Breaking News

Mengenang Herman Sikumbang

Sedih terselip tabah terpancar di wajah H. Syahril Sikumbang dan Hj. Amurni H. Muhammad, orang tua almarhum Herman Sikumbang di Kelurahan Tomagoba, Kecamatan Tidore Pulau, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Senin 24 Desember 2018.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, disertai isak tangis keluarga, kerabat, menggema di setiap sudut ruangan rumah sang gitaris grup band Seventeen itu.

Kabarnya, jenazah Herman tiba di Ternate pukul 15.30 WIT menggunakan maskapai Batik Air. Kemudian dibawa ke kampung halamannya di Tidore. Ikut dalam pengantaran, Juliana Moechtar (istri almarhum), adik dari istrinya, mertua, kakak kandung almarhum serta rekan Herman asal Tidore.

Syahril, ayah dari almarhum Herman Sikumbang mengenang sosok anaknya itu. Syaril bercerita, awalnya ibu Herman, Amurni memberi tahu bahwa ada peristiwa tsunami di Banten, setelah menyaksikan rangkaian peristiwa yang ditayangkan di layar kaca. “Saat itu saya sedang tidur,” katanya.

Namun, ketika nama Eman – sapaan akrab – Herman Sikumbang disebut, barulah Syahril kaget. “Ketika mamanya sebut nama, saya kaget. Jujur, anak ini terlalu banyak kesannya dengan saya,” tutur Syahril, sembari meneteskan airmata.

Salah satu yang paling membekas di hati Syahril adalah, setiap Herman akan berangkat ke Jakarta, kerap memeluk kedua orang tuanya. Kemudian, selalu ada hal-hal yang Herman ceritakan ketika bertemu dengan orangtua. “Baik saat mau manggung dan setelahnya. Salah satu kebiasannya itu, kalau mau ke Jakarta, dia peluk saya, peluk mamanya, peluk kaki mamanya.”

Herman, di mata Syahril, adalah anak yang tidak pernah menyusahkan orang tua. Orangnya penurut. “Dia kalau mau pamit, peluk saya. Peluk kaki. Itu dia lakukan sejak dia tinggal di Jakarta,” tuturnya.

Kembali, Syahril dan Amurni tak sanggup membendung deraian airmata. Syahril bilang, dia tidak sanggup melihat detik-detik Herman terjatuh dari panggung saat gelombang menerjang. “Saya tidak sanggup,” ucap Syahril terisak.

Dikatakan Syahril, tiga hari sebelum kejadian, Herman sempat menelepon ibunya. Herman bilang, akan pulang ke Tidore pada Januari 2019. Soal firasat, nyaris tak ada yang ada yang dirasa.

“Mamanya juga tidak punya (firasat). Tapi beberapa waktu lalu, saya memang ingin telepon dia. Tapi tidak sempat,” katanya. Namun nasib berkata lain. Herman terlebih dahulu dipanggil sang kuasa dalam peristiwa pilu itu.

Kecintaan Syahril kepada Herman tak tertandingi. Bahkan tak ingin berjauhan dengan putranya itu, Syahril menyiapkan lokasi pemakaman tepat di belakang rumah. “Sengaja saya makamkan di situ. Supaya tidak terlalu jauh dengan saya,” tutupnya.

Herman adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Dalam peristiwa ini, almarhum meninggalkan istri dan dua orang anak.

Penulis: Nurkholis Lamaau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *