JELAJAH

Minggu, 14 Oktober 2018 - 13:32

1 tahun yang lalu

logo

Senja di Gurabala, Pulau Hiri, 11 Oktober 2018

Mengenal Hiri dari Gurabala, Hau Lianga, sampai Siboso Soa

Hari itu, Kamis 11 Oktober 2018, kami dari Komunitas Kita Halmahera berkesempatan mengunjungi Pulau Hiri. Kunjungan kami ke pulau kecil yang berada di barat laut Pulau Ternate itu untuk menyaksikan pagelaran event Festival Pulau Hiri.

Perjalanan ke Pulau Hiri menggunakan transportasi laut. Pelabuhan penyeberangan menuju Hiri, berada di Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Pulau Ternate. Sambil menunggu perahu, kami duduk di bawah pohon ketapang.

Pelabuhan penyeberangan itu masih tampak sederhana. Tidak ada jembatan sebagai tempat berlabuh perahu. Orang-orang di sini menambatkan transportasi lautnya di bibir pantai. Setelah menunggu sekiranya setengah jam lebih, perahu yang terbuat dari kayu itu terlihat memecah ombak dari kejauhan.

Tambatan Perahu Pelabuhan Hiri | Foto : Junaidi Dahlan

Sekira lima menit, perahu bermesin itu kemudian menepi ke bibir pantai. Seorang motoris sigap turun lebih dulu sembari menaruh papan kecil di antara burit perahu dan bibir pantai. Papan kecil itu berfungsi sebagai jembatan untuk para penumpang. Setelah semua penumpang asal Pulau Hiri turun, kami kemudian dipersilakan untuk naik ke perahu. Maklum, sudah puluhan tahun “pelabuhan” penyeberangan ke pulau Hiri belum tersedia tambatan perahu angkutan penumpang dan fasilitas ruang tunggu yang laik.

Perjalanan ke Pulau Hiri ditempuh sekiranya sepuluh menit. Biaya transportasi laut untuk armada kayu hanya Rp 5.000. Kami tiba di Pelabuhan Togolobe, Pulau Hiri, disambut dengan senyum ramah penduduk di sana.Pulau Hiri sendiri terdapat enam kelurahan, yakni Dorari Isa, Faudu, Mado, Tafraka, Togolobe, dan Tomajiko.

Sore itu, kedatangan kami bertepatan dengan lomba renang, yang juga merupakan salah satu kegiatan dalam Festival Pulau Hiri. Kami menuju ke sebuah warung yang berada di tepi jalan Togolobe. Sembari menunggu pesanan makanan dan menikmati teh hangat, kami mengisi waktu dengan memotret serta menyaksikan orang-orang girang di tepi pantai, bersorak, memberikan dukungan kepada para peserta lomba renang.

Hari sudah semakin sore dan langit mulai jingga, kami memilih untuk ke Gurabala. Dari sanalah orang-orang dapat melihat matahari tenggelam di antara Pulau Ternate dan Hiri. Menuju ke sana menggunakan angkutan umum dan sepertinya itu satu-satunya angkutan umum di Pulau Hiri.

Gerbang Gurabala, Kelurahan Tomajiko, Kecamatan Pulau Hiri | Foto Rajif Duchlun

Sesampainya di sana, kami bergegas menuju Gerbang Gurabala, salah satu spot wisata di Pulau Hiri. Sayangnya, belum berkesempatan berfoto di depan Gerbang Gurabala. Spot tersebut memang berada di bibir pantai dan kedatangan kami tepat ketika air laut pasang. Fadli Haris, seorang teman yang juga berasal dari Hiri itu menyarankan agar kami naik ke bukit.

Torang (kita/kami) ke bukit saja, lebih manis,” kata Fadli, sambil menunjuk arah jalan ke sana. Dari atas bukit itulah kami dapat menyaksikan Gerbang Gurabala sekaligus menikmati eksotisme senja antara Pulau Ternate dan Hiri. Posisi bukit tersebut memang berada tepat di pesisir Gurabala.

Perahu kayu yang berlalu-lalang di antara selat Pulau Ternate dan Hiri, juga langit kuning kemerah-merahan, membuat pemandangan terasa semakin lengkap. Sebelum matahari tenggelam dan langit semakin gelap, kami tidak ingin membuang kesempatan untuk memotretnya. Keindahan Gurabala memang harus diabadikan.

Hau Lianga, Warisan Mancing Nelayan Hiri

Setelah dari Gerbang Gurabala, kami kembali ke Togolobe, sambil menunggu acara panggung seni, yang juga bagian dari rangkaian acara Festival Pulau Hiri. Azan isya terdengar syahdu. Orang-orang khusyuk menuju surau. Di Pulau Hiri, warganya masih memegang kuat tradisi dan ajaran agama.

Saat di Togolobe, kami memilih ke warung, melanjutkan menikmati hidangan teh hangat seraya berbagi cerita dengan warga. Junaidi Dahlan, salah satu pemuda Hiri, sempat berbagi cerita mengenai tradisi mancing nelayan Hiri. Sebagian besar orang-orang di sini memang berprofesi sebagai nelayan.

Om Empe, Nelayan Hiri | Foto : Sugi Alting

Junaidi bercerita, di Pulau Hiri, ada salah satu warisan mancing nelayan Hiri yang unik. Mereka menyebutnya Hau Lianga, tradisi mancing menggunakan layang-layang. Hanya saja layang-layang yang dipakai berasal dari pelepah daun sukun. Uniknya, mereka tidak memakai kail seperti nelayan pada umumnya, tetapi menggunakan jaring benang laba-laba yang dipakai sebagai umpan sekaligus berfungsi sebagai kail.

“Mancingnya pakai falinggir (layang-layang). Kalau tidak salah, falinggir itu dari daun sukun dan tidak pakai gumala (kail) atau umpan. Hanya pakai jaring laba-laba,” ujar Junaidi.

Hau Lianga sendiri berasal dari bahasa Ternate. Hau yang berarti mancing dan Lianga yang berarti layang-layang.Menurutnya, tradisi mancing menggunakan layang-layang atau Hau Lianga sudah sejak lama dilakukan oleh nelayan Hiri, namun saat ini hanya satu-dua orang saja yang tersisa. “Tinggal satu-dua orang saja,” katanya.

Sebagaimana layang-layang, cara mengoperasikan alat tangkap unik tersebut tentu dengan cara diterbangkan. Alat tangkap ini menyasar ikan penghuni permukaan (zona epipelagik), seperti ikan cendro atau sako (Tylosuruscrocodilus).Tradisi mancing menggunakan layang-layang dari daun sukun itu atau Hau Lianga pernah digelar tahun sebelumnya, pada pagelaran Festival Pulau Hiri yang pertama.

Siboso Soa dan  Huda Raru Saya

Cerita mengenai Pulau Hiri terus berlanjut setelah pemilik warung yang juga pemerhati wisata itu duduk bersama kami. Abdulkadir Rakib, namanya. Ia juga bercerita terkait potensi wisata dan tradisi orang-orang Hiri dari masa ke masa. Kepada kami, Abdulkadir mengaku, ada salah satu tradisi atau ritual yang masih dipegang erat para pemuka adat di Hiri, yakni yang dikenal dengan Siboso Soa.

Siboso Soa atau Boboso yang dalam bahasa Ternate berarti larangan itu merupakan salah satu ritual yang sering dibuat di Pulau Hiri. Menurutnya, ritual tersebut dibuat setahun sekali dengan tujuan melarang adanya aktivitas yang berlebihan. Pada acara Siboso Soa, warga dilarang pergi ke kebun, melaut, atau pekerjaan lainnya yang dapat menimbulkan bunyi-bunyian.

“Di hari itu, tidak boleh ada aktivitas yang berlebihan. Alam seolah-olah dibiarkan beristirahat selama tiga hari. Hanya saja, saat ini ritual seperti itu mulai kurang mendapat perhatian dari sebagian warga,” katanya, sembari mempersilakan kami mencicipi makanan khas Pulau Hiri, sagu stir serta manisan pala kering.

Dalam arti lain, ritual Siboso Soa itu bermakna menghormati alam dan memanjatkan doa-doa agar alam tetap terjaga dari segala mara bahaya atau bencana. Sembari mendengar cerita-cerita tersebut, kami mencoba mencicipi sagu stir dan manisan pala kering. Abdulkadir mengaku, produksi sagu stir hanya ada di Pulau Hiri dan memang sudah dibuat secara turun-temurun.

Sagu (huda) stir atau lebih dikenal dengan nama lokal huda raru saya itu berbentuk bulat, tidak seperti cetakan sagu lainnya. Malam itu, ia mempersilakan kami mencicipi sagu stir segala macam rasa. Diakuinya, sagu stir segala macam rasa itu baru saja diproduksi tahun ini. Selama ini, meski bentuknya berbeda, tetapi rasanya tetap sama seperti sagulain pada umumnya.

“Kali ini berbeda. Sudah ada sagu stir bermacam-macam rasa. Silakan rasa, gratis untuk ngoni (kalian),” ia mempersilakan. Benar saja, sagu yang kami makan itu berasa buah-buahan. Salah satu yang saya ingat, adalah sagu stir rasa mangga.

Ia juga bercerita mengenai potensi wisata di Pulau Hiri, seperti banyaknya ikan Hiu yang bisa dilihat dari jarak dekat dan burung Maleo yang biasa ditemukan warga. Ikan Hiu di Pulau Hiri, pengakuan warga memang sangat mudah dijumpai. Cukup dengan membuang isi perut ikan mentah di bibir pantai, ikan Hiu akan datang bergerombol.

Meski sepanjang pesisir Pulau Hiri mudah menemukan ikan Hiu, hanya saja menurutnya, pesisir Kelurahan Faudu merupakan spot terbaik untuk melihat ikan Hiu dalam jumlah yang banyak. Sedangkan untuk burung Maleo, lebih banyak dijumpai di Kelurahan Mado.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Kami harus kembali ke Ternate. Saya meminta teman saya, Suggi Altin, Wakil Ketua Panitia Festival Pulau Hiri untuk memesan kami armada kayu.

Setengah jam kemudian, dua orang kerabat dekatnya datang menawarkan perahu bermesin. Meski agak takut, malam itu harus kembali. Istri saya sudah menunggu di rumah. Dan bertolaklah kami, memecah ombak di antara selat Ternate dan Hiri. (*)

Oleh: Rajif Duchlun

Baca Lainnya