JEJAK

Minggu, 28 Oktober 2018 - 03:24

1 tahun yang lalu

logo

Antara Gang Peneleh Surabaya dan Kelompok Sasa Pantai Ternate

Catatan Refleksi HUT Independensia

Surabaya 1912 di gang Peneleh, beberapa anak muda ngekos di rumahnya De Ongekroonde van Java atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, sebutan Belanda kepada HOS Cokroaminoto. Di bawah asuhan Cokro mereka berkenalan dan membicarakan gagasan Karl Marx, Hegel, Mohamad Iqbal, sampai tokoh kontroversi, Mirza Gulam Ahmad. Mereka juga melahap gagasan dari tokoh-tokoh berpengaruh dunia, dari Abraham Lincoln, Tomas Jafferson, dan Lenin. Hingga Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaures, ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Sehimpun anak muda yang bergumul dengan diskursus itu adalah, Soekrano, Muso, Alimin, Kartosoewijdo, dan Darsono.

HOS Cokroaminoto ketika itu adalah pimpinan Syarekat Islam (SI) di Surabaya. Setiap Cokro bertemu dan berpidato di hadapan lautan petani dan para buruh. Cokro sering mengajak Soekarno dan muridnya yang lain untuk ikut bersamanya dalam pertemuan itu. Soekarno bahkan keseringan meniru gaya vokalis sang Guru. Mereka setidaknya berhasil bertransformasi dari semacam lebah yang bekerumunan di dalam sarang yang disebut Rizal Malaranggeng sebagai “komunitas epitemik”. Dikemudian hari Soekarno dan kawan seperjuangnnya itu muncul sebagai pioner-pioner penjebol batas kedaerahan dan ikut merajut kebangsaan Indonesia.

Ternate 1996 di Akehuda, Sofyan Daud membentuk forum study Independensia. Independensia disiapkan untuk semacam ruang dialektis, kreatif – imajinatif. Dari sanalah lahir pentolan-pentolan aktivis Maluku Utara, pada kurun waktu 90-an – awal 20-an. Sederet nama-nama misalnya, Hasby Yusuf, Alm Hasbullah Hasan, Basri Salama, Salmin Janidi, dan Juma Luange dihasilkan dari forum tersebut. Sebelumnya di era 80-an muncul study club Ulil Abab di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Ternate dengan pentolanya Darsis Humah dan Idris Muksin Sirfefa. Mereka juga sempat menerbitkan buletin kampus yang kritis. Belakangan Darsis Humah juga ikut membidani kelahiran study club Annahal dengan pentolannya Kasman Hi Ahmad. Belakangan Kasman dipercaya menjadi rektor di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ulil Albab dan Annahal adalah study club yang berupaya mengajak anggotanya untuk tenggelam dalam bacaan Filsafat Islam dan masuk lebih jauh ke dalam rimbanya. Mereka juga terpesona dengan romansa revolusi Iran (1974) yang dipimpin oleh Khomeini dan Ali Syariati. Seperti terpesonnya Soekarno dan kawan segang panaleh dengan Revolusi Oktober di Rusia, yang populer dengan sebutan Revolusi Bolshevik (1917).

Awal 2000-an Indpendensia pernah mengalami kefakuman total. Kefakuman itu terjadi ketika zaman sedang beralih, dari abad 20 ke abad 21. Abad baru ini ditandai dengan dunia yang sebelumnya terpisah secara geografis maupun kebudayaan tempatan kini mengalami peleburan ke dalam istilah, desa global (global vilage). Jadi Abad 21 adalah dunia yang karena kerterhubunggnnya sedemikian terbuka maka terjadi integrasi di luar batas formal kenegaraan. Banyak orang menyebutnya dalam satu tarikan nafas, “era pasca negara”.

VIDEO: Independensia, Membangun Budaya Literasi

Sekira 2003-2007 Mansyur Djamal, mahasiswa Muhmmadiyah Maluku Utara. juga binaan Sofyan Daud, berupaya menghidupkan lagi Independensia. Upaya yang dilakukan Mansyur di luar ekspektasi. Puluhan bahkan ratusan orang ikut larut dalam diskusi dan kajian yang gagasnya. Saya sendiri bertemu dengan Kak Ongk, biasa saya menyapanya. Dikenalkan oleh Husen Daud, (mantan Ketua BEM Fakultas Ekonomi-2008) di kamar kosnya. Ketika itu Independensia belum ada tempat permanen. Karena itu, Mansyur mengakalinya dengan membentuk tiga kelompok diskusi secara terpisah. kelompok saya dan Husen di Gambesi kebagian “demokrasi” sebagai tema diskusi mingguan. Dari sana saya diajak Mansyur berkenalan denganDedengkot Demokrasi. Dari Jhon Lock, Montesquieu, hingga Aristoteles dan Plato. Serta berjumpa dengan istilah declaration of independence dan declaration of human right. Kelompok asrama Topo di Gambesi puncak kebagian tema logika dan filsafat. Serta kelompok pagar kampus Muhammadiyah kebagian tema kajian sosiologi. Hingga suatu ketika kami dileburkan bersama dan berupaya konsisten tenggelam dalam bacaan dan kajian filsafat di asrama Topo. Bahkan buku-buka koleksi filsafat perpustakaan Independensia yang menjadi referensi utama, di-fotocopy langsung oleh Bang Herman Oesman dari perpustakaan Universitas Indonesia (UI). Dari sana kemudian Saya melahap tiga jilid Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat. Alam pikiran Yunaninya Hatta, atau pembimbing ke Arah Alam Filsafatnya Poedjawijatna. Hingga sejarah Filsafat barat yang ditulis Bertrand Russell.

Sejak mempunyai gedung permanen dua lantai di pesisir pantai Sasa (2013), Indpendensia sudah mengoleksi ribuan judul buku dari berbagai disiplin keilmuan. Dari yang ringan sampai yang serius. Dari majala Bobo, buku tata boga, sastra hingga yang serius seperti Filsafat dan ilmu-ilmu sosial serta humaniora. Kini Independensia berusia 22 tahun (1996-2018). Ibarat manusia, usia 22 tahun adalah usia dewasa yang terus berada pada tiga matriks utama sekaligus; Penggalian, pencarian, dan penemuan.

Teori generasi menjelaskan bahwa, manusia yang ada di muka bumi ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Andai seting sosio-sejarah berubah maka berubah pula karateristik sebuah generasi. Era Darsies Humah, Sofyan Daud, dan sekompi genarasinya tentu berbeda dengan era Galim Oemabaihi dan Andi Naser. Yang dalam proses penumbuhan intelektualnya saat internet sedang tumbuh pesat dan menjamurnya smartphone di Ternate. Era mereka disebut sebagai era milenial. Penggalian, pencarian dan penemuan di era ini tentu dilakukan dengan cara dan metode yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Generasi millenial kerap kali tidak diartikan berdasarkan tanggal lahir namun juga berdasarkan pada kecenderungan perilaku dan psikografis mereka. Dimana, generasi ini adalah generasi yang lahir di era internet. Mereka menjadikan internet sebagai sarana kebudayaan untuk mengkonstruki identitas mereka. Sekarang ini sarana belajar tentu tidak lagi satu dimensi, melalui guru dan buku. Orang belajar begitu mudahnya dengan menonton seri kulia Filsafat dari Goenawan Mohammad, atau kuliah kebudayaannya Emha Ainun Najib di youtube. Gogling informasi di internet. Buku-buku elektronik juga bertebaran di mana-mana. Bisa di download di mana dan kapan saja.

Sebagai komunitas epistemik, Independensia diharpakan mengembangkan bakat dan peranan kader yang unik di tengah-tengah galaxy “aktivis mahasiswa” sebagai “prophetic minority”, meminjam istilah Jack Newfield dalam bukunya “The Prophetic Minority” (1966), sebagai genre kelompok sosial tersendiri (Dalam Dawam Raharjo 2013). Genrenya adalah genre milenial yang sedang menghadapi revolusi teknologis 4.0 (For Point O).

Penulis: Indra Talip

Baca Lainnya