JELAJAH

Minggu, 16 Desember 2018 - 20:34

1 tahun yang lalu

logo

Nonako, Warisan Pengetahuan Nelayan

Beberapa waktu lalu, tagar “Tsunami kecil-kecilan di Pelabuhan Bastiong” membuat gempar Maluku Utara. Namun, kegemparan saat itu ditanggapi biasa-biasa saja oleh Om Muin, salah satu nelayan di kelurahan Fitu di tengah kerumunan warga.

Kiapa kong ngoni panik sampe, sekarang ini bulan basar. Deng sekarang musim utara, bulan bolong nae, sabantar sekitar jam 11-jam 12 kalau bulan so nae akan aer turun,” kata Om Muin, Senin Malam, 29 Oktober 2018.

Pernyataan Om Muin, membuat masyarakat sekitar tenang dan sebagian balik kerumah masing-masing. Pernyataan Om Muin tersebut terbukti setelah bulan terlihat, maka air laut pun juga surut.

Perkataan Om Muin adalah pengetahuan lokal yang lebih dikenal sebagai “nonako”. Pengetahuan seperti nonako dijaga Om Udin sejak awal tahun 2000. Nelayan-nelayan sebaya di zamannya memiliki kosmologi-nonako sebagai penanda lokasi memancing.

Pengalaman itu membuat Om Udin bisa bertahan menjadi seorang nelayan hingga saat ini. Nonako menjadi acuan untuk mengenal laut dan tanda keberadaan ikan. Menurut Om Udin, ‘nonako laut’ biasanya dirahasiakan oleh sesama nelayan karena berhubungan dengan besar-kecilnya hasil tangkapan.

Sementara itu, Junaidi seorang mahasiswa aktif yang juga pernah menjadi seorang nelayan di Pulau Hiri, menuturkan, nonako nelayan harus didasari dengan pengetahuan mengenal alam-silogi pas (melihat tempat). Silogi pas menurut Junaidi adalah sebagai tanda alam. Dalam konteks ini, nonako tidak hanya sebagai pengetahuan lokal semata, tetapi juga berfungsi sebagai mitigasi bencana.

Berbagai pengalaman kosmologi di atas tentunya memiliki kekayaan bahasa dan semiotika. Berkaitan dengan itu, Ferdinand De Saussure, seorang ahli linguistic dalam konsepnya tentang Tanda (sign) dalam memproduksikan makna dipecah menjadi penanda (Signified) dan petanda (Signifier). Nonako adalah idiom yang telah menjadi bahasa, sekaligus sebagai tanda kultural masyarakat nelayan tempatan.

Nonako pada tingkat konotatif bisa dibaca menggunakan bahasa Roland Barthes untuk menjelaskan salah satu dari ketiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Pada tatanan ini, konotasi-nonako mengambarkan interaksi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya.(Baca: Roland Barthes)

Olehnya itu, interaksi yang berlangsung pada setiap nelayan sesuai pengalamannya. Sebelum mengetahui nonako masing-masing nelayan menggunakan silogi pas untuk menandai spot memancing. Silogi pas memerhatikan jarak antar pulau, arus laut, arah burung bertebangan serta posisi bulan dan bintang. Setelah semua tanda-tanda tersebut dikenali nelayan, disaat bersamaan nelayan memantapkan lokasi silogi pas itu sebagai nonako.

Kita tahu perkembangan zaman telah banyak mengubah dinamika pengetahuan masyarakat, terutama masyarakat nelayan. Mereka bertransformasi dari tradisional menjadi modern. Salah satunya adalah teknologi, seperti GPS (Global Position System).

Kebanyakannya nelayan saat ini menggunakan GPS untuk pengganti pengetahuan lokal mereka. GPS dipakai nelayan untuk mencari tahu arah, letak, waktu, serta kecepatan jarak tempuh. Pertanyaannya adalah apakah pengetahuan lokal orang nelayan itu akan hilang? jawabannya mungkin saja hilang jika tidak ada yang mempelajari dan mengembangkannya.

Apabila nonako ditelaah maknanya kiranya beragam sesuai konteks kajian dan pendekatan. Olehnya itu, kaum muda, komunitas maupun pemerintah perlu menjaga nilai-nilai tersebut dengan kebijakan.

Masifnya perkembangan teknologi saat ini membuat pengetahuan tentang nonako tak lagi dilestarikan oleh nelayan modern. Nonako sebagai identitas kebudayaan kita perlu dijaga dan dilestarikan, semoga tidak hilang seperti sejarah masa lalu Moloku kie Raha.

Penulis : Risman Rais/Kru Jalamalut

Baca Lainnya