Breaking News

Kado untuk Kota Ternate

Menjelang akhir tahun, Benteng Oranje di Kota Ternate ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional pada 8 November 2018. Penetapan ini melalui proses panjang, mulai diusulkan sejak tahun 2015.

Penetapan tersebut berdasarkan Surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 322/M/2018 Tentang Bangunan Cagar Budaya Benteng Oranje Sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional.

“Kita menghadapi proses panjang untuk menetapkan Benteng Oranje sebagai Cagar Budaya Nasional. Pertama kali sidang itu di Banjarmasin oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB Nasional) tahun 2015. Hasilnya masih ada beberapa catatan perbaikan dari TACB Nasional. Hingga sidang kedua dilakukan di Ternate tahun 2017, dihadiri Pemda Kota Ternate. Pada Kegiatan FGD Pemugaran Benteng Oranje, saya pernah bilang, usulan ini akan menjadi kado Hari Jadi Ternate pada akhir tahun ini,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara, Muhammad Husni, Senin, 17 Desember 2018.

Kepala BPCB Malut, Muhammad Husni berdiskusi dengan Okky Madasari, setelah peluncuran novel “Mata dan Rahasia Pulau Gapi” yang ditulis Okky. Peluncuran novel itu diselenggarakan oleh jalamalut di Taman Film Benteng Oranje pada, 02 Desember 2018. Foto: Faris Bobero/jalamalut.

Proses panjang pengusulan status Cagar Budaya Nasional Benteng Oranje dari tahun 2015 hingga 2018 itu, karena belum ada tim ahli sesuai bidang di Maluku Utara. Sebab itu, tim ahli cagar budaya yang terdiri dari pakar berbagai disiplin ilmu ditangani langsung oleh TACB. Data-data  dari BPCB Malut kemudian diberikan ke TACB sebagai bahan awal untuk proses penelitian selanjutnya.

Selain itu, untuk memenuhi unsur sebagai situs cagar budaya, harus memiliki nilai penting, memenuhi kriteria  yakni, bangunan berusia 50 tahun atau lebih, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Hal ini sesuai dengan Undang Undang tentang  Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010, pasal 5 poin a-d.

“Salah satu nilai pentingnya Benteng Oranje karena pernah menjadi pusat perdagangan untuk dunia. Kedua, Tercatat ada 3 orang Gubernur Jenderal yang menduduki Benteng Oranje yaitu Pieter Both (1610-1614), Gerard Reynst (1614-1615), dan Dr. Laurens Real (1616-1619),” katanya.

Sebelumnya Benteng ini bernama Benteng Malayo yang dibangun oleh Portugis. Hingga pada tahun 1607, Laksamana VOC Cornelis Matelieff de Jong, utusan Belanda itu, berhasil mengusir Spanyol dari Ternate. Setelah mengalahkan Spayol, Maelieff kemudian membangun Benteng di atas lokasi Benteng Malayo. Pada tahun 1609, Francois de Wittert mengubah Malayo menjadi Oranje. Oranje sendiri diambil dari sebuah kerajaan kecil di bawah naungan kerajaan Belanda. Kerajaan kecil tersebut dipimpin oleh seorang pangeran yang bernama Willem I atau lebih dikenal dengan nama Willem van Oranje (Willem dari Oranje).

“Salah satu hal yang membuat usulan Benteng Oranje sebagai Cagar Budaya Nasional tertunda disebabkan karea cat pada pagar benteng. Orang mengira, Oranje adalah warna orange. Lalu nama benteng dipakai warna orange padahal, Oranje adalah nama salah satu pangeran Kerajaan Belanda,” kata Kordinator  Kelompok Kerja Pemugaran dan Pemetaan BPCB Malut, Cheviano. E. Alputila S.Hum.

Husni bilang, pembangunan cagar budaya Benteng Oranje hingga sekarang adalah bagian dari kerja sama antar instansi terkait, baik Pemkot dan masyarakat. Yang menjadi pekerjaan rumah ke depan adalah, bagaimana pemanfaatannya untuk kemaslahatan, kepentingan rakyat.

Selain itu, terus perkuat edukasi tentang pentingnya menjaga situs cagar budaya; jangan mengubah bentuk, harus seperti apa adanya.

Hal penting saat ini adalah membuat regulasi, kedua dibuktikan dengan perda yang mengatur tentang situs-situs bersejarah di Kota Ternate yang dikeluarkan oleh Walikota.

Penulis: Faris Bobero

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *