Breaking News

Menjahit Kesenjangan dengan Kreatifitas; Ekonomi Kreatif Investasi Masa Depan

Oleh: Rendra Manaba*

Suatu daerah dikatakan tertinggal karena adanya kesenjangan ataupun ketimpangan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat, baik dari kebijakan anggaran yang mempengaruhi infrastruktur maupun keputusan pembangunan yang tidak berkeadilan dan merata, serta kehidupan sosial dari kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan pendapatan ekonomi masyarakat.

Upaya penanggulangan kesenjangan dapat dilakukan dengan menjahit kesenjangan tersebut dengan kreatifitas, menggunakan benang biru dan benang hijau yang merupakan potensi dasar yang ada di daerah tertinggal, pinggiran ataupun perbatasan yang banyak terdapat di wilayah Indonesia bagian timur.

Benang biru adalah potensi dasar dari kelautan (hasil laut), kemaritiman dan pariwisata. Sedangkan benang hijau adalah potensi dasar kehutanan, pertanian, perkebunan dan peternakan.

Proses menjahit dengan kreatifitas dimulai dari pemetaan potensi dasar daerah melalui penelitian pengembangan secara ilmiah (R&D). Kemudian menancapkan pola pikir masyarakat lewat edukasi dan pemberdayaan membentuk SDM menjadi produktif yang dapat menghasilkan karya baik berbentuk barang ataupun jasa, selanjutnya akses pasar hasil karya masyarakat tersebut. Terakhir synergy stakeholders dengan menjaga keberlanjutan dengan membentuk ekosistem dan menciptakan iklim kebersamaan yang kondusif serta menyatukan semua asset dari seluruh potensi daerah.

Akselerasi kreatifitas dimulai dari ide kreasi, produksi, distribusi, eksibisi dan pangsa pasar merupakan tumpuan utama dalam hasil dari jahitan kesenjangan, serta konservasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk di suatu daerah (baik kota, kabupaten maupun desa). Menumbuhkan kesadaran terhadap hak kekayaan intelektual, pengemasan produk dan perlindungan hak cipta. Menciptakan sinergi dan kolaborasi antara stakeholders ‘pentahelix’ diantaranya pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas dan media dalam pembangunan daerah dan pengembangan masyarakat wajib terselenggara secara seksama.

Ada 3 (tiga) sektor kehidupan yang menjadi parameter kesejahteraan suatu daerah beserta warga masyarakatnya yaitu; Fisik, Sosial dan Ekonomi.

Nilai ekonomi tidak selamanya diukur dengan uang, hakikat dari makna ekonomi adalah memenuhi kebutuhan. Peningkatan ekonomi harusnya didasari pada pendapatan masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan dasar secara adil dan merata. Membentuk masyarakat menjadi produktif dengan mengangkat potensi yang dimiliki dari setiap kelompok masyarakat di masing-masing lingkungan. Dengan kreatifitas dapat mengaktivasi jiwa kewirausahaan muda dan menyulut naluri bisnis yang tepat sesuai dengan hobi maupun karakternya.

Pelatihan produktifitas keluarga merupakan salah satu solusi agar potensinya dapat tercuak hingga melahirkan usaha rumahan dengan harapan terbentuk home industry di setiap lingkungan masyarakat berdasarkan potensi yang ada disekitarnya. Nilai ekonomi harusnya dapat tergambar jelas dan terasa langsung pada warga masyarakat. Kehidupan sosial masyarakat dapat terwujud jika interaksi sosial dapat terbangun dan terpelihara dengan baik. Menumbuhkan kembali identitas masyarakat yang santun, selalu memelihara silatuhrahmi, menjaga harkat martabat keluarga merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang kokoh.

Memanfaatkan ruang kosong (negatif) yang ada di lingkungan masing-masing menjadi ruang interaksi sosial dan fasilitas umum (Ruang Terbuka Publik) menjadi jawaban agar terjaga silatuhrahmi dan komunikasi aktif di lingkungan masyarakat (positif). Rekayasa sosial dapat dibangun dengan mengubah kebiasaan buruk masyarakat terhadap lingkungannya agar tercipta kehidupan bermasyarakat yang aman, damai, tertib, bersih, serta berestetika dan beretika karena adanya kesadaran akan hal itu.

Fisik atau Infrastruktur merupakan hal paling mudah untuk dilaksanakan karena faktor utamanya adalah dana. Membangun daerah bukan dengan orientasi proyek sesaat, tetapi dengan orientasi program berkelanjutan, terarah dan tepat sasaran agar terwujud sinergitas, solidaritas dan kolaborasi serta membentuk jejaring kebaikan untuk melahirkan program tepat guna. Pembangunan infrastruktur harusnya dibarengi dengan pembangunan karakter. Bagaimana menanam kebanggaan masyarakat hingga memanen keceriaan dan kegembiraan masyarakat serta menumbuhkan empati, inisiatif, antusias dan kepedulian penduduk di setiap daerah.

Pembangunan fisik di daerah harusnya terkurasi dengan melibatkan sejarawan, seniman, budayawan, komunitas dan para kreator lokal. Agar pembangunan infrastruktur berkarakter lokal terbangun, sehingga menjadi sebuah monumen tematik yang membangkitkan semangat, motivasi dan etos kerja masyarakat serta kebanggan akan daerahnya sendiri. Pemanfaatan material fisik (batu, pasir, kayu, air, dan sebagainya) yang ada di sekitar lingkungan dan melibatkan secara langsung warga sekitar adalah hal terpenting dalam pembangunan infrastruktur. Otomatis pemberdayaan warga masyarakat terwujud, yang secara afiliatif membentuknya menjadi produktif serta masif dalam berkarya.

Kampanye ekonomi dan industri kreatif harusnya digalakkan lewat kegiatan sosial kemasyarakatan dengan lebih kreatif dan interaktif berbentuk MICE yang menggabungkan segala jenis event yaitu meeting, incentive, convention dan exchibition. Kegiatan ini menjadi fundamental sebagai bursa inovatif atau festival kreatif yang memamerkan segala hasil kreatifitas dan inovasi suatu daerah yang membangkitkan kebanggaan, antusias, apresiasi terhadap karya lokal, serta menumbuhkan kepedulian dan inisiatif masyarakat untuk ikut serta dalam berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Peran masyarakat sangat mempengaruhi pencapaian dari proses penyelenggaraan pemerintahan yang kuat itulah hakikat monumental. Dengan kegiatan tersebut seluruh potensi daerah akan tersosialisasikan dengan tepat. Methodology city branding, promo destinasi wisata, produk unggulan, tingkat kebahagiaan warga masyarakat serta sinergitas, solidaritas dan kolaborasi seluruh perangkat daerah (pentahelix) dapat terlukiskan dengan indah. Dari MICE juga dapat membuka akses pasar lebih luas, dapat lahir jejaring dan konektivitas nasional dan internasional demi memperkuat kepentingan daerah serta kebutuhan penduduk daerah tersebut.

Hal terpenting dari itu semua adalah terwujudnya sinergi pentahelix ABCGM stakeholders, Academics dengan kekuatan riset dan transformasi, Business dengan kekuatan modal dan pengalaman berusaha, Community sebagai civil society memiliki kekuatan sosial, Government dengan political will memiliki kekuatan anggaran dan regulasi serta Media dengan kekuatan informasi.

Sinergi pentahelix tersebut harus menggunakan jalur komunikasi inklusif yaitu jalur koordinasi lingkaran bagaikan rotasi bumi yang berputar pada porosnya. Tidak menggunakan jalur koordinasi kotak dimana para stakeholders bermain di sudut bagaikan komunikasi antar eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya koordinasi dan komunikasi jangan hanya di kantor, hotel atau ruang khusus pejabat, tapi di geser pada ruang inklusif seperti di kedai kopi, pasar, taman atau ruang publik lainnya. Untuk menjaga mesin jahit tetap beroperasi dengan baik dan benar diperlukan kekuatan CCC yaitu Connect, Collaborate, Commerce/Celebration bersama-sama.

Siklus ekosistem ekonomi dengan iklim kreatifitas wajib terpelihara dengan baik dan terkontrol dengan benar, jangan sampai jahitan benang biru dan benang hijau terputus serta merusak jarum benangnya. Karena dengan menjahit kesenjangan lewat kreatifitas tingkat kesejahteraan masyarakat teraplikatifkan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Terkadang kesenjangan antara fakta dan retorika sulit diukur. Kebanyakan pemangku kebijakan mengesampingkan hal itu, yang terpenting baginya adalah menilai kinerja dengan angka-angka yang tidak komprehensif, menentukan rasio pencapaian yang tidak akumulatif.

Perlakuan dari kebijakan ataupun peraturan hanya untuk menjaga kepentingan, serta kesimpulan yang diambil hanya merupakan bentuk pencitraan. Olehnya itu mari bersama-sama menanamkan nilai-nilai pancasila sebagai dasar Negara serta semangat gorong royong yang harus dimaknai dan diterjemahkan secara konkrit. Baik di Pusat, di Provinsi, di Kota, di Kabupaten hingga di Desa.

*Penulis adalah Founder Kendari Kreatif | Pegiat Kreatiitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *