Breaking News

PULAU KECIL, ‘ORANG BESAR’

Pulau kecil kami bukanlah seperti pulau Hans yang diperebutkan Denmark dan Kanada dengan sengketa penuh canda, bermodal selembar bendera dan sebotol meniman keras. Jika pulau Hans adalah pulau tandus yang tak berpenghuni di bawah kekuasaan kerajaan Denmark, pulau kecil kami ditempati oleh ribuan orang yang dulunya sebagai pasukan elit gerak-cepat yang dimiliki oleh kerajaan Ternate. Kami adalah benteng kebudayaan dan pertahanan terkahir dari kerjaaan.

Jika pulau yang kecil ini dihuni oleh ribuan warga kenapa orang-orang ini tidak diperhatikan oleh ‘orang besar’? Kenapa pulau kecil ini selalu diperebutkan orang besar? Pertanyaan ini menggelitik saya di tengah diskusi bersama teman-teman sejawat dan senasib beberapa pekan lalu. Pendidikan, jalan, air bersih, dan pelabuhan menjadi masalah menahun yang minim perhatian.

Kami akan lebih cepat menua karena dahi berkerut menahun, memikirkan janji-janji yang tak kunjung direalisasi oleh ‘orang besar’ pulau besar, bahkan ‘orang besar’ yang menempati pulau kecil. Akhirnya, kami mengadukan hasil “Bacarita” dengan berbagai masalah ‘klasik’ tersebut ke orang besar. Pagi itu, kami disambut baik di rumah mewah orang besar.

“Seminggu lagi anak buah saya akan membangun jembatan, memperbaiki jalan, menghadirkan sarana prasarana serta guru yang bermutu dan memasang pipa air bersih serta mesinnya,” tegas orang besar itu setalah mendengar keluhan kami.

Kenapa pendidikan? Ya, karena  sarana dan prasarana pendidikan  termasuk mutu guru di pulau kecil kami belum memadai. Adik-adik kami dipaksa untuk belajar dengan sistem Full Day School. Adik-adik di pulau kecil kami dipaksa mematuhi sistem, tetapi keluhan kami sering dipersulit sistem. Sementara itu, dikutip dari Data Pokok Pendidikan Dasar Dan Menengah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Kebudayaan, hanya 4 Guru PNS dari jumlah total guru 42 guru yang mengajar di empat SD dan satu SMP di pulau kecil kami. Realitas ini menggambarkan kualitas.

SMA Mafakati, Kelurahan Togolobe, Kecamatan Pulau Hiri | Foto : Junaidi Dahlan

Kondisi jalan lingkar  sebagai akses dan kebutuhan utama masyarakat di pulau kecil kami tak kalah miris. Aspal terkelupas dan berlubang dengan diameter sekitar 20-50 sentimeter sehingga membahayakan pengguna kendaraan maupun pejalan kaki. Hal ini membuat ambulance puskesmas kesulitan mengevakuasi pasien, seperti yang dialami warga Kelurahan Faudu beberapa waktu lalu.

Terbatasanya jaringan telekomunikasi di kelurahan Faudu juga mempersulit warga yang menderita sakit untuk mengubungi keluarga dan sanak saudara di kelurahan tetangga guna membantu proses evakuasi. Tak jarang, beberapa diantara dari orang-orang kecil yang menderita sakit meninggal dunia dalam perjalanan.

Kondisi Jalan lingkar Pulau Hiri, dari Kelurahan Togolobe-Tafraka | Foto : Junaidi Dahlan

Tak kalah penting, air bersih juga menjadi masalah krusial di pulau kecil kami. Sumber air bersih di pulau kami bergantung pada sumur dan hasil tampungan air hujan. Pulau kami memiliki 13 sumur dan tersebar di enam kelurahan, kecuali kelurahan Mado. Dulunya, 13 sumur itu hanya digunakan untuk mandi dan mencuci warga di pulau kecil kami terpaksa meminum air sumur salobar (bergaram).

Air sumur biasanya hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Hal ini pasti tak akan pernah dirasakan orang besar. Empat tahun lalu, kami dibuat sedikit sumringah dengan masuknya PDAM untuk mengelola penggunaan air guna kebetuhan sehari-hari. Namun, pengelolaannya air itu belum dirasakan semua warga di pulau kami.

Salah satu sumur di Pulau Hiri yang dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari | Foto : Junaidi Dahlan

Orang-orang di pulau kecil memerlukan pelabuhan sebagai akses masyarakat untuk urusan isi perut dan isi kepala, belum lagi dengan kesehatan badan dan jiwa. Pelabuhan penyeberangan kami yang berada di pulau besar berusia hampir satu abad. Usia yang cukup tua bagi tumpukkan batu yang memanjang dari bibir pantai. Batu-batu licin itu membantu penumpang menaiki perahu.

Batu-batu itu juga menjadi pijak orang kecil pula orang besar yang datang ke pulau kecil kami. Sayangnya ketika musim ombak, kami dipaksa pindah ke pantai lainnya yang lebih ramah. Pantai yang saat ini menjadi salah satu lokasi wisata. Namun, pantai ramah dan panaroma wisata yang mewah tak lantas membuat orang-orang di pantai pulau besar ramah. Tidak hanya orang besar, sikap tak ramah sebagian orang-orang kecil di pulau besar berkali-kali membuat kami terutama para orang tua terusir dari sana.

Kini, masalah-masalah yang kami resahkan dan pertanyakan perlahan-lahan mulai terjawab. Janji-janji orang besar di pulau kecil mulai ditepati. Pada tahun ini, satu-satunya pelabuhan penyeberangan di pulau kecil kami telah dibangun. Tim survey pengaspalan jalan lingkar mulai datang untuk melaksanakan pekerjaannya. Sayangnya, proyek pengaspalan jalan senilai Rp 5 Miliar itu hanya sepanjang 4,5 kilometer. Sisanya entah kapan? Mungkin menjelang pilkada atau pileg tahun berikut. Itu moment yang wajib digunakan orang-orang besar untuk berjanji kepada orang kecil, juga janji orang-orang kecil yang ingin menjadi orang besar kepada orang-orang kecil di pulau kecil kami.

“Jangan lupa bantu pilih saya, supaya saya bisa kase sejatra pe ngoni samua,” kata orang besar kapada kami.

Penulis : Suggi Alting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *