Puncak Foramadiahi hanya dilakukan oleh para Imam dan Khatib Sigi Heku dan pengurus Karamat. Sementara acara puncak kemarin dilanjutkan dengan kegiatan Ziarah Kubur Para Sultan dan Deklarasi Sultan Baabullah yang diiukuiti oleh ratusan warga dan perwakilan masyarakat di Pendopo Kesultanan Ternate.

Ratusan peziarah dari Sigi Heku Kelurahan Akehuda, kemudian peserta berjalan kaki menuju Kadaton Kesultanan Ternate untuk mengambil bunga rampai yang sudah disiapkan oleh Kalsun bersama ketiga ibu lainnya.

Setelah mengambil bunga rampai, peziarah melanjutkan perjalanan menuju Sigi Lamo (Mesjid Besar) untuk berziarah di makam Para Sultan Ternate dan makam Sultan Muhammad Ali di Kompleks Pemakaman Soasio.

Para Imam dan Khotib meembaca doa di atas makam Almarhum Sultan Mudaffar Syah | Nahdi Ade

Selasai dari situ, peziarah berjalan menuju Kadaton Kesultanan Tarnate untuk melaksanakan pembacaan doa oleh Perangkat Kesultanan Ternate dan dilanjutkan dengan acara selanjutnya, yakni Deklarasi Sultan Baabullah Datu Syah sebagai Pahlawan Nasional .

“Semangat tanpa pamrih yang terlihat para bobato (perangkat adat) dan nenek itu, mengingatkan sejarah tahun 1570 ketika Khairun bersumpah untuk menjaga perdamaian dengan Portugis. Tetapi Portugis mengkhianati Khairun dan di Benteng Nostra Senora Del Resario, Khairun dibunuh kemudian Baabulah mengangkat senjata dan mengusir Portugis hingga ke 72 pulau,” papar Ketua Panitia Abd Rahman Salam dalam sambutannya.

Kegiatan ziarah kubur, kata Rahman, perlu dipertahankan sebagai ritual atau tradisi masyarakat Ternate dan dikembangkan menjadi wisata religi di kota Ternate. Sementara deklarasi Pahlawan Nasioanal adalah pengingat sekaligus kewajiban bagi generasi saat ini agar menghargai sejarah.

“Sultan Baabullah bukan hanya milik masyarakat Ternate, tetapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Keikhlasan Kesultanan Ternate menyerahkan kedaulatan negeri kepada negara harus diperhatikan oleh negara dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Baabullah,” tegasnya

Perwakilan Paguyuban bersama Preiedium KARAMAT meegang Naskah Deklarasi yang ditandatangani bersama | Foto : Risman Rais/Jalamalut

Sementara itu, Sukarjan Hirto, yang memberi sambutan selaku Pembina KARAMAT, mengajak kepada seluruh masyarakat dan seluruh stakeholder untuk menjadi saksi perjuangan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional. Sultan Baabullah rela menyerahkan nyawanya untuk negeri ini, maka gelar Kepahlawanan menjadi penghargaan wajib diberikan atas jasanya.

“Kami siap bertarung nyawa untuk memperjuangkan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional,” katanya.

Jou Ngofa Firmansyah mengapresiasi langkah KARAMAT sebagai penggagas Deklarasi Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, Sultan Baabullah adalah mimpi buruk bagi Portugis di Nusantara. “Marilah kita mengusul dan mengawal sampai tuntas sehingga apa yang kita cita-citakan dapat terwujud. Setelah Sultan Baabullah, kita memperjuangkan Sultan Iskandar Djabir Syah sebagai Pahlawan Nasional,” harapnya.

Kegiatan ditutup dengan Pembacaan Teks Deklarasi Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional oleh  Presidium Madopolo KARAMAT, M. Ronny Saleh, yang dikuti seluruh paguyuban dan tamu undangan serta penyampaian testimoni yang diwakili oleh Perangkat Adat Kesultanan Ternate, Forum Pembauran Kebangsaan Kota Ternate, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan,  Kapita Canga, Kapita Tahane, dan Komunitas Sanana, sebagai komitmen bersama mendukung Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional.

 

Penulis : Risman Rais/Kru Jalamalut

Baca Lainnya