Breaking News

Ino Malefo, dan Kenapa Harus Kalase?

Ketika menyebut kata ‘KALASE’ telinga dan ingatan sebagian kalangan mayarakat Ternate akan merujuk kepada salah satu identitas ‘menangkap’ ikan Nelayan Pulau Hiri, Kota Ternate. Namun sejak alat tanggap tradisional yang biasa digunakan Nelayan dilarang oleh pemerintah, nama KALASE meredup dan tak lagi menjadi ‘Oase’.

Kini, nama KALASE tidak lagi soal nelayan Hiri, tetapi tentang bahasa dan identitas orang Ternate setelah Komunitas Sastra Lisan Ternate atau disingkat KALASE dibentuk pada Minggu 28 Oktober 2018 di Soa Dorari Isa.

“Pada dasarnya, KALASE terbentuk atas kesadaran menuntut dan mengamalkan ilmu. KALASE diharapkan menjadi wadah penggerak, giat dan pelestari utama bahasa Ternate,” ujar Firjal kepada penulis, malam tadi.

Pendiri KALASE, Firjal Usdek mengatakan, KALASE adalah komunitas yang lahir dari organisasi dan study club pelajar dan mahasiswa Ternate, yakni Pusat Studi Mahasiswa Ternate (PUSMAT), Hiri Institute, Gerakan Anak Pecinta Ilmu (Gapi), Himpunan Keluarga Mahasiswa Dufa-dufa (HIKMAD) dan AUREKA.

Peserta Workshop “Ino Malefo” | Foto Junadi Dahlan

Menurut Firjal, generasi muda sebagai pemilik identitas-bahasa, perlu hadir sebagai pegiat sekaligus pelestari yang aktif mempertahankan eksistensi bahasa lewat berbagai macam cara yang kreatif dan inspiratif.

Atas dasar itu, Komunitas Sastra Lisan Tarnate (KALASE), dibentuk sebagai wadah yang giat melestarikan sastra lisan Tarnate. Seperti Dola Bololo, Dalil Tifa, Dalil Moro, Tamsil, Cum-Cum, Jarita, Pantun, Saluma dan sastral lisan lainnya yang menjadi identitas mancia [orang] Ternate.

“Jika KALASE yang dulu tak lagi menjadi Oase, maka diharapkan KALASE yang kami bentuk bisa menjadi etalase bagi kebertahanan bahasa Ternate,” ucapnya

Ino Malefo

Usai terbentuk, KALASE menggelar kegiatan perdana pada Selasa 28 Oktober 2018, di Pangaji Darul Ulum, Kelurahan Tarau, Ternate, malam tadi.  Kegiatan yang diselenggarakan berkat kerja sama dengan media komunitas Jalamalut.com itu diberi tema ‘Ino Malefo’, yakni sebuah ungkapan bahasa Ternate yang terdiri dari dua kata, ‘Ino’ berarti ‘mari’ atau kata yang bersifat ajakan, sementara Malefo memiliki arti menulis.

“Jadi kegiatan ini bertujuan sebagai ajakan untuk menulis. Kami harus pakai bahasa Ternate, agar bahasa kami tidak punah. Itu menjadi juga menjadi alasan utama kami menderikan KALASE,” kata Firjal selaku pendiri KALASE.

Rajif Duchlun (Dari sisi belakang) saat menjadi narasumber pertama | Foto Junaidi Dahlan

Lihat juga video:  Workshop Menulis “Ino Malefo”

Kegiatan belajar menulis disampaikan oleh dua narasumber, yakni Rajif Duchlun, sastrawan muda Maluku Utara yang aktif menulis cerpen, esai dan puisi, dan Nurkholis Lamaau, Redaktur Media daring KABAR.NEWS sekaligus Kepala Biro Maluku Utara.

Dalam pantauan, para peserta cukup antusias menerima paparan dari pemateri. Beragam pertanyaan pun dilontarkan. Sesekali, para peserta diajak berpikir untuk mendalami lebih jauh terkait, apa yang terkandung di balik kegiatan tulis-menulis. Jika Rajif lebih menekankan pada aspek pentingnya memiliki bahan bacaan, Nurkholis lebih pada mekanisme kaidah-kaidah menggali informasi.

Penulis : Junadi Dahlan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *